Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | November 8, 2010

Menomorduakan orang kecil

Menomorduakan orang kecil

Oleh : Marjohan, M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar

Umumnya orang ingin dianggap penting. Minggu lalu seorang teman mengirim sms (short message service) mengatakan  bahwa ia sedang di Semarang mengikuti konferensi yang tempatnya di sebuah hotel bagus. “dear friend,saya lagi di Semarang mengikuti konferensi”. Tentu saja yang ia butuhkan adalah kata-kata ucapan atas partisipasi, posisi  dan prestasinya, “selamat ya sobatku….!” Anak kecil yang baru saja dibelikan satu stel pakaian bagus dan sangat disukainya, akan memamerkan pakaian tersebut. Ia akan menceritakanya pada banyak orang di rumahnya, atau malah juga menceritakanya kepada teman-temannya di sekolah tentang pakaian bagusnya tersebut. Ia juga menceritakan betapa ia disayangi oleh om dan tantenya.

Seorang ibu yang memiliki anak cerdas di mana-mana juga akan sering bebagi cerita bahagia dengan tetangga dan teman-temannya tentang anaknya.”Anak ku ada-da saja sudah bisa memainkan piano dengan lagu Mozart”.  Fenomena ini menunjukan bahwa betapa penting dan berhaganya dirinya dan diri keluarganya. Pendek kata banyak orang ingin dipandang sebagai orang beharaga- orang penting atau orang nomor satu.

Menjadi orang penting atau menjadi orang nomor satu termasuk kebutuhan jiwa- kebutuhan aktualisasi (actualization need). Namun dalam kenyataan cukup banyak orang yang kurang menyadari dan kurang tahu cara membuat orang merasa nomor satu. Terutama terhadap orang-orang kecil. Mungkin kecil usianya, kecil pengalamannya, kecil uangnya dan juga kecil status sosialnya.

Walau seorang anak usia play group atau TK (Taman Kanak Kanak)  memperoleh banyak perhatian dan pemanjaan, namun dalam berkomunikasi sering dinomorduakan oleh papa dan mamanya. Bila ia ngobrol, orang tua jarang mendengar dengan sepenuh hati atau pura-pura mendengar dan menjawab sembarangan. “Ibu…bumi itu bulat,….”, “Ibu….sekolah Sani akan dikunjungi tokoh cilik …” Dan ibu merespon “ya…, ya…, ya….”. “Ah mengapa ibu bilang ya…ya …terus”.Celetuk sang anak dengan jengkel.

Respon yang demikian masih tergolong bagus. Pada beberapa rumah malah ada orang tua akan membentak atau mengeluh atas pertanyaan anak yang tidak henti-hentinya. “Wah Eriko …kamu bertanya terus….aku bosan,….udah tutp mulutmu”. Mencela anak yang demikian selanjutnya akan membuat anak menjadi enggan untuk banyak berbicara. Membentak dan mencela anak sangat berpotensi mematikan kemampuan berkomunikasinya atau juga akan meniru gaya komunikasi tersebut, sehingga ia kelak juga akan mendamprat anak anak dan orang lain yang dipandangnya banyak ngomong. Mengomel dan menomorduakan anak akan membuat mereka jadi  malas untuk berkomunikasi, mengekspresikan fikiran/ perasaanya dan kelak bila remaja atau dewasa mereka akan menjadi orang yang senang menutup diri.

Menomorduakan orang kecil tampaknya sudah menjadi fenomena sosial. Di sekolah siswa atau remaja yang merasa pintar (atau di kampus, mahasiswa yang merasa pintar) adakalanya memonopoli kegiatan akademik. Teman yang dianggap kurang pintar cenderung menjadi penonton dan orang yang pasif. Di kantor, sering seorang kepala atau seorang boss  yang sedang sibuk dengan gampang  marah-marah dan membentak karyawan yang dipandangnya sebagai orang-orang kecil, orang orang yang mereka anggap remeh- rendah pangkat dan posisinya. Orang orang kecil ini terpaksa menerima bentakan atau terpaksa ikhlas sebagai tumbal tempat kesal.

Sungguh tidak enak menjadi orang yang dinomor-duakan. Sekali lagi bahwa orang cenderung dinomorduakan karena faktor usia, derajat akademik, kepintaran, posisi status sosialnya dan lain-lain. Orang-orang yang cendeung menjadi nomor dua juga cenderung memperoleh pelayanan kurang prima pada beberapa akses public.

Suatu kali teman penulis dengan pakaian santai  melewati tempat pesta orang gede. Tiba-tiba tangannya dipegang oleh seorang sekuriti dan menggiringnya agar menjauh-  tidak melewati wilayah pesta. “Maaf mas, mohon tidak lewat di sini”., “Wah sial amat aku tadi siang, bisa jadi kalau aku bergaya lebih keren dari yang sedang berpesta itu”.  Celetuk sang teman dengan kecewa. Lagi-lagi betapa hati tidak enak menjadi orang kecil dan orang yang dimor-duakan.

Namun pada lain kesempatan, teman penulis mau mengikuti seminar. Berpakaian necis dan memakai parfum harum hingga ia terlihat sangat tampan, Tiba-tiba angin nakal bertiup dan butiran partikel kecil masuk  ke dalam mata dan membuat matanya amat perih. Beruntung ia bisa pergi ke UGD (Unit Gawat Darurat) pada rumah sakit terdekat dan seketika enam orang para medis dan dua dokter bersimpati dan memberi bantuan- pelayanan ekstra prima padanya. “‘Amit-amit gara-gara penampilan aku yang sangat keren aku  memperoleh pelayanan prima tadi siang, pada hal di sana ada tiga orang yang juga butuh bantuan”.

Tidak enak menjadi warga yang dinomor-duakan. Respon orang juga berbeda atas perlakuan ini. Seorang ibu yang sebenarnya kaya dan termasuk orang terpandang, memiliki tiga ruko cemberut terus gara-gara merasa dimor-duakan oleh seorang penjual nasi goreng di restoran kecil. Esoknya dia pergi membeli nasi goreng lagi naik mobil mengkilat dan memakai gelang emas dua kilo dan kalung empat kilo. Maka buru-buru pelayan restoran melayaninya.

Gara-gara merasa dinomor-duakan seorang ggadis, mahasiswa sebuah Universitas, minta putus hubungan dari kekasihnya. Gara-gara dinomor-duakan- dilupakan saat memberi oleh oleh buat saudaranya-seorang remaja tanggung mencuri uang dari kantong ayahnya “Ayah tidak adil, aku tidak dibelikan sate…mereka makan enak, aku dilupakan”. Gara-gara dinomor-duakan oleh  pedagang langganannya, maka seorang pembeli menjadi ngambek untuk jadi pelanggan. Gara-gara dinomor-duakan dalam pelayanan kesehatan maka banyak orang yang memilih pergi berobat ke Melaka, di negeri jiran- Malaysia.

Sebenarnya kita tidak perlu berkecil hati dan sedih, apalagi sampai jadi anarkis bila diperlakukan sebagai manusia kelas dua oleh seseorang. Karena bisa jadi penyebabnya gara-gara penamplan kita sendiri. Kalau betul demikian maka mari kita lakukan perombakan penampilan , instropeksi diri, dan lakukan perubahan di sana-sini. Di sini terlihat bahwa changing is power– perubahan adalah kekuatan.

Seorang remaja SMP selalu merasa dinomor-duakan, itu gara-gara penampilannya- tubuhnya kurus dan lemah dan juga tidak begitu menonjol dalam belajar. Sedih memang menjadi mentimun bungkuk- masuk karung ada, tapi tidak jadi perhitungan. Maka suatu hari ia terinspirasi oleh sebuah artikel, maka ia belajar keras. Ia  makan yang banyak dan berolah raga yang teratur. Dalam waktu enam bulan, ia jadi  mahir berbahasa inggris, jago matematik dan juga jago dalam main volley. Teman-temannya di sekolah sangat senang bergau dengannya. Malah ia juga sering memperoleh sms dengan nomor baru mengungkapkan kata simpati dan mengucapkan “I love you”.

Seorang pemuda yang baru bekerja di kantor pemasaran selalu merasa rendah diri dengan penampilannya gara-gara sering diremehkan- dinomorduakan- oleh rekan sekantor. Ia akhirnya memutuskan untuk meningkatkan penampilannya. Maka hampir setiap malam ia berlatih berpidato dan berbicara di depan cermin, kemudian tiga kali dalam seminggu ia kut kegiatan binaraga. “Kalau penampilan saya kurang bergairah, lunglai , tentu tidak ada orang yang akan menghargai ku”. Bisiknya. Latihan berpidato dan latihan binaraga membuat penampilannya agresif dan jantan, maka kemudian banyak orang yang senang bergaul dengan nya.

Masih banyak kisah kisah tentang fenomena menomor-duakan orang, rekan kerja, bawahan dan anggota keluarga sendiri terjadi di seputar kita. Fenomena meremehkan dan menomor-duakan ini membuat banyak orang berubah, termasuk berubah dalam penampilan.

Seorang bapak yang biasanya tampil bersahaja, kemana mana pergi selalu dengan sepeda motor penampilannya mirip dengan tukang ojek. Suatu hari ingin membeli mobil dan oleh seorang teman ia ditawari untuk membeli mobil super second– yang sering masuk bengkel dan keluar bengkel.”Untuk bapak cukup beli saja mobil seken keluaran tahun 1980-an dengan harga miring” Ia merasa amat tersinggang karena merasa diremehkan- datangpun kurang disapa dan kurang disambut. Maka ia memutuskan membeli sedan cadilac baru berwarna metal dan dengan cat mengkilat. Begitu hari pertama dia datang mengantarkan anak dan istri ke sekolah, maka teman-teman lamanya berhamburan ke luar untuk melihat penampilannya dan mengucapkan selamat.”wah bapak tampak gagah, selamat ya Pak !

Ya sungguh tidak enak menomorduakan orang dan juga menjadi orang yang sering dinomor duakan. Pasti orang yang punya karakter positif- tidak suka meremehkan dan menomor-duakan orang- akan menjadi orang yang disenangi, dikagumi dan dihormati. Sementara itu orang yang terbiasa dan cenderung meremehkan orang lain tentu akan kurang disenangi dan kalau boleh bahwa orang mendekat hanya untuk sekedar basa basi dan setelah itu menjauh lagi .

Selanjutnya bagi orang yang selalu menjadi korban sebagai manusia nomor-dua atau orang yang direndahkan, lebih ideal untuk melakukan perubahan. Apakah kita direndahkan gara-gara kurang bisa bergaya, maka mari  kita update penampilan kita. Andaikata kita direndahkan gara-gara postur dan penampilan tidak smart, maka mari berlatih menguatkan otot dan otak (kecerdasan) agar kita menjadi orang gagah luar dalam (cantik luar dalam) sehingga kita menjadi orang tidak lagi direndahkan martabat dan harga diri kita.  (http://penulisbatusangkar.blogspot.com )

Download versi *.doc [klik disini]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: