Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | September 28, 2010

Siswa Kampung Juga Bisa Jadi Doktor

Siswa Kampung  Juga Bisa Jadi Doktor

Oleh: Marjohan, M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar

Marjohan, M.Pd

Suatu hari penulis berjumpa dengan seorang teman baru yang diperkirakan bahwa  ia adalah  lulusan dari Universitas terbaik di Indonesia seperti UI, ITP, UGM, atau Universitas di Pulau Jawa yang sudah dikenal luas. Universitas tersebut pada umumnya terkenal dengan lulusan atau alumni yang cukup cerdas, punya wawasan, punya motivasi dan semangat kompetisi yang tinggi. Penulis bertanya apakah ia juga lulusan dari salah satu perguruan tinggi tersebut. “Saya cuma lulusan Perguruan Tinggi di daerah dan sukses itu ada di mana-mana. Di desa pun orang juga bisa sukses”, jawab teman baru tersebut. Pernyataan tadi telah member  inspirasi atas judul artikel ini bahwa siswa kampung juga bisa jadi Doktor.

Pengalaman menjadi guru (walau bukan di sekolah perkotaan) di daerah atau desa. Bahwa Kecamatan Lintau Buo- Kabupaten Tanah Datar  seputar tahun 1990-an mungkin masih dianggap sebagai daerah yang  bersuasana desa atau kampung. Itu karena pada masa itu fasilitas transport masih terbatas. Banyak siswa yang cerdas dan berbakat belum banyak yang terprovokasi untuk memilih sekolah di luar kecamatan- yang mereka anggap unggul atau berkualitas. Ternyata bahwa mereka merasa sangat senang belajar di sekolah daerah ini. Setelah lebih dari  lima belas tahun penulis juga mendengar bahwa cukup banyak alumni (siswa yang belajar dari sekolah di daerah ini) yang menjadi orang- memperoleh posisi kerja yang sangat bagus.

Face Book pernah jadi fenomena unik dan dinyatakan haram. Ini tentu tergantung pada cara memandang dan menggunakan kacamata warna apa ? Dalam kenyataan bahwa  Facebook malah memberi  manfaat positif sebagai jejaring sosial- menemukan teman yang hilang atau yang terputus komunikasi. Lewat Facebook penulis sendiri  berjumpa kembali dengan banyak teman lama dan bekas murid di tahun 1990-an. Memang ternyata mereka banyak yang menjadi orang. Ada dua bekas murid yang paling berkesan dalam memori, namanya mereka “Revalin Herdianto dan Oki Murasa”. Dahulu kedua-duanya juga  belajar di sekolah desa (Kecamatan Lintau Buo yang saat masih terasa seperti kampong yang terisolir), sekarang mereka mampu meraih posisi Doktor. Profil  mereka pun member  inspirasi atas tulisan ini.

Revalin Herdianto dapat dikatakan sebagai figure  yang berhasil dalam menggapai mimpinya dalam bidang akademik. Di awal tahun 1990-an ia hanya belajar di SMAN 1 Lintau, sekolah yang masih bersuasana kampong saat itu. Ia tidak pernah mengikuti bimbel (bimbingan belajar) seperti lazimnya anak-anak sekarang. Ia hanya banyak belajar sendirian  dan telah menjadi siswa yang mandiri dalam belajar. Agaknya ia tidak membutuh komando orang tua dan guru dalam belajar. Orang tuanya tidak akan berteriak teriak menganjurkanya dalam belajar. Ia dan teman-teman (kelompok belajarnya) sudah punya  kebiasaan belajar sebagai kebutuhan.

Bukan berarti ia harus terpaku pada meja belajar sepanjang hari dan membenamkan kepala di atas tumpukan buku-buku sepanjang hari. Sebagai warga sosial, Revalin juga melibatkan diri dalam berbagai aktifitas masyarakat di kampong. Ia ikut ke ladang, ikut gotong royong membangun jalan desa, dan juga ikut menjelajah alam bersama teman-teman. Saat di SMA, kemampuan belajar Revalin biasa-biasa saja- namun ia duduk di  kelas unggulan. Pada saat duduk di perguruan tinggi ia memperoleh strategi belajar yang tepat dan kemampuan akademiknya melejit.

Ada prinsip belajar yang ia jalani yaitu “study while studying  and play while playing– belajarlah saat belajar dan bermainlah saat bermain.  Banyak siswa sekarang kurang menerapkan prinsip belajar yang begini. Mereka malah mengadopsinya menjadi prinsip belajar yang berbalik arah yaitu “play while studying  dan study while playing– bermainlah saat belajar dan di sini bearti kurang ada keseriusan dan konsentrasi dalam belajar.

Belajar di sekolah berarti harus terjadi komunikasi dua arah antara guru dan murid. Anak-anak yang berasal dari rumah yang punya komunikasi dua arah maka di sekolah akan terbiasa juga dengan komunikasi dua arah. Di rumah, Revalin juga terbiasa dengan suasana komunikasi dua arah. Orang tuanya tidak sekedar menyuruh dan melarang. namun orang tua/ keluarganya  juga melibatkan fikiran dan tenaga Revalin dalam menjalankan kegiatan harian di rumah.

Ia memperoleh beasiswa penuh untuk mengikuti program master ke Australia. Pelamar beasiswa ke luar negeri harus bisa memperoleh standar TOEFl- Test Of English as Foreign Language yang disaratkan oleh program, mungkin skornya 500 atau lebih. “Apa rahasia agar kita  bisa memperoleh TOEFl yang tinggi ?”

Ada tiga hal yang diuji dalam TOEFL yaitu kemampuan membaca, mendengar dan tata bahasa (structure). Cara yang terbaik untuk meraih TOEFL  tinggi adalah dengan berlatih dalam mengerjakan soal-soal. Kemudian membiasakan diri dalam membaca teks bacaan yang agak panjang. Sementara untuk meningkatkan kemampuan listening kita harus tahu strateginya- apakah pertanyaan dalam listening menanyakan tentang informasi umum, informasi tersirat, informasi rinci, menanyakan tujuan dari reading dan yang paling penting adalah banyak latihan mendengar.

Ia bisa menyelesaikan program master tepat waktu dan sekarang juga sedang menyelesaikan program post-graduatenya (program Doktoral). Setiap orang, termasuk siswa yang bearasal dari kampung bisa mencari beasiswa untuk program master dan program doctoral dalam negeri, maupun dari luar negeri. Revalin Herdianto sendiri merampungkan  program graduate  melalui beasiswa IALF- Indonesia Australia Language Foundation yang punya kantor di Bali dan Surabaya.

Di awal tahun 1990-an penulis juga sempat berbincang-bincang  dengan seorang pelajar cerdas yang bernama  Oki Murasa- seorang siswa SMP yang punya fenomenal dengan peringkat NEM (Nilai Ebtanas Murni ) paling tinggi di Kabupaten Tanah Datar saat itu. Daya serap belajar Oki Muraza sangat bagus- daya rekamnya ibarat mesin fotokopi. Ternyata Oki bisa menjadi siswa yang fenomenal dengan peringat nilai tertinggi bukan lewat pemanjaan. Karena orang tuanya tidak memberikan pemanjaan, namun ia memberikan kasih sayang, perhatian, tanggung jawab dan penghargaan kepada Oki. Pemanjaan berarti mengikuti semua kemauan anak tanpa pengontrolan. .

Ketika belajar di SMP (di Lintau Buo) malah tinggal hanya dengan orang tua tunggal- ibu kandung yang memperoleh pendidikan sarjana di Universitas Sriwijaya. Ibunya juga memberi Oki tanggung jawab untuk mandiri dalam belajar, namun juga ikut meringankan pekerjaan ibunya- mengupas kelapa, mencat pagar, mencuci piring atau mungkin pekerjaan lain. Aktifitas ini penting  untuk memperkaya anak dengan pengalaman hidup- life skill. Sukses dalam bidang akademik di bangku SMP/ SMA tentu akan memberikan kemudahan bagi siswa untuk memperoleh pendidikan lebih tinggi melalui jalur bea-siswa. Bagi Oki sendiri ia memperoleh beasiswa untuk melanjutkan ke sekolah SMA Taruna Nusantara, sekolah unggulan yang paling diminati oleh lulusan SMP se Indonesia, dan sejak tahun 1993  penulis tidak mendengar banyak tentang Oki Muraza.

Setelah 17 tahun tidak mendengarnya maka Penulis di tahun 2010 ini mengetahuinya sebagai Doktor Oki Murasa. Lagi-lagi ia menjadi inspirasi bagi penulis untuk menulis tentang siswa kampung juga berhak jadi Doktor. Facebook lagi-lagi memberi kemudahan bagi penulis untuk tahu banyak tentang dia secara langsung. Oki juga memiliki blogger.

Melalui blognya (http://murazza.multiply.com) penulis juga bisa mengetahui tentang kisah sukses dan perjalanan hidupnya. Dalam usia muda (30 tahun) Oki bisa menjadi Doktor dan bekerja sebagai tenaga peneliti di Abu Dhabi, United Arab Emirates. Dan sebelumnya  ia bekerja di beberapa institute di Eropa. Meski berada jauh dari kampung (Indonesia), namun kecintaannya terhadap tanah air masih tergores.

Pendidikan Oki dalam menggapai mimpi menjadi Doktor adalah, setelah menyelesaikan pendidikan SMP Negeri 1 Lintau, ia melanjutkan pendidikan ke SMA Taruna Nusantara di Magelang. Selanjutnya ia memilih studi di ITB Bandung, kemudian program masternya pada Chemical Engineering, Technische Universiteit Delft, Delft, the Netherlands dan selanjutnya untuk doctoral (PhD) pada  Chemical Engineering, Technische Universiteit Eindhoven, Eindhoven, the Netherlands. Ia mengatakan bahwa penguasaan bahasa asing mutlak diperlukan untuk studi yang lebih tinggi, apalagi kalau di luar negeri.

Oki Muraza juga memperoleh “honor and award” dalam menggapai mimpi menuju Doktoral, yaitu seperti dari  NIOK (Netherlands Institute for Catalysis Research- Institut Belanda untuk Riset Catalysys). Oki memperoleh nilai tertinggi saat menyelesaikan program Doktoralnya. Ia memperoleh berbagai beasiswa dan termasuk beasiswa yang disponsori oleh Unesco- Belanda.

Anak anak yang sekarang sedang belajar di SMP dan SLTA (SMK dan SMA) di kampung atau di pedesaann juga bisa sukses, menjadi Doktor seperti halnya Revalin Herdianto dan Oki Muraza. Yang suka bersantai saja tentu saja tidak akan berhasil, namun yang bisa banting stir- paling kurang seperti pola dan gaya hidup Revalin dan Oki kemungkinan bisa juga menjadi Doktor. “Bagaima karakter anak-anak desa/ kampung yang diperkirakan bakal sukses kelak ?”

Ya mereka harus menjadi siswa yang mandiri dalam belajar. Jangan pernah butuh komando/ diperintah  orang tua dan guru untuk memulai belajar, “Belajar lagi nak….buat Pe-er nya segera….!” Orang-orang yang telah sukses dalam profesi mereka, saat belajar di bangku  SMP dan SMA bukan berarti mereka harus terpaku pada meja belajar sepanjang hari. Namun mereka  juga melibatkan diri dalam berbagai aktifitas masyarakat. Mereka serius dalam belajar, belajarlah saat belajar dan bermainlah saat bermain. Mereka memiliki komunikasi dua arah di rumah (yaitu antara anak dan orang tua) dan di sekolah (antara siswa dan guru). Mereka juga ikut serta/ berpartisipasi dalam mengurus diri dan mengurus rumah. Mereka bisa sukses (karena rido dari Allah Swt). Kemudian  juga memiliki kemampuan bahasa Inggris dan meraih skor TOEFl- Test Of English as Foreign Language yang disaratkan oleh program mungkin seputar 500 atau lebih. Selanjutnya mereka juga memiliki mental yang tangguh, tidak cengeng, tidak gemar minta bantuan- tapi mereka terbiasa dengan “help your self terlebih dahulu, gampang beradaptasi dan bergaul dengan berbagai macam karakter dan pola fikir orang. Akhir kata bahwa mereka juga terbiasa punya tanggung jawab atas diri sendiri dan dalam membantu orang lain.

Iklan

Responses

  1. Salut…

  2. saya sering mengatakan kepada siswa saya bahwa belajar itu bukan untuk main-main. belajar adalah kesempatan yang tidak pernah datang 2 kali dalam hidup. Bermainlah ketika bermain tetapi jangan pada waktu belajar, begitu yang sering saya ucapkan persis dengan konsep pak marjohan di atas. Namun yang terjadi siswa sekarang banyak yang main-main pada waktu mestinya belajar. Siswa sekarang cenderung dimanjakan oleh sistem yang ada, kemandiriannya tumpul oleh karena tidak diasah oleh kenyataan hidup. Pengalaman hidup yang mestinya menjadi pemacu dalam belajar meraih sukses sering diartikan sebagai beban yang akan mengganggu waktu dan proses belajar. Akibatnya tak ada anak-anak sekarang tumpul dan tidak adaptif terhadap keadaan lingkungan. Pada gilirannya, setelah dewsa mereka seperti orang bingung berada dalam lingkungan hidupnya sendiri. So pak marjohan, mari kita bangun anak-anak yang mandiri, tidak cengeng akan tetapi aksi kita tidak perlu seperti kawan guru padang yang dicabut sertifikat sertifikasinya.

  3. ———–
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُ اللهِ وَبَرَ كَا تُهُ
    ——————————
    Pak Guru tolong di perbaiki logikanya :

    “…Face Book pernah jadi fenomena unik dan dinyatakan haram. Ini tentu tergantung pada cara memandang dan menggunakan kacamata warna apa ?…..”

    Pak Guru, Persoalan haram hanya berkaitan dengan penggunaan sesuatu, bukan tergantung pada “cara memandang” dan tidak pula pada ” Warna kaca mata ” (sudut pandang).

    Wassalam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: