Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Desember 16, 2010

Khutbah Jum’at : DUA DIMENSI IBADAH

Khutbah Jum’at :

DUA DIMENSI IBADAH

Oleh : Drs. H. Athor Subroto, M. Si
Dosen  Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kediri

————

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumulah

Mari kita bersungguh-sungguh meningkatkan taqwa kita masing-masing. Dengan menjalankan semua perinah Allah. Dan, meninggalkan semua larangan-Nya. Kita semua menyadari, bahwa dengan taqwa yang kokoh, kita akan mendapatkan kemudahan dari Allah Swt – unuk mengarungi kehidupan di dunia ini.

Saudara-saudaraku kaum muslimin yang dirahmati Allah.

Allah SWT mengingatkan kepada umat manusia untuk beribadah kepada-Nya. Firman-Nya  dalam Al Aqur’an Surat Al Baqarah ayat 21 artinya:

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang Telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelumu, agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah [2]:21).

Mengapa kita diperintah untuk beribadah kepada Allah SWT? Karena kita telah diberi banyak kenikmatan. Diantara kenikmatan itu ialah, kita diciptakan oleh Allah. Dari tidak ada menjadi ada. Ini suatu anugerah dan sekaligus kenikmatan yang luar biasa dari Sang Khaliq. Dengan dilahirkan, kita bisa melihat indahnya bumi dan luasnya jagat raya ini.

Allah SWT berfirman:

“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu Mengetahui”. (QS. Al Baqarah [2]:22)

Ibadah itu dibagi menjadi dua bagian. Yang pertama, ibadah Mahdhah. Yaitu, ibadah berdimensi fertikal (hubungan dengan langit/Allah). Misalnya: shalat, puasa, haji dan lain sebagainya. Sedangkan yang kedua, ibadah Ghairu Mahdhah. Yaitu, iabadah yang berdimensi horizontal atau hubungan sesama makhluq.

Tidak hanya menjalankan shalat, puasa dan haji saja. Melainkan juga harus membangun hubungan yang baik dengan sesama makhluq di muka bumi ini. Utamanya dengan umat manusia. Karena itu belum sempurna kehidupan seseorang yang hanya membangun hubungan dengan Allah SWT tanpa dibarengi dengan membangun hubungan sesama makhluq. Misalnya, ada orang yang uzlah (menyendiri) di pucuk gunung dengan niat untuk memperbanyak ibadah, tanpa bergaul dengan masyarakat. Cara ibadah seperti ini belum sempurna. Begitu pula, tidak sempurna seseorang yang berkata, aku tidak usah shalat, asal selalu berbuat baik kepada sesama manusia.

Dua model ibadah semacam ini, perlu disempurnakan. Caranya, menggabungkan dua dimensi langit dan dimensi bumi itu. Kepada Allah SWT selalu beribadah. Dan kepada sesama makhluq juga selalu berbuat baik. Kalau tidak, maka akan terjadi bencana yang amat merugikan kehidupan umat manusia.

Firman Allah SWT:

“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu Karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas”. (QS. Ali Imran [3]:112)

Dari ayat tadi Allah SWT memberi peringatan agar kita selalu membangun hubungan yang harmonis baik dengan Sang Pencipta maupun dengan sesama makhluq. Tujuannya sangat  jelas, agar supaya hidup menjadi terhormat dan tidak hina. Karena itu mari kita bertekad membangun hubungan dua dimensi dengan sebaik-baiknya sesuai perintah Allah SWT. Menyembah Allah dengan khusyuk dan ikhlas. Serta saling tolong menolong dan membantu kepentingan sesama makhluq di muka bumi.

Dengan kata lain dua dimensi itu ialah, menyiapkan kepentingan akhirat dan bekerja untuk kepentingan dunia. Kedua kepentingan itu, harus seimbang. Jangan sampai berat sebelah, atau bahkan hanya memilih salah satu dari keduanya. Allah SWT telah berfirman:

“Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al Qashash [28]: 77).

Faktor keseimbangan dalam urusan dunia dan akhirat sangat ditekankan oleh agama. Tidak berlebih-lebihan dalam mengeksploitasi alam. Sehingga kelestariannya bisa terjaga dengan baik. Memelihara alam itu sendiri masuk kategori ibadah.


Download artikel khutbah Jum’at ini dalam versi word document [klik disini]

Iklan

Responses

  1. trimakasih tulisan ini sudah menjadi motivasi dalam bersikap

  2. Yth. Saudara saya Yosi Gumala.

    Saya sampaikan ucapan banyak terima kasih atas tanggapannya terhadap Teks Khutbah Jum’ah yang berjudul DUA DIMENSI IBADAH.
    Semoga bermanfaat.

    Hormat saya

    H. Athor Subroto

  3. ustad, mohon ijin untuk menyampaikan kembali khotbah ini di kampung saya

    • Ustd Faizin yg saya hormati. Saya mohon mf saya baru bisa menjawab skrg, krn ada kesibukan dan soal tehnis.
      Saya sangat senang khutbah ini disampaikan di mana saja demi syiar Islam.
      Sdh ada tema baru lagi yg saya kirim ke medianya Ustd Zulfikri. Silakan.

  4. Ass. mohon izin mengutip naskah untuk materi khutbah jum’at saya

  5. Mohon izin untuk sy sampaikan pad khutbah minggu depan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: