Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Desember 15, 2010

Tolak Hasil Unas Jadi Acuan Masuk PTN

Tolak Hasil Unas Jadi Acuan Masuk PTN

klik untuk melihat fotoJPNN-Padang Today; Sejumlah kalangan menolak jika hasil ujian nasional (unas) 2011 dijadikan acuan masuk perguruan tinggi negeri (PTN). Alasannya, hasil unas dinilai tidak mencerminkan secara riil kemampuan siswa. Apalagi, muncul banyak fakta di lapangan bahwa pelaksanaan unas kerap diwarnai kecurangan.
“Maraknya kecurangan itu terjadi karena unas selama ini menentukan kelulusan. Jadi, siswa menganggap unas segalanya,” ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah Slamet Nur Achmad Effendy di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Selasa (14/12/2010).

Slamet menjelaskan, ketika hasil unas dijadikan alat seleksi masuk PTN, dikhawatirkan kecurangan meningkat. Dia pun khawatir kebijakan tersebut merugikan PTN dengan turunnya kualitas mahasiswa. “PTN akan diisi mahasiswa yang secara kompetensi belum tentu bagus. Sebab, hasil unas belum menggambarkan kemampuan individual untuk masuk perguruan tinggi,” papar dia.

Selama ini, lanjut dia, kurikulum PTN bervariasi dan tidak sama dengan kurikulum SMA. Apalagi, kurikulum SMA belum disiapkan untuk melayani PTN. Karena itu, jika nilai tersebut dijadikan sebagai acuan masuk PTN, unas harus diintegrasikan dengan kurikulum perguruan tinggi.

“Juga, dibenahi agar unas benar-benar bebas dari kecurangan dan menjadi alat ukur prestasi yang dapat diandalkan,” ucap dia.

Sebelumnya, dalam rapat kerja menteri pendidikan nasional (Mendiknas) dan Komisi X DPR Senin lalu (13/12), disepakati formula baru kelulusan siswa. Satuan pendidikan yang menentukan kelulusan harus mengakomodasi nilai rapor, ujian sekolah, dan unas. Bahkan, nilai mata pelajaran lain yang tidak masuk unas harus digunakan sebagai pertimbangan kelulusan.

Wakil Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Yonny Koesmaryono membenarkan bahwa sesuai dengan pasal 5 PP No 60 Tahun 2010, hasil unas bisa dipertimbangkan sebagai acuan masuk PTN. “Kalimat itu berarti PTN bisa menggunakan nilai unas, tetapi bisa juga tidak,” papar dia.

Dia menuturkan, dalam Permendiknas No 34 Tahun 2006, disebutkan PTN harus memiliki kuota mahasiswa kurang mampu yang berprestasi. Salah satu acuan yang dapat digunakan adalah nilai unas. Jika tahun depan diberlakukan ketentuan itu, panitia mengundang secara nasional calon mahasiswa miskin berprestasi yang bisa masuk PTN. “Tetapi, yang menyeleksi tetap PTN,” ungkap dia.

Berdasar PP No 60 Tahun 2010, jelas dia, 60 persen mahasiswa baru diterima lewat seleksi nasional. Di IPB, 40 persen calon mahasiswa akan direkrut melalui sistem undangan dan 20 persen lainnya diterima lewat seleksi tulis. “Calon mahasiswa melalui sistem undangan akan diseleksi secara nasional berdasar nilai rapor dan unas serta peringkat sekolah,” tegas dia. Dengan sistem undangan, PTN akan mudah menjaring mahasiswa miskin berprestasi yang sulit terjaring dalam seleksi tulis nasional.

Hal senada disampaikan oleh Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Akhmaloka. Menurut dia, melalui sistem undangan, yang seleksinya menggunakan nilai unas, ITB bakal mencari calon mahasiswa miskin berprestasi. Bedanya, kuota calon mahasiswa melalui jalur undangan ke ITB hanya 20 persen. (zul/c11/dwi)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: