Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Oktober 4, 2010

Mungkin Kita Sudah Menjadi Bangsa Pemarah

Mungkin Kita Sudah Menjadi Bangsa Pemarah

Oleh: Marjohan, M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar

Marjohan, M.Pd

Agaknya media massa di negara kita, terutama Televisi, telah mengadopsi gaya pemberitaan Barat bahwa “good news is the bad news”. Berita yang baik adalah berita yang mengabarkan tentang hal-hal yang buruk. Berita buruk yang kerap menjadi berita menarik untuk ditayangkan oleh media televisi  adalah seputar kerusuhan  supporter pemain bola yang membela tim idolanya, kerusuhan penonton konser music gara-gara bersenggolan saat saling bergoyang, tawuran antara pelajar gara-gara masalah sepele, kerusuhan antar warga kampung, malah juga kerusuhan antara orang cerdas yang duduk dalam lembaga negara.

Gambaran di atas, dan juga fenomena yang diperoleh dari dari tayangan televisi, terkesan bahwa bangsa kita sudah menjadi bangsa yang suka kerusuhan, kemarahan, dan tawuran, “Isi beritanya banyak yang seram-seram: criminal, perampokan, perekelahian dan tawuran”.  Sementara itu  banyak cerita-cerita dan  pernyataan yang datang dari luar mengilustrasikan bahwa bangasa Indonesia adalah bangsa yang ramah tamah. Sekarang mana yang benar, apakah kita masih bangsa yang ramah tamah atau memang  menjadi bangsa yang suka melakukan tawuran dan suka marah ?

Wilayah georafi Indonesia memang sangat luas dan penduduknya juga sangat banyak. Kemudian  kedua bentuk karakter ini- karakter pemarah dan ramah tamah- memang selalu ada. Suasana ramah tamahan masih terasa kental bila kita berada di daerah atau di  pelosok. Begitu   juga di perkotaan bagi warga yang masih menjungjung tinggi nilai sopan santun dan ramah tamah.         Berita yang ditayangkan oleh televisi , tentang kerusuhan dalam konser musik dan sepak nola, tawuran antara dua kubu preman, tawuran antar pelajar sampai kepada perbedaan pendapat orang orang cerdas yang lepas kendali yang berada dalam instansi negara juga sudah menjadi fenomena.

Kita sekarang sedang berada di atas  dunia dan  bukan berada dalam  soraga. Berada di dunia berarti bahwa kita akan tetap mendengar “bad news sebagai good news”. Sejak dulu tentang “bad news”  seperti peperangan, perkelahian, kerusuhan, tawuran dan kemarahan memang selalu ada. Bad news yang menjadi good news sebagai versi berita media masa sekarang boleh saja ada. Namun kalau boleh frekuensi dan porsinyanya janganlah terlalu gede sebagaimana ada sekarang ini.

Dalam realita bahwa bisa jadi porsi karakter kemarahan kita makin bertambah. Coba simak tentang berita TV dan surat kabar, yang mana porsi berita kriminal- pembantaian, perampokan, penipuan, korupsi dan kekerasan- juga semakin meningkat. Kalau ini semua adalah gambaran superficial- gambaran permukaan- maka bagaimana keadaan bagian dalamnya ? Gambaran superficial bisa jadi berasal dari masalah dan karakter yang juga tumbuh di dalam kepribadian bangsa ini.        Patut kita pertanyakan sekarang bahwa, apakah keramah  tamahan bisa menjadi barang yang langka kelak di negara ini ? Apakah kemarahan, kekerasan dan tawuran akan menjadi karakter kita, sebagai penggantinya ?

Pasca masa balita, seorang anak akan memasuki masa bersekolah dan dimulai dengan belajar di bangku SD, terus ke bangku SMP dan SLTA (SMA, MA dan SMK). Memasuki usia belajar berarti mereka harus mampu memahami konsep mata pelajran. Apakah mereka masih merasakan indahnya belajar bersama  guru TK dan PAUD- penuh pujian dan dukungan motivasi ketika di SD, SMP dan SLTA ?. Bisa jadi “ya” dan  bisa pula “tidak”  dan mereka  merasakan pembelajaran di sekolah  ibarat berada dalam pusat rehabilitasi jiwa dan penjara. Ini bisa terjadi bisa sang pendidik (guru) lebih banyak memberikan porsi kemarahan dan kejengkelan.

Wah kamu sulit sekali mengerti dengan konsep yang saya ajarkan, kesabaran saya jadi habis ?”.Kalimat begini bisa jadi pemandangan umum bagi kita. Namun perlu dipertanyakan bahwa apakah  banyak guru yang  lebih mengutamakan pencapaian tujuan kurikulum walau siswa mengerti / tidak mengerti dan segera memaksakan kehendak agar mereka bisa tenang dan mengikuti pembelajaran dengan tatapan mata yang kosong atau memprioritaskan pencapaian belajar siswa. Pembelajaran yang  hanya sekedar mengejar target kurikulum, memaksa siswa untuk patuh , tidak boleh banyak bergerak dan saling mengganggu, “lipat tangan dan duduk yang manis” sungguh membelenggu kreatifitas anak. Metode enteng ini memang membuat anak patuh dan tenang, namun serba pasif dan juga agresif. Suasana yang penuh menekan berpotensi menciptakan anak jadi agresif dan menjadi pemarah kelak.

Kehidupan sosial dalam dunia anak-anak kerap sering bercorak kehidupan ala rimba, “yang kuat itulah yang akan menjadi pemenang, yang kuat akan menguasai yang lemah”. Tidak percaya ? Mari perhatikan suasana bermain anak-anak. Mereka yang bertubuh kuat dan berbadan gede merasa jagoan, mereka bergerak leluasa sambil menyenggol dan mendorong  teman-teman yang bertubuh kecil dan bertubuh lemah, sehingga satu- dua anak sengaja menghindar karena ketakutan. Akhirnya mereka yang berotot kuat dan bertubuh gede menjadi jago, disegani dan ditakuti. Fenomena seperti ini perlu mendapat pehatian dari orang dewasa- guru dan orang tua. Sebab ini adalah cikal bakal dari karakter premanisme di dunia anak-anak..

Kekerasan mudah terbentuk di bangku SD dan SLTP (SMP dan tsanawiyah). Fenoma prilaku bullying (menggertak dan menakuti teman) ada di sekolah ini. Anak anak pintar sering memperoleh ancaman dari teman yang bertubuh gede dan otot kuat (namun pemalas dan bodoh)  agar bisa member bantuan/bocoran selama ujian. Anak baik-baik dan lugu sering menjadi  permainan  bagi mereka yang merasa jago. “awas kalau kamu tidak kasih saya dalam ujian, kamu akan ku jitak”. Sungguh sekolah yang budaya belajar dan bersosialnya kurang kondusif akan subur dengan karakter gertakan dan ancaman, sehingga  anak anak tertentu akan kehilangan rasa aman dalam belajar.

Karakter bullying pada anak anak perlu untuk diatasi, bila tidak mereka berpotensi menjadi  trouble maker dalam  masyarakat. Di sekolah yang suasana pembelajaran sangat miskin- ekstrakurikuler  tidak berjalan dan tidak ada pemodelan dari figure guru (karena guru hanya bersembunyi dalam menara gading/ kantor majelis guru)-  akan melahirkan siswa yang gemar  keluyuran dan melakukan hal iseng- mengganggu orang lain. Kalau begitu sekolah sekolah yang perpustakaanya terkunci sepanjang masa dan sekolah yang siswanya miskin dengan aktivitas positif perlu untuk mengubah performent sekolah tersebut.

Populasi  penduduk Indonesia makin bertambah. Kerumunan orang dalam ruangan (dalam kota, dalam rumah, dalam kantor, dalam gedung) juga makin bertambah. Akibatnya orang akan mudah menjadi stress, apalagi jumlah pengangguran juga meningkat. Tersenggol sedikit bisa membuat orang jadi bentrok, salah omong dan salah lihat orang  bisa jadi marah. Dalam hal ini, kemampuan beradaptasi dan bersimpati  perlu untuk dimiliki.

Adaptasi adalah kemampuan seseorang dalam menyesuaikan diri, yaitu kemampuannya dalam   menerima dan memahami kekurangan  temannya. Ia harus memahami  apakah sang teman punya karakter “talk active, hyperactive, pembosan, easy going, ceroboh” dan mereka harus bisa saling memahami dan bisa hidup berdampingan. Kemampuan bersimpati juga bisa meningkatkan  keharmonisan dalam bergaul. Simpati adalah kemampuan memahami apa yang sedang dirasakan oleh teman/ orang lain, sehingga ia kemudian bisa hidup berdampingan bersama.

Kemampuan bersimpati dan beradaptasi mutlak diperlukan dan dimiliki oleh seseorang. Kemampuan beradaptasi dan bersimpati perlu untuk dimiliki oleh orang dewasa terahadap remaja dan anak, dari pemimpin terhadap bawahan, oleh guru terhadap murid, oleh orang  tua terhadap anak dan dari orang yang melayani (aparat pemerintah) terhadap masyarakat (orang yang dilayani), kalau tidak maka mereka- orang dewasa, guru, orang tua, dan stakeholder/ pemilik kekuasaan akan leluasa untuk mengumbar kemarahan- menggunakan kekuasaan mereka sebagai sumber untuk memarahi orang yang berada dalam posisi bawah.

Karakter suka marah juga bisa tumbuh subur  dalam suasana yang pengap- sempit, ramai, tidak ada pembagian kerja, tidak ada manajemen rumah tangga dan miskin toleransi.  Rumah  rumah yang begini cukup banyak, apalagi sejak migrasi ke kota sudah jadi budaya. Umumnya banyak keluarga yang hanya mampu membuat atau mengontrak rumah dengan ruangan kecil dan dihuni oleh anggota keluarga yang cukup ramai. Bagaimana kalau di sana juga tidak ada house management ?.

Rumah tangga yang  tumbuh tanpa manajemen akan cenderung  jatuh pada kebiasaan “gali lobang tutup lobang”, yang  maksudnya adalah meminjam  uang untuk menutup hutang sebelumnya. Kemudian rumah tangga yang kurang jelas dalam job description sehingga anggota keluarga  yang laki-laki kebingungan dalam mencari kegiatan dan kaum wanita kelebihan beban kerja. Soalnya dalam pola keluarga berciri tradisionil, pekerjaan mencuci, memasak, mengasuh/ mendidik anak dianggap pekerjaan feminin dan pria merasa maskulin merasa jatuh harga dirinya kalau kebetulan  ikut serta. Akibatnya  maka berlipat gandalah beban kerja kaum wanita- dan akhirnya stress, depresi dan meledak dalam bentuk kemarahan. Ini kemudian  akan menjadi bagian dari hidupnya.

Anak yang tubuh bersama ibu yang pemarah dan ayah yang masa bodoh, tentu juga kurang memiliki pribadi yang kurang stabil- mereka juga pemarah, mudah menarik diri dan juga kurang punya pribadi yang stabil karena mereka melihat tokoh di rumah- ayah dan ibu- juga demikian. Dikatakan oleh orang bijak bahwa anak belajar dari kehidupan- anak yang diberi cinta dan kasih sayang akan juga menyayangi, anak yang tumbuh dengan cercaan dan amarah akan menjadi orang yang suka mencerca dan marah-marah.

Terus kalau ditelusuri ke dalam dunia institusi- kantor, PNS, swasta, BUMN, dan usaha lain bahwa adakalanya orang yang menempati posisi atas menunjukan powernya terhadap yang berada dibawah. Power tersebut mereka perlihatkan kadangkala dengan suasana amarah. Itulah fenomena hidup bahwa yang merasa berkuasa leluasa untuk memarahi yang dikuasai, yang merasa kuat leluasa untuk menekan dan memarahi yang lemah. “Kenapa kok menonjolkan kekuasaan dan amarah bisa menjadi fenomena ?, Mengapa tidak kita tidak menonjolkan  kompromi dan persuasive, serta mempengaruhi orang lain (partner dan teman). Sekali  lagi mari kita pertanyakan bahwa apakah kita memilih menjadi bangsa pemarah ataukah menjadi bangsa yang masih menjunjung tinggi nilai ramah tamah ? Setiap orang tentu akan punya jawaban tersendiri.

Iklan

Responses

  1. itulah dunia informasi kita. hampir tanpa batas norma dan aturan. dan inilah hasilnya tatkala anak2 jadi anak angkat media.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: