Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Juli 21, 2010

Paradigma Pendidikan Kita Terkini

Paradigma Pendidikan Kita Terkini

Oleh  Drs. MARIJAN
(Praktisi Pendidikan di SMPN 5 Wates Kulon Progo Yogyakarta)

Drs. Marijan Guru SMPN 5 Wates Kulon Progo Yogyakarta dan Anggota KGI Kulon Progo DIY

PEMBANGUNAN merupakan proses berkesinamabungan yang mencakup keseluruhan aspek kehidupan masyarakat meliputi aspek sosial, ekonomi, politik dan budaya dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan warga bangsa ,secara keseluruhan. Dalam proses pembangunan tersebut peranan pendidikan amatlah strategis.

Menurut John C. Bock dalam buku Education and Development : A Conflik Meianing (1992) dinyatakan peran pendidikan antara lain : a) memasyarakatkan ideologi dan nilai-nilai sosio cultural bangsa, b) mempersiapkan tenaga kerja untuk memerangi kemiskinan, kebodohan dan mendorong perubahan sosial, c) meratakan kesempatan dan pendapat.

Mencermati pendapat tersebut di atas kita dapat menyatakan begitu mulia dan indah peran pendidikan. Namun kenyataannya pengalaman selama ini menunjukkan pendidikan nasional kita tak bisa berperan secara, optimal seperti yang dikemukakan oleh John C. Bock tersebut Justru sebaliknya pendidikan telah menjadi penghambat pembangunan ekonomi dan teknologi dengan munculnya berbagai kesenjangan budaya sosial dan khususnya kesenjangan vokasional dalam bentuk melimpahnya pengangguran. terdidik ( Zamroni ; 2001 ).

Persoalan yang muncul sebenarnya dialami banyak negara berkembang yaitu bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan ? Sebab kualitas pendidikan inilah yang paling menentukan tercapai tidaknya peran pendidikan.  Pada umumnya kualitas pendidikan dikaitkan dengan tinggi rendahnya prestasi siswa dalam menempuh tes yang diadakan sekolah dan kemampuan lulusan dalam mendapatkan dan melaksanakan pekerjaan di dunia kerja. Dengan indikator tersebut pendidikan nasional dewasa ini  menghasilkan  lulusan yang masih rendah prestasinya. Oleh karena itulah untuk meningkatkan kualitas pendidikan perlu diadakan reformasi pendidikan sesuai dengan em sekarang. Dalam gaung dan gegap gempitanya reformasi pendidikan berarti perubahan–perubahan dalam sistem pendidikan akan mengemuka. Reformasi pendidikan  inilah sebagai wuJud lahirnya wawasan serta paradigma baru tentang sistem pendidikan. Paradigms baru yang dimaksud antara lain

Pertama, perubahan dari sentralisasi menuju desentralisasi pendidikaan. Bergulirnya istilah desentralisasi di negeri kita ini bersamaan dengan diberlakukannya otonomi daerah. Dalam dunia pendidikan muncul paradigma baru yakni desentralisasi pendidikan. Ada pun arti desentralisasi pendidikan adalah penyerahan wewenang oleh pemerintah pusat kepada daerah otonom. Kedengarannya nyaring dan enak untuk dibayangkan tetapi desentralisasi pendidikan tidaklah menguntungkan bagi sekolah di daerah yang sumber daya manusia dan sumber daya alamnya minus. Masalah pun timbul karena kekuatiran tentang mutu dan daya saing out put (lulusan) sekolah yang diampu di era yang menuntut serba dengan persaingan .

Untuk menyikapi tuntutan pergeseran paradigms pendidikan tersebut seharusnyalah dirancang sedemikian hati-hati sehingga tidak menimbulkan kekecewaan di kemudian hari yang meliputi : a) Pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). MBS adalah sebuah pendekatan pengelolaan sekolah yang bertitik tolak dari pemikiran, pertimbangan, kebutuhan dan harapan sekolah itu sendiri. Suatu tanggung jawab yang sangat berat untuk melaksanakan proses pendidikan yang bertitik tolak seperti di atas. Untuk itulah dibentuk dewan sekolah. Lembaga inilah yang menjadi mitra Kepala Sekolah dalam memikirkan perkembangan sekolah sesuai dengan yang diharapkan. Artinya secara aktif bertanggung jawab dan berupaya memecahkan menghasilkan lulusan yang masih rendah prestasinya. Oleh karena itulah untuk meningkan kualitas pendidikan perlu diadakan reformasi pendidikan sesuai dengan em sekarang. Dalam gaung dan gegap gempitanya reformasi pendidikan berarti perubahan–perubahan dalam sistem pendidikan akan mengemuka. Reformasi pendidikan  inilah sebagai wuJud lahirnya wawasan serta paradigma baru tentang sistem pendidikan. Paradigms baru yang dimaksud antara lain

Pertama, perubahan dari sentralisasi menuju desentralisasi pendidikaan. Bergulirnya istilah desentralisasi di negeri kita ini bersamaan dengan diberlakukannya otonomi daerah. Dalam dunia pendidikan muncul paradigma baru yakni desentralisasi pendidikan . Ada pun arti desentralisasi pendidikan adalah penyerahan wewenang oleh pemerintah pusat kepada daerah otonom. Kedengarannya nyaring dan enak untuk dibayangkan tetapi desentralisasi pendidikan tidaklah menguntungkan bagi sekolah di daerah yang sumber daya manusia dan sumber daya alamnya minus. Masalah pun timbul karena kekuatiran tentang mutu dan daya saing out put ( lulusan) sekolah yang diampu di era yang menuntut serba dengan persaingan .

Untuk menyikapi tuntutan pergeseran paradigms pendidikan tersebut seharusnyalah dirancang sedemikian hati-hati sehingga tidak menimbulkan kekecewaan di kemudian hari yang meliputi : a) Pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). MBS adalah sebuah pendekatan pengelolaan sekolah yang bertitik tolak dari pemikiraft, pertimbangan, kebutuhan dan harapan sekolah itu sendiri. Suatu tanggung jawab yang sangat berat untuk melaksanakan proses pendidikan yang bertitik tolak seperti di atas. Untuk itulah dibentuk dewan sekolah. Lembaga inilah yang menjadi mitra Kepala Sekolah dalam memikirkan perkembangan sekolah sesuai dengan yang diharapkan. Artinya secara aktif bertanggung jawab dan berupaya memecahkan masalah yang timbul dalam pengelolaan pendidikan sesuai dengan visi dan misi sekolah. b) Pemilihan buku pelajaran. Mendiknas menyatakan tidak keberatan jika sekolah ingin memilih sendiri buku pelajaran yang akan dipakai para siswanya. Pemerintah dan Ikapi hanya bertindak sebagai penjaga standard mutu isi buku yang diterbitkan oleh penerbit. Hal ini akan membawa konsekuensi bahwa pemerintah tidak akan memegang lagi proyek pengadaan buku pelajaran seperti tahun-tahun sebelumnya. Mungkin penyaluran lewan block grand. Pada era otonomi daerah seperti sekarang ini buku pelajaran muatan lokal membuka kesempatan seluas-luasnya bagi daerah untuk menentukan isi buku yang dibutuhkan.

Kedua, perubahan sistem cawu menuju sistem semester. Perubahan yang dimulai sejak tahun pelajaran 2002/2003, menurut Dirjen Dikdasmen di dunia ini yang menerapkan sistem cawu hanyalah Indonesia. Apabila dicermati memang ada keuntungan yang diperoleh pada siswa, guru dan orang tua, yaitu : a) siswa memiliki waktu leluasa untuk memperdalam suatu materi, b) tingkat stress yang dihadapi siswa lebih rendah karena intensitas ujian lebih longgar, c) guru memiliki waktu yang lebih lama untuk mempersiapkan materi ajar, d) guru dan siswa memiliki waktu yang cukup untuk persiapan evaluasi belajar, dan e) liburan semester dapat bersama dengan liburan mahasiswa sehingga bagi keluarga yang akan memanfaatkannya dapat lebih merasa senang dan puns.

Ketiga, diberlakukannya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Ungkapan yang menyatakan bahwa setiap ganti menteri tentu berganti pula kurikulum agaknya dapat di benarkan. Menteri Pendidikan Nasional pada kabinet terakhir ini juga mengeluarkan peraturan kurikulum baru disebut Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ). Fokus kurikulum ini adalah siswa dapat beriman, sehat, mandiri, berbudaya, berakhlak mulia, beretos kerja, berpengetahuan, dan menguasai teknologi serta cinta tanah air. Tujuan kurikulum ini adalah agar lulusan pendidikan nasional memiliki keungg:ulan kompetitif dan komparatif sesuai standar mutu nasional dan internasional.

Sistem pendidikan minimal harus dapat merespon secara proaktif berbagai perkembangan informasi, ilmu pengetahuan, teknologi dan seni serta tuntutan desentralisasi. Kurikulum berbasis kompetensi mendasarkan pada aspek-aspek berikut: a) diversifikasi kurikulum yang mengakomodasikan berbagai perbedaan sosial, lingkungan dan budaya, b) pengetahuan yang berstandar nasional, c) empat pilar pendidikan kesejagatan yaitu learning to be, learning to know, learning to do, dan learning to live together, d) partisipasi dari masyarakat dan e) manajemen berbasis sekolah.

Kurikulum berbasis kompetensi ini akan memunculkan persoalan ketika diterapkan pada tataran sekolah dasar. Letak persoalannya justru kompetensi yang ingin dikuasai mengingat filosofis tingkat SD adalah pendidikannya bukan untuk penguasaan disiplin ilmu akan tetapi untuk pengembangan karakter atau hubungan dengan masyarakat (Hamid Hasan, 2001).

Keempat, Tuntutan Profesionalisme Guru. Guru masa depan jauh berbeda dengan guru masa lampau. Kalau dulu pada era sentralisasi pendidikan, guru boleh dikata asalkan datang dan mengajar sebagai konsekuensi minta gaji. Akan tetapi tidak di era otonomi daerah sekarang ini. Guru dituntut datang, mengajar dan mengembangkan profesionalismenya. Mengapa profesionalisme harus ditingkatkkan ? Merujuk diberlakukannya kurikulum berbasis kompetensi, persaingan antar chetah dan tuntutan era globalisasi , menuntut profesionalisme guru untuk ditingkatkan. Menurut Gary A Davis dan Margaret A. Thomas. Guru profesional adalah guru yang melakukan pembelajaran di kelas dapat secara efektif. Adapun ciri guru efektif adalah sebagai berikut : a) memiliki kemampuan membentuk iklim belajar yang segar, b) memiliki kemampuan menerapkan strategi manajemen pembelajaran yang menyenangkan, c) memiliki kemampuan yang menumbuhkan pemberian umpan balik dan penguatan kepada siswa, d) memiliki kemampuan peningkatan diri (Suyanto, 2001)

Unttuk mewujudkan ciri-ciri guru efektif tersebut di satu sisi tergantung dedikasi dan disiplin guru itu sendiri terhadap pelaksanaan tugas dan kewajibannya tetapi di sisi lain dipengaruhi oleh apresiasi masyarakat terhadap prestasi guru. Apresiasi masyarakat sekarang terhadap profesi guru sudah berada di tataran yang merendahkaan profesi guru. Betapa tidak ! Pengakuan secara jujur seseorang terhadap keluarganya yang menjadi guru ditambahi embel-embel (hanya) di hadapan orang lain. Misalnya, bapak saya hanya seorang guru.

Sehubungan dengan hal tersebut menjadi keharusan adanya pembinaan terhadap guru oleh pembina yang profesional pula tentunya. Bagaimana dedikasi dan disiplin guru itu meningkat ? Pertanyaan ini tentu membuat benak para pembina profesi guru tersentak.

Pembinaan secara administratif harus segera ditanggalkan karena hal itu tidak membuat profesional, tidak membuat guru pandai justru sebaliknya guru terbebani administrasi. Siswa pun rugi karena banyak ditinggalkan guru demi administrasi. Di samping hal tersebut sudah barang tentu upaya pemerintah melakukan perbaikan dan peningkatan kesejahteraan guru tak dapat diabaikan. Karena peningkatan kesejahteraan merupakan sebagaian upaya menangkal apresiasi negatif profesi guru oleh masyarakat.

Kelima, tuntutan penghapusan Unas. Salah satu penyebab produk pendidikan sekarang ini kurang dapat berpikir kritis adalah diadakannya pada evaluasi belajar yang disebut Unas. Indikator prestasi siswa ditekan dari tinggi rendahnya angka nilai hasil Unas. Apanya yang salah ? Jawabnya, orientasi belajar siswa yang selalu pada hasil Unas. Orientasi yang demikian inilah meningkatkan pola pembelajaran di kelas tidak menumbuhkan kreativitas baik siswa maupun gurunya, Siswa tidak merasa bangga belajar di kelas namun lebih merasa bangga sebagai pelajar yang siap melaju apabila sudah mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah.

Jika kita cermati soal-soal Unas memberikan kontribusi yang signifikaan terhadap produk pendidikan yang kurang bermutu ini. Siswa belajar sepotong-sepotong, kurang jeli melihat persoalan dan merasa sukar menemukan konsep-konsep pokok suatu keadaan sekalipun ada di sekitarnya. Hal ini disebabkan : a) Pembelajaran di kelas berorientasi Unas sehingga mata pelajaran selain yang diunaskan tidak diminati untuk dipelajari secara mendalam. b) Soal-soal Unas yang bebentuk pilihan ganda, dan c) Kajian soal-soal Unas hanya hafalan. Misalnya di mana P. Diponegoro wafat ? Mestinya kalau ingin menumbuhkan proses berpikir siswa ditanyakan mengapa terjadi perang Diponegoro ? Untuk biologi tidak hanya ditanyakan enzim apa yang dihasilkan dinding lambung tetapi bagaimana proses pencernaan di dalam lambung ? Dan lain-lain.

Nah, keadaan seperti itulah yang melibatkan munculnya pendapat, bubarkan saja sekolah ganti dengan bimbingan belajar, jika keberadaan dan model Unas dengan soal pilihan ganda masih diterapkan !

Iklan

Responses

  1. luar bisa tulisan terinspirasi

  2. […] Read the original post: Paradigma Pendidikan Kita Terkini « e-Newsletter Disdik […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: