Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Desember 19, 2010

AIR DALAM BOTOL: SEBUAH ILUSTRASI PEMBELAJARAN BERBASIS MULTIPLE INTELLIGENCES

AIR DALAM BOTOL:
SEBUAH ILUSTRASI PEMBELAJARAN BERBASIS MULTIPLE INTELLIGENCES

Oleh :  ABDUL HALIM FATHANI
Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang
(E-mail: ah.fathani@gmail.com)

Dalam faktanya, banyak siswa mengalami kebingungan dalam menerima pelajaran karena tidak mampu mencerna materi yang diberikan oleh guru. Ternyata, banyaknya kegagalan siswa mencerna informasi dari gurunya disebabkan oleh ketidaksesuaian gaya mengajar guru dengan gaya belajar siswa. Sebaliknya, apabila gaya mengajar guru sesuai dengan gaya belajar siswa, semua pelajaran (termasuk pelajaran matematika) akan terasa sangat mudah dan menyenangkan. Guru juga senang karena punya siswa yang semuanya cerdas dan berpotensi untuk sukses pada jenis kecerdasan yang dimilikinya. (Chatib, 2009:100).

Salah satu implikasi dari penerapan multiple intelligences dalam proses pembelajaran adalah terwujudnya gaya mengajar guru yang menyesuaikan dengan gaya belajar siswa. Bobbi DePorter, Mark Reardon, dan Sarah Singer-Nourie (2000:85-86) menjelaskan bahwa setiap orang memiliki kecenderungan gaya mengajar atau modalitas mengajar yang biasanya sama dengan gaya belajar masing-masing. Jika kita memiliki kecenderungan belajar secara visual, maka kita akan menjadi guru yang visual pula. Hal itu terjadi secara alamiah. Tetapi, tidak demikian dengan siswa. Sebagian mungkin memiliki modalitas belajar yang sama dengan gurunya, tetapi mungkin banyak yang tidak. Bagi siswa yang modalitasnya tidak sama dengan modalitas mengajarnya guru, kemungkinan tidak akan dapat menangkap semua yang diajarkan atau mendapat tantangan lebih besar dalam mempelajari bahan. Siswa secara harfiah memproses dunia melalui bahasan yang berbeda dengan guru. Bukankah seorang guru akan senang dapat menjangkau semua siswa dengan modalitas berbeda-beda –dan melakukannya secara konsisten? Meskipun cara belajar dan mengajar seseorang itu mencerminkan kecenderungan modalitas seseorang, penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak modalitas yang dilibatkan secara bersamaan, belajar akan semakin hidup, berarti, dan melekat,

Rose & Nicholl (2002:131) memapaparkan hasil studi yang dilakukan lebih dari 5.000 siswa di Amerika Serikat, Hongkong, dan Jepang, kelas 5 hingga 12, menunjukkan kecenderungan belajar berikut: Visual sebanyak 29%, Auditori sebanyak 34%, dan Kinestetik sebanyak 37%. Namun, pada saat mereka mencapai usia dewasa, kelebihsukaan pada gaya belajar visual ternyata lebih mendominasi, menurut Lynn O’Brien, Direktur Studi Diagnostik Spesifik Rickville, Maryland, yang melakukan studi tersebut.

Ada sebuah ilustrasi menarik tentang praktik pembelajaran yang diselenggarakan dengan pendekatan multiple intelligences. Ada air dalam cangkir besar yang akan dituangkan dalam 10 botol. Dan,  bentuk botolnya pun berbeda-beda. Tidak sama antara satu dengan yang lain. Tetapi, air yang dituangkan ternyata dapat memenuhi bentuk botol yang bermacam-macam itu –karena, salah satu sifat air adalah cair, yakni dapat menyesuaikan dengan bentuk yang dialiri. Intinya, ketika air tadi di dalam cangkir, maka bentuk air adalah seperti cangkir. Namun, ketika dituangkan dalam 10 botol yang berbeda, maka diperoleh 10 model bentuk air yang berbeda-beda.

Nah, bagaimana dalam proses pembelajaran. Tantangan bagi seorang guru adalah bagaimana guru dapat membuat “bentuk” ilmu pengetahuan atau informasi yang mau ditransfer ke siswa itu sesuai dengan “bentuk” masing-masing individu siswa. Jika bentuk yang ditransfer sudah sesuai dengan bentuk masing-masing siswa, maka secara otomatis akan dapat masuk ke dalam masig-masing siswa. Dengan kata lain, gaya mengajar guru harus menyesuaikan dengan gaya belajar siswa. Bukan sebaliknya, gaya belajar siswa harus menyesuaikan dengan gaya mengajar guru.

Memang, dengan menerapkan pembelajaran berbasis multiple intelligences ini guru akan dibuat dalam posisi yang “sulit”. Artinya, tugas seorang guru menjadi berat dan berat. Dan, memang inilah keharusan yang menurut penulis merupakan suatu keniscayaan, jika kita ingin para siswa nantinya akan menjadi manusia pebelajar sejati. Lalu, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana mungkin kita dapat menerapkan pembelajaran berbasis multiple intelligences jika dalam suatu kelas terdapat beragam model belajar yang dimiliki siswa?

Untuk keefektifan dalam praktiknya di lapangan, memang pembelajaran yang diselenggarakan berbasis multiple intelligences ini lebih cocok jika diterapkan dalam sistem pembelejaran yang menggunakan sistem kelompok, bukan klasikal. Dan, akan lebih sesuai lagi jika pembelajarannya menggunakan pendekatan personal. Sehingga guru benar-benar akan dapat menggali apa saja yang menjadikeunggulan siswa. Dan, pada akhirnya sekolah akan menghargai masing-masing kelebihan dan keunggulan siswa. Artinya, sekolah tidak lagi membatasi peringkat hanya 1-3, atau hanya sepuluh besar. Tetapi, semua siswa layak menjadi juara, mereka akan mendapat peringkat sesuai dengan bidang kemampuannya masing-masing. Guru harus dapat meyakinkan kepada siswa, bahwa si A juara di bidang ini, si B juara di bidang itu, si C ahli bidang ini, si D mahir di bidang itu, dan seterusnya. [ahf]
—————-
Download artikel ini dalam versi word document [klik disini]


Responses

  1. Ilustrasi yang menarik. Bisakan guru-guru kita mengaplikasikan? Wah, ini yang ditunggu-tunggu oleh peserta didik di Tanah Air.

  2. Saya sangat setuju dengan ilustrasi yang luar biasa tersebut. Guru memang harus memahami gaya belajar siswa, sebab untuk masuk kedunia siswa guru harus tahu pintu masuknya. Sementara itu tujuan jangka panjang sebuah pembelajaran adalah siswa mengerti dan menguasai cara belajar sehingga mereka bisa belajar sepanjang hayat..

  3. yang jelas setiap individu dilahirkan sebagai makhluk yg cerdas/siperior/jenius,kan dia sudah memenangkan kompetisi pertama untuk mendapatkan ” sang Ovarium “, itulah kesuksesan pertama, lalu dia bs lahir dan menghirup oksigen bebas dialam dunia ini kesuksesan lanjutannya sebagai ” creature ” jenius…dst dst dst…, jd ya ngga salah kalau perlakuan yg diberikan pd setiap siswa bs berbeda-beda, biarkan siswa mencerna, memproses , memperjuangkan rasa ingin tau dan rasa ingin bisanya dengan formulanya sendiri, soal ” harga ” berapa yg dicapai , itu urusan belakangan, yg plg penting guru harus memberi apresiasi yg tepat dan membuat siswa merasa berharga , syukur tersanjung, ini adalah modal penting untuk menjadikan siswa itu sebagai pejuang tangguh !!!

  4. jika guru sudah mengetahui peserta didiknya mempunyai kelebihan dan kekurangan dalam mencerna pelajaran. tetapi kenapa masih sering kita dengar beberapa guru memvonis peserta didiknya yang kurang dalam mencerna pelajaran dengan kata2 yang tidak layak didengar telinga, tanpa ada tindakan dari guru untuk membantu kekurangan peserta didik tersebut ?

  5. saya ingin tahu lebih lanjut tentang pembelajaran berbasis multiple intelligences dimana guru menyesuaikan gaya belajarnya sesuai dengan gaya belajar anak. dan bagaimana proses kinerjanya?sebelumnya saya ucapkan terimakasih

  6. saya ingin jadi dosen yang benar-benar bisa memahami anak didik sehingga sistem pembelajaranpun efektif .

  7. bagus sekali pak. sudah saatnya pendidikan klasik diubah, kalau indonesia mau maju. sudah bukan jaman lagi mengekang siswa dengan banyak batasan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: