Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | September 30, 2010

Sertifikasi Bukan Menilai Mutu Guru

Sertifikasi Bukan Menilai Mutu Guru

Ilustrasi: Seorang guru yang ingin naik golongan dari 4A ke 4B ke atas harus ada pengembangan profesi, salah satunya dengan membuat karya ilmiah.

JAKARTA, KOMPAS.com – Sertifikasi guru bukan ukuran yang tepat untuk menilai peningkatan mutu guru. Sebab, sertifikasi guru lebih merupakan proses untuk menetapkan guru apakah memenuhi syarat atau tidak sesuai ketentuan yang berlaku.

Pasalnya, peningkatan mutu guru pascasertifikasi tidak serta-merta meningkat tajam. Karena itu, program sertifikasi guru yang dilaksanakan pemerintah hingga tahun 2015, baik lewat penilaian portofolio maupun pendidikan dan pelatihan guru, tetap harus diikuti dengan pembinaan pengembangan profesi guru secara berkelanjutan.

“Jika pemerintah dan masyarakat belum puas dengan kinerja guru pascasertifikasi, jangan hanya menyalahkan guru. Selama ini, pembinaan dan pelatihan pada guru secara massal ketika ada kebijakan pendidikan yang berubah. Tetapi pembinaan secara sistematis dan komprhensif tidak terjadi,” kata Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Sulistiyo pascarapat koordinasi nasional PGRI akhir pekan lalu.di Jakarta, Senin (27/9/2010).

Sulistiyo mengatakan peningkatan mutu guru tidak bisa dilaksanakan dengan pendekatan proyek. Untuk itu, keseriusan penanganan guru harus jadi komitmen pemerintah. Salah satunya lewat direktorat jenderal peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan yang sudah ada.

“Bukan dibongkar-pasang sesukanya. Potret guru saat ini merupakan hasil dari pembinaan di masa lalu. Kita sudah tidak bisa coba-coba lagi dalam peningkatan mutu guru. Kita mesti sudah punya sistem pembinaan profesionalisme guru yang mantap,” jelas Sulistiyo.

Ketua Harian Pengurus Besar PGRI, Unifah Rosyidi mengatakan peningkatan mutu guru pascasertifikasi ada, namun belum signifikan. Namun, kenyataan itu bukan berarti sertifikasi tidak berhasil.

Menurut Unifah, profesionalisme guru dapat berjalan jika ada sebuah sistem yang terus-menerus menjaga pembinaan guru berjalan. Selain itu, dalam diri guru itu sendiri harus ada komitmen untuk menjadi guru sejati.

Unifah mencontohkan, di Singapura pemerintah mengharuskan guru mendapatkan pelatihan selama 100 jam per tahun. “Para guru terus mendapat pelatihan mendasar untuk membuat mereka kaya dalam mengembangkan metodologi dan bahan ajar untuk mendorong prestasi siswa,” katanya.

Iklan

Responses

  1. Mendengar istilah mutu guru, saya sering tgersenyum sinis. Masalahnya, indikator mutu guru itu sendiri bermacam-macam dan pada ujungnya dikaitkan dengan angka nilai hasil unas siswanya. Sangat aneh, di sekolah favorit nilai IPA dari SD 8 dan nem SMP tetap 8 gurunya dianggap lebih berhasil daripada di sekolah lain yang nilai IPA di SDnya 5,5 dan lulus SMP dengan nem 7. Lantaran angka yang tampak 8 dan 7 maka angka 8 lebih menguntungkan gurunya. Wow, heran. Heran sekali. Itu keanehan pertama. Keanehan kedua, mutu guru hanya dilihat dari kelengkapan administrasinya bukan eksen nyata bagaimana guru berpiawai dalam mendendangkan pembelajarannya di depan para siswa. Keanehan ketiga pembelajaran yang hanya mengedepankan aspek kognitif saja, gurunya dianggap bermutu. Pendidikan budi pekerti tertimbun oleh gundukan kepentingan sesaat dalam penonjolan aspek kognitif sehingga pendidikan budi pekerti tak menjadi prioritas dalam lapangan. Keanehan keempat , pengumpulan nilai sertifikasi portofolio yang diraih dari banyaknya nilai sertifikat seminar yang dilaksanakan sambil mengantuk, tidak ada eksen dianggap sama dengan tingginya mutu guru tersebut. Angka sertifikasi yang tinggi itu tidak signifikan dengan tingginya mutu guru. Lihat dulu, angka tinggi itu dari mana ? Ringkasnya, berbagai pandangan untuk menilai mutu guru tersebut menjadikan saya terheran-heran yang tak berujung dengan jelas. Anehnya, komunitas kepala dinas pendidikan,pengawas,kepala sekolah dan guru itu sendiri bangga dengan indikator yang bagi saya kurang mantab tersebut. Namun nggak apa mungkin saya yang aneh.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: