Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Agustus 10, 2010

Ritual Balimau: Pro-Kontra Mandi Suci

Ritual Balimau: Pro-Kontra Mandi Suci

By Nurlis Effendi

Tak ada keraguan saat menunjuk Sumatera Barat sebagai salah satu pusat Islam di Indonesia. Bahkan nilai-nilai Islam di daerah beribukotakan Padang ini sudah menyatu dalam kehidupan sehari-harinya masyarakatnya.

Sebagai gambarannya bisa dipetik dari makna ungkapan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, syarak mangato adat mamakai. Maksudnya, hukum adat berdasarkan hukum agama, hukum agama berdasarkan Al-Quran. Ketentuan adat dan tradisi di sana tak boleh bertentangan dengan hukum agama. Itulah sebabnya, tradisi yang tak bertentangan dengan agama tetap hidup.
Kendati demikian ada juga tradisi yang masih hidup kendati sudah melahirkan pro dan kontra. Salah satunya adalah Tradisi Balimau yang biasanya dilakukan sehari sebelum masuk ramadhan. Menjelang sore, warga mandi masal di sungai dan danau. Sungai Batang Kalawi, Lubuk Minturun, Lubuk Paraku, Lubuk Hitam dan Kayu Gadang, adalah lokasi favorit mandi Balimau ini.

Sejumlah penduduk bahkan membawa daun pandan, buah limau, bunga mawar, kenanga, dan melati. Semua bahan balimau dimasukkan ke wadah berisi air dan dengan air inilah mereka mandi lalu bercebut ke dalam sungai. Ini bak mandi kembang yang menebar keharuman.

Konon, dari sinilah muncul istilah Balimau. Mereka percaya, mandi ini selain membersihkan juga menyucikan diri. Bahkan setelah mandi mereka juga saling bermaaf-mafan. Ini dilakukan agar mereka nyaman saat menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan.

Memang dalam Islam tak ditemukan ajaran seperti Balimau ini. Itulah sebabnya, tradisi ini sempat melahirkan kecaman dari tokoh agama di Padang. Tradisi ini dinilai peninggalan Hindu yang umatnya mensucikan diri di Sungai Gangga, India.

Balimau dianggap mirip dengan Makara Sankranti, yaitu saat umat Hindu mandi di Sungai Gangga untuk memuja dewa Surya pada pertengahan Januari, kemudian ada Raksabandha sebagai penguat tali kasih antar sesama yang dilakukan pada Juli-Agustus, lalu Vasanta Panchami pada Januari-Februai sebagai pensucian diri menyambut musim semi.

Namun, niat menyucikan yang dilakukan warga Minang tentu saja berbeda dengan umat Hindu. Tak ada pula pelarangannya. Apalagi dalam tradisi ini juga ada sentuhan ke-Islam-an, yaitu beramaaf-maafan menjelang ibadah puasa.

Hanya saja yang menjadi masalah, saat Tradisi Balimau berlangsung kerap terjadi perbuatan yang dinilai maksiat. Misalnya, ada yang menjadikan Tradisi Balimau sebagai ajang pacaran. Bahkan tak sedikit lelaki yang memelototi tubuh wanita yang lekuk tubuhnya terlihat jelas sebab badannya terbalut kain basah.

Kelakuan sebagian orang itulah yang membuat tokoh agama di Minang meradang, sehingga menuding Tradisi Balimau lebih banyak mudharatnya dari pada manfaatnya. Sehingga tokoh agama ada yang menentang tradisi terus dihidupkan. Sebab, mereka menilai tradisi itu sudah tak sejalan dengan filosofi “adat bersendikan syarak”.

Sebenarnya tradisi mandi suci menyambut ramadhan ini bukan hanya terjadi di Tanah Minang saja. Di sejumlah daerah juga melakukan hal yang sama. Misalnya warga Riau melakukannya di Sungai Kampar. Istilahnya juga mirip dengan di Minang, yaitu Balimau Kasai.

Di kawasan Jawa, tradisi mandi suci disebut dengan Padusan. Ini dilakukan di setiap pelosok kampung. Juga dilakukan sehari menjelang ramadhan. Padusan adalah simbol mensucikan diri dari kotoran dengan harapan bisa menjalankan puasa dengan diawali kesucian lahir dan batin. Tempat mandi yang dicari adalah yang alami. Sebab mereka percaya sumber air yang alami adalah air suci yang menghasilkan tuah yang baik.

Sumber: Yahoo News

Iklan

Responses

  1. saya termasuk orang yg tidak setuju dengan tradisi balimau, dalam bentuk mandi ditempat umum serta dilengkapi dgn tetek bengek lainnya, yg sungguh2 sangat jauh dari nilai2 islam. mudah2an ulama di sumbar mampu membrantas praktik2 sprt ini, BUANGLAH SIFAT BANGGA DENGAN ADAT BASYANDI SYARA’, SYARA’ BASYANDI KITABULLAH. jgn dibiarkan saja…..

  2. Saya setuju dengan Bpk Yuhefizar, namun begitu susahnya mencegah TONTONAN yang hampir jadi TUNTUNAN yang salah ini

  3. ACARA BALIMAU SEPERTI YANG KITA SAKSIKAN BUKANLAH AJARAN AGAMA ISLAM, MELAINKAN AJARAN AGAMA NENEK MOYANG YANG MENJADI TRADISI/KEBIASAAN/ADAT.

  4. Memang berat menghadapi persoalan2 tradisi yg telah telanjur melekat pada kegiatan ritual… seperti benalu yg melekat pada pohon… Didalam tradisi “balimau” menyatu berbagai kepentingan, spt kepentingan ekonomi masyarakat setempat, pengembangan wisata lokal, dan kesempatan pula bagi remaja2 untuk nyemplung bareng.. Padahal tradisi ini tdk ada dasar dan sangkut pautnya dengan agama Islam, ataupun pelaksanaan puasa Ramadhan itu sendiri.. Justru timbul nuansa syirik, karena ada perasaan tidak afdhal puasa kalau tidak melaksanakan “balimau” menjelang Ramadhan..
    Jadi perlu ada ketegasan dari ulama dan pemerintah daerah setempat untuk serentak melarang acara balimau ini, krn lebih banyak mudharat daripada manfaatnya…

  5. adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, syarak mangato adat mamakai,saya setuju dengan ungkapan adat,apalagi saya mengetahui perjuangannya pada perang paderi ,tetapi yang masih melekat dan belum bisa dihapus adalah tatacara perkawinan di adat minang,juga persepsi laki2 minang yang menganggap dirinya berderajat lebih tinggi dari wanita,padahal oleh islam wanita telah diangkat berderajat sama dengan laki2,coba tolong pendidikan di sumatera barat dapat membina laki2 yang sering meninggalkan anak istri tanpa nafkah,sedang dia dimana2 menikah lagi,di jakarta ini sudah banyak contohnya,dan banyak dari mereka yang merantau,meninggalkan istri dan anak di kampung menyerahkan tanggung jawab kepada mertua tanpa nafkah,hanya menjadikan wanita sebagai alat untuk menyenangkan dirinya (berbuat dosa dianggap biasa)sendiri,mohon maaf saya sudah melihat puluhan di tempat tinggal saya,dan mengalaminya sendiri


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: