Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Oktober 21, 2010

ENTREPRENEUR UNIVERSITY

ENTREPRENEUR UNIVERSITY

Oleh Abdul Halim Fathani
(Pemerhati Pendidikan, Tinggal di Kota Malang)

SELAMA ini, perekonomian bangsa hanya “diserahkan” pada sekelompok orang sehingga membuat perekonomian gampang ambruk. Hal ini sama dengan “menyerahkan nasib” bangsa pada sekelompok orang. Ketergantungan seperti ini akan menempatkan mereka pada posisi ‘dewa penolong’. Kalau dewa tersebut lagi baik nasibnya, maka selamatlah bangsa ini. Tapi, ketika nasibnya buruk, rusaklah nasib bangsa. Ini berbeda kalau perekonomian ditopang oleh banyak pilar. Kalau terjadi kebangkrutan pada beberapa pengusaha, masih banyak yang akan menggerakkan kehidupan perekonomian.

Di lain pihak, mereka adalah kelompok orang yang sangat patut diragukan rasa kebangsaannya. Buktinya, seperti dilansir beberapa media masa, para konglomerat jahat tersebut beramai-ramai melarikan uangnya ke luar negeri begitu negara ini mengalami krisis (ingat peristiwa 1998). Sementara, pendidikan kita selama ini hanya berorientasi pada meluluskan generasi muda yang “siap pakai”, dalam arti mempersiapkan tenaga-tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan segelintir pengusaha di atas, selain untuk menjadi pegawai negeri.

Ini berarti sebagian besar anak bangsa ini telah disiapkan untuk menjadi buruh, baik buruh swasta maupun buruh negara bahkan banyak yang berprofesi sebagai pengangguran. Sebagaimana yang dilansir Kompas (27/9/10) bahwa Kementerian Pendidikan Nasional mencatat sedikitnya dua juta lulusan perguruan tinggi dengan aneka jenjang menjadi penganggur dari 14 juta sarjana yang telah lulus.

Melihat fakta di atas, tak mengherankan kalau tugas pendidikan hanyalah sekadar menyiapkan “robot-robot hidup yang terampil”. Yang kelak akan dipakai untuk melayani mesin-mesin industri. Untuk kebutuhan ini, perguruan tinggi tidak terlalu dituntut untuk mendorong keberanian dan kreativitas anak didik. Perguruan tinggi cukup hanya mencetak individu manusia terampil, meski kurang kreatif, penurut alias tidak banyak tuntutan, tak peduli lingkungan sekitar, tidak memiliki kemandirian alias bergantung pada perintah, dan watak-watak lain yang serupa.

Dari kesadaran untuk memperbanyak pilar-pilar perekonomian bangsa, maka model pengembangan entrepreneurship di dunia pendidikan, termasuk perguruan tinggi merupakan suatu keniscayaan. Pendidikan dituntut untuk mampu melahirkan individu-individu yang memiliki kreativitas, berani, dan mampu belajar sepanjang hayat. Dengan tumbuhnya jiwa wirausaha pada generasi muda, mereka tidak lagi terfokus menjadi generasi pencari kerja semata yang justru menghasilkan banyak pengangguran terdidik. Pendidikan entrepreneurship memberi bekal agar generasi muda menjadi kreatif melihat peluang berusaha dari kondisi-kondisi yang ada serta menemukan cara untuk bisa memasarkan dan mengembangkan peluang usaha.

Bangsa Indonesia perlu melakukan lompatan kuantum untuk menanggulangi masalah pengangguran dan kemiskinan dengan menerapkan pendidikan entrepreneurship di semua jenjang. Dengan demikian, di Indonesia akan lahir generasi pencipta kerja, bukan pencari kerja, sehingga kemakmuran Indonesia yang kaya-raya dengan sumber daya alamnya bisa terwujud.

Di Jawa Timur, contoh pengembangan model entrepreneurship di dunia pendidikan telah dipraktikkan di Universitas Ciputra (UC) Surabaya. Hampir seluruh dari 145 lulusan angkatan pertama UC Surabaya sudah bekerja sebelum lulus. Menurut Ciputra (pendiri UC), model pendidikan yang terapkan di UC Surabaya tak hanya bertujuan mendapat ijazah saja. Proses pendidikan sesungguhnya bertujuan menekankan kepribadian dan sikap wirausaha. Ijazah sebenarnya bukan kertas cantik yang didapat hari ini. Ijazah yang paling berharga adalah perubahan mindset, karakter, budaya, kecakapan, dan pemahaman entrepreneurship. (Kompas, 27/9/10)

Di sisi lain, yang perlu diperhatikan adalah lulusan perguruan tinggi perlu memiliki mental entrepreneur di bidang pengembangan keilmuan sesuai bidangnya. Meski sudah lulus, mental sebagai pebelajar sejati (belajar sepanjang hayat) harus terus tertanam dalam individunya. Inilah yang penulis sebut dengan entrepreneur plus. Ialah, selalu melakukan terobosan baru di bidang pekerjaan dalam rangka menuju kemandirian bangsa sekaligus selalu melakukan pengembangan keilmuan dan keprofesionalannya sesuai dengan keahlian masing-masing.

Yang tak kalah pentingnya, model pengembangan entrepreneur plus ini harus dijauhkan dari hal-hal yang berbau formalitas dan administrasi-birokratis. Lulusan perguruan tinggi harus diberi kebebasan bekerja dan kebebasan akademik sesuai dengan relnya masing-masing. Oleh karenanya, entrepreneur plus sudah seyogianya menjadi perhatian banyak kalangan, baik pemerintah, pengusaha, maupun masyarakat umum. Harapannya, pengangguran akademik dapat diminimalisir dan kemandirian bangsa tidak lama akan dapat diwujudkan di negeri tercinta Indonesia.Sudah saatnya Indonesia memiliki sebagian besar generasi muda dengan pola pikir, karakter, dan kecakapan entrepreneur. Semoga!

—————

Silahkan download artikel ini dalam format file word document, [klik disini]


Responses

  1. An Gali

    Begitu juga SELAMA ini, nasib seseorang (dosen atau karyawan) juga tergantung “diserahkan” pada sekelompok orang-orang penguasa di perguruan tinggi, karena sistim senator tak obahnya mesin politik yang terawat secara sistemik, sehingga membuat kepentingan dan kekuatan kelompok menentukan suksesnya individu individu, seperti membagi-bagi pekerjaan yang bersifat adanya imbalan financial (proyek ), dan semua kebijakan dianggap layak. dan bagi yang dianggap bukan kelompok terpaksa hanya menerima apa adanya.
    Akhirnya kekuatan kelompok dapat memvonis seseorang layak atau tdk layak, sedangkan itu hanya berukuran pada kepentingan kelompok. Meskipun adanya monitoring dan evaluasi dari pusat (Jakarta) namun tdk begitu menentukan keadilan karena monitoring dilakukan kurang akurat atau setidaknya versi kekuasaan.
    Seperti banyak proyek-proyek untuk meningkatan mutu pendidikan dengan melibatkan banyak orang, namun apa boleh dikata hal yang ironis selalu berjalan dan yang dapat bagian pekerjaan hanya bersifat KKN karena pekerjaan rezim yang terstruktur.
    Sehingga stagnasi-stagnasi selalu berjalan dengan dingin dalam kekuatan sepihak dan kadang membuat dan bahkan membuat individu-iindividu ada yang puts asa.
    Maaf kalau tanggapan ini kurang relevan, namun saya dapat menyampaikan uneg-uneg dari apa yang terjadi.. terima kasih..

    Salam

  2. ———————
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُ اللهِ وَبَرَ كَا تُهُ
    —————————–

    Sebaiknya persoalan emosional tidak di campur dan diaduk dengan persoalan informasi ilmiah. Disamping itu berita politik juga jangan mengalahkan penalaran keilmuan dibidang pendidikan.

    Wassalam.

  3. Sebenarnya, konsep Enterpreunership systim di sekolah sudah pernah di lahirkan sejak zaman penjajahan dahulu kala. Misalnya, di kampung halaman saya, di Ranah Minangkabau, tepatnya di daerah yg namanya Kayutanam, berdiri sekolah yg namanya INS (Institut Nasional Syafe’i), yg didirikan oleh Engku Muhammad Safe’i pada tahun 1926. Disekolah ini diajarkan tentang NASIONALISME, (karakter bangsa dan karakter diri)- · PATRIOTISME, IDEALISME dan WIRAUSAHA-ENTERPRENEUR-MANDIRI. Tentu saja di zaman penjajahan, Nasionalisme dan Patriotisme diajarkan secara terselubung. Sekolah ini masih berdiri sampai sekarang, meskipun terseok di landa kegilaan zaman.

  4. Ha…ha…ha…. Saya main tulis komen aja. Ternyata ini website pendidikan Sumatera Barat….he…he…he…
    Tapi, nggak apa-apa. Mari kita tingkatkan pendidikan berbasis kewirausahaan ini bagi seluruh putra-putri Minangkabau dimanapun berada.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: