Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Desember 9, 2010

Seberapa Jauh Anda Mengenal Anak Didik Anda?

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN ANAK:
Seberapa Jauh Anda Mengenal Anak Didik Anda?

Oleh: Drs. H. Athor Subroto, M. Si
Dosen  Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri  (STAIN) Kediri

Psikologi Perkembangan Anak: Fokus dan Manfaat

Manusia senantiasa mengalami perubahan sepanjang hidupnya. Pengalaman di masa kecil akan mempengaruhi proses-proses dalam kehidupan selanjutnya. Perubahan inilah yang disebut dengan perkembangan, yaitu pola perubahan yang dimulai dari masa pembuahan (konsepsi) dan berlangsung secara terus menerus selama kehidupan seseorang. Adapun perkembangan itu dapat diklasifikasikan berdasarkan karakteristik yang khas pada setiap periode kehidupan, yaitu masa prenatal, bayi, kanak-kanak awal, kanak-kanak madya dan akhir, remaja, dewasa awal, dewasa madya, serta dewasa akhir.

Berbagai proses yang cukup kompleks mendasari perubahan tersebut. Paling tidak ada tiga area perubahan dalam diri seorang individu, yaitu area biologis, kognitif, dan sosioemosional. Proses biologis meliputi karakteristik-karakteristik fisik individu, seperti perkembangan otak, tinggi dan berat badan, dan aspek-aspek hormonal. Proses kognitif melibatkan perubahan yang terjadi dalam pola pikir, inteligensi, dan kemampuan berbahasa individu. Area yang ketiga adalah proses sosioemosional yaitu perubahan dalam hubungan individu dengan orang lain, emosi, serta pola kepribadiannya. Ketiga proses tersebut memiliki interaksi yang saling mempengaruhi satu sama lain. Proses-proses sosioemosional akan membentuk proses kognitif, dan selanjutnya.

Psikologi perkembangan anak akan berfokus pada proses-proses perubahan biologis, kognitif, dan sosioemosional yang terjadi pada seorang anak. Kategori masa kanak-kanak itu sendiri biasanya diklasifikasikan dalam dua masa, yaitu masa kanak-kanak awal (2 – 6 tahun) serta masa kanak-kanak madya dan akhir (6 – 11 tahun). Pada masa-masa ini, perubahan yang terjadi pada ketiga area di atas berlangsung relatif cepat dan menonjol. Informasi tentang perkembangan yang terjadi pada anak-anak akan membawa implikasi pada cara pengajaran dan pendidikan mereka. Orangtua dan guru, sebagai bagian dari lingkungan sosial anak, dapat menjadi lebih peka dalam berinteraksi dengan anak serta mampu menstimulasi dan memotivasi perilaku-perilaku positif anak yang sesuai dengan perkembangannnya. Di samping itu, psikologi perkembangan anak akan membantu dalam mengungkap potensi-potensi yang ada pada seorang anak yang mungkin krusial untuk perkembangan masa-masa selanjutnya.

Konteks Sosial dalam Perkembangan Anak

Keluarga merupakan tempat pertama kali anak melakukan fungsi sosialisasinya. Proses yang terjadi antara anak dan orangtua tidaklah bersifat satu arah, namun saling mempengaruhi satu sama lain. Artinya, anak belajar dari orangtua, sebaliknya, orangtua juga belajar dari anak. Proses sosialisasi yang terjadi dalam keluarga lebih berbentuk sebagai suatu system yang interaksional. Bahkan hubungan antara suami dan istri pun akan mempengaruhi perkembangan anak.

Pola pengasuhan orangtua akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologis anak. Orangtua yang cenderung otoriter, dimana mereka menghendaki anak untuk selalu menuruti keinginan orangtua tanpa ada kesempatan bagi anak untuk berdialog, akan menghasilkan anak-anak yang cenderung cemas, takut, dan kurang mampu mengembangkan keterampilan berkomunikasinya. Sebaliknya, orangtua yang cenderung melepas keinginan anak akan menyebabkan anak tidak mampu mengontrol perilaku dan keinginannya dan dapat membentuk pribadi anak yang egois dan dominant. Sebagai jembatan dari kedua pola pengasuhan yang ekstrem tersebut, maka pola pengasuhan demokratislah yang dapat menjadi solusi terbaik bagi para orangtua untuk dapat mengoptimalkan perkembangan psikologis anaknya. Orangtua yang demokratis menghendaki anaknya untuk tumbuh sebagai pribadi yang mandiri dan bebas namun tetap memberikan batasan untuk mengendalikan perilaku mereka. Dalam hal ini, cara-cara dialogis perlu dilakukan agar anak dan orangtua dapat saling memahami pikiran dan perasaan masing-masing. Hukuman dapat saja diberikan ketika terjadi pelanggaran terhadap hal-hal yang bersifat prinsip. Meskipun demikian, perlu diingat bahwa hukuman tersebut harus disertai dengan penjelasan yang dialogis agar anak mengerti untuk apa mereka dihukum dan perilaku apa yang sebaiknya dilakukan.

Konteks sosial di luar keluarga pada anak-anak adalah teman sebaya. Pada teman sebaya inilah, anak memperoleh informasi dan perbandingan tentang dunia sosialnya. Anak juga belajar tentang prinsip keadilan melalui konflik-konflik yang terjadi dengan teman-temannya. Pada masa kanak-kanak, teman sebaya yang dipilih biasanya terkait dengan jenis kelamin. Anak cenderung bermain dengan teman sesama jenis kelaminnya. Dalam pergaulan inilah, anak juga belajar tentang konsep gender antara laki-laki dan perempuan.

Perkembangan Kepribadian Anak

Emosi merupakan salah satu aspek perkembangan yang melekat pada diri anak-anak. Kondisi emosi itu sendiri dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu : positif (misalnya, gembira) dan negatif (misalnya sedih). Konsep emosi cukup penting bila dikaitkan dengan fungsinya dalam hubungan interpersonal. Dalam hal ini, ekspresi emosi akan menjadi fasilitasi bagi seorang anak untuk dapat mengungkapkan perasaannya, perilakunya, serta keinginan-keinginannya. Pada hubungan antara anak dan orangtua, ekspresi emosi merupakan bahasa pertama kali dalam berkomunikasi. Seorang bayi telah mampu bereaksi terhadap ekspresi wajah dan nada suara orang tuanya. Sebaliknya, orang tua akan berusaha “membaca” makna dari tangisan bayinya. Seiring dengan usia, pola manajemen emosi yang diajarkan orangtua kepada anak-anaknya akan membawa dampak terhadap perkembangan emosi seseorang. Orangtua yang mengajari anak untuk dapat memonitor emosi anak dan memandang emosi negatif anak sebagai sesuatu hal yang wajar disertai dengan cara-cara mengatasinya akan memunculkan kemampuan anak dalam mengatur emosi sehingga menghindarkan anak dari masalah-masalah perilaku.
Pada masa kanak-kanak, dibutuhkan kemampuan anak untuk dapat mengungkapkan emosinya secara positif, termasuk di dalamnya adalah sebab dan akibat dari perasaan yang mereka miliki. Di samping itu, anak diharapkan mulai mampu merefleksikan emosi yang mereka rasakan  sekaligus mengatur emosi mereka sesuai dengan konteks sosial yang ada. Dalam hal ini, orang-orang di sekeliling anak dapat membantu perkembangan emosionalnya dengan bersikap lebih peka terhadap perasaan dan kebutuhan anak. Orang dewasa seharusnya membantu anak untuk dapat memahami emosi yang mereka rasakan sekaligus belajar untuk  mengekspresikannya secara positif di dalam kehidupan sehari-hari. Seiring dengan waktu, emosi memainkan peran yang kuat terhadap hubungan sosial seorang anak. Seorang anak yang dapat mengatur emosi secara positif akan menjadi anak yang populer dan disenangi oleh teman-temannya.

Aspek lain dalam perkembangan kepribadian anak adalah pemahaman atau konsep diri. Pada masa kanak-kanak awal, anak biasanya memiliki pemahaman diri yang bersifat fisik ataupun aktivitas yang mereka lakukan. Ketika anak ditanya tentang siapa mereka, maka jawaban yang muncul biasanya berkisar pada ukuran tubuh atau aktivitas yang  disenanginya. Konsep pemahaman diri ini menjadi lebih bersifat internal pada masa kanak-kanak menengah dan akhir. Anak-anak yang berada pada tingkat Sekolah Dasar telah mampu menyebutkan sifat-sifat psikologis dalam mendeskripsikan dirinya. Di samping itu, aspek sosial cukup memegang peranan besar dalam memahami konsep dirinya. Pada saat ini, anak mulai membandingkan keadaannya dengan keadaan orang-orang di sekelilingnya, terutama dengan teman sebayanya.

Konsep Pendidikan dan Pengajaran yang sesuai dengan Perkembangan Psikologis pada Masa Kanak-kanak

Dewasa ini, telah terjadi pergeseran paradigma dalam mendidik anak-anak. Pola pendidikan yang dahulu berfokus pada perkembangan kognitif mulai lebih menitikberatkan pada perkembangan sosial dan emosional anak. Tugas-tugas yang diberikan seharusnya dikaitkan dengan kebutuhan, minat, dan gaya belajar anak. Hal yang paling penting adalah penekanan bukan pada hasil belajar, tapi lebih pada proses belajar itu sendiri. Dalam hal ini, kegiatan belajar sebaiknya berupa permainan-permainan yang mengoptimalkan fungsi-fungsi eksperimentasi, eksplorasi, penemuan, dan pengujicobaan. Dengan demikian, cara belajar yang mengandalkan media kertas dan pensil sudah seharusnya dialihkan dengan pola belajar yang mengajarkan experiential learning, dimana anak-anak mampu mengembangkan kemampuan kognitif, sekaligus motorik dan juga sosioemosional, sesuai dengan tahapan perkembangannya. Dalam hal ini, anak akan belajar ketika mereka bertindak aktif dan mencari solusi secara mandiri. Oleh karena itu, metode-metode mengajar sebaiknya jangan menempatkan anak dalam posisi pasif. Pada semua mata pelajaran, anak belajar melalui penemuan-penemuan, refleksi, dan berdiskusi. Hal ini akan membawa hasil yang lebih baik daripada hanya meniru guru saja. Penekanan pada proses eksplorasi dan penemuan berimplikasi pada ruang kelas yang kurang terstruktur. Buku-buku dan sekumpulan tugas juga kurang begitu digunakan. Sebaliknya, guru lebih baik mengamati minat anak dan partisipasi alami pada aktivitas-aktivitas yang dilakukan di sekolah untuk memutuskan proses belajar yang terjadi.

Proses belajar anak harus terjadi secara natural. Anak tidak seharusnya ditekan secara dini sebelum tingkat kematangan anak memang sudah siap. Bila terjadi pemaksaan pada anak yang belum siap secara psikologis, maka hasil yang diperoleh dapat saja justru berbalik pada prestasi akademis dan rasa harga diri anak yang menjadi rendah. Di tingkat prasekolah, yaitu Kelompok Bermain dan Taman Kanak-kanak, anak mempelajari beberapa hal yang dapat membantunya menuju kematangan sekolah di Sekolah Dasar. Pada saat inilah, anak mengembangkan interaksi sosialnya dengan teman-teman sebayanya. Anak juga berlatih untuk dapat tampil percaya diri, asertif, mandiri, serta memiliki pemahaman yang lebih luas tentang dunia sosial mereka. Selanjutnya, ketika anak memasuki tingkat Sekolah Dasar, maka anak mulai dihadapkan pada peran baru dengan berbagai tugas dan tanggung jawab. Pendekatan yang sebaiknya dilakukan adalah pola-pola pengajaran yang bersifat integratif dan tidak terpisah-pisah antara mata pelajaran satu dengan lainnya. Contohnya, anak dapat mempelajari konsep matematika melalui musik ataupun pelajaran olahraga atau belajar membaca dan menulis melalui proyek-proyek ilmiah untuk menambah pengetahuan anak tentang Ilmu Alam.

Situasi belajar seharusnya didesain sedemikian rupa sehingga anak dapat belajar dengan melakukan sesuatu hal. Situasi ini akan membentuk pola pikir dan penemuan anak. Guru mendengar, memperhatikan, dan memberi pertanyaan untuk menolong anak meraih pemahaman yang lebih baik. Jangan hanya menekankan pada apa yang dipikirkan anak serta hasil dari belajar, tapi juga perlu mengamati bagaimana anak berpikir. Tanyakan pertanyaan-pertanyaan relevan yang dapat menstimulasi proses berpikir dan minta anak menjelaskan jawaban mereka. Konsep ini penting mengingat bahwa anak tidak datang ke kelas dengan pikiran kosong. Mereka memiliki banyak ide tentang lingkungan fisik dan alam serta konsep tentang jarak, waktu, kuantitas, dan hubungan sebab akibat. Ide-ide yang dimiliki pun berbeda dari ide-ide orang dewasa. Guru perlu menginterpretasi perkataan anak dan merespon secara dialogis dengan menyesuaikan tingkat perkembangan anak. Begitu pula halnya dengan evaluasi atau penilaian proses belajar.

Penilaian tidak hanya dilakukan berdasarkan hasil akhir, namun juga melihat proses yang terjadi selama anak belajar. Dalam hal ini, penilaian dapat saja berupa penjelasan tertulis dan atau verbal untuk mendiskusikan strategi berpikir anak.

Kesimpulan

Kanak-kanak merupakan salah satu masa dalam tahapan perkembangan manusia yang memiliki karakteristik-karakteristik psikologis tertentu. Dalam hal ini, anak memiliki bakat bawaan dari lahir yang menjadi potensi alamiah mereka. Meskipun demikian, optimalisasi dari bakat-bakat bawaan itu akan ditentukan oleh stimulasi-stimulasi dari lingkungan sekitar anak, yaitu keluarga, teman, dan sekolah. Pola pendidikan dan pengajaran oleh lingkungan sekitar anak diharapkan dapat menyesuaikan dengan tahapan perkembangan pada masa kanak-kanak. Dengan demikian, tujuan dari program-program yang dibuat akan dapat diraih secara efektif.

Diolah dari Bahan Rakor Perlindungan Anak Prov Jatim, Primatia Yogi Wulandari, S.Psi., M.Si., psi.
——-
Download artikel ini dalam versi word document [klik disini]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: