Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Agustus 20, 2010

Strategi dan Efektivitas Pembelajaran di Sekolah

Strategi dan Efektivitas Pembelajaran
di Sekolah

Oleh Drs. MARIJAN
Praktisi Pendidikan di SMPN 5 WATES Kulon Progo Yogyakarta

Drs. Marijan Guru SMPN 5 Wates Kulon Progo Yogyakarta dan Anggota KGI Kulon Progo DIY

KEBERHASILAN pembelajaran sangat ditentukan masing-masing guru dikelas. Tenaga pengajar yang profesional akan terukur dari se jauh mana dia menguasai kelas yang diasuhnya hingga mengantarkan peserta didiknya mencapai basil belajar yang optimal. Dalam pandangan psikologi belajar, keberhasilan belajar itu lebih banyak ditentukan tenaga pengajamya. Hal ini disebabkan tenaga pengajar sebagai orang yang berperan dalam proses transformasi pengetahuan dan keterampilan juga dia memandu segenap proses pembelajaran. Pada pengajarlah pembelajaran diarahkan kemana akan dibawa.

Guru memegang peranan yang sangat menentukan bagi keberhasilan pembelajaran di kelas. Cooper (1990) mengidentifikasi sepuluh jenis kecakapan yang menjadi persyaratan dasar jika seorang guru akan berdiri di depan kelas. Kesepuluh tersbut adalah, guru harus dapat : 1) berperan pembuat keputusan, 2) bertindak sebagai perencana pembelajaran, 3) menentukan tujuan pembelajaran, 4) menyampaikan pelajaran, 5) bertanya untuk mendinamisasikan kelas, 6) memahami konsep pengajaran dan pembelajaran, 7) berkomunikasi, 8) mampu mengendalikan kelas, 9) mengakomodir seluruh kebutuhan peserta belajar dan 10 ) melakukan evaluasi

Untuk menyiasati kesepuluh kecakapan tersebut di atas guru harus memiliki sejumlah strategi demi efektivitas dalam melakukan proses pembelajaran. Strategi dimaksud bukan saja untuk mencapai tujuan pembelajaran akan tetapi lebih jauh dari itu adalah dalam rangka menumbuhkan minat belajar siswa. Guru yang mampu memenuhi sepuluh kecakapan seperti tersebut di atas akan sangat dirindukan kehadirannya oleh sswa.

Bagaimana strateginya agar guru bisa terasa efektif melakukan Pembelajaran di sekolah ? Di bawah ini dikemukakan langkah-langkah strategi dalam pembelajaran. Pertama, mengenal karakteristik siswa. Hal ini sangat penting dan strategic. Dikatakan penting karena akan mempermudah sikap guru dalam menentukan strategi dan metode penyampaian materi pelajaran. Guru dapat memenuhi keinginan si pebelajar dan dapat berkomunikasi secara harmonic. Cara penyajiannya pun dapat dilakukan dengan menyesuaikan keadaan dan keinginan si pebelajar. Dengan demikian tidak ada lagi komunikasi search seperti halnya guru jaman dulu.

Dikatakan stiategik karena dengan mengenal karakteristik siswa maka siswa dapat diarahkan pada pencapaian tujuan belajar. Komunikasi dua arah seperti yang kita harapkan tidak mengalami hambatan oleh karenanya guru diharapkan mengenal karakteristik siswanya.

Kedua, memahami interaksi pembelajaran. Sebagai kata kunci dalam interaksi pembelajaran adalah komunikasi. Sekalipun setiap orang dipastikan dapat melakukan komunikasi terhadap orang lain akan tetapi tidak semua orang dapat berkomunikasi dengan baik. Terlebih komunikasi antara guru dengan siswa, suatu hat yang tidak asal komunikasi. Komunikasinya bersifat edukatif. Bukan hanya menyampaikan pikiran-­pikiran dan narasi tetapi menyampaikan pikiran-pikiran dan narasi yang mendidik.

Agar lebih berhasil dalam pembelajarannya baik dari segi materi maupun proses penyampaiannya, guru mampu memberikan pengalaman kepada siswa mencakup 3 kategori seperti yang dikernukakan oleh Surahmad dalam ( Muhtrar : Kiat Sukses Mengajar di Kelas ). 1). Pengalaman rill, yaitu segenap media di dalam dunia kehidupan sehari-hari, 2) Pengalaman buatan yaitu segenap media sengaja dibuat untuk mendekatkan pengertian pada, pengalaman riil, 3) Pengalaman verbal yaitu segenap bahasa baik lisan maupun tulisan. Interaksi dimaksud dalam hal ini mencakup interaksi guru dengan siswa maupun interaksi siswa dengan bahan ajar. Guru hendaknya padai-pandai mengupayakan tercapainya interaksi yang harmonic dan realistic.

Ketiga merancang tujuan instruksional. Tujuan instruksional meliputi tujuan umum (TIU) dan tujuan instruksional khusus (TIK). Untuk TIU sudah ada dalam GBPP sedangkan TIK dibuat sendiri oleh guru dengan berdasar situasi dan kondisi sekolah, siswa dan lingkungan. TIK inilah sebagai pedoman arah dan tujuan pembelajaran. Oleh Robert F Mager (1962) didefinisikan tujuan instruksional adalah tujuan perilaku yang hendak dicapai atau tyang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi tingkat kompetensi tertentu. Demikian juga oleh Fred Percival dalam (Muhtar : Kiat Sukses Mengajar di Kelas : 2003 ) didefinisikan tujuan instruksional sebagai suatu pernyataan yang telah menunjukkan penampilan atau keterampilan siswa tertentu yang diharapkan dapat dicapai sebagai basil belajar.

Manfaat TIK adalah, 1) menyusun instrument tes, 2) merancang strategi pembelajaran, 3) menyusun spesifikasi dan memilih media yang cocok dan 4) melaksanakan proses belajar. Oleh karena, demikian besamya manfaat TIK maka mestinya terjadi suatu pedoman yang nyata, dan diupayakan keberadaannya. Namun ­tidak dapat dipungkiri masih banyak guru yang belum secara serius membuat TIK dalam mempersiapkan perangkat pembelajaran. Tujuan instruksional seharusnya dituangkan dalam 3 ranah yaitu : kognitif, afektif dan psikomotorik siswa. Oleh Benyamin S Bloom (1964) 3 ranah dimaksud di atas diklasifikasikan lagi menjadi beberapa tingkat yang lebih khusus.

Oleh karena taksonomi Bloom sampai sekarang ini masih dipakai sebagai dasar pengembangan tujuan instruksional maka tentunya, guru harus memahaminya. Ranah kognitif meliputi tingkat pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evalusi Ranah afektif meliputi tingkat menerima, tanggapan, menilai, organisasi dan karakterisasi. Sedangkan ranah psikomotorik meliputi gerakan seluruh badan, gerakan yang terkoordinasi, komunikasi non verbal dan keterampilan dalam berbicara. Selanjutnya tingkatan–tingkatan itu dijabarkan secara operasionak dalam TIK menggunakan kata kerja operasional juga. Guru harus memahami TIK yang dibuatnya, sendiri secara komprehensif sehingga mampu menjabarkan secara opasional dalam proses pembelajarannya.

Keempat, mampu mengelompokkan siswa. Pengaturan tempat duduk siswa dalam kelompok kecil perlu mendapat perhatian guru. Bahkan guru mempunyai otoritas atas pengaturan tempat duduk. Hal ini berhubungan dengan strategi yang akan dilakukan guru dalam proses pembelajaran. Kecuali itu guru dapat memberdayakan siswa agar lebih aktif, terprogram dan terarah. Siswa yang pemalu dan agak tersisih hendaknya didudukkan di tempat yang lebih memungkinkan mereka mengembangkan buah pikirannya.

Kelima, mampu memilih strategi yang cocok dalam melaksanakan pembelajaran. Oleh karena demikian banyaknya strategi yang bisa diminati maka guru mempunyai cara tersendiri untuk menentukan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukannya. Setiap cara biasanya dipilih atas dasar pertimbangan keberhasilan setelah belajar. Dick dan Carey (1985) menyatakan bahwa strategi pembelajaran terdiri 5 komponen yang harus dipersiapkan. Komponen-komponen tersebut adalah : 1) kegiatan prapembelajaran, 2) penyajian informasi, 3) partisipasi siswa, 4) tes dan 5) tindak lanjut. Guru terbuka lebar untuk menentukan strategi pembelajaran yang diterapkannya. Sebab 5 komponen tersebut di atas dianggap belum lengkap oleh Gagne dan Briggs ( 1989). Menurutnya ada 9 urutan kegiatan pembelajaran yang barns dilakukan oleh guru yaitu : 1) memberikan motivasi atau menarik perhatian, 2) menjelaskan tujuan instruksional kepada siswa, 3) mengingatkan kompetensi prasyarat, 4) memberi stimulus (masalah, topik, konsep), 5) memberi petunjuk belajar, 6) memunculkan penampilan siswa, 7) memberi umpan balik, 8) menilai penampilan, dan 9) menyimpulkan. Oleh Briggs sendiri dan Wager (1981) diungkapkan tidak semua pelaksanaan pembelajaran memerlukan seluruh sembilan urutan kegiatan tersebut.

Dalam strategi pembelajaran ini terkandung, metode pelaksanaan. Bagi guru diharapkan dapat melakukan berbagai metode yang tentu saja disesuaikan dengan materi. Ceramah, demonstrasi, simulasi, diskusi, studi mandiri, studi kasus dan lain-lain sebagai pilihan metode menguasai banyak metode. Hal ini untuk menghindari kebosanan siswa, dan ketidakrelevanan materi ajar.

Keenam, mampu memanfaatkan media. Media sangat membantu penguasaan materi ajar -bagi siswa. Lebih-lebih siswa SD dan SMP. Siswa SD baru dalam penguasaan tingkat konkret. Artinya pengetahuan sesuatu akan mudah dicerna, disimpan di dalam otaknya apabila dapat diindera secara nyata. Nah, fungsi media dalam pembelajaran tentu untuk membantu kemudahan penggunaan materi ajar. Kiranya akan berbeda hasilnya, proses pembelajaran yang menggunakan mdeia dengan proses pembelajaran yang tidak nmenggunakan media. Tentu akan lebih balk pembelajaran yang cmenggunakan media yang terprogram. Agar pembelajaran lebih efektif , guru hendaknya 1) mampu merencana , merakit atau mempergunakan berbagai media sesuai kegiatan prapembelajaran, 2) penyajian informasi, 3) partisipasi siswa, 4) tes dan 5 tindak lanjut. Guru terbuka lebar untuk menentukan strategi pembelajaran yang diterapkannya. Sebab 5 komponen tersebut di atas dianggap belum lengkap oleh Gagne dan Briggs ( 1989). Menurutnya ada 9 urutan kegiatan pembelajaran yang barns dilakukan oleh guru yaitu : 1) memberikan motivasi atau menarik perhatian, 2) menjelaskan tujuan instruksional kepada siswa, 3) mengingatkan kompetensi prasyarat, 4) memberi stimulus (masalah, topik, konsep), 5) memberi petunjuk belajar, 6) memunculkan penampilan siswa, 7) memberi umpan balik, 8) menilai penampilan, dan 9) menyimpulkan. Oleh Briggs sendiri dan Wager (1981) diungkapkan tidak semua pelaksanaan pembelajaran memerlukan seluruh sembilan urutan kegiatan tersebut.

Ketujuh, menentukan muatan bahan ajar. Dari sekian banyak fakta; konsep, prinsip dan hukum yang kita kuasai dari berbagai sumber tentu tidak semuanya disampaikan kepada siswa. Akan tetapi muatan muatan bahan ajar yang telah terseleksi dan terorganisasi dan disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa yang diberikan. Secara bertahap guru memberi muatan materi tersebut yang telah terstruktur, dimuali dari tingkat yang paling rendah sampai tingkat yang paling sulit. Pemilihan bahan pelajaran berhubungan erat dengan perencanaan mengajar. Guru yang mempersiapkan diri secara matang akan selalu membuat program satuan pelajaran dan melengkapi tugas mengajar dengan rencana pelajarannya. Di sinilah sesungguhnya inti pokok profesionalitas guru dalam profesinya sebagai tenaga pengajar. Baik dan buruknya, runtut dan tidaknya guru dalam melaksanakan pembelajaran dipengaruhi oleh sejauh mana kesiapan rencana pembelajarannya.

Menyikapi perubahan jaman yang terus mengalami kemajuan, guru dituntut aktif mengikuti perubahan tersebut. Guru hendaknya dapat memberi jembatan pengetahuan mutakhir. Oleh karenanya guru diharapkan banyak mencari tabu pengetahuan dengan cara membaca buku, majalah, bulletin, harian umum, dan berbagai media elektronik.

Kedelapan, mampu menilai hasil belajar. Menilai hasil belajar merupakan bagian terakhir dari proses pembelajaran. Dalam hal ini guru sebelumnya tentu telah mempersiapkan alat uji yang akan diberikan kepada anak. Terdapat hubungan yang erat antara sasaran belajar dengan soal ujian. Beberapa ahli menyarankan agar segera setelah isi bahan ajar dan rincian tugas selesai ditulis langsung berhubungan pokok materi  ajar

Mengenai bentuk alat uji bisa berupa tes tertulis objektif, pilihan ganda, soal benar salah, soal menjodohkan, dan soal esai. Soal esai inilah sesimgguhnya yang paling komprehensif karena akan dapat menunjukkan siswa yang mengerjakan ngawur dan yang benar-benar berpikir.

Apabila guru menyikapi beberapa kiat dan strategi pembelajaran seperti terurai di atas dengan serius maka peningkatan mutu pendidikan tidak berhenti pada retorika belaka. Peningkatan mutu pendidikan perlu diupayakan secara nyata dengan membenahi strategi dan efektivitas pembelajaran di sekolah. Sesunggubnya strategi dan efektivitas pembelajaran yang dapat meningkatkan mutu pendidikan merupakan tujuan utama isi paparan artikel ini

Iklan

Responses

  1. terlalu umum, udah banyak banget file begituan di dunia maya…kalo bisa artikelnya yang original belum pernah ada gitu ato masih jarang yang tahu

  2. —————————
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُ اللهِ وَبَرَ كَا تُه
    —————————-

    Ada ddua hal yang perlu kita pahami sekaitan dengan strategi dan efektifitas pembelajran.
    Pertama, istilah guru profesional berdasrkan teori dan guru profesional dalam prktek. Kalau guru profesional berdasarkan terori termasuk kedalamnya profesional menurut UU Guru dan dosen. Kiprah mereka mungkin akan dapat dilihat pada masa-masa yang akan datang. Bagai mana stategi dan metodologi yang akan dimaninkannya kita perlu menunggu waktu tampilannya.
    Kalau guru profesional dalam praktek kiprah mereka telah berlansung berabad-abat sampai hari ini. Kemahiran dan keterampilan mereka dalam mengajar dan mendidik sudah dapat kita buktikan di berbagai daerah dan sekolah.
    Ingat sepanjang sejarah termasuk kedepannya. tidak semua Guru bisa profesional dan tetap saja ada yang tidak bagus cara mengajarnya.
    Kedua. Dari pengalaman lapangan lebih mudah mengajar berdasarkan realitas di mana sekolah itu berada dari pada mengikuti teori yang disisusun sedemikian rupa walau terinci sedikian rupa.
    Makanya sesungguhnya strategi dan metoldologi itu efektif tidaknya atau effesien tidaknya sepenuhnya tergantung kepada guru bersangkutan.
    Anda akan lebih sulit belajar mengoperasikan sebuah komputer berdasarkan teori yang ada di dalam buku jika dibandingkan dengan belajar lansung pada praktek dengan seorang teman atau instruktur.
    Makna apa yang bisa anda peroleh dengan pesan ini ?
    Wassalam

  3. benar, peranan utama dari keberhasilan pendidikan adalah guru, kemudian siswa dan kelengkapan sarana dan prasarana.

  4. Benar sekali apa yang ditulis pak Marijan

  5. Setuju pak…..
    bagaimana dengan strategi dan efektivitas pembelajaran di SMP 5 wates


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: