Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | November 26, 2010

RENUNGAN SEORANG GURU: lbarat Sapi Perahan Dan Keranjang Sampah

RENUNGAN SEORANG GURU :

lbarat Sapi Perahan Dan Keranjang Sampah

Oleh Drs. MARIJAN
Guru SMPN 5 Wates Kulon Progo Yogyakarta

Dalam perjalanan sejarah, guru pernah menduduki rangking atas di barisan masyarakat. Hal ini ditengarai oleh sapaan bagi seorang guru, ticlak pernah namanya disebut begitu saja. Sapaan dengan sebutan pak, Bu, Mas dan Dik guru acap kita dengar di telinga.kita. Ringkasnya, guru diiharapkan selalu siap tampil menjadi tokoh di tengah masyarakat.

Tetapi kita tidak demikian implementasi guru dalam sistem pendidikan.  Guru yang telah mengabdikan diri dengan segenap kesungguhan, kesederhanaan, kehati­-hatian, kejujuran dan rasa tanggung jawab, sering dipaksa menerima tudingan negatif, manakala nilai Ebtanas atau ada perilaku siswanya tidak menggembirakan.

Jelasnya, guru menjadi sapi perah dan keranjang sampah. Siapa pun tahu sapi perah hidungnya dicocok, diberi makan seadanya dan berdiam di dalam kandang berukuran tidak lebih luas dari 3 X 5 meter persegi. Kadangkala harus menerima tamparan tuannya manakala menu makanan yang diberikannya tidak segera dimakan.

Walaupun dalam kondisi yang demikian, tuannya masih berharap sapinya dapat menghasilkan susu sebanyak-banyaknya. Sedangkan keranjang sampah merupakan tempat buangan kotoran apa saja. Paling tidak ada enam indikator peran guru dalam sistem pendidikan kita, dianggap sebagai sapi perahan dan keranjang sampah itu.

Pertama, di era otonomi daerah proses pendidikan diserahkan kepada sekolah masing-masing dengan mengacu kerangka kurikulum dan tujuan pendidikan nasional. Konsep penyerahan wewenang tersebut tampaknya disambut baik oleh sekolah dan masyarakat karena diyakini, konsep ini memungkinkan sekolah bisa bearkembang sesuai dengan `habitatnya’masing-masing. Di penghujung tahun pelajaran, siswa masih harus mengikuti Ebtanas yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Propinsi. Hasil Ebtanas kemudian dikoreksi oleh Dinas Pendidikan.Guru mengetahui, koreksi hasil jawaban Ebtanas itu ada nilainya secara ekonomi bahkan tidak sedikit. Jika disimak, guru diberikan tugas menempa siswa agar menjadi anak yang cerdas, terampil dan bertaqwa tetapi ketika ada pekerjaan yang besangkut paut dengan uang, guru dipaksa menonton dengan khidmat. Kedua, nilai Ebtanas digunakan sebagai landasan merangking mutu pendidikan suatu sekolah. Dinas Pendidikan membenarkan dirinya melakukan perangkingan. Para guru tentunya masih memaklumi jika perangkingan tersebut bertujuan untuk melihat posisi / rangking siswa di suatu wilayah. Namun celakanya perangkingan itu biasanya untuk melihat kualitas guru. Padahal kalau dianalisa dengan melihat inputnya, rangking siswa tidak identik dengan gurunya. Contoh SMP favorit dapat meluluskan siswa-siswinya dengan NEM rata-rata 46 dari input nisi rata-rata NEM SD dapat masuk ke SMP tersebut 40 yang berarti terjadi peningkatan angka nilai 6. Sedangkan SMP di pelosok , rata-rata NEM-nya 35 dari NEM SD masuk SMP yang hanya rata-rata 28. Berarti terdapat peningkatan angka nilai 7. Pertanyaannya dari contoh di atas guru dari SMP mana yang sanggup berhasil ?

Dinas Pendidikan si tuan bagi guru, acap berkesimpulan guru-guru SMP pelosok yang meluluskan siswa­-siswinya dengan nilai Ebtanas rendah tersebut karena tidak berhasil mencetak siswa bermutu dan gagalnya pendidikan nasional. Tolok ukur yang demikian posisi guru diibaratkan sudah terjatuh masih tertimpa tangga.

Ketiga, pemaknaan guru sebagai ujung tombak pembentukan watak generasi muda untuk masa depan sering diterjemahkan secara sempit. Guru memang terjun  langsung berhadapan dengan generasi muda atau siswa, hendaknya tidak diartikan segala-­galanya. Disadari atau tidak tugas pembentukan generasi muda bukanlah sepenuhnya tanggung jawab guru. Mungkin dilupakan atau memang lupa bahwa ujung tombak tugas utamanya adalahpemegang pangkal tombak yang dipegang oleh penggunanya. Sebagai pemegang pangkal tombak, dalam hal ini adalah Dinas Pendidikan sehingga tergantung mereka mau diarahkan ke sasaran ke mana.

Dengan kata lain kebijakan­ – kebijakan yang ditelurkan oleh Dinas Pendidikan dan komitmen tentang pendidikan jauh lebih berpengaruh daripada eksistensi guru yang dianggap sebagai penyebab rendahnya mutu pendidikan. Kebijakan tentang pendidikan selama ini dirasakan masih kurang tepat, yang terkadang bersifat menghibur, egois, kurang peduli terhadap anak terlantar, dan memberi peluang kenikmatan orang-orang  yang ada di atas sana.

Keempat, penyebab rendahnya mutu pendidikan karena minimya sarana pendidikan dan keberadaan perpustakaan memegang peran penting dalam upaya rnesingkkan kualitas pendidikan.  Tetapi rendahnya mutu pendidikan tersebut selalu ditimpakan kepada guru. Di sekolah-sekolah pelosok, minimnya sarana pendidikan dan jumlah buku di perpustakaan merupakan dua hal yang sangat memprihatinkan dalam dunia pendidikan. Kalau kita mau jujur, sebenarnya, model dan strategi pembelajaran yang bagaimana pun bentuknya tak akan berakhir memuaskan apabila tidak ditunjang keberadaan buku. Baik guru maupun siswa mutlak memerlukannya. Percayalah ! Apabila guru dan siswa telah banyak membaca materi ajar dari buku yang cukup beragam, strategi pembelajaran bukan hal yang teramat penting. Apalagi jika NEM yang dijadikan indikator mutu.

Pengalaman penulis mengajar di SMP swasta yang perpustakaannya cukup banyak menyediakan jumlah dan macam buku menerapkan pernbelajarannya dengan model team studying ternyata lebih efektif. Hal itu tidak berjalan di SMP tempat penulis mengajar sekarang karena minimnya jumlah dan macam buku yang tersedia. Menerapkan pembelajaran model tersebut, setiap kelompok mempelajari materi ajar yang berbeda kemudian diadakan diskusi kelas. Ada kelompok penyaji ada kelompok penyanggah. Diskusi cukup efektif, siswa pun tampak antusias dan berusaha untuk tahu materi itu lewat membaca buku di perpustakaan.

Kelima, di era otonomi daerah guru dan jumlah buku di perpustakaan merupakan dua hal yang sangat mernprihatinkan dalam dunia pendidikan. Kalau kits mau jujur, sebenamya, model dan strategi pembelajaran yang bagaimana pun bentuknya tak akan berakhir memuaskan apabila tidak ditunjang keberadami buku. Baik guru maupun siswa mutlak memerlukannya. Percayalah ! Apabila guru dan siswa telah banyak membaca materi ajar dari buku yang cukup beragam, strategi pembelajaran bukan hal yang teramat penting. Apalagijika NEM yang dijadikan indikator mutu.

Pengalaman penulis mengajar di SUP swasta yang perpustakaannya cukup banyak menyediakan jumlah dan macam buku menerapkan pernbelajaranriya dengan model team studying temyata lebih efektif. Hal itu tidak ber alas di SLIP tempat penulis mengajar sekarang karena minimnya jumlah dan macam buku yang tersedia. Menerapkan pembelajaran model tersebut, setiap kelompok mempelajari materi ajar yang berbeda kemudian diadakan diskusi kelas. Ada kelompok penyaji dan ada kelompok penyanggah. Diskusi cukup efektif, siswa pun tampak antusias berusaha untuk tahu materi itu lewat membaca buku di perpustakaan.

Kelima, di era otonomi daerah guru sebagai pegawai bawahan Pemkab yang berarti kedudukan guru dekat Pemkab. Mata rantai menjadi pendek dan apabila atasan di Pemkab ingin menjitak dahi sang guru bawahannya, dapat dengan mudah. Artinya guru semakin tidak berdaya, bak enceng gondok di atas air kolam, mudah sekali dicabut dan dicampakkan di pinggir kolam. Guru yang terbukti melanggar hukum perlu diberikan sangsi agar tidak merembet ke guru yang lain. Namun bagaimana dengan pegawai Pemkab yang terbukti melakukan kesalahan semacam guru, apakah juga diberikan sangsi ?

Keenam, kebijakan tentang penambahan wajib mengajar per minggu bagi guru dari 18 menjadi 24 jam, menambah beban bagi guru dan dipastikan akan memperburuk mutu pendidikan. Perlu diketahui untuk jam wajib mengajar 18 jam saja banyak guru yang mengajar tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang dimilikinya. Adanya kebijakan dengan wajib mengajar 24 jam, tidak menutup kemungkinan akan memperburuk mutu pendidikan. Agar ketentuan tersebut terpenuhi, akan terjadi guru berijazah D III PKK mengajar Matematika, D III Seni Tari harus mengajar Fisika, D III Sejarah pun harus bersedia mengajar Biologi dan lain sebagainya.

Suatu pendapat menyatakan guru kurang bermutu akan melahirkan generasi kurang bermutu dapat dibenarkan. Namun tidak tepat jika rendahnya mutu pendidikan itu ditimpakan kepada guru. Banyak aspek yang berpengamh pads peningkatan atau penurunan mutu pendidikan. Salah satunya faktor mutu guru itu sendiri tetapi bukan semata-mata hanya guru.

Walaupun menyadari bahwa guru sebagai sapi perah dan keranjang sampah dalam dunia pendidikan, maka guru sendirilah yang selanjutnya, membangkitkan kesadaran profesinya secara konsisten. Motivasi internal perlu ditumbuhsuburkan. Gaji guru yang tergolong kecil tidak menjadi alasan untuk menurunkan semangat melaksanakan profesi guru. sebagai perbandingan gaji. guru negara India juga kecil namun pendidikannya, maju. Ini disebabkan motivasi internal dan komitmen guru yang tinggi. Seiring dengan tumbuh subumya motivasi internal guru, pemerintah hendaknya meningkatkan anggaran pendidikan sebagai bukti komitmennya terhadap usaha perbaikan mutu pendidikan.
———
Download artikel ini dalam versi word document [klik disini]

Iklan

Responses

  1. Tapi sekarang sarana dan prasarana sudah bagus…. yang jadi kendala sekarang adalah komite sudah buat kantor disekolah… seolah-olah mereka itu pekerja kantor…. dan kalau ada rencana untuk sekolah… guru2 kadang2 tidak diberitahu….. sehingga guru2 bertanya-tanya. Bagaimana solusinya ?

  2. betul…betul, kata mbah saya dan diperkuat oleh bapak ( yang kebetulan memang keluarga guru ). jaman dulu guru sangat di hormati dan menduduki strata ke satu dalam masyarakat. Menurut analisa saya ada beberapa alasan yang memperkuat posisi guruy sedeminikan baik:
    1. Topologi masyarakat belum majemuk. ini ditandai dengan homogenitas etnis ( paling tidak adanya etnis dominan ).
    2. Toleransi dan kepercayaan masyarakat yang sangat besar terhadap dunia pendidikan.
    3. Tidak adanya campur tangan dari anasir asing di dalam mengatur kebijakan dunia pendidikan ( misalnya LSM, pers, masyarakat )
    4. Kurangnya kepentingan kepentingan lain yang masuk ke dalam dunia pendidikan.

    Idealnya yang menjembatani dunia pendidikan itu Pemerintah ( Selaku pengambil kebijakan tertinggi), Dunia usaha ( selaku partner dalam praktek kerja industri ) dan masyarakat ( sebagai mitra pengembangan ).
    Namun yang jadi ironi sekarang, banyak elemen yang masuk ke dalam dunia pendidikan. Sekolah memungut dana untuk perawatan gedung di soroti, sekolah memungut dana untuk perbaikan sarana belajar di soroti dan yang berbau memungut dana untuk kepentingan pendidikan di soroti. Sementara jika menunggu uluran tangan pemerintah. alat alat iru mungkin sudah keburu rusak.
    yang salah guru lagi.

  3. Bagus, bagus, bagus sekali Pak Marijan, saya setuju dengan tulisan Bapak, memang benar adanya. Kalau dulu terjadi “lempar batu sembunyi tangan” Pak, tapi sekarang batu itu sudah dilempar ke guru. Semua kesalahan dialamatkan ke guru. Betul, betul, betul Pak, pangkal tombak memang berada di dinas pendidikan. Semoga Bapak Marijan menulis keritik dengan lebih tajam lagi. tq

    Diwarman
    Guru SMAN 2 Batusangkar-Sumatera Barat
    Blog : GURU BATUSANGKAR http://diwarman64.blogspot.com
    SMA 2 BATUSANGKAR http://64diwarman.wordpress.com
    TANAH DATAR CHEM TEACHERS ASSOCIATION http://mgmpkimiatd.wordpress.com

  4. Saya sangat setuju pendapat bapak, semua masalah didunia pendidikan yang menjadi kambing hitam, guru sedikit saja salah yang bertujuan untuk mendisiplinkan /mendidik anak bahkan sampai diajukan sebagai seorang guru yang melanggar HAM. Para siswa melaksanakan keributan/ tauran, para guru juga ditanya. Terkadang memang siswa tidak sama tingkah lakunya di semua lingkungan, terkadang di lingkungan keluarga dia akur-akur saja, tetapi diluar lingkungan keluarga, siswa ada yang merasa bebas dari belenggu orangtua. Begitu juga dengan masalah kelulusan dan hasil belajar siswa. Sekolah yang memperoleh nilai NEMnya tinggi dan sekolahnya merupakan sekolah unggulan serta favorit dinyatakan sekolah yang berhasil. Begitu juga sekolah yang tidak diunggulkan dengan memperoleh kelulusan dengan NEMnya rendah dinyatakan kurang berhasil. tetapi tidak ditanyakan input nilai siswa ke sekolah tidak diunggulkan tersebut berapa? Kondisi ini semuanya memang yang disalahkan adalah guru?????? Jadi Mengapakah guru terus yang disalahkan???

  5. […] Tidak hanya itu beberapa pendapat dan keluhan rekan – rekan guru hampir sama, ada yang menganggap sebagai sapi perah yayasan/ kepala sekolah, ada yang menganggap sebagai ajas manfaat. Berikut berapa tulisan guru yang di sadur dan ditulis ulang dari web: https://enewsletterdisdik.wordpress.com/2010/11/26/renungan-seorang-guru-lbarat-sapi-perahan-dan-ker… […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: