Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Juli 30, 2010

Peace Educational, Embrio Pendidikan Budi Pekerti

Peace Educational, Embrio Pendidikan Budi Pekerti

Oleh Drs. MARIJAN
(Praktisi Pendidikan di SMPN 5 Wates Kulon Progo Yogyakarta)

Drs. Marijan Guru SMPN 5 Wates Kulon Progo Yogyakarta dan Anggota KGI Kulon Progo DIY

SEJAK era reformasi digulirkan, tekanan-tekanan dari berbagai penjuru aspek kehidupan seolah silih berganti menghimpit. Kenyataan hidup sebagai bukti, Surat kabar, majalah dan TV sebagai saksi bahwa kita berada dalam lautan konflik. Konflik yang tak kunjung henti. Konflik antar sopir rebutan penumpang, konflik dalam kehidupan di tempat kerJa, konflik sesama pencari kerja, konflik dalam kehidupan bermasyarakat, konflik antar tokoh partai, konflik antar sekokah dan lain sebagainya yang semuanya itu mewarnai berita dalam kesehariannya.

Siapa yang salah ? Tidak bermaksud mencari titik kesalahan namun solusi terbaik adalah suatu yang perlu diupayakan. Sebab kalau mau instropeksi diri sebenamya semua ada dalam lingkaran penyebab terbentuknya lautan konflik tersebut. Kita saksikan anggota DPR yang notabene wakil rakyat duduk di kursi milik rakyat dan seharusnya menjadi tauladan rakyat toh adu jotos dengan sesama anggota DPR gara-gara anggota yang satu fidak sependapat dengan anggota yang lain. Kasus pembakaran hidup-hidup terhadap pencuri sepeda oleh masa, kasus pengerahan masa pendukung calon lurah kepada masa pendukung calon lurah yang lain, guru memperkosa murid, orang tua membunuh oroknya adalah contoh-contoh kasus yang sangat biasa terjadi di dunia kehidupan kita sekarang ini.

Banyaknya kasus konflik di negeri yang demokratif ini dipandang oleh siswa dan anak-anak kita sebagai model percontohan dalam penyelesaian persoalan. Tak pelak, para siswa sekarang ingin menunjukkan perilaku yang mirip pendahulunya, tindak kekerasan sebagai pilihan dalam menyelesaikan masalah.

Oleh karena faktor lingkungan yang mereka lihat , mereka dengar dan mereka jumpai memiliki kontribusi jesar dalam membangun kepribadiannya maka sesungguhnya faktor lingkungan tersebut sangat berbahaya bagi kelangsungan kedamaian masyarakat yang makin konsumtif informasi ini. Apabila hal ini dibiarkan berlarut-larut maka tak wrung bahwa budaya konflik akan menjadi bagian dari budaya kita.

Untuk itu tibalah saat yang tepat pendidikan kita memfungsikan ” peace education” sebagai model pendidikan. Model peace education pada dasarnya proses pendidikan yang memberdayakan masyarakat untuk mampu memecahkan konflik dengan cara kekerasan. Artinya pendidikan yang mengajarkan cara-cara damai dalam mengatasi masalah yang dihadapi (Djohar, 2003).

Pemberdayaan masyarakat pada umumnya dalam model peace education mungkin sulit direalisasikan karena masyarakat terbiasa menggunakan model kekerasan, ingin menonjolkan kehebatannya dan tertanamnya budaya malu menerima nasihat orang lain. Namun untuk anak-anak usia remaja, siswa SD-SMA adalah tepat apabila kepadanya disosialisasikan model peace education sebagai bagian dari proses pembelajaran di sekolah. Pada usia remaja ini usia anak belum stabil dan taraf mencari identitas. Oleh karenanya pendidikan sangat strategic dalam mengisi identitas pada diri masing-masing individu siswa. Mengingat bahwa sekolah merupakan ajang pelatihan dalam menghadapi kehidupan di kemudian hari maka kebiasaan-kebiasaan yang menuntun ke arah pendidikan damai perlu direalisasikan di dalam proses ‘ pembelajarannya. Model pendidikan ini dapat dilakukan di sekolah dengan berbagai bentuk misalnya dibentuk kelompok-kelompok belajar, kelompok praktikurn, simulasi kelompok, drama , diskusi­diskusi kelompok, dan lain-lain yang semua ini mendidik siswa dalam mengatasi masalah. Dari sinilah tumbuh pada diri anak sikap toleransi, menghargai pendapat orang lain, menumbuhkan kesabaran, menyadari bahwa hidup memerlukan orang lain dan sikap bertanggung jawab. Sikap yang demikian inilah rasanya sekarang mulai meleleh dan terus meleleh seiring dengan meningkatnya sikap individualistik.

Apabila pendidikan model ini dilakukan di sekolah-sekolah niscaya akan tertanam sikap damai dengan segenap sikap luhurnya pada benak dan hati siswa. Peace education akan menyadarkan siswa bahwa individu (siswa) yang tak dapat menekan emosinya tak akan diterima di masyarakat (siswa-siswa yang lain) sekalipun otaknya cerdas. Apabila dalam kerja kelompok selalu meninggalkan tugas, maka tak akan mendapatkan kepercayaan dari anggota kelompoknya. Mereka segera mengecapnya, insan yang tak bertanggung jawab. Model pengelompokan siswa dalam tugas akan membimbing siswa ke arah kecakapan berorganisasi yang teratur. Sedangkan insan yang berfungsi dalam organisasi merupakan kebanggaan tersendiri serta yang lebih penting senbagai aktualisasi diri dalam mengisi pengalaman hidupnya.

Demikianlah, pendidikan damai tidak mengejar angka (nilai akademik) sebagai tujuan akhir seperti yang selama ini terjadi akan tetapi kualitas kemampuannya untuk memecahkan masalah dan persoalan-persoalan hidup secara kolektif di masyarakat. Pendidikan damai akan membentuk peserta didik yang tidak mementingkan diri sendiri melainkan kemanfaatannya di dalam kehidupan bermasyarakat.

Proses pembelajaran yang menerapkan “peace education” akan tercapai dua titik terminal sekaligus. Pertama, siswa akan memperoleh angka nilai akademis seperti yang bisa kita saksikan yaitu angka dalam rapor atau ijazah. Inilah sebagai bukti keberhasilan pendidikan dalam meningkatkan kognitif siswa. Kedua, siswa memperoleh pengalaman hidup yang sangat berarti dalam memupuk ketahanan menghadapi kesulitan hidup. Sikap-sikap seperti jujur, trasparan, kesabaran menahan emosi dan mengakui diri sebagai bagian dari masyarakatnya akan tertanam dan terpupuk secara bertahap. Inilah keberhasilan pendidikan yang berorientasi pada, nilai keutamaan. hidup. Tertanamnya pengakuan kebebasan, persamaan, kesempatan dan hak azazi setiap person akan menggiring pembentukan jiwa anak yang berbudi pekerti baik.

Pendidikan nilai keutamaan yang didemonstrasikan melalui peace education secara berkesinambungan di sekolah niscaya akan memupuk nilai-nilai budi pekerti anak bangsa ini. Sebaliknya pendidikan persekolahan yang hanya mementingkan peningkatan kognitif saja dan pendidikan nilai hanya di pandang sebelah mata maka dapat dipastikan nilai budi pekerti anak bangsa ini akan terus merosot.

Peningkatan pemahaman, penghayatan dan penerapan nilai-nilai budi pekerti menjadi suatu keharusan dalam, mengisi Indonesia baru dewasa ini. Tap MPR X/MPR/ 1998 mengamanatkan dengan tegas bahwa pendidikan budi pekerti hendaknya diajarkan lewat segenap mata pelajaran di sekolah. Jadi model pendidikan yang bermuara pada peningkatan budi pekerti hendaknya dicobakan sebagai tindakan dalam menyiasati tap MPR tersebut.

Hasil peace education diharapkan dapat mengikis cara-cara kekerasan dalam mereaksi permasalahan yang menghimpitnya. Apabila tidak melalui pedalaman panjang dalam massa pendidikannya dari SD hingga SMA rasanya sulit menanamkan cara-cara damai dalam segala urusan.

Permainan-permainan berkelompok seperti pada pendidikan TK dapat dikatakan lebih berhasil dalam bersosialisasi antar sesama teman sehingga tidak ada rasa dendam di hatinya. Hal ini disebabkan adanya kebersamaan dalam kegiatan  permainan yang dilakukan sehari-hari. Inilah keberhasilan pembelajaran cara-cara sosialisasi di TK yang berujung pada keberhasilan menuai kedamaian..

Menjadi tugas guru, membentuk tata nilai kehidupan di kelas. Menggunakan otonomi inteleknya, guru diharapkan membentuk sikap pada siswa bahwa peluang konflik selalu hadir di tengah kancah kehidupan namun apabila dihadapi secara arif dan dipecahkan secara kreatif akan berakhir dengan kedamaian. Cara-cara kreatif itulah yang mustinya ditanamkan dengan pelatihan-pelatihan dalam proses pembelajaran.

Peace education bukan merupakan materi pelajaran maka dalam proses pembelaJarannya mengedepankan pengalaman-pengalaman hidup yang membawa siswa hanyut dalam pembelajaran tersebut. Dari sisnilah dalam pembelajaran siswa merasa bagian penting dari proses tersebut. Nah, gurulah insan yang paling mempunyai kedudukan strategi menciptakan suasana pembelajaran paling efektif guna menerapkan peace education.

Hanya melalui peace education, pembangunan moral dan watak peserta didik akan terealisasi. Kebiasaan sehari-hari dalam peace education akan menghasilkan pengalaman damai di benak peserta didik yang pada gilirannya akan membangun watak bangsa menuju kedamaian. Nah,

Iklan

Responses

  1. Baik Pak…
    Saya sedang membuat website khusus isu-isu pengangguran http://Menganggur.Com/ Anda dapat memasang lowongan anda di situ maupun orang yang menganggur dapat berpartisipasi di Survey-nya dan semoga membantu mengatasi pengangguran oleh informasi yang tepat dari lapangan.
    Salam Sejahtera!

  2. kompleksitas problematika kebangsaan memberikan kontribusi yang besar bagi wajah dunia kependidikan di indonesia….indonesia butuh teladan, panutan bukan ribuan kata-kata manis..maka marilah kita menjadi teladan yang amanah, sidiq, fathonah dan tabligh. semoga…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: