Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Juli 31, 2010

Memikirkan Tanah Air Saat Jauh….

Perhimpunan Pelajar Indonesia

Memikirkan Tanah Air Saat Jauh….

Ilustrasi: Sistem pendidikan nasional saat ini masih menyimpan berbagai persoalan, mulai konseptualisasi hingga implementasinya.

MELBOURNE, KOMPAS.com – Internasionalisasi pendidikan tinggi yang sedang menjadi tren di Tanah Air saat ini dicermati secara kritis oleh para pelajar Indonesia di Australia pada Konferensi Internasional Pelajar Indonesia (KIPI) yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) di Victoria University, Melbourne, Australia, 16-18 Juli 2010 lalu. Tanpa dikritisi, internasionalisasi hanya akan menghambat akses golongan miskin untuk memperoleh pendidikan.

“Selain itu, nilai-nilai lokal yang semestinya bisa menjadi modal juga akan tergerus dan terpisahnya dunia akademik dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat,” ujar Ketua Umum PPIA Miko Kamal kepada Kompas.com di Jakarta, Jumat (30/7/2010).

Untuk menjawab berbagai resiko tersebut, kata dia, internasionalisasi pendidikan tinggi di Tanah Air harus mengacu pada prinsip-prinsip pendidikan sebagai hak dasar warga negara, yaitu bahwa akses semua golongan dalam masyarakat harus tetap dinomorsatukan. Selain itu, Miko menambahkan, tren ini harus dipahami sebagai politik kultural untuk mengembangkan nilai-nilai multikulralisme dan kosmopolitanisme menuju pandangan dunia yang lebih luas dan terbuka.

“Internasionalisasi pun harus dalam kerangka peningkatan kualitas menuju world-class university yang dibarengi dengan berbagai program pengembangan masyarakat sebagai saluran komunikasi dan kontribusi antara dunia akademik dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Ade Irawan, Divisi Monitoring Indonesian Corruption Watch (ICW) yang  menyampaikan makalah “Good Governance dalam Tata Kelola Anggaran Pendidikan Nasional” menambahkan, sistem pendidikan nasional saat ini masih menyimpan berbagai persoalan, mulai konseptualisasi hingga implementasinya.

Aspek konseptualisasi, lanut Ade, antara lain menyangkut prinsip otonomi berbasis sekolah, yaitu guru sebagai garda depan proses pembelajaran dan penilaian, sementara kebijakan ujian nasional (UN) dijadikan satu-satunya tolak ukur kelulusan tanpa memandang disparitas yang begitu beragam dan malah bertentangan dengan prinsip ini.

“Aspek implementasinya menyangkut masalah pendanaan pendidikan yang bersumber dari APBN. Dalam kasus BOS (Biaya Operasional Sekolah), misalnya, proses penyaluran dana langsung ke rekening milik sekolah ternyata tetap tak menghilangkan potensi korupsi karena posisi kepala sekolah yang subordinat di bawah kepala dinas pendidikan di level kabupaten atau kota,” ungkap Ade.

Adapun konferensi ini terdiri dari dua diskusi panel menghadirkan pembicara tamu dari kalangan pemerintahan, organisasi non-pemerintah, dan akademisi. Selain itu, sebanyak 31 makalah dipresentasikan secara pararel oleh para pelajar Indonesia yang sedang belajar di berbagai universitas di Australia dan beberapa negara lain, diantaranya Amerika Serikat, Inggris, Mesir, Taiwan, dan Filipina.

TERKAIT:
Iklan

Responses

  1. Agaknya banyak orang menilai skeptis tentang sekolah bertaraf Internasional. essensinya SBI itu adalah upaya kita meningkatkan daya saing SDM lokal ke dunia Global dan mengubah budaya belajar kita agar menyesuaikan diri dengan perkembangan kemajuan sekolah di negeri barat. Kalau orang miskin tak bisa sekolah, kayaknya terlalu berlebihan, karena sekolah SBI hanya beberapa buah di setiap propinsi atau bahkan di propinsi itu tak ada sama sekali. Dan masih banyak sekolah swasta dan negeri yang mampu menampung. Kalau sekolah SBI di hapus kita akan mundur lagi. Begitulah masyarakat kita selalu suka maju mundur….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: