Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | September 13, 2010

Jepang: Kyoiku Mama

Japan: Kyoiku Mama

Oleh: Himawari

Berbicara tentang Jepang, teknologi dan kedisplinan merupakan hal yang hampir selalu jadi sorotan. Kemampuan intelektualitas yang tinggi hingga kesuksesan sebagai pekerja keras tampak sebagai hal yang alamiah dalam kehidupan bangsa Jepang. Pernahkah terbersit dalam benak kita, sebenarnya apa yang mempengaruhi proses perkembangan bangsa Jepang hingga semaju ini? Dengan kemampuan fisik maupun otak yang kapasitasnya sama dengan kita sebagaimana umumnya sama, lalu di mana letak perbedaannya? Jawabannya adalah pendidikan. Pendidikan dapat dikatakan sebagai salah satu kunci utama kebangkitan Jepang pasca perang dunia.

Dalam hal pendidikan, hal mendasar sebenarnya adalah peran keluarga sebagai tempat edukasi primer sejak seorang bayi dilahirkan di dunia. Dalam keluarga di Jepang, peran seorang ibu sangatlah besar dalam proses pendidikan anak-anaknya. Ibu-ibu di Jepang tidak hanya memikirkan perawatan anaknya hingga ia masuk sekolah dasar semata tetapi juga pendidikan jangka panjang hingga anak tersebut lulus perguruan tinggi nantinya. Terkait dengan hal ini, ada satu istilah di Jepang yang sangat erat dengan peranan ibu yaitu ‘kyoiku mama’ atau ‘education mother’.

Hal semacam ini berawal dari persepsi yang telah mendarah daging dalam budaya Jepang yaitu ‘good wife, good mother’ bagi perempuan dalam pernikahan. Pada tahun 1909 dalam pameran Mitsukoshi, Kepala Sekolah Menengah pertama, Nitobe Inazo berkata,“The education of a citizenry begins not with tha infant but with the education of a country’s mothers.” Pernyataan ini merupakan pandangan umum di Jepang di mana dapat dikatakan bahwa perkembangan dan masa depan anak-anak berada di tangan ibu yang berkualitas. Selain itu, dengan adanya persepsi semacam ini, istri dan sekaligus ibu yang baik juga dapat diasosiasikan dengan upaya meningkatkan strata sosial menjadi kalangan menengah. Kondisi Jepang pasca Perang Dunia II sebenarnya sangatlah sulit sehingga banyak keluarga yang ingin mengubah kondisi sosial maupun ekonominya menjadi kelompok sosial menengah yang dianggap memiliki masa depan lebih cerah. Oleh karena itu, seusai perang dunia, Jepang memberi kesempatan seluas-luasnya bagi perempuan untuk belajar secara lebih baik dan leluasa.

Kyoiku Mama merupakan istilah yang mengemuka pada awal 1960-an dan masih sering dijadikan konsep acuan untuk mempelajari sistem sosial di Jepang. Yang dimaksud dengan istilah ini yaitu di mana seorang ibu tidak akan pernah berhenti mendorong anak-anaknya untuk belajar sekaligus menciptakan keseimbangan pendidikan yang baik dalam hal fisik, emosional, maupun sosial. Dengan dimasukkannya anak-anak ke sekolah, tidak serta merta tanggung jawab pendidikan lepas begitu saja. Justru sebaliknya, ibu di Jepang akan berusaha terus menerus agar pencapaian anaknya optimal dan dapat masuk ke sekolah hingga perguruan tinggi unggulan di Jepang.

Kesuksesan seseorang di Jepang seringkali dinilai dari berhasil tidaknya mereka masuk ke perguruan tinggi terkemuka. Terkait dengan hal ini, keluarga terutama ibu akan berusaha sekuat tenaga agar anaknya tidak berhenti belajar dan selalu tercukupi kebutuhannya agar konsentrasi belajarnya tidak terganggu. Hal yang biasa dilakukan seorang ibu di Jepang adalah melakukan pengawasan ketat terhadap pelajaran anaknya hingga memfokuskan perhatian sepenuhnya pada urusan keluarga. Oleh karena itu, seringkali kita mendengar bahwa banyak perempuan di Jepang memilih bekerja di perusahaan swasta dan akhirnya keluar untuk sepenuhnya jadi ibu rumah ketika telah mempunyai anak.

Pendidikan yang dilakukan oleh ibu-ibu di Jepang dimulai sejak anak-anaknya masih bayi, terutama dengan memperbanyak sentuhan fisik untuk menjaga kedekatan psikologis. Muncullah istilah kosodate Mama di mana ibu-ibu akan sebisa mungkin terus berdekatan dengan anak-anaknya dalam berbagai kegiatannya seperti menggendong anaknya di punggung selagi ubu tersebut menyelesaikan berbagai urusan rumah tangga, mandi bersama, ataupun melakukan aktifitas luar yang memacu motorik sang anak.

Kontroversi tentang Kyoiku Mama

Di abad 20 ini, Kyoiku Mama kemudian sering diasosiakan dengan fenomena shigen jigoku atau examination hell. Pendidikan selalu menjadi prioritas tertinggi bagi orang Jepang. Untuk masuk ke universitas unggulan, persiapan tidak hanya dilakukan 2-3 tahun sebelumnya, tetapi bahkan jauh bertahun-tahun sebelumnya ketika anak-anak masih duduk di SD. Dengan memasukkan anak-anaknya ke sekolah unggulan sedari dini, diharapkan langkah ke depannya akan lebih mulus dan stabil. Namun, yang menjadi masalah adalah tekanan bagi anak tersebut terutama dalam hal ujian. Untuk diterima di sekolah unggulan, mereka harus menjalani ujian yang sangat ketat dan berstandar tinggi. Tidak hanya untuk level sekolah menengah saja, tetapi bahkan sejak sekolah dasar pun telah ada semacam seleksi mulai dari psikotes hingga kemampuan dasar lainnya.

Setelah masuk di sekolah unggulan, seorang siswa akan terus menjalani proses pembelajaran yang tidak ringan. Agar anak-anaknya mendapatkan prestasi stabil di sekolahnya, seorang ibu akan berusaha mengondisikan untuk belajar dengan rutin. Tidak hanya itu, demi pencapaian yang lebih optimal, anak-anak tersebut akan dikirim ke juku atau semacam tempat les, mulai dari les mata pelajaran, musik, hingga olahraga. Banyak anak-anak Jepang yang kemudian berpikir bahwa masa sekolah merupakan “masa penyiksaan” dan masa kuliah merupakan “masa kebebasan”. Beban besar selama sekolah inilah yang dianggap sebagai salah satu pemicu tingginya angka bunuh diri ramaja di Jepang.

Adanya perhatian lebih dari ibu, terkadang dinilai menciptakan efek negatif bagi perkembangan seorang anak. Salah satu efek negatifnya adalah munculnya anak-anak yang egois dan manja di mana mereka lebih mementingkan urusan belajarnya dan sedikit asosial. Selain itu, bagi anak perempuan terkadang bebannya lebih berat di mana kemudian muncul istilah tenuki okusan atau no hands housewife yang dapat dimaknai sebagai istri yang tidak bisa melakukan pekerjaan rumah. Ketidakmampuan ataupun ketidakpekaan sosial yang tercipta ini diakibatkan oleh terlalu difokuskannya kegiatan anak-anak hanya pada belajar tanpa diimbangi dengan kemampuan bersosial maupun ketrampilan lainnya.

Setiap hal pasti memiliki sisi negatif dan sisi positif, demikian pula dengan sistem Kyoiku Mama ini. Kenyataannya hal semacam ini masih terus dilakukan oleh perempuan di Jepang. Tidak sedikit dari mereka yang telah berpendidkan tinggi dan memiliki pekerjaan mapan memilih berhenti dan mengurusi anak-anaknya. Biasanya, setelah anak-anak tersebut masuk kuliah, para ibu ini akan kembali bekerja sebagai pekerja paruh waktu di berbagai sektor ekonomi. Banyak perempuan di Jepang yang merasa tidak terbebani dengan kesibukan rumah tangga semacam ini karena setelah anaknya lulus SMA, maka giliran sang ibu untuk bisa menikmati kehidupannya mulai dari belanja, mengikuti berbagai kursus, hingga jalan-jalan ke berbagai kota.

Pengalaman pribadi:

Pengalaman pertama saya adalah homestay di keluarga Jepang hampir tujuh tahun silam. Meskipun hanya tiga minggu tetapi saya memperoleh kesan tak terlupakan yang hingga sekarang masih sangat lekat dalam ingatan saya. Ibu angkat saya adalah seorang ibu rumah tangga yang memilih berhenti bekerja dari perusahaan ekspor-impor ketika anak pertamanya lahir. Anak keduanya lahir dengan jarak satu hampir 2 tahun dari kelahiran putra pertama. Hal tersebut disengaja oleh keluarga angkat saya. Alasannya, ibu angkat saya tersebut akan lebih mudah memfokuskan diri pada perkembangan kedua anaknya dalam waktu yang bersamaan. Gampangnya, lebih baik bersusah-susah dulu selama beberapa belas tahun secara total dan menikmati “kebebasan” setelah anak-anak tersebut lulus SMA. Selain itu, dengan usia anak yang berdekatan, maka pengeluaran akan lebih terfokus pada pendidikan anak sehingga semangat untuk bekerja sang suami juga lebih besar.

Ayah angkat saya merupakan detektif kepolisian yang tinggal di kota lain dan hanya pulang sekali dalam sebulan. Dengan demikian, otomatis beban ibu angkat saya semakin besar karena selain harus mengurusi berbagai urusan rumah tangga juga harus bisa menjadi figur yang tegas bagi kedisiplinan anak-anaknya. Saya kagum dan sempat terperangah dengan aktifitasnya sehari-hari. Bangun paling pagi, meyelesaikan cucian sambil menyiapkan sarapan (sarapan sederhana tapi bergizi tinggi) serta bekal makan siang, membersihkan rumah (dan berbagai kegiatan kecil lainnya), membayar berbagai tagihan, belanja, mengantar anak-anaknya ke juku, menyiapkan makan malam, menyiapkan bak mandi, dan ketika anak-anak sudah tidur masih harus memeriksa perlengkapan dalam tas sekolah anaknya. Kedua adik angkat saya ternyata jadi anak-anak aktif yang disiplin. Yang selalu saya ingat, si adik pernah menangis menjerit-jerit gara-gara harus sedikit melanggar aturan. Hal ini tidak lain sebagai bukti betapa kuatnya nilai-nilai yang ditanamkan dalam keluarga angkat saya.

Pengalaman kedua

Pengalam kedua yang paling berkesan tentunya homestay di Nagoya yang meskipun hanya seminggu, kedekatan antara saya dan keluarga angkat bertahan hingga sekarang. Jika ibu angkat pertama saya masih terhitung ibu muda, maka Mama Sumie kebalikannya. Mama Sumie merupakan nenek dari 3 bocah lucu. Mama dulunya juga mengambil keputusan yang sama dengan menjadi ibu rumah tangga total hingga anak-anaknya duduk di SMP. Setelah itu, Mama mulai bekerja paruh waktu di perusahaan keluarganya. Meskipun bekerja paruh waktu, keluarga adalah prioritas utama sehingga sesibuk apappun, urusan rumah tangga tetap harus selesai.

Mama selalu memasak sendiri makanan untuk keluarganya, hingga sekarang. Secapek apapun, makan malam harus tersedia dengan komplit dan menggugah selera. Mama juga selalu memperhatikan kegiatan anak-anaknya dengan teliti.

Artikel Terkait:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: