Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Desember 7, 2010

Menyambut Tahun Baru 1432 H: Bagaimana Hari Esok ?

Menyambut Tahun Baru 1432 H:
Bagaimana Hari Esok ?

Drs. H. Athor Subroto, M. Si
Dosen  Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri  (STAIN) Kediri

Seperti biasa, matahari terbit di waktu pagi lalu terbenam di senja hari. Namun, ada pertanyaan baru yang patut untuk kita renungi, “Apa yang telah kita kerjakan untuk mengisi hari itu?” Berapa banyak hari yang berlalu. Berapa banyak umur telah kita lewati. Sedikit di antara kita yang menghitung diri, menjinakkan nafsu dengan muhasabah (perhitungan). Bahkan kebanyakan kita membiarkan hari-harinya lewat bbegitu saja – tenggelam di dalam lautan kelalaian dan gelombang panjang dangan angan-angan.

Ketika fajar menyingsing, banyak di antara umat manusia yang menyambut dengan niat yang tidak lurus. Setelah sehari terlewatkan, kembali menuju tempat tidur masing-masing dengan niat yang tiada beda pula dengan hari kemarin. Seorang bijak ditanya, “Dengan niat apakah seseorang bangun dari tempat tidurnya? Maka dia menjawab, “Jangan kau tanya tentang bangunnya dulu, sehingga diketahui bagaimana dia itu (berniat) tidur. Barangsiapa yang tidak tahu bagaimana dia (niat) tidur, maka tidak tahu pula bagaimana dia bangun”.

Wahai saudaraku, mari kita perhatikan matahari yang terbit dan tenggelam. Sudahkah kita renungkan hari yang kita lalui? Mari kita tanya, apa yang sudah kita persembahkan untuk kebaikan. Apakah yang kita perbuat ini untuk menyambut hari-hari kita? Amat banyak anak Adam yang tidak memiliki perhatian terhadap berlalunya waktu. Padahal nafas kita adalah sesuatu yang dihitung dan ditulis.

“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, Kitab apakah Ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun”. (Al-Kahfi:49)

Dan juga firman Allah SWT, artinya:
“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu) yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Infithar:10-12)

Nafas-nafas terhitung, amal-amal tertulis. Andaikan orang-orang yang lalai mau memikirkan ini semua, tentu akan hati-hati terhadap diri sendiri. Akan manahan diri dari jalan yang menyimpang. Kondisi seperti ini perlu diciptakan dalam diri kita. Sehingga mendapat bimbingan dari Allah Swt.

Seorang bijak berkata, “Ketika pagi hari, maka selayaknya seseorang berniat untuk empat hal: Pertama melaksanakan apa yang diwajibkan Allah atasnya; Kedua, menjauhi apa saja yang Dia larang; Ketiga berlaku adil antara dirinya dengan orang lain yang ada hubungan muamalah; Keempat memperbaiki hubungan (ishlah) dengan orang yang memusuhinya. Jika dia menyongsong pagi dengan niat-niat ini, maka aku berharap dia termasuk orang shalih yang beruntung”.

Wahai Saudaraku! Untaian kalimat tadi – memuat berbagai macam pintu kebaikan. Maka orang yang melakukannya berarti telah mendapatkan taufiq dan bimbingan untuk meniti jalan yang benar. Mari kita renungkan, apakah diri kita termasuk orang-yang demikian? Jika jawabannya “iya” maka perbanyaklah memuji Allah Ta’ala. Memohon tambahan dari keutamaan-Nya dan ketetapan hati untuk menetapi hal itu. Jika jawabannya “tidak” atau “belum”, maka lihat dan koreksi kembali diri kita sebelum hilang seluruh kesempatan. Bersegera memperbaiki segala urusan, mohon kepada Allah – taufiq untuk dapat menempuh jalan kesuksesan.

Jangan kita keluar dari rumah di pagi hari, kecuali untuk sesuatu kebaikan yang diridhai oleh Allah. Sungguh merugi, sungguh celaka mereka yang melewati hari-harinya dengan sia-sia. Bukan dengan melakukan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla. Ketika matahari bersinar di siang hari, mereka melewati dengan kemaksiatan. Dan, ketika dia terbenam, mereka mengakhiri hari itu dengan kemaksiatan pula. Hari kita adalah umur kita. Jika telah lewat sehari, maka semakin dekat jalan kematian yang akan kita tuju. Dan bila maut benar-benar telah datang, maka habis sudah hari kita itu. Tidak tahu, besuk atau bahkan nanti datangnya kematian itu.

Dawud ath-Tha’i Rahimahullaah juga mengatakan, “Malam dan siang tak lain hanya sekedar perjalanan yang pasti dilewati oleh seluruh manusia. Sehingga hari-hari itu habis mereka lewati sampai akhir perjalanan. Jika engkau mampu menyiapkan bekal pada setiap harinya untuk perjalanan yang akan datang (akhirat), maka lakukan itu. Karena terputusnya perjalanan sudah dekat, sedang urusan (datangnya) lebih cepat dari itu. Berbekallah untuk perjalananmu, dan selesaikan urusan yang dapat kau selesaikan. Seakan-akan urusan itu selalu mengagetkanmu.”

Demikianlah orang sholeh memahami betapa berartinya waktu dan umur. Mereka berusaha sekuat tenaga menghabiskan hari-harinya di dalam ketaatan kepada Allah. Maka sepantasnya setiap orang yang berakal menghitung dirinya, lalu mengarahkannya menuju jalan ketaatan. Demikian setiap hari ketika menyambut pagi hari yang baru. Lebih-lebih dalam memasuki tahun baru. Ketika menuju pembaringan di malam hari, hendaknya mengulang lagi muhasabah itu dan terus bertanya kepada dirinya sendiri.

Al-Mawardi Rahimahullah memberitahukan kepada kita, bagaimana cara melakukan muhasabah; Yaitu dengan melihat kembali pada waktu malam – lembaran yang telah dilewati sepanjang siang hari. Karena waktu malam lebih dapat mengingat apa yang terlintas dalam benak. Lebih berkonsentrasi dalam berfikir. Jika yang telah dilalui adalah terpuji, maka biarkan dia lewat, lalu ikuti dengan yang serupa dan sebanding dengannya. Jika merupakan perbuatan tercela, maka susul dengan kebaikan, dan berhentilah dari perbuatan seperti itu di hari yang akan datang.

Ibnu Umar Radhiallaahu anhu ketika beliau ketinggalan shalat berjama’ah suatu malam, kemudian terlambat shalat Maghrib pada suatu petang, sehingga bintang-bintang sudah tampak, maka beliau menebus dengan memerdekakan dua budak. Berapa nilainya dua budak itu. Kalau satu budak mislanya senilai seekor unta, maka beliau mengeluarkan dua unta. Kalau sayu unta senilai tujuh juta rupiah, maka dua unta senilai empat belas juta rupiah. Ini sebagai pengganti satu ketinggalan shalat berjamaah dan terlambat shalat maghrab. Begitu tingginya nilai yang harus dibayarkan untuk menggantinya.

Subhanallah. Bagaimana penyesalan diri kita kalau tertinggal berjamaah dan terlambat shalat ? Adakah penyesalan yang setinggi itu?
Telah berkata Sa’id bin Jubair, “Seluruh hari yang dilalui oleh seorang mukmin adalah ghanimah (harta rampasan)”. Dan itu benar, bahwa seluruh hari-hari kita adalah ghanimah. Ia merupakan kesempatan emas untuk berbekal dengan kebaikan. Menumpuk berbagai amal shaleh. Kesempatan untuk bertaubat dan kembali kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala. Namun tidak terlalu banyak orang yang mau memahami dan mengambil manfaat dari hari-hari mereka.

Anda akan melihat sebagian besar manusia terlena berjam-jam dalam setiap hari. Mereka bahkan terlena pada sebagian besar hari-hari yang begitu banyak. Maka berlalu hari demi hari. Umur pun semakin habis. Mereka tetap dalam kelalaian. Dunia dan segala angan-angan telah membuat mereka terbuai. Kemewahan dan kemegahan menghalangi mereka dari jalan yang lurus. Syaitan terus mengulurkan tali angan-angan yang penjang tanpa batas. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman, artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan
memanjangkan angan-angan mereka.” (QS. Muhammad, 47:25)

Berkata al-Hasan al Bashri, “Syaitan menghiasi di mata mereka berbagai macam dosa, lalu mengulur-ulur mereka di dalam angan-angan yang panjang.”

Berkata pula Al Hafizh Ibnu Hajar, “Panjang angan-angan akan melahirkan rasa malas mengerjakan ketaatan, menunda-nunda taubat, cinta dunia, melupakan akhirat serta kerasnya hati. Kelembutan dan kebeningan hati, hanya akan diraih dengan mengingat mati, kubur, pahala, siksa serta huru-hara di Hari Kiamat. Sebagaimana difirmankan Allah Subhannahu wa Ta’ala, artinya;

“Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras.” (QS. Al-Hadid, 57:16)

Manusia yang berakal adalah dia yang menjadikan dunia ini sebagai ladang untuk akhirat. Menanam dan menyirami dengan berbagai amal shaleh agar dapat memetik buahnya kelak di akhirat. Hari itu, manusia tidak mendapatkan apa-apa kecuali apa yang telah diperbuatnya berupa kebaikan maupun keburukan.

Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya, “Segera kalian susul dengan amal (shalih) berbagai fitnah, seperti potongan malam yang gulita. Seseorang beriman di pagi hari lalu kafir di sore hari, atau beriman di sore hari dan menjadi kafir di pagi hari.”

Wahai saudaraku, apa yang telah kita persiapkan untuk menyambut suatu hari, di saat kita sendirian di dalam kubur. Apakah selama ini kita termasuk orang yang terlena dengan angan-angan yang panjang. Ataukah termasuk orang yang menggunakan bashirah (pandangan yang jernih) yang beramal untuk hari esok? Kita hendaknya bersikap dinamis. Ada maqalah, man kana yaumuhu khairan min amsihi fahuwa rabihun, man kana yaumuhu sawaan min amsihi fahuwa maghbunun, man kana yaumuhu syarran min amsihi fahuwa mal’unun. Barangsiapa hari ini lebih baik dari pada kemarin, dia beruntung. Barangsiapa hari ini sama dengan kemarin, dia tertipu. Dan barang siapa hari ini lebih buruk dari pada kemarin, dia terlaknat.

Maka segeralah berintrospeksi, menghitung diri. Karena dunia adalah Darul Ghurur (tempat yang memperdaya), pasti akan ditinggalkan. Tidak ada yang terlena, kecuali orang jahil. Untuk itu perhatikan kiat-kiatnya sbb :

  • Ketika pagi tiba, mulailah hari dengan berdzikir kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala, sebagai mana diajarkan Nabi Shalallaahu alaihi wasalam. Jangan lupa membaca do’a pagi hari.
  • Sambutlah hari itu dengan niat yang benar. Berazam melakukan ketaatan. Menjauhi segala maksiat serta memohon kepada Allah taufik dalam jalan yang diridhai.
  • Tahanlah tangan dan mulut kita dari mengganggu sesama muslim. Jangan mengumbar mulut untuk mensuarakan fitnah. Sayangi orang yang lemah dan ajari mereka yang tidak tahu.
  • Senyumlah di hadapan sesama muslim. Senyum itu adalah shadaqah.
    Senang jika sesama muslim mendapatkan kebaika. Sebagaimana kita senang jika mendapatkannya. Jangan malah sebaliknya, mendoakan saudaranya mendapat keburukan.
  • Jangan sepelekan perbuatan baik walau hanya perkara kecil dalam pandangan kita.
  • Jika ada kesempatan bertaqarrub kepada Allah, maka jangan sia-siakan.
  • Bergegaslah mengumpulkan kebaikan – sebagaimana Anda senang jika harta kita terkumpul.
  • Jauhkan diri kita dari segala bentuk kemaksiatan, atau segala sesuatu yang mengantarkan kepadanya.

Pintu kebaikan amatlah banyak tak berbilang.
Apa yang tersebut tadi hanya sebagai pengingat saja. Orang yang menjadikan hari-harinya penuh dengan kebahagiaan, kebaikan dan ketaatan, maka dialah orang yang telah mendapat taufik. Semoga hari esok lebih baik dari pada hari ini. Dan, tahun ini lebih baik dari pada tahun kemarin. Wallahu a’lam bish showab. (AS)

Sumber: Buku “Kaifa Tastaqbil Yaumak”, Azhari Ahmad Mahmud, Dari Ibn Khuzaimah, Riyadh, dan sumber lain.
———-
Download artikel ini  dalam versi word document, [klik disini]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: