Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Oktober 16, 2010

Kendala Guru Menulis

Kendala Guru Menulis

Oleh Drs. Marijan
Praktisi Pendidikan di SMPN 5 Wates Kulon Progo Yogyakarta

Maraknya PAK palsu dan enggannya guru menulis karya ilmiah mengisyaratkan adanya kendala yang mengangkangi sebagian besar jumlah guru. Kendala itu pun sebenarnya dominan ada dalam pikiran dan hati penyandang PAK palsu itu sendiri.  Kecil sekali proporsi kendala yang datang dari luar. Ada beberapa kendala yang akrab dengan kita sehingga sebagai penghambat terwujudnya karya tulis . Kendala tersebut di antaranya sikap malas membaca, termakan isu penilaian karya ilmiah sulit, salah persepsi tentang bentuk karya tulis yang selalu dianggap sulit, motivasi yang sangat rendah dan kebanyakan malas mencoba yang selanjutnya saya singkat ” MASTER SATIMAM

Pertama , Malas Membaca .

Tak perlu dipungkiri budaya gemar membaca yang sebenarnya menjadi kunci keberhasilan pembangunan pendidikan nasional di masa depan, dirasakan masih sangat memprihatinkan. Dalam masyarakat maju kegiatan membaca menjadi kebutuhan prima.

Menurut Statistik Word Press Trends, satu surat kabar di Indonesia dibaca oleh 41,53 orang. Berbeda dengan Jepang yang menunjukkan begitu tingginya budaya membaca sehingga satu surat kabar dibaca 1,74 orang (KR,12 Mei 1997). Indikator yang  lain, jumlah buku yang terbit di Indonesia sekitar 5000 judul per tahun  sedangkan Malasyia mencapai 7000 judul buku dan Jepang mencapai 100.000 judul buku ( Wisnu Arya Wardhana, 2007).

Itulah gambaran kasar masyarakat Indonesia terkait dengan kegemaran membaca. Untuk guru khususnya tidak jauh berbeda, budaya baca tetap ada di peringkat bawah apabila kita bandingkan dengan guru luar negeri.

Bukti lain, tidak banyak ruang tamu atau ruang lain pada rumah milik guru tersedia buku-buku bacaan, koran, bulletin , terlebih jurnal pendidikan. Dapat dihitung dengan jari , guru yang menyediakan tempat guna mendirikan perpustakaan pribadi.  Tak ditemukan pintu, jendela, ataupun dinding rumah guru bertempelkan stiker ajakan rajin membaca. Jarang saya ditemui guru yang membicarakan buku terbaru pada saat berkumpul dengan sejawatnya. Sangat sedikit guru yang mau menyisihkan gajinya untuk menganggarkan sekalipun hanya 2,5 % guna membelanjakan buku referensi.

Kalaupun guru dipatok sebagai pegawai yang gajinya kecil hanya pas untuk mencukupi kebutuhan primer keluarga sehingga tidak menganggarkan gajinya untuk pembelian buku, tidak semuanya benar. Sekarang banyak guru mempunyai sepeda motor lebih dari 2 unit, bermobil, rumahnya bagus atau mempunyai sapi lebih dari 5 ekor akan tetapi buku di rumahnya tetap tidak ditemukan adanya. Kursi tamunya bagus tetapi tak ditemukan  meja dan ruang belajar / ruang membaca. TV-nya 29 inchi, kasurnya tebal-tebal tetapi tak ada buku untuk anak-anaknya.

Semuanya ini gambaran bahwa guru yang mestinya berperan sebagai insan pemberi tauladan gemar membaca bagi anak-anak dan masyarakat  di sekitarnya berada pada posisi sebaliknya, malas membaca. Dikatakan oleh Haksan Wirasutisna (1995) bahwa manusia pada umumnya lahir dengan sikap malas, lebih-lebih membaca. Kalaupun mau membaca, hanya yang enteng-enteng saja.

Kemalasan membaca inilah  sebenarnya merupakan pilar besar kegelapan. Konsep yang perlu dibangun pada masyarakat umum dan guru khususnya adalah bahwa berawal dari gemar membaca akan membuka mata terhadap wawasan, pengertian, pemahaman, semangat dan motivasi dalam memandang suatu permasalahan  crusial yang dapat diangkat sebagai bahan tulisan ilmiah populer Anda.

Kedua, termakan Isu

Isu yang datang di telinga tentang penilaian karya tulis ilmiah di tingkat pusat ( dahulu di Jakarta  untuk golongan IV b dan seterusnya sekarang di LPMP masing-masing daerah)  sering tidak menyejukkan untuk didengar.

Beberapa karya tulis ilmiah yang dikirimkan sering tidak mendapat nilai setimpal dengan yang diusulkan bahkan tidak mendapat nilai. Isu inilah besar sekali kontribusinya dalam melemahkan semangat menulis para guru. Alasan ini tentunya tak dapat dibenarkan walaupun kenyataannya mungkin mendekati kebenaran.

Isu yang bernada miring tentang adanya upeti untuk penilai karya tulis atau pembuat PAK juga sering saya dengar dari ucapan para guru yang tidak / belum berani menulis karya ilmiah.

Ketiga, Salah Persepsi

Malas membaca adalah pintu menuju kegelapan. Karena malas membaca , pemahaman karya tulis ilmiah sering tidak sesuai dengan yang seharusnya dipahami.

Saya mendengar  sendiri kata yang muncul dari mulut beberapa guru ataupun kepala sekolah yang bernada mengeluh.

“ Karya tulis ilmiah itu sulit sekali .”

” Nggak sempat kami harus menulis karya ilmiah.”

” Karya tulis ilmiah itu  butuh biaya yang tidak sedikit.”

” Karya tulis ilmiah itu menguras tenaga.”

Padahal mereka yang berkata demikian itu guru yang sudah mengajar lebih dari 20 tahun. Mereka telah mendapat pengakuan sarjananya. Mereka sudah bergolongan  IV a lebih dari 5 tahun. Mereka telah tergolong kecukupan secara ekonomi.  Mereka telah lulus sertifikasi dan  mereka pun merindukan naik pangkat ke golongan IV b. Mengapa para guru bersikap acuh terhadap tindakan menulis karya ilmiah ? Mengapa para guru tidak menyukai menulis ? Mengapa para  guru merasa demam karya tulis ? Mengapa para guru lebih  suka    sebagai guru privat atau guru pembimbing pada lembaga bimbingan belajar hingga sama sekali tidak terbersit di pikirannya tentang karya tulis ilmiah ?

Mengapa para  guru tidak pernah menengok buku bersampul hijau Kepmendikbud RI No. 025/O/1995 yang jelas–jelas membuka kesempatan  para  guru  untuk berkarya ilmiah ? Adakah  sesuatu yang belum dipahami oleh guru tentang karya tulis ilmiah sehingga menimbulkan rasa apatis  terhadapnya ?

Stop pertanyaannya !  Mari kita bersama membuka lembaran cerah layar lebar  karya tulis ilmiah dengan harapan menghapus rasa apatis dan pesimis dengan kata optimis ” AKU BISA MENULIS ”

Keempat, Motivasi Rendah

Sebagaimana dikatakan oleh Wisnu Arya Wardhana (2007) dalam bukunya bertitel ” Menyingkap Rahasia Jadi Penulis ” bahwa faktor penghambat kegiatan tulis – menulis  dibedakan menjadi 2 yaitu ; faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah pengaruh yang datang dari dalam dirinya sendiri. Faktor internal terdiri dari sikap para guru yang belum mempunyai kebiasaan membaca buku, belum memiliki kemampuan berbahasa yang baik dan belum adanya motivasi untuk menulis.

Apabila Anda termasuk kelompok yang memiliki motivasi rendah, tidak apalah asalkan Anda mulai menyadari bahwa motivasi itu berperan sangat besar dalam mendirikan bangunan yang bernama menulis. Kalau Anda sudah menyadari berarti ada motivasi untuk melanjutkan keinginannya menjadi penulis Karya Ilmiah Populer ( KIP ).

Faktor motivasi yang rendah ini sering ditutupi oleh pelakunya dengan dalih  tidak ada waktu, biaya tinggi, tidak ada yang membimbing dan lain sebagainya. Kenyataannya, orang yang mengatakan seperti itu justru mempunyai banyak waktu dibandingkan dengan orang yang benar-benar sibuk. Ironisnya, orang yang sibuk bisa menulis dengan lancar dan makin bersemangat.

Kelima, Malas Mencoba

Adanya minat dan motivasi menulis dapat dilihat dari mau dan tidaknya mencoba menulis. Mau tidaknya mencoba menulis sangat ditentukan oleh keberanian jiwa seseorang. Saya contohkan, dalam suatu workshop karya tulis ilmiah tahun 2005 di LPMP Yogyakarta, dari 120 peserta yang dimotivasi untuk menghasilkan tulisan,  hanyalah 2 tulisan guru sebagai artikel yang layak muat. Itupun masih perlu koreksi dan revisi yang cukup berarti.  Banyak peserta yang tidak mengumpulkan tugas pembuatan draf tulisan karya ilmiah populer dengan dalih belum punya judul. Padahal tugas membuat artikel ini terbimbing di tempat workshop dan dilanjutkan di rumah untuk dikumpulkan esok paginya. Keadaan yang demikian ini menggambarkan betapa malasnya peserta workshop  khususnya dan para guru pada umumnya untuk mencoba menulis karya ilmiah.

Gambaran lain dapat saya tunjukkan, 12 tahun silam tepatnya pada Mei 1997 dalam suatu pertemuan , teman-teman guru banyak yang berjanji akan segera menulis karya ilmiah. Akan tetapi sampai tulisan ini saya buat  mereka tetap belum pernah mencoba menulis. Alasannya adalah sulit sekali mau memulai mencoba menulis. Niat sudah ditetapkan, motivasi sudah ditingkatkan akan tetapi menentukan kata pertama dalam goresan penanya sulit untuk diwujudkan. Keragu-raguan masih mengangkangi perasaannya. Menunda-nunda menulis adalah kenyataan yang tak dapat dipungkiri. Menunda yang tiada batas merupakan bentuk sempurna sebuah kemalasan yang diciptakan sendiri. Kemalasan yang sudah mengakar kuat sangat sulit untuk dicabutnya.

Bagaimana solusinya ?  Apabila Anda termasuk kelompok malas mencoba, harus sekuat tenaga merobohkan sikap malas mencoba menulis yang ada. Anda sendiri yang dapat mengatasi, menekan dan menghancurkannya. Orang lain hanyalah dapat memotivasi. Anda yakini , bahwa menulis adalah keterampilan yang dapat dipelajari, semua orang berpotensi, tinggal sikap berani yang harus berjalan menuntun diri.

Kalau memang punya niat dan ada motivasi menulis selanjutnya pertama kali Anda paksa diri Anda untuk menulis. Percayalah , pemaksaan yang dilakukan terus-menerus akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang terus dilakukan akan membangun konsep pada benak Anda. Konsep menulis yang sudah terbangun dan dilakukan terus akan menjadi budaya. Akhirnya budaya menulis yang terbangun akan mengantarkan si pelakunya senang dan enjoy untuk melakukannya. Rasa senang dan enjoy menulis inilah yang seharusnya terbentuk sehingga menulis menjadi sebuah kebutuhan. Apabila kegiatan menulis sudah menjadi kebutuhan, tak ada lagi kasus memalukan seperti meledaknya PAK palsu ataupun karya ilmiah hasil jiplakan tulisan orang lain.

Sekali lagi, menulis adalah keterampilan. Kesuksesan menulis diawali keberanian mencoba menulis. Keberanian inilah dapat dilakukan oleh mereka yang tidak malas mencoba.  Oleh karenanya, cobalah menulis! Kapan ? Sekarang, tidak usah menunggu besok.

————-

Silahkan dowload artikel ini dalam betuk file word document, [klik disini]

Iklan

Responses

  1. Assalam…..
    Terima kasih Bapak Drs. Marijan.
    Menanggapi tulisan Bapak, dimana ulasan yang Bapak paparkan tentang lemahnya dan rendahnya daya tulis karya tulis seseorang Guru, adalah benar adanya.
    Sedikit meyinggung dari awal, bahwa sistem pendidikan dan pengajaran di tingkat dasar dan menengah kita di seluruh wilayah kesatuan negara kita, itulah sebenarnya faktor utamanya.
    kalau semua asumsi yang Bapak paparkan itu terkesan bagaimana mengoptimalkan sebuah proses yang sudah jadi untuk menjadi.
    Maaf saya jika tanggapan ini tak berkenan, dan terima kasih saya atas berbagi ilmu pengetahuan.
    Salam sehat sejahtra selalu buat Bapak sekeluarga, krabat dan semua guru.
    Salam, Yon Joan.

  2. —————-
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُ اللهِ وَبَرَ كَا تُهُ
    ——————————–

    Sebenarnya masalah yang diunkapkan di atas tidak perlu dipermasaalhkan. Sebab;
    pertama, memang tidak semua orang (guru) punya bakat menulis.

    Kedua, Pemerintah memang tidak mengangkat guru tidak mensyaratkan yang pintar menulis.

    Yang ketiga pemerintah sampai saat ini setiap tulisan yang dicetak untuk dikonsumsi disekolah-sekolah belum bersumber dari tulisan guru-guru. Baik buku pelajaran wajib maupun buku bacaan lainnya.
    Keempatnya, ya banyak guru harus banting tulang sepulang mengajar untuk mencukupi biaya hidup keluarganya, sehingga mereka tidak ada waktu untuk berkonsentrasi menulis.

    Jadi bila kenaikan pangkat tertentu di syaratkan karya tulis ilmiah, ya beruntunglah orang semisal Mas Marijan dan Bapak Marjohan.

    Makanya yang penting di “apresiasi” adalah keahlian atau keterampilan masing-masing guru. Karena lansung bersentuhan dengan kebutuhan murid.

    Wassalam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: