Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | September 22, 2010

Bicara tak Sopan, Sertivikat Sertifikasi Dicabut

Seorang Guru;

Bicara tak Sopan, Sertivikat Sertifikasi Dicabut

Padang Today. Sertifikasi guru bukanlah hak, namun itu merupakan kewajiban yang harus dipertangungjawabkan oleh guru yang memperoleh sertifikasi tersebut. Karena salah mengartikan ini, salah seorang orang guru di kota Padang dicabut sertivikat sertifikasinya.

Hal ini disampaikan kepala Dinas Pendidikan Bambang Sutrisno. Menurutnya guru yang di cabut sertifikasinya ini lantaran etika atau pribadi guru ini telah cacat. Padahal, etika dan kepribadian ini adalah salah satu kompetensi yang dinilai dari guru untuk mendapatkan sertifikasi.

“Kita mencabut sertifikasi salah seorang guru yang ada di kota Padang lantaran guru ini telah berkata tidak sopan kepada pegawai Dinas Pendidikan saat mengurus soal sertifikasinya di Dinas Pendidikan. Tidak hanya pada pegawai. Bahkan, kata-kata tidak sopan tersebut dilontarkannya pada saya sebagai kepala dinas pendidikan,”beber Bambang.

Tidak hanya sertifikasinya yang dicabut, kata bambang, namun hak mengajar pun juga dicabut. Hari ini Rabu (22/9/2010) SK pencabutan itu akan keluar dan guru yang biasa mengajar di SMU 10 Padang ini akan dipindahkan dinas di kantor Dinas Pendidikan.

Disebutkan, pada umumnya guru yang mendapatakn sertifikasi salah artikan sertifikasi ini. Mereka menganggap sertifikasi yang diperoleh adalah hak mereka. Namun, sebenarnya sertifikasi adalah kewajiban mereka. Setelah mendapatkan sertifikasi ini seharusnya kompetensi mereka sebagai seorang guru semakin bagus.

Sejauh ini Bambang mengatakan, sertifikasi yang telah dikantongi oleh 3900 dari 10.000 guru yang ada di kota Padang hanya membuat guru lebih memikirkan materi.

“Mulai dari bersaing untuk memperebutkan sertifikasi ini, sampai pada pengambilan uang nanti. Yang mereka urus ke sini itu hanya uang. Padahal, tanpa mereka ke Dinas Pendidikan pun uang ini tetap akan dikirim ke rekening mereka,” ujar Bambang.

Dikatakan, sertifikasi ini bisa dikatakan hak manakala mereka telah menujukkan kewajiban mereka setelah mengantongi sertifikasi dengan cara menunjukkan kinerja dan keberhasilan mereka sebagai guru.

Terakhir ditegaskannya, agar para guru betul-betul menjaga kompetensi mereka seperti kompetensi dalam pemberian materi, Kompetensi Sosial, Kompetensi Pribadi dan kompetensi etika. Karena jika salah satu saja kompetensi yang menjadi penilaian saat mendapatkan sertifikasi ini cacat. Maka sertifikasi akan bisa dicabut kembali.

Untuk pencabutan sertifikasi ini kepala Dinas Pendidikan diberikan hak. Tentunya pencabutan ini sesuai dengan payung hukum yang berlaku.

Berita Terkait:

Iklan

Responses

  1. Fenomena di dunia pendidikan kita, pemahaman terhadap eksistensi guru, sebagi jabatan dan pekerjaan ternyata di lapangan memiliki penafsiran dan pemahaman yang beragam, faktor awal mungkin dari suatu sistem sendiri ataukah karena proses dari sistem yang kurang sinerji dan sinkron ?

  2. sebegitu malang nasib yg berfrofesi guru tdk ada ruang kebebasan mengutarakan kata hati.mari kita berdoa agr dunia pendidikan kita lebih idealis dan maju.

  3. NASIHAT KEPADA KAWAN
    Subbhanallah! Guru oh Guru, nasibmu! menyedihkan amat memang! trus terang tersentak batin saya, demi Allah mau menangis saya, bukan karna takut tak akan dpat makan, bukan cemas tak akan ada rezki, tapi saya terenyuh, perih, adalah karna merenungi nasibmu, nasib kita, pertanda apa ini ya Allah!
    “Nasihat” saya kepadamu guru, tentu jg sekalian kepada diriku, kalau kau ingin “selamat” diam sajalah, jangan banyak omong, jangan banyak tingkah, jangan sok jadi pahlawan kepada dirimu apa lagi kepda teman2mu, tahan sajalah apa yg menimpa mu, urut sajalah dadamu, jangan suka protes, jangan suka kritislah, nanti kau akan terkikis percayalah! kau merasa hak mu “terlanyau”? biarkan sajalah, kalau memang itu hakmu, yakinlah seyakin-yakinya, haqqul yakin..pasti..saya ulangai sekali lagi pasti akan kau terima, percayalah kepadaku. ini sudah ketentuan tak ada kekuatan yg dapat menghalanginya. nggak di dunia kau terima, di akhirat pasti, pasti, pasti kau terima. namun kau dan aku jangan lupa akan kewajiban yg harus ditunaikan! ini kata/nasihat/pengajaran guru dan orang tua saya, saat saya masih mengaji di surau, bahkan sampai hari ini kepercayaan itu tetap melekat di hati saya. Kawan, saya sudah kl 30 tahun jadi guru, saya sudah melihat berbagai karakter para guru, congclusi saya, hanya guru yang tidak banyak cincong, hanya guru yg penurut, hanya guru yg nggak mau mempetanyakan ini itunya, hanya guru yg nrimo sajalah yg pantas disebut sebagai guru”panutan” guru yang baek, yang elok laku, yang disayangi.
    Kawan! nasihat saya lagi kepadamu kawan, dan kepada diri sendiri, mari untuk tidak kita coba2kan pula “bersilanteh angan” dan menunjukkan kekuaasan yang kita punyai kepada siswa kita, agar apa? ya agar siswa kita bila telah jadi orang pula nantinya, nggak balas dendam pula pada yang lain/ pada adek2nya! siswa kiritis mari kita tampung,kita carikan jalanya, siswa meprtanyakan ini dan itunya, mari kita jawab apa adanya dan jangan mengada-ngada kawan!, siswa mengkritisi kita jangan cepat emosi kawan, jika ada siswa yg tidak sopan, jangan dimarahi apa lagi ditendang jangan kau lansung usir dan dikeluarkan dari sekolah, sebab kau kan gurunya, kau kan pendidik, didiklah ia lebih dahulu, ajari ia bagaimana bersopan santun. sabarlah sedikit kawan, saya bukan hanya pandai mengajak apa lagi pandai ngomong saja, ini sudah saya praktekan. benr saya tidak bohong, saya tidak sedang berbuat ria, saya tidak juga sedang mangapik daun kunik, bener kawan.
    maaf kawan demikianlah nasihat kah namanya, sekedar mengingatkan namanya, atau kasih saja judulnya oleh kawan. apalah namanya terserah.
    tulisan saya melompat-melompat kawan, tidak menurut EYD kawan, karna memang saya tak terbiasa menulis, sebab ya itu tadi saya takut orang lain tersinggung oleh saya, saya takut saya jadi orang kritis, jadi lebih baek saya diam2 saja, saya tidak banyak omong, kata orang diam itu emas..tapi nyatanya juga sampai hari ini, emas itu tidak pernah mendekat-dekat kepada saya. entah bentuk apa dia tidak tahu saya. kata orang warnanya kuning, entah ia entah tidak.
    jadi maafkanlah saya sekali lagi jika saya terkesan mengurui walau saya juga seorang guru. paling tidak guru bagi anak2 saya, saya ajari anak saya supaya menjadi orang yang rendah hati dan tidak mentang2 dalam hidup ini.
    dan saya punya keyakinan piutang akan manarimo, dan utang akan tetap mambayia. ndak kini di dunia kok ndak isuak di akhirat.
    Wassalam dari

  4. Astagfirullah…
    Seharusnya kejadian ini tidak perlu terjadi. Takkan ada asap jika tidak ada api. Ada baiknya permasalahan ini diselesaikan secara bijaksana. Mungkin timbulnya masalah ini karena prosedur pengurusan di Dinas setempat melewati birokrasi yang panjang dan terkesan ruwet. Itulah yang menjadi sebab timbulnya frustasi / stress. Orang yang punya kekuasaan cenderung arogan jika dalam mengemban amanah jabatan berlaku sebagai komandan. Satu kata, satu yang tereksekusi. Tetapi ini berbeda jika Pemimpin menganut faham Abdi dalem. Sebagai pemimpin dia adalah pelayan masyarakat, pengayom dan petunjuk bagi yang membutuhkan. Semua manusia punya kesalahan. siapa orang yang mengaku tak punya salah ?
    Untuk kawan kawan Guru mohon berlaku santun, sebagaimana diamanahkan oleh Ki hajar Dewantara…Ing Ngarso sung tuladha. Ing Madya Bangun Karsa, Tut wuri handayani..
    Sebagai Dinas Induk para Guru, para aparatur yang bekerja di Instansi itu seharusnya juga menekankan amanah dari KI hajar dewantara.
    memaafkan jauh lebih mulia martabatnya daripada menghukum. dan yang pasti jika insan yang khilaf itu dapat dibina…sebaiknya hukuman itu dicabut !!!

  5. Mohon maaf pa kadindik Kota Padang, menurut saya sertifikasi bagi tenaga pendidik dan kependidikan bukanlah hak atau kewajiban, namun lebih tepat dikatakan sebagai penghargaan dan apresiasi pemerintah thd tugas dan tanggung jawab yang berat kepada guru dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Persoalan kriteria penilaian kompetensi sebgai tolak ukur seseorang mendapatkan atau tidak mendapatkan sertifikasi itu adalah persoalan tehnis. Tapi yang harus disampaikan kepa
    da para tenaga pendidik dan kependidikan adalah bahwa sertifikasi merupakan apresiasi pemerintah kepada PNS tenaga pendidik dan kependidikan. Hal itu sejalan juga dengan UU NO. 43 tahun 1999 tentang kepegawaian dimana salah satu klausulnya menyebutkan kenaikan pangkat bukan merupakan hak pegawai tapi penghargaan atas dedikasi dan kinerjanya yang dinilai baik. Kalo sertifikasi dianggap sebagai kewajiban seorang Pendidik/ tenga kependidikan juga kurang pas, karena seseorang yang telah memenuhi kriteria dan persyaratan serta memiliki kompetensi yang di persyaratkan sekalipun boleh saja untuk tidak menempuh sertifikasi apabila yang bersangkutan tidak mau. Yang terpenting bagi seorang tenaga pendidik/ Kependidikan yang nota bene adalah juga pegawai harus melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai aparatur karena telah di bayar/ gaji oleh dana rakyat melalui APBN. Terkait dengan persoalan guru dipadang yang dicabut sertifikasinya oleh Dindik lantaran tidak berbicara sopan sesuai nilai-nilai kearifan lokal yang berkembang disana saya mendukung langkah tersebut, namun harus diingat hendaklah dilakukan dengan profesional dan proporsional bukan pada persoalan like or dislike yang bersifat subyektif semata…….sekali lagi mohon agar pemahamana sertifikasi bukan hak melainkan kewajiban harus bisa di kaji ulang….karena itu semua lebih pas kalo dikatakan apresiasi/ penghargaan pemerintah atas dedikasi dan kinerja serta profesinalitas yang telah ditunjukan pada negeri ini…………..

  6. Saya sangat prihatin dengan nasib kawan kita di sma 10 padang. Saya iba. Barangkali ini tidak perlu terjadi. Tapi apa boleh buat semua sudah terjadi. Memang menantang Matahari akan membuat mata sakit, terbakar bahkan bisa hangus. Hati2lah ….Pejabat arogan hanya akan mengorbankan seseorang krn emosi .. Sebaliknya guru juga manusia tak luput dari kesalahan. Guru juga perlu pembinaan bukan pembinasaan. Tapi mengapa ini terjadi ….demikian keprihatinan ini. tq

  7. nauzubillah, ya Allah jadikan hati kami para guru menjadi hati yang sabar, yang diam, yang menerima apapun perlakuan yang kami terima, janganlah peristiwa yang menimpa teman kami menimpa yang lain, benar kt alfahri, jadilah guru yg dianggap baik, dianggap berprestasi, dianggap loyal, dianggap santun jika mau menerima apapun dari yang sdg berkuasa, jgn protes, jangan tanya ini itu. wahai saudaraku para guru, bathinku menangis, menangisi nasibmu dan jg nasibku, tp itulah sekarang yang terjadi di negeri ini, yg kritis akan tersingkir yg pandai akan diabai, yang dibutuhkan negeri ini hanyalah orang yangbre-pandai2,wallahualam

  8. Aku sebenarnya ingin bicara banyak mengenai budaya pemimpin arogan. Akan tetapi aku tak mau menjadi korban seperti kawan guru di Padang. Aku juga seorang guru yang sering kali menyaksikan hal serupa walau dalam tingkatan yang berbeda. Kawan sebaiknya tidak perlu melawan matahari. Kita perlu aksi yaitu diam. Sampai akhirnya nanti kita diam saja walau pendidikan sebenarnya tidak bisa lepas dari keberanian dan semangat guru. Inilah ujungnya buah sistem pendidikan yang berorientasi unas. Pendidikan budi pekerti tak dihiraukan walaupun semua orang tahu bahwa hakekat pendidikan adalah terbentuknya manusia yang seutuhnya yaitu terbentuknya manusia yang unggul dlam kognitif maupun afektif. Namun karena kompetensi afektif tidak diunaskan , maka hampir tak bergaung sedikitpun ketika siswa menduduki kelas tertinggi dalam sutu satuan pendidikan. Pada gilirannya, siswa yang sekarang menjadi pemimpin hampir dapat dipastikan lalai dengan tingginya nilai budi pekerti. Yang ada hanyalah sombong, mengagungkan diri, lupa dengan pahlawan (gurunya) dan yang ada pengakuan dirinya bahwa akulah seorang kapiten. Sistem kekuasaan yang demikian inilah menyeret wartawan yang juga tidak berani blak=blakan. Wartawan hanya mengatakan bahwa ada guru yang bicara tidak sopan sertifikasinya dicabut. Dia tidak berani mengapa guru itu berani berkata tidak sopan ? Seberapa tinggi api yang membara? Yang dikabarkan adalah asap yang mengepul di seantero padang. Inilah budaya orang yang ada di bawah tidak boleh melawan atau berani berceloteh membisingkan yang ada di atas. Kawan, tenanglah karena kita berada di negeri Indonesia, bukan di Jepang, AS atau Australia. Pahlawan itu harus seorang tentara atau petinggi bukan guru. Pernahkah mendengar bahwa seorang menteri membungkuk di depan guru SD di Jepang ? Bagaiman kita, tidak mungkin. Yuk, kita diam seribu bahasa saja. Entah mau jadi apa Indonesia 35 tahun yang akan datang atau 1 abad usia Indonesia merdeka?

  9. saya juga mau berkometar
    bahwa problem yang terjadi antara dinas pendidikan kota padang dengan salah seorang guru disebabkan oleh “misundersanding dan miscommunication”.
    maka betapa pentingnya membangun jembatan komunikasi untuk mengatasinya…., komentar saya ini tentu kedngaranya sangat klasik tapi tak apa apa kalau selalu diupdate.

  10. Saya sependapat dengan tanggapan pak Marjohan, mungkin akar masalahnya terkait dengan berita di “Padang Today” hari Rabu 22 September 2010 atas kunjungan anggota DPRD kota Padang ke satu sekolah. Dalam tanya jawab disebutkan antara lain perbedaan penerimaan dana sertifikasi dalam golongan yang sama, hemat saya walaupun golongan sama, masa kerja berbeda, jumlah gaji pokok akan berbeda, tidak terkait dengan tanggungan seperti contoh yang dipaparkan pak Bambang dalam berita hari Rabu pada paragraf ke 10 (mungkin salah ketik).
    Saya menyadari bahwa pekerjaan di Kantor Dinas Pendidikan sangat padat, rumit, ruwet, dan membutuhkan ketelitian serta kesabaran walaupun saya belum mengalaminya, di luar benar atau tidaknya berita pencabutan sertifikat pendidik salah seorang guru di kota Padang, perlu disikapi dengan arif dan bijaksana oleh semua pihak.
    Jadi hikmah puasa Ramadhan kemaren adalah taqwa, sedangkan taqwa dapat diartikan kehatihatian, termasuk dalam berbicara. Mohon maaf kalau tanggapan saya keliru.

  11. Ini membuktikan tirani kekuasaan di republik ini masih “bertahta”. Ada aksi. ada reaksi. Barangkali ini merupakan bentuk akumulasi kekecewaan terhadap birokrasi yang melelahkan dan tidak ada kepastian. Semua org (guru) mungkin tahu bagaimana rumitnya berurusan di dns pendd. masing-masing. Apalagi urusan masalah sertifikasi yang barangkali tidak memberi keuntungan bagi pengelolanya.

  12. Pak Kepala Dinas

    Kalau kita perhatikan banyak kebijakan dilingkungan
    Pendidikan yang kontra produktif

    seperti Jabatan fungsional guru yang berharap agar guru menjadi seorang profesional dalam mengajar
    di dalam kelas …?????
    yang ada adalah guru -guru yang sibuk mendapatkan secarik kertas yang punya nilai point
    kredit: SK, Sertifikat, dll . dampak dari kebijakan tersebut melahirkann lebih banyak guru yang tidak jujur…

    guru bersertifikasi harusnya seharusnya adalah guru hampir mendekati manusia sempurna alis tidak punya catatan cacat dalam riwayat kariernya..

    Saya salut sikap tegas Kepala Dinas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: