Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | September 14, 2010

Mengajarkan Nilai Moral

Mengajarkan Nilai Moral

Oleh Drs. Marijan
Praktisi Pendidikan di SMPN 5 Wates Kulon Progo Yogyakarta

Secara alamiah,  setiap anak akan berkembang sesuai dengan tahap kesadarannya. Namun pendidikan dari guru dan orang tua akan mampu meningkatkan daya penalaran moral seorang anak. Untuk itulah memberikan pendidikan moral pada anak tetap diperlukan sampai kapan pun.

Semenjak kecil, anak–anak perlu belajar tentang hubungan antar manusia. Anak perlu belajar tentang orang lain, kekurangan maupun  kelebihannya. Padanya perlu diberi pengertian bahwa untuk menjadi baik tak perlu ia mencontoh persis kebaikan orang lain. Yang lebih penting adalah menyadari  keadaan diri sendiri. Di samping itu, ia perlu diarahkan supaya tetap teguh pada  pendiriannya serta prinsip-prinsip yang diyakininya. Hal ini akan mengembangkan  kemampuan anak untuk membuat keputusan moral yang tepat bagi dirinya.

Pendek kata, moral itu sangatlah penting bagi setiap orang dan setiap bangsa. Bahkan seorang penyair Arab  mengatakan  bahwa ukuran suatu bangsa adalah moralnya. Jika mereka tidak bermoral maka bangsa itu tidak berarti (lenyap). Apabila moral sudah rusak, ketentraman  dan kehormatan masyarakat itu dianggap hilang. Berbicara tentang moral,  bisa menengok kenyataan kehidupan masyarakat di sekitar tempat tinggal kita sendiri.  Moralitas memang diartikan keadaan nilai-nilai moral dalam hubungannya dengan kelompok sosial. Sehingga untuk memelihara kelangsungan hidup secara wajar, maka perlu sekali adanya moral yang baik secara kolektif di masyarakat itu sendiri. Hal ini menggambarkan betapa perlunya kekompakan atau kebersamaan anggota masyarakat untuk membentuk moralitas yang  baik. Untuk membentuk moral masyarakat yang baik diawali dengan adanya keluarga yang baik dan keluarga yang baik dibentuk dari pribadi-pribadi yang baik. Nah, untuk membentuk pribadi-pribadi yang bermoral baik inilah perlu adanya pendidikan dan latihan penerapan moral yang baik pada setiap pribadi  di dalam keluarga sejak kecil.

Anak sebelum usia sekolah dasar kebanyakan bertindak belum berdasarkan moralitas. Baru pada tahun-tahun pertama di sekolah dasar mulai bertidak berdasarkan moralitas. Kohlberg menyebut tahap ini sebagai “moralitas konvensional “ yang berarti anak sudah mampu mengerti ukuran masyarakat tentang baik dan buruk. Pengertian ini terus berkembang  hingga paham bahwa orang tua, guru dan orang-orang dewasa tertentu adalah otoritas dalam masyarakat dan mereka dengan segala  peraturan yang dibuatnya haruslah ditaati.

Apakah anak yang baru lahir sudah bermoral ? Pertanyaan ini tidak bisa kita jawab secara spontan dengan melihat perilaku anak. Sebab moral itu tumbuh dan berkembang dari pengalaman-pengalaman yang dilalui seorang anak sejak lahir. Tumbuh dan berkembangnya moral anak seiring dengan perkembangan kecerdasannya.

Bagiamanakah cara mengajarkan moral pada diri anak ?  Pemberian pengalaman-pengalaman dan pemberian contoh-contoh moral yang baik  perlu ditanamkan sejak si anak kecil. Berangsur-angsur pemberian pengalaman itu menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang sudah merasuk pada diri si anak menjadikan pedoman dalam tingkah laku. Sesudah itu barulah diberi pengertian-pengertian tentang moral.

Interaksi sosial antara anak dengan teman-temannya juga sangat berperan dalam perkembangan moral. Anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan  sosial yang sempit atau terbatas, di mana kesempatan anak memperoleh pengalaman yang bermacam-macam sangat sedikit akan mempengeruhi perkembangan moral pada si anak sangat kurang. Mengapa ?  Mereka kurang bisa mengadakan berbagai penilaian yang ditampilkan di dalam dunia interaksi sosialnya. Sebaiknya anak dihadapkan berbagai macam pengalaman sehingga mereka mempunyai banyak perbendaharaan contoh perilaku sebagai ajang penilaian  pemahaman tentang moral.  Pemahaman moral mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang tidak baik akan termiliki oleh anak  sesudah mengalami penilaian dari berbagai pengalaman dan contoh yang dihadapi.

Sebagai kunci keberhasilan dalam mengajarkan nilai moral pada diri anak adalah penciptaan lingkungan  anak yang tertib dan teratur. Artinya ketertiban dan keteraturan lingkungan teman bermain, masyarakat dan terutama lingkungan keluarga akan sangat menentukan perkembangan moral anak. Pemberian contoh tingkah laku yang tertib dari orang tua sangat diperlukan dalam pembelajaran nilai moral pada anak. Selanjutnya pada anak dapat ditanamkan pengertian tentang konsep hak milik, kasih sayang terhadap sesama, sopan santun, menghormati orang yang lebih tua, tolong–menolong dalam kebaikan, bergaul dengan teman yang baik dan lain-lain.

Menurut hasil pengamatan dan pengalaman, suatu tindakan halus dan bujukan melalui contoh dan cerita, berakibat lebih baik. Anak tidak merasa tergores oleh tindakan dari luar yang menyakitkan. Sebaliknya anak merasa senang, nyaman dan tertarik untuk mengembangkan nilai moral yang diajarkan melalui tindakan yang halus. Namun demikian hukuman dan teguran tetap diperlukan dalam pembelajaran nilai moral ini. Akan tetapi apabila hukuman dan teguran ini diberikan secara berlebihan akan berakibat kurang menyenangkan.  Anak bisa menjadi stres, penakut dan dendam bahkan tidak bisa menerapkan pengertian moral yang baik itu  dengan  tepat.  Hal ini disebabkan kaburnya pengertian nilai moral itu sendiri akibat tidak ada rasa senang ketika menerimanya.

Setiap orang tua tentu berharap agar anaknya tumbuh dan berkembang menjadi anak yang bermoral baik. Untuk itulah, pembelajaran moral yang baik perlu diupayakan dan dilatihkan dengan serius. Anak harus dibelajarkan sedemikian rupa sehingga orang tua sendiri memberi contoh di hadapan anak. Anak biasanya menempatkan orang tuanya sebagai sosok yang paling dekat untuk ditiru. Orang tua erlu menyadari bahwa di pundaknyalah tanggung jawab membentuk anak bermoral baik itu berada. Ibarat anak itu kertas, tulisilah selagi kertas itu masih  bersih. Ibarat menulis di atas batu, tulisan itu tidak mudah hilang. Akan sangat lain apabila mengajarkan moral kepada anak yang sudah besar. Ibarat menulis di atas air tentu cepat sekali terhapus dan hilang.

—————-

Silahkan download artikel ini dalam bentuk file word document. [klik disini]

Iklan

Responses

  1. Dalam arti yang simple ini adalah Long Life Educations. Belajar tidak mengenal umur, tempat maupun kasta.
    Pendidikan moral dalam kurikulum pendidikan formal terintegrasi dalam mata pelajaran Agama, PKn dan mungkin Pendidikan Etika ( kalau wacana ini diwujudkan ).
    Moral merupakan bentuk kecerdasan EQ. Seorang yang berangkat menjadi pemimpin yang baik, perlu memilikinya untuk menunjang korelasinya dengan kolega maupun relasi. Sehingga dengan demikian korespondensi antar bagian menjadi harmonis. Orang terhubung dengan beliau akan memiliki etos kerja yang tinggi. Ini bukan karena takut, tetapi karena malu dan segan jika prestasinya kurang…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: