Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Oktober 12, 2010

Kiblat Pendidikan itu Bernama Simbol Angka

Kiblat Pendidikan itu Bernama Simbol Angka

Oleh  Drs. MARIJAN
Praktisi Pendidikan di SMPN 5 Wates Kulon Progo Yogyakarta

BAHWA pendidikan persekolahan kita dianggap berkualitas rendah, tidak perlu kita gerah dan marah. Bahwa pendidikan  formal kita dianggap tak

berprestasi, tidak perlu kita emosi. Bahwa pendidikan  kita dianggap hanya membentuk mental-mental priyayi, kiranya  tidak perlu kita pungkiri. Bahwa pendidikan kita  hanya berkutat pada teori  adalah kenyataan yang harus diakui. Bahwa pendidikan kita  dikatakan tertinggal dengan negara tetangga  seharusnya membuat mata kita terbuka.

Sebagaimana yang kita rasakan selama ini bahwa pendidikan kita terbius oleh simbol angka. Angka dimaksud adalah nilai ulangan harian, ulangan umum, rapor dan ijazah. Masyarakat pun terlena oleh anggapan bahwa angka nilai  yang bagus pada ijazah merupakan suatu syarat mutlak menuju kesuksesan pemiliknya di hari depan. Akibatnya, masyarakat mendewa-dewakan angka itu. Anggapan seperti itu memang boleh dikatakan tidak keliru akan tetapi angka-angka nilai dalam ijazah  yang bagus kenyataannya tidak serta merta membawa anak ke jenjang kesuksesan hidup.

Apabila kita cermati, angka nilai itu sebenarnya merupakan simbol tingkat keberhasilan pengembangan aspek kognitif . Hal ini menggambarkan bahwa aspek kognitif diupayakan pengembangannya sedangkan dua aspek lainnya (affektif dan psikomotorik) tidak dikembangkan secara optimal oleh sekolah.  Padahal pendidikan merupakan suatu proses pendewasaan pribadi siswa dalam arti luas. Pendewasaan dimaksud adalah menyangkut pendewasaan aspek afektif dan pendewasaan aspek psikomotorik selain aspek kognitifnya.

Pendidikan kita mau dibawa ke mana ? Begitulah pertanyaan yang selalu muncul di benak penulis. Anggaran pendidikan katanya dinaikkan akan tetapi media pendidikan di sekolah tak pernah dapat ditemui. Kurikulum digonta-ganti seiring dengan pergantian menteri namun kepincangan di sana-sini selalu menyertai. SPP ditiadakan namun biaya dengan sebutan lain terus melambung. Kebijakan satu buku untuk satu siswa hingga kini belum juga terlaksana.

Di era otonomi, pendidikan pun ikut diotonomi. Daerah berhak mengajarkan mata pelajaran muatan lokal menurut selera dan kebutuhan. Daerah dianjurkan mengembangkan keterampilan sebagai modal hidup kelak dan pendidikan budi pekerti luhur sebagai dasar pengakuan keunggulannya akan tetapi kriteria kelulusan siswa hanya ditentukan oleh angka nilai mata pelajaran unas dengan rata-rata minimum 5,50 ( KR, 20 November 2008 )

Nah, ini  lagi-lagi gambaran aspek kognitif melulu yang ditekankan. Tak heran, apabila setiap sekolah pada semester genap memprioritaskan  model drill soal-soal bagi kelas tertinggi dalam suatu jenjang pendidikan. Apakah sikap sekolah yang demikian ini salah ? Tentu, tidak. Alasannya pun untuk menyikapi kebijakan pemerintah tentang syarat  kelulusan.

Demikianlah orientasi pendidikan kita selalu mengacu pada keunggulan hasil ujian akhir yang nyata-nyata tidak memperhatikan sebuah proses panjang pengalaman anak ( siswa ) selama mengikuti pendidikan di sekolah tersebut. Prestasi kejuaraan di kelas 1,2 dan 3 semester gasal ( siswa SMP dan SLTA) tak memberi makna baginya apabila ujian akhir ada angka nilai 4,00 atau kurang.  Hadiah dan tanda penghargaan yang diperoleh ketika kelas 1, 2 dan 3 semester gasal atas prestasi  kejuaraannya akan berbalik  memalukan  gara-gara nilai bahasa Inggrisnya 3,99. Tidak lulus.

Dalam hal ini sebenarnya pendidikan kita secara tidak langsung mengajarkan kesewenang-wenangan, kekakuan tidak toleran , tidak adil , tumbuh suburnya kejengkelan dan tidak memperhatikan kondisi siswa. Misalnya; ayah siswa meninggal ketika malam sebelum ujian bahasa Inggris, banjir melanda rumah siswa setinggi 1 meter, rumah siswa kebakaran sehari sebelum ujian, kesusahan akibat kecurian habis-habisan, adanya keluarga siswa yang diculik orang tak bertanggung jawab dan kejadian-kejadian lain  yang sangat berpengaruh terhadap kondisi batin anak. Tak heran, jika anak yang ikut ujian akhir dan mengalami kejadian seperti di atas mendapatkan nilai 4,00 atau kurang.

Pendidikan kita mau dibawa ke mana  ?  Sebuah pertanyaan  yang  masih mengggantung di langit jawabannya. Seandainya ujian akhir nanti banyak yang mendapatkan nilai 4,00 atau kurang, akankah benar-benar mereka tidak diluluskan ? Tentu, jika ingin menegakkan aturan, siapa pun yang nilainya kurang dari 4,00 tidak lulus.

Mampukah guru, kepala sekolah dan orang-orang dinas pendidikan mempertahankan  aturan itu mengingat siswa yang tidak lulus misalnya putra seorang Danramil, Dansek , Ketua DPR, Keponakan Bupati atau  putra kepala sekolahnya sendiri. Kejujuran praktisi dan pengelola pendidikan dalam mempertahankan aturan inilah patut dipertanyakan. Sebab,pengawas dan koreksi silang bukan merupakan tembok permanen  yang menghalang-halangi keterlaksanaan perilaku kasak – kusuk  orang tua  siswa  dalam upaya menyelamatkan anak, sekalipun uang taruhannya.

Seandainya praduga itu benar-benar terjadi, lengkap sudah anggapan yang menyatakan bahwa pendidikan kita tanpa kiblat yang jelas. Carut marut dunia pendidikan kita makin jelas adanya. Sesungguhnya keberhasilan upaya peningkatkan kualitas pendidikan kita bukan hanya ditentukan oleh keruntutan materi kurikulum, strategi pembelajaran  yang memuaskan, sarana dan prasarana yang memadai dan  guru yang professional  akan tetapi lebih ditentukan  oleh keterlaksanaan kebijakan yang dilandasi dengan komitmen praktisi  dan pengelola pendidikan itu sendiri

—————-

Silahkan download artikel diatas dalam bentuk file word document, [klik disini]

Iklan

Responses

  1. tulisan yang menarik…

  2. Sangat Inspiratif semoga menggugah teman seperjuangan, demi anak bangsa yang tersisa


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: