Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Agustus 3, 2010

Thinking Skills

Thinking Skills

Oleh : Ahmad Baedowi

Seorang teman guru di Kupang mengeluh tentang kemampuan teman-temannya dalam membuat lesson design. Dari 16 orang guru, hanya 3 orang yang memiliki kemampuan standar membuat lesson design, sedangkan 13 lainnya tak pernah membuat. Teman guru lainnya di Calang, Aceh Jaya, juga mengeluhkan hal yang sama, yaitu betapa sulitnya guru dalam merancang lesson design, hingga beberapa kepala sekolah di sana hanya meng-copy paste lesson design sejak zaman Orde Baru hingga sekarang hanya dengan mengubah nama guru dan sekolahnya saja.

Di awal berdirinya Sekolah Sukma Bangsa, kesulitan yang sama juga dirasakan oleh hampir semua guru baru. Namun secara perlahan dan pasti, kemampuan guru dalam membuat lesson design yang efektif dan mengenai target sasaran pembelajaran mulai terlihat. Dari format lesson design yang sederhana hingga yang rumit sekalipun para guru sudah terbiasa untuk melakoninya. Keterampilan dan kemampuan mereka dalam menyusun rencana pembelajaran terus berkembang seiring dengan meningkatkan thinking skills yang ditempa oleh pelatihan dan best-practice yang terus disupervisi secara ketat.

Jika ditanya, kesulitan apa yang dialami guru ketika menyusun sebuah lesson design/plan? Dari perspektif parameter pengajaran, studi Saphier dalam The Parameters of Teaching (1980) menunjukkan bahwa sekitar 80% guru mengalami kesulitan dalam menentukan tujuan pembelajaran (learning objectives). Ada banyak cara untuk menentukan tujuan pembelajaran. Tetapi karena tradisi copy paste di lingkungan pendidikan kita begitu tinggi, maka keterampilan guru tak berkembang kecuali sekadar mencoba memahami tujuan pembelajaran dari buku-buku teks yang tersedia. Hal semacam ini tampaknya kurang mendapat perhatian dari para pengawas pendidikan kita.

Dalam pelatihan-pelatihan peningkatan kapasitas guru, selalu diterangkan tentang paradigma pendidikan baru yang berorientasi kepada siswa (student center). Tujuan pembelajaran harus berorientasi pada kebutuhan siswa. Tetapi dalam realisasinya, kebanyakan guru malah terjebak pada orientasi tujuan pembelajaran sesaat karena tak didukung oleh thinking skills yang memadai. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Banyak sekali, ketika menentukan tujuan pembelajaran, guru terjebak pada kategori dan orientasi yang salah dalam menuliskan dan mengimplementasikan tujuan pembelajaran. Sebagian guru terobsesi untuk selalu mencoba mengatasi dan menyampaikan semua gagasan dan pengetahuan yang mereka miliki. Tipologi ini disebut sebagai coverage thinkers; bertumpu pada materi, mengutamakan ceramah, dan sangat kurang peduli dengan pemahaman siswa. Rumusan pertanyaan guru tipe ini biasanya adalah “what knowledge, skill, or concept am I teaching?”

Tipe kedua adalah activity thinkers, yaitu guru yang cenderung mengandalkan serangkaian aktivitas sehingga membuat siswa mereka terlihat sibuk dan kebanyakan bekerja secara berkelompok. Tidak ada yang salah dengan kategori ini, hanya saja fokus guru terlalu terpusat pada assigment dan penyelesaian masalah yang bersifat sementara tanpa mengikuti prosedur yang sistematik dan menuntun logika siswa bekerja. Proses belajar bermula dari asumsi tentang “what activities could students do to gain understanding or to develop these skills?”

Guru dengan tipologi involvement thinkers biasanya lebih banyak menghabiskan energi dari dua tipologi guru di atas, karena aktivitas dan ceramah menjadi lebih banyak, kelas menjadi bertambah ramai dan lebih fun, tetapi aspek tujuan atau objectives guru tipe ini selalu berorientasi pada “how can I get students really engaged?” Di atas ketiga tipologi tadi adalah guru yang secara substantif dan metodologis jauh lebih baik karena berusaha menggabungkan ketiga pendekatan di atas dan memiliki orientasi untuk belajar tuntas (mastery learning objectives). Biasanya rumusan standar asumsi tipologi guru keempat ini adalah “what do I want students ti know or be able to do when lesson is over?” dan “how will I know if they know it or can do it?”

Salah satu kelemahan dari tipologi guru yang berorientasi pada mastery learning objectives adalah kurangnya memberi ruang kepada daya jelajah pikir siswa untuk tumbuh menjadi lebih kritis dan lebih sistematik. Tetapi jika pendekatan ini juga digunakan, thinking skills siswa maupun guru akan tumbuh secara kritis dan menjadi lebih sistematis. Diperlukan guru dengan model generic thinkers yang mampu membimbing dan mengembangkan daya kritis siswa, sekaligus merumuskan tujuan pembelajaran berkualitas yang bertumpu pada apa yang dapat dilihat dan tak dapat dilihat di ruang kelas. [Media Indonesia]

Iklan

Responses

  1. اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُ اللهِ وَبَرَ كَا تُهُ
    ————————
    Bagus juga apa yang di tulis Oleh Ahmad Baedowi.
    Tapi ada tiga hal yang perlu penjelasan lebih lanjut.

    Pertama mungkin saja tulisan ini sebagai masalah lama dalam istilah baru.
    Kedua, Konsep “lesson design” ditujukan pada aspek apa dari sistem pembelajaran ? perlu juga penjelasan lebih lanjut, agar kita dapat mencermati permasalahannya kedepan.
    Katiga, Calon guru atau juga guru-guru kita dewasa ini sudah terbiasa melakukan pendekatan-pendekatan pembelajaran berdasarkan konsep “Instructional Design”. Dengan konsep ini berbagai ragam pengetahuan dan individual deferencis dapat dikemas dengan lebih apik.
    Yang sering terjadi dilapangan adalah kemampuan guru yang disiapkan oleh LPTK tidak bersesuaian dengan keinginan pengamat atau analis. Kasus yang terjadi di Sekolah Sukma Bangsa, dapat dianggap sebagai sebuah “kasus”. Pihak manajemen, di sekolah baru dengan paradigma baru tentu saja persoalanya tidak sama dengan sekolah biasa (lain).

    Wassalam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: