Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Januari 4, 2011

Menghukum Peserta Didik Ala Ki Hajar Dewantara

Menghukum Peserta Didik  Ala Ki Hajar Dewantara

Oleh Drs.Marijan
Praktisi Pendidikan di SMPN 5 Wates Kulonprogo Yogyakarta

MENYIMAK artikel saudara FX Sajiyanto,SPd., berjudul “ Bolehkah Guru Menghukum Murid ?” pada majalah Candra edisi VI 2004 terusik  untuk melengkapinya. Dari simpulan yang ditulis sekaligus merupakan jawaban atas judul artikelnya memperbolehkan guru menghukum  peserta didiknya asalkan dengan bijaksana. Hukuman bijaksana dimaksud di atas adalah tidak menerapkan hukuman fisik pada daerah organ-organ penting  (dada, perut, dan kepala). Oke, penulis sangat setuju dengan pendapat tersebut.

UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 menyebutkan “ Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara .”

Sehubungan dengan tujuan pendidikan sebagaimana terungkap di atas yakni untuk mengembangkan potensi kognitif, sikap dan keterampilan peserta didik maka pendidik/tenaga kependidikan  memikul tanggung jawab untuk membimbing, mengajar dan melatih murid atas dasar norma-norma yang berlaku baik norma agama, adat, hukum, ilmu dan kebiasaan-kebiasaan yang baik. Untuk mewujudkan tujuan itu perlu ditanamkan sikap disiplin, tanggung jawab, berani mawas diri, beriman dan lain-lain. Hukuman pun sering diterima siswa manakala mereka  melanggar tata tertib yang telah disepakati. Hukuman itu dimaksudkan  sebagai upaya mendisiplinkan siswa terhadap peraturan yang berlaku. Sebab, dengan sadar pendidik memegang prinsip bahwa disiplin itu merupakan kunci sukses hari depan. Apakah bentuk-bentuk hukuman bisa dikembangkan untuk mendisiplinkan siswa? Pertanyaan seperti inilah menjadi dilema  bagi kaum pendidik  dalam mengemban  kewajiban dan tanggung jawabnya.

Apabila    sanksi hukuman sama sekali tidak diadakan  niscaya   perilaku siswa akan lebih  semrawut.  Kita bisa menduga-duga, ada penerapan hukuman saja siswa yang melanggar masih banyak, apalagi jika sanksi hukuman ditiadakan. Tambah ruwet. Jika hukuman itu diadakan menuntut konsekuensi bagi para pendidik itu sendiri. Maksudnya, pendidik harus benar-benar bisa sebagai suri tauladan bagi anak didiknya. Penerapan aturan hukuman bagi para siswa yang melanggar tetapi tidak diikuti kedisiplinan pendidik , bagaikan halilintar di waktu mareng , banyak yang menyepelekan.

Hukuman itu wajar tetapi hendaknya bersifat  mendidik. Maksudnya dengan adanya hukuman siswa menjadi tahu / faham tentang kesalahan yang dilakukannya, tanpa merampas  “ batas kemanusiaannya.”  Dengan kata lain hukuman dari pendidik kepada peserta didik harus bersifat mendidik. Jadi hukuman harus ada relasi dengan pengetahuan, pengembangan mental, disiplin, sifat kemanusiaan, kemandirian dan ketidakragu-raguan. Misalnya hukuman menghafalkan  pembukaan UUD 1945, membuat puisi, menambah jumlah soal PR, membuat cerpen tentang siswa terhukum dan lain-lain. Pendeknya hukuman itu ada gunanya bagi pengembangan wawasan, kreativitas, kesadaran siswa yang terhukum. Bukan sebaliknya seperti yang acap terjadi hukuman hukuman bersifat menjerakan, menyusahkan dan meninggalkan rasa jengkel, tidak puas dan menambah rasa benci siswa terhadap pendidiknya  ( pemberi hukuman itu )

Tokoh  pendidik Ki Hajar Dewantara  ( Majalah Wasito Edisi 08 Jilid I 1929 )   mengemukakan pendapatnya bahwa dalam memberikan hukuman kepada anak didik, seorang pendidik harus memperhatikan 3 macam aturan.  Pertama, hukuman harus selaras  dengan kesalahan. Misalnya, kesalahannya memecah kaca hukumnya mengganti kaca yang pecah  itu  saja. Tidak perlu ada tambahan tempeleng atau hujatan yang menyakitkan hati. Jika datangnya terlambat  5 menit maka pulangnya ditambah 5 menit. Itu namanya  selaras.  Bukan datang terlambat 5 menit kok hukumannya mengintari lapangan sekolah 5 kali misalnya. Relasi apa yang ada di sini ? Itu namanya hukumn penyiksaan.

Kedua, hukuman harus adil. Adil harus  berdasarkan atas rasa obyektif, tidak memihak salah satu dan membuang perasaan subyektif. Misalnya siswa yang lain  membersihkan ruangan kelas  kok ada siswa yang hanya duduk – duduk sambil bernyanyi-nyanyi tak ikut  bekerja.  Maka

hukumannya supaya ikut bekerja sesuai dengan teman-temannya dengan waktu ditambah  sama dengan keterlambatannya tanpa memandang siswa mana yang melakukannya.

Ketiga, hukuman harus lekas dijatuhkan. Hal ini bertujuan agar siswa segera paham hubungan dari kesalahannya.  Pendidik pun harus jelas menunjukkan pelanggaran yang diperbuat siswa. Dengan harapan siswa  segera tahu dan sadar mempersiapkan  perbaikannya. Pendidik tidak diperkenankan asal memberi  hukuman sehingga siswa bingung menanggapinya.

Itulah wasiat Ki Hajar Dewantara yang dapat digunakan  sebagai pedoman  dan pertimbangan para guru / kepala sekolah yang sering mengangkat dirinya berfungsi ganda. Pertama berfungsi sebagai polisi, kemudian jaksa dan sekaligus  sebagai hakim  di sekolahnya.  Guru/kepala sekolah memang mempunyai superioritas yang tinggi terhadap siswanya. Tidak heran akhirnya bak raja di atas tahta,segala perintah, siswa dipaksa menerima dan menurut. Kesuperioritasannya boleh lestari asalkan tidak merugikan anak didik. Hal itulah menuntut pendidik bersifat bijak , sehingga hukuman tak boleh semena-mena terhadap anak didik.

Psikologis anak perlu  sentuhan yang halus , lentur dan manis sehingga bisa membuat sensivitas perasaannya terasah normal. Hukuman terhadap siswa harus berlandaskan keseimbangan. Misalnya dari strata paling rendah, siswa yang nakal dibina dulu oleh wali kelas . Apabila masih belum bisa ditolerir dikenakan hukuman skorsing tidak boleh mengikuti kegiatan sekolah. Sedangkan hukuman di strata puncak jika memang sekolah tidak mampu membina lagi, kembalikan kepada orang tuanya.

—————
Download artikel ini dalam versi word document [klik disini]

Iklan

Responses

  1. Ada dua cara pandang terhadap”Hukuman” dalam proses pendidikan: 1. Cara pandang Idealis(Optimistik): pendidik berpandangan jika proses pendidikan itu berjalan sesuai bakat,minat,perhatian,kemauan anak didik maka pelanggaran tidak akan terjadi shg “tidak diperlukan adanya hukuman”. Dlm hal ini pendidik biasanya berdasar pada teori belajar Kognitif,dimana anak didik itu sebenarnya adalah makhluk yg aktif(bukan pasif/reaktif),penuh inisiatif,punya fantasi,imajinasi,perasaan yg menjadi motor dr perilaku belajarnya trmsk perilaku yg lain sehari2.
    2. Cara pandang Pragmatis/ Faktualis (Pesimistik): pendidik berpandangan sebaik apapun dlm mempersiapkan proses pendidikan pasti akan terjadi “ketidak-sesuaian” dg minat,perhatian,bakat,harapan anak didik karena anak didik adalah makhluk yg “reaktif/pasif”. Cara pandang ini akibat dari pendidik berdasar pada teori belajar Behavioristik: conditioning, reward/ hadiah agar anak “tuman” dan punishment/hukuman agar anak”kapok”. faktanya di lapangan pendidik pasti menjumpai anak didik yg melanggar ketentuan shg oleh guru diperlukan penerapan hukuman. trimakasih.

  2. Hukuman bisa selarah jika kita berpihak pada keteladanan, dengan menanamkan kedisiplinan, adil dan terukur sesuai usia peserta didik agar timbul rasa segan dan jera dituangkan dalam point sesuai dengan tingkat kesalahan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: