Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Agustus 16, 2010

Dirgahayu HUT RI ke 65

DIRGAHAYU HUT RI KE 65

17 AGUSTUS 2010

DENGAN SEMANGAT PROKLAMASI 17 AGUSTUS 1945,
KITA SUKSESKAN REFORMASI GELOMBANG KEDUA,
UNTUK TERWUJUDNYA KEHIDUPAN BERBANGSA
YANG MAKIN SEJAHTERA,
MAKIN DEMOKRATIS DAN MAKIN BERKEADILAN

——— oOo ———

Peringatan Hari Proklamasi

Pidato  Mohammad Hatta, Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia dalam memperingati HUT RI Th. 1963

Pengantar Redaksi:

DALAM rangka memperingati HUT ke-65 Kemerdekaan RI, kami turunkan naskah yang ditulis oleh Bung Hatta (Wakil Presiden RI pertama). Naskah ini, semula akan dibacakan di RRI pada tahun 1963, atas permintaan Menteri Penerangan Ruslan Abdulgani, tetapi batal, disebabkan Bung Hatta harus segera meninggalkan Tanah-Air untuk berobat di LN. Pelita memperoleh kehormatan menurunkan tulisan ini, dimana naskah aslinya disimpan oleh Bapak Umar Husein, mantan Atase KBRI di Stockholm dan mantan Dubes RI di Irak. Kami turunkan masih dengan ejaan lama, dimana huruf “J” (ejaan lama) berubah menjadi “Y” (ejaan baru) dan “DJ” (ejaan lama) menjadi “J” (ejaan baru), “TJ” (ejaan lama) menjadi “C” (ejaan baru). Semoga bermanfaat.

PADA tanggal 17 Agustus tahun 1945 bangsa Indonesia menjatakan kemerdekaannja dengan suatu Proklamasi jang ditanda-tangani oleh Bung Karno dan saja atas nama bangsa Indonesia.

Dengan proklamasi ini rakjat Indonesia menentukan nasibnja sendiri. Dalam pidato radio saja pada tanggal 20 Agustus 1945 saja tegaskan bahwa proklamasi itu berarti, bahwa “Kita mau mendjadi bangsa jang merdeka diakui atau tidak oleh bangsa asing. Ini kebulatan hati kita, penetapan kemauan kita. Kita mau hidup seterusnja sebagai bangsa jang mempunjai kehormatan. Lambang dari pada kehormatan itu ialah Sang Merah Putih jang telah berkibar di putjuk tiang dan akan kita teruskan berkibarnja sampai pada achir zaman.”

Hari proklamasi itu ialah hari jang bersedjarah, menjudahi zaman kolonial, membangun Indonesia Baru jang merdeka, bersatu, berdaulat, adil. dan makmur. Dengan proklamasi itu tertjapailah tjita-tjita pergerakan kebangsaan jang berpuluh-puluh tahun lamanja, jang tidak sedikit meminta korban djiwa dan raga. Tidak sedikit pedjuang kemerdekaan jang meringkuk di dalam bui, hidup melarat dalam pembuangan, tetapi senantiasa menjimpan dalam hatinja jang luka wadjah Tanah Air jang duka.

Proklamasi Indonesia Merdeka itu disambut oleh rakjat dengan wadjah jang berseri-seri dan semangat jang bergelora. Ada jang menangis tersedu-sedu bertjutjuran air matanja, karena gembira, karena kehilangan duka jang lama. Proklamasi itu menimbulkan pula tekad pada pemuda dan rakjat untuk berdjuang mempertahankan Indonesia Merdeka dengan sembojan: Sekali Merdeka, tetap merdeka!

Hanja orang jang hidup dimasa itu dan telah mengalami pula pahit dan getirnja pendjadjahan Belanda dan pendudukan tentera Djepang, dapat merasai benar-benar arti Hari Kemerdekaan itu. Dimana-mana di seluruh Tanah Air Indonesia jang merdeka terdapat semangat jang bergelora, semangat perdjuangan dengan tekad jang tak kundjung padam. Semangat jang berapi-api itu menanam tekad pada beribu-ribu pemuda untuk membiarkan rambutnja pandjang sampai Kemerdekaan Indonesia diakui oleh Belanda dan seluruh dunia.

Pemuda sekarang jang belum lahir diwaktu itu tidak dapat menggambarkan dengan tepat dalam kalbunja, betapa hebatnja Hari Proklamasi itu dan masa berikutnja. Mangkin djauh tanggal 17 Agustus tahun 1945 dari sekarang dimasa datang, mangkin kabur wadjah jang sebenarnja dari hari jang bersedjarah itu. Lukisan di atas kertas tetap berlainan rupanja dari sedjarah jang dialami sendiri. Sebab itu ada baiknja Hari Nasional jang bersedjarah itu diperingati setiap tahun untuk menekankan kembali kepada pemuda dan rakjat, betapa pentingnja Proklamasi Indonesia Merdeka itu bagi sedjarah bangsa kita. Peristiwa jang penuh dengan semangat dan keperwiraan mungkin tidak dapat digambarkan lagi setepat-tepatnja dalam kalbu angkatan kemudian, tetapi tjita-tjita bangsa jang terkandung dalam tudjuan Proklamasi itu mendjadi tugas bagi angkatan kemudian jang menerima waris Tanah Air jang merdeka, bersatu, dan berdaulat.

Tugas daripada angkatan muda ialah menjelamatkan tjita-tjita bangsa seterusnya, jaitu menjelenggarakan suatu Indonesia jang adil dan makmur. Dalam alamnja jang merdeka, jang dianugerahi Allah dengan bumi jang kaja dan tanah jang subur; rakjat kita jang menderita selama ini, hendaknja tjepat dapat merasai kebahagiaan hidup, kesedjahteraan masjarakat, dan perdamaian djiwa.

Untuk melaksanakan tugas jang tidak ringan itu, kita memerlukan bimbingan dari Jang Maha-Kuasa. Itulah sebabnja maka negara kita berdasarkan Pantjasila. Ini terasa benar pada saat jang bersedjarah itu oleh pemimpin-pemimpin rakjat jang sedang meletakkan dasar bagi Indonesia Merdeka. Dalam Preambule-Pembukaan Undang Undang Dasar 1945 antara lain dinjatakan dengan ichlas dengan perkataan jang berikut:

“Atas berkat rahmat Allah Jang Maha-Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur, supaja berkehidupan kebangsaan jang bebas, maka rakjat Indonesia menjatakan dengan ini kemerdekaannja.”

Angkatan sekarang dan kemudian hendaklah memahami benar-benar isi dan udjud daripada Pantjasila itu, lima dasar jang satu sama lain dukung mendukung. Pantjasila itu hendaklah diamalkan benar-benar dengan perbuatan, djanganlah ia dipergunakan sebagai “lip service” sadja. Pengakuan kepada Tuhan Jang Maha-Esa dalam artinja, tidak dapat dipermain-mainkan. Tidak sadja berdosa, sebagai manusia kita mendjadi machluk jang hina, apabila kita mengakui dengan mulut dasar jang begitu tinggi dan sutji, sedangkan di hati tiada.

Dasar Ketuhanan Jang Maha-Esa djadi dasar jang memimpin tjita-tjita kenegaraan kita untuk menjelenggarakan segala jang baik bagi rakjat dan masjarakat, sedangkan dasar peri-kemanusiaan adalah kelandjutan dengan perbuatan dalam praktik hidup daripada dasar jang memimpin tadi. Dasar persatuan Indonesia menegaskan, bahwa Indonesia adalah satu dan tidak dapat dibagi-bagi, persatuan daripada negara nasional jang bertjorak bhinneka tunggal ika, bersatu dalam berbagai suku-bangsa. Dasar ini menegaskan sifat negara Indonesia sebagai negara nasional, berdasarkan ideologi sendiri. Dasar kerakjatan mentjiptakan pemerintahan jang adil, jang dilakukan dengan rasa tanggung djawab, agar terlaksana keadilan sosial, jang tertjantum sebagai sila kelima. Dasar keadilan sosial ini adalah pedoman dan tudjuan kedua-duanja.

Akibat daripada meletakkan dasar Ketuhanan Jang Maha-Esa di atas, sekalipun Pantjasila dalam kesatuannja tidak berubah, ialah bahwa politik negara mendapat dasar moral jang kuat. Ketuhanan Jang Maha-Esa tidak lagi hanja hormat-menghormati agama masing-masing, melainkan djadi dasar jang memimpin ke djalan kebenaran, keadilan, kebaikan, kedjudjuran, dan persaudaraan. Dengan dasar ini sebagai pimpinan dan pegangan dalam kesatuan Pantjasila, pemerintahan negara pada hakekatnja tidak boleh menjimpang dari djalan jang lurus untuk mentjapai kebahagiaan rakjat dan keselamatan masjarakat, perdamaian dunia serta persaudaraan bangsa-bangsa.

Karena sila Ketuhanan Jang Maha-Esa, jang menghidupkan perasaan jang murni senantiasa, terdapatlah pasangan jang harmoni antara kelima-lima sila itu. Sebab, apa artinja pengakuan akan berpegang kepada dasar Ketuhanan Jang Maha-Esa, apabila kita tidak bersedia berbuat dalam praktik hidup menurut sifat-sifat jang dipudjikan kepada Tuhan Jang Maha-Esa, seperti kasih dan sajang serta adil?

Pengakuan kepada dasar Ketuhanan Jang Maha-Esa mengadjak manusia melaksanakan harmoni di dalam alam, dilakukan terutama dengan djalan memupuk persahabatan dan persaudaraan antara manusia dan bangsa. Pengakuan ini mewadjibkan manusia didalam hidupnja membela kebenaran, dengan kelandjutannja: menentang segala jang dusta. Pengakuan itu mewadjibkan manusia didalam hidupnya membela keadilan, dengan kelandjutannja: menentang atau mentjegah kezaliman. Pengakuan itu mewadjibkan manusia didalam hidupnya berbuat jang baik, dengan kelandjutannja: memperbaiki kesalahan. Pengakuan itu mewadjibkan manusia didalam hidupnja bersifat djudjur, dengan kelandjutannja: membasmi ketjurangan. Pengakuan itu mewadjibkan manusia didalam hidupnja berlaku sutji, dengan kelandjutannja: menentang segala jang kotor, dalam hal perbuatan maupun keadaan. Pengakuan itu mewadjibkan manusia didalam hidupnja menikmati keindahan, dengan kelandjutannja: melenjapkan segala jang buruk.

Semua sifat-sifat itu, jang wadjib diamalkan karena mengakui akan berpegang kepada dasar Ketuhanan Jang Maha-Esa –menerima bimbingan dari Zad jang sesempurna-sempurnanja– memperkuat pembentukan karakter, melahirkan manusia jang mempunjai integrita, jang djudjur, dan jang mempunjai rasa tanggung jawab.

Apabila sifat-sifat ini hidup dalam djiwa manusia, berkat didikan dan asuhan, maka dasar peri-kemanusiaan dengan sendirinja terlaksana dalam pergaulan hidup. Dasar peri-kemanusiaan, seperti disebut tadi tak lain dari kelandjutan dalam perbuatan dalam praktik hidup daripada dasar Ketuhanan Jang Maha-Esa, dasar jang memimpin tadi. Sebab itu pula, letaknja dalam urutan Pantjasila tidak dapat dipisah dari dasar Ketuhanan Jang Maha-Esa.
Dengan hidupnja sifat-sifat tersebut dalam djiwa manusia Indonesia, dasar persatuan Indonesia mengandung di dalamnja keutuhan bangsa, beserta persahabatan dan persaudaraan kedalam dan keluar, diliputi oleh suasana kebenaran, keadilan, kebaikan, kedjudjuran, kesutjian, dan keindahan.

Atas pengaruh sifat-sifat itu, kerakjatan atau demokrasi di Indonesia akan berjalan di atas kebenaran, keadilan, kebaikan, kedjudjuran, kesutjian, dan keindahan. Dasar Ketuhanan Jang Maha-Esa jang diamalkan seperti disebut tadi, akan memelihara demokrasi kita dari budjukan korupsi dan gangguan anarki. Korupsi dan anarki, kedua-duanja bahaja jang senantiasa mengantjam demokrasi, jang kalau tidak diberantas akan merubuhkan demokrasi, seperti ternjata dalam sedjarah segala masa.

Keadilan sosial akan terselenggara benar-benar dengan dukungan sifat-sifat kebenaran, keadilan, kebaikan, kedjudjuran, kesutjian, dan keindahan; jang meliputi perbuatan manusia Indonesia dalam kedudukannja jang memimpin dan dipimpin. Keadilan sosial tudjuannja melaksanakan tjita-tjita perdjuangan rakjat selama itu, supaja rakjat Indonesia bebas dari kemiskinan dan kesengsaraan hidup.

Maka dengan diamalkan begitu, dalam pengakuan dan perbuatan, barulah Pantjasila benar-benar dapat mengudjudkan kebahagiaan, kesedjahteraan, perdamaian, dan kemerdekaan dalam masjarakat dan negara-hukum Indonesia Merdeka jang berdaulat penuh.

Mudah-mudahan tjita-tjita ini hidup dalam djiwa pemuda sekarang dan masa datang, agar ia dapat dengan sesungguhnja menunaikan tugas sedjarahnja kepada Nusa dan Bangsa.

Moga-moga perajaan hari nasional tanggal 17 Agustus tahun ini, jang setelah Irian Barat kembali ke dalam pangkuan Ibu Pertiwi, pertamakali dirajakan di seluruh Tanah-Air jang tertjinta, memberikan dorongan jang kuat untuk melaksanakan tjita-tjita: Indonesia jang adil dan makmur!

Sumber: Millist Anggota ICMI, Harian Pelita

Silahkan download dokumen pidato diatas dalam bentuk file word-document [klik disini]

Iklan

Responses

  1. Negara Bertauhid itu Bernama Indonesia

    Pada tanggal 9 Ramadhan 1364 H., bertepatan tanggal 17 Agustus 1945, para pendiri negara ini memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia dari kolonialisme. Bangsa Indonesia kembali merayakan hari jadinya yang ke 65 tahun, persis jatuh pada bulan suci Ramadhan, tepatnya hari Selasa, tanggal 7 Ramadhan 1431 H., kesan peringatan kali ini lebih terlihat sederhana, khusyu’ dan jauh dari hura-hura.

    Kalau kita tengok kembali perjalanan sejarah bangsa besar ini, kita akan menemukan bahwa peran, kontribusi dan perjuangan umat Islam terhadap kemerdekaan begitu besar. Tercatat dalam buku sejarah kita, para pahlawan, syuhada’ dari berbagai pelosok negeri ini adalah nota bene mereka muslim. Mereka berjihad membela tanah airnya dan menegakkan agamanya sekaligus. Dengan jiwa dan raga mereka membela negeri ini. Ada Pangeran Diponegoro di Jawa Tengah, ada Imam Bonjol di Sumatera, ada Kapitan Pattimura Ahmad Lussy, ada Cut Nyak Dien, dan sederet nama-nama pahlawan nasional lainnya, bahkan ada di antara kakek-nenek kita, orang tua kita yang juga berjuang mengusir penjajah, namun mereka tidak tercatat sebagai pahlawan dan tidak di makamkan di Taman Makam Pahlawan. Kemudian, para pendiri negeri ini meneruskan perjuangan mereka dan memproklamirkan kemerdekaannya.

    Negara Tauhid

    Para pendiri bangsa ini meletakkan dasar negara Indonesia berasaskan Tauhid (penuturan saksi sejarah kepada penulis). Itu terbukti secara konstitusional. Paling tidak ada 3 dalil kanstitusional yang menguatkan hal itu:

    Pertama, bunyi pembukaan UUD 45 Alinia ketiga, “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.” Pernyataan tegas itu menunjukkan bahwa para pendiri negeri ini sadar betul bahwa kemerdekaan ini bukan semata-mata jerih payah mereka, tapi lebih pada karunia dari Allah swt. Ini sekaligus membuktikan bahwa para pendiri negeri ini religius dan taat beragama.

    Kedua, adalah bunyi Pasal 29 Ayat 1 Undang-Undang Dasar, “Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.” Sebelum rumusan ini disepakati, bunyi ayat itu adalah “Negara berdasarkan Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Delapan kata yang terakhir dicoret, karena umat Islam sangat toleran terhadap agama lain, dan untuk menggantikan delapan kata itu, disepakatilah satu kata, yaitu Esa. Kenapa bukan Maha Kuasa, Maha Besar, Maha Kasih Sayang dst., tapi mengapa dipilih kata Esa. Karena Esa itu berarti Tauhid. Allah swt. berfirman: “Katakanlah, Dialah Allah Yang Esa.” (Al-Ikhlas:1).

    Ketiga, adalah pasal 31 ayat 3 (hasil amandemen) tentang Pendidikan Nasional Indonesia. Berbunyi, “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional,yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.”

    Subhanallah, jadi kalau kita fair, ketiga landasan konstitusional itu sudah menjadi bukti bahwa negeri ini didirikan karena tekad kuat dari para pendirinya untuk maju, membangun dan menjadi negara yang besar berlandasan tauhid.

    Berdasarkan akar sejarah bangsa ini -yaitu para pahlawan dan syuhada’ adalah mayoritas muslim dan bukti bahwa semangat para pendiri negeri ini adalah tauhid-, maka sudah seharusnya jika pemimpin negeri ini melanjutkan perjuangan mereka dengan semangat yang sama dan tidak sekali-kali menjadikan umat Islam sebagai kelompok yang dicurigai, didiskriminasi apalagi dijadikan musuh. Dan jangan sampai ada lagi kelompok-kelompok dari pengelola negeri ini yang sengaja mengkait-kaitkan tindak pengkrusakan dan terorisme dengan agama Islam atau agama apapun, apa lagi dengan sengaja menciptakan kondisi dan kesan seperti itu. Sebab, selain tindak pengkrusakan dan tindak terorisme bukan dari ajaran agama apapun, apalagi agama Islam, juga berarti kita melupakan sejarah bangsa sendiri dan melupakan perjuangan umat Islam selama ini.

    Suka tidak suka, mayoritas penduduk negeri ini adalah Muslim. Bahkan menjadi penduduk terbesar Islam di dunia. Bayangkan! Jika semua penduduk muslim Timur Tengah dijadikan satu, itu masih lebih banyak jumlah penduduk Muslim di negeri ini. Inilah fakta dan data, kita tidak bisa memungkirinya. Jadi siapapun kita, dan para pemimpin negeri ini, hendaknya memperlakukan umat Islam secara fair dan bijaksana. Agar negeri ini secara berproses kembali bangkit dan membangun bersama, menjadi negara yang diperhitungkan dipercaturan dunia internasional. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari umat Islam, karena ajaran Islam membawa kasih sayang bagi alam semesta, bagi semua umat manusia tanpa terkecuali “Islam Rahmatan lil’aalamiin”.

    Bulan suci Ramadhan menjadi bukti bahwa Islam dan umatnya cinta persaudaraan, kepedulian, berbagi, membangun, berprestasi dan memberikan sebesar manfaat bagi siapapun, terutama bagi negeri tercinta ini, biidznillah.

    Itulah yang semestinya kita bangun bersama di negeri ini, dan itulah yang harus ditunjukkan oleh para pemegang amanah kepemimpinan di negeri ini. agar kita tidak disebut, “lupa akar sejarah bangsanya sendiri”. Allahu a’lam [sumber: dakwatuna.com]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: