Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Oktober 16, 2010

OPTIMALISASI PENDIDIKAN ISLAM DI SEKOLAH

OPTIMALISASI PENDIDIKAN ISLAM DI SEKOLAH

Oleh: Muhammad Kosim, MA
(Guru PAI SMPN 8 Padang dan Mahasiswa S3 IAIN IB)

Pemerintah Kota Padang dan Kabupaten Tanah Datar merupakan dua kota/kabupaten asal Sumatera Barat—di samping delapan kota/kabupaten lainnya–yang telah memperoleh penghargaan Amal Bhakti Departemen Agama Republik Indonesia tentang pelaksanaan pendidikan agama pada tanggal 4 Januari lalu. Suatu prestasi yang patut diapresiasi oleh masyarakat Sumatera Barat.

Lebih dari itu, diharapkan penghargaan tersebut tidak membuat kita berhenti untuk meningkatkan pelaksanaan pendidikan Islam secara terpadu, antara sekolah, keluarga dan masyarakat. Kita juga berharap penghargaan tersebut bukanlah diberikan kepada kegiatan keagamaan yang bersifat formalitas semata, akan tetapi sebagai reward dan motivasi kepada kita yang telah berupaya keras dengan niat baik mendidik generasi muda yang berkualitas. Oleh karena itu, penerapan pendidikan Islam patut dioptimalkan, terutama di sekolah (SD, SMP, SMA/SMK).

Setidaknya ada tiga alasan penting untuk mengoptimalkan pendidikan Islam di sekolah. Pertama, aset terbesar umat Islam ada di sekolah, sebab jumlah generasi muda Islam di sekolah jauh lebih besar jika dibandingkan dengan generasi muda Islam di Madrasah atau Pesantren. Jika pelaksanaan pendidikan Islam di sekolah diabaikan, maka perkembangan umat Islam di masa mendatang akan mengalami banyak hambatan. Bahkan alumnus dari pesantren yang notabene-nya sebagai ulama pun kelak akan mengalami kesulitan mensyiarkan Islam kepada masyarakat yang cerdas tetapi kurang mencintai ajaran Islam itu sendiri.

Kedua, alokasi mata pelajaran PAI yang dilaksanakan di sekolah hanya dua jam. Dengan demikian, mata pelajaran ini lebih menekankan kepada materi khusus tentang ajaran Islam yang bersifat dogmatis. Bahkan tidak jarang guru PAI terjebak dalam penyampaian materi yang lebih menekankan pada aspek kognitif. Dengan demikian, penanaman nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari tidak akan dapat dilakukan oleh guru PAI semata dengan alokasi waktu 2 jam. Oleh karena itu optimalisasi PAI mesti dilakukan secara terpadu.

Ketiga, jika pendidikan Islam kurang mendapat perhatian di sekolah, maka dikhawatirkan terjadinya dikotomi antara ilmu dan agama. Kelak mereka akan cerdas dan menguasai sains, akan tetapi tidak dilandasi dengan keimanan yang kuat; kaya intelektualitas tetapi miskin spiritualitas keagamaan. Akibatnya kecerdasannya lebih mendatangkan kemudratan dari pada kemaslahatan.

Mengatasi persoalan tersebut, perlu dilakukan optimalisasi pendidikan Islam di sekolah. Di antara upaya optimalisasi tersebut adalah: Pertama, menerapkan pengintegrasian Pendidikan Agamaq Islam (PAI) ke dalam mata pelajaran umum. Program ini sebenarnya telah dilakukan sejak pada tahun 1994 dengan program PWKG lalu dikembangkan menjadi program peningkatan Imtaq atau dikenal juga dengan integrasi IMTAQ dan IPTEK. Namun sejak awal tahun 2000, program ini tidak lagi diterapkan dan mendapat perhatian dari pemerintah. Padahal upaya mengintegrasikan PAI ke dalam mata pelajaran umum akan menghilangkan dikotomi antara ilmu dan agama. Peserta didik juga akan mampu memahami dan merasakan bahwa semua ilmu berasal dari Allah sehingga kelak ia menjadi ‘alim (orang yang berilmu) dan dekat dengan al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui). Jadi pemerintah daerah diharapkan membentuk tim untuk mendesain kurikulum setiap mata pelajaran umum dengan corak terintegrasi PAI. Adapun kesulitan guru-guru umum dalam mengintegrasikan PAI tersebut dapat diatasi dengan menyusun panduan yang lebih jelas serta mengadakan pelatihan-pelatihan secara berkelanjutan dan terorganisir.

Kedua, menerapkan pendidikan al-Qur’an di sekolah. Sejak tahun 2007, telah dilahirkan Perda Propinsi Sumatera Barat Nomor 3 Tahun 2007 tentang pendidikan al-Qur’an. Dalam Perda tersebut dijelaskan bahwa Pendidikan al-Qur’an sebagai mata pelajaran muatan lokal yang dapat diterapkan di SD, SMP, SMA dan SMK. Kemudian Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Prop. Sumbar telah menindaklanjutinya dengan menyusun kurikulum Pendidikan al-Qur’an sesuai dengan KTSP. Bahkan padaTP 2008/2009 telah ditetapkan satu sekolah piloting pendidikan al-Qur’an tingkat SD, SMP, SMA, dan SMK di setiap (19) kota/kabupaten se-Sumatera Barat.

Namun, hingga saat ini kurikulum tersebut lebih banyak diterapkan di tingkat SD, sementara SMP, SMA dan SMK masih sedikit yang menerapkannya. Padahal di tingkat sekolah menengah ini, biasanya para siswa tidak lagi mengaji di surau (masjid/mushalla) dan tidak lagi mengikuti TPA atau MDA. Jika memang masyarakat propinsi Sumatera Barat komitmen mengoptimalkan pendidikan agama Islam di sekolah, maka memilih pendidikan al-Qur’an sebagai mata pelajaran muatan lokal, baik tingkat SD, SMP maupun SMA/SMK mesti dilakukan. Sebab selain menambah jam tatap muka dalam kegiatan pembelajaran intrakurikuler, mata pelajaran pendidikan al-Qur’an diharapkan mampu menanamkan rasa cinta terhadap al-Qur’an kepada peserta didik. Akhirnya, al-Qur’an menjadi pedoman dan tuntunan dalam hidupnya.

Ketiga, melanjutkan dan meningkatkan kualitas program keagamaan yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah. Berbagai kegiatan keagamaan yang telah diprogramkan pemerintah mesti dilanjutkan dan dipastikan berjalan dengan baik. Di kota Padang, misalnya, ada program wirid remaja, subuh mubarakah, berpakaian muslim di sekolah, pesantren Ramadhan dan sebagainya. Semua kegiatan tersebut mesti dievaluasi dan ditindaklanjuti. Tidak saja guru, akan tetapi perangkat kelurahan hingga RT dan RW juga diharapkan bertanggungjawab pelaksanaan kegiatan keagamaan di masyarakat, seperti wirid remaja dan subuh mubarakah tersebut. Demikian pula memakai pakain menutup aurat, termasuk jilbab tidak hanya tanggungjawab sekolah, akan tetapi lembaga kursus seharusnya mendukung kebijakan tersebut dengan membuat aturan setiap siswi muslim juga wajib mengenakan jilbab dan menutup aurat dalam mengikuti kursusu tersebut. Tanpa dukungan masyarakat, maka kebijakan keagamaan yang ditetapkan pemerintah hanya sekedar formalitas belaka.

Keempat, menerapkan model sekolah berwawasan imtaq. Sejak tahun 2007, Ditjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Departemen Agama telah menyusun konsep Sekolah Berwawasan Imtak. Rencananya piloting sekolah tersebut akan diterapkan pada Tahun 2010 ini. Sebenarnya model ini sudah dilakukan di beberapa sekolah umum swasta, semacam sekolah Islam terpadu. Terlepas dari ada tidaknya piloting tersebut, pemerintah daerah sejatinya melakukan inovasi dengan membina sekolah–setidaknya satu sekolah negeri–di setiap kota/kabupaten  sebagai model sekolah berwawasan imtaq tersebut. Akan lebih baik lagi jika sekolah tersebut diasramakan (boarding) sehingga pembinaan agama lebih efektif dilakukan. Model sekolah ini diharapkan dapat dicontoh oleh sekolah lain sehingga akan tercipta kompetisi masing-masing sekolah dalam mendidik generasi yang berkualitas iman, ilmu, dan amal.

Kelima, melengkapi sarana pembinaan agama Islam di sekolah. Untuk mendukung kegiatan pendidikan Islam di sekolah, mesti disediakan sarana yang memadai. Sarana yang terpenting adalah mushalla dan tempat berwudhu’. Banyak sekolah yang tidak memiliki mushalla. Atau memiliki mushalla tetapi tidak bisa menampung seluruh siswa, demikian pula tempat berwudhu’. Mushalla sekolah mesti dijadikan pusat kegiatan Islam di sekolah. Selain itu, sekolah juga perlu memiliki labor agama. Sarana labor agama dimaksud menyiapkan perlengkapan yang menunjang materi pembelajaran, seperti perlengkapan shalat, peralatan shalat jenazah, peralatan ibadah haji, peralatan thaharah, contoh jenis-jenis binatang halal dan haram, dan sebagainya. Labor tersebut juga dilengkapi dengan multimedia, seperti computer, infocus, dan sound system sehingga CD pembelajaran PAI dan terkait dengannya juga dapat disaksikan.

Kelima upaya di atas diharapkan memberikan inspirasi bagi kita untuk menghasilkan ide-ide kreatif lainnya dalam mengoptimalkan pelaksanaan pendidikan Islam di sekolah. Yang jelasnya, optimalisasi pendidikan Islam di sekolah menjadi keniscayaan bagi umat Islam, khususnya di daerah Sumatera Barat, jika memang bercita-cita mewujudkan masyarakat yang berperadaban dalam keridhaan Allah SWT. Wallahu a’lam.

————–

Silahkan download artikel ini dalam bentuk file word document, [klik disini]

Iklan

Responses

  1. Usulan2 dari pak kosim sangat inspiratif, semoga membawa manfaat dan motivasi bagi para pendidik PAI di seluruh Indonesia untuk lebih mengoptimalkan PAI bagi peserta didik di sekolah dalam semua aspek kehidupan. Artikel2 bapak yang lain kami tunggu pak!!

  2. […] M. 2010. Optimalisasi Pendidikan Islam di Sekolah. [Online] Tersedia: https://enewsletterdisdik.wordpress.com/2010/10/16/optimalisasi-pendidikan-islam-di-sekolah/ [5 Februari […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: