Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Januari 11, 2011

Mendongkrak Kualitas Pembelajaran Melalui Pengembangan 5 K

Mendongkrak Kualitas Pembelajaran Melalui Pengembangan 5 K

Oleh Drs. Marijan
(Praktisi Pendidikan di SMPN 5 Wates Kulonprogo Yogyakarta)

SETIAP guru tentu menginginkan proses pembelajarannya di dalam kelas berhasil seperti yang diharapkan. Suasana tenteram, damai dan menyenangkan. Para peserta didiknya  berbudi pekerti  baik. Proses pembelajarannya penuh kreatif dengan segenap semangat belajar yang tinggi. Lulusan anak didiknya berguna bagi bangsa dan berhasil sukses dalam hidupnya. Itulah sederetan harapan dan idola guru  pada umumnya.

Untuk meraih harapan tersebut guru hendaknya kreatif mencoba dan memilih serta memadukan sejumlah metodologi mengajar agar pembelajarannya dapat  produktif, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan sebagaimana dikenal dengan istilah PAKEM. Jurus jitu  untuk mendongkrak kualitas pembelajaran antara lain mengembangkan 5 K (Kecerdasan Emosi, Kreativitas , Kemauan, Kedisplinan dan Keterampilan ).

Pertama , Kecerdasan Emosi. Sejak Orde Baru berkuasa hingga sekarang ini dunia pendidikan mendewa-dewakan  kecerdasan intelektual ( IQ = Intellectual Quitient ). Akibatnya peserta didik dari setiap jenjang pendidikan selalu meletakkan  kecerdasan intelektual (IQ) pada tempat  yang sangat terhormat. Bahwa IQ memegang peran paling dominan  terhadap kesuksesan masa depan telah dipahami oleh peserta didik  sebagai sesuatu yang baku. Akan tetapi kenyataan membuktikan lain , IQ yang tinggi bukan jaminan kesuksesan hidup. Banyak kecerdasan selain IQ tidak diperhitungkan bahkan dilupakan. Padahal  melalui pengembangan  intelegensi saja tidak mampu menghasilkan manusia yang utuh. Menurut hasil penelitian Daniel Goleman ( 1996 ) IQ hanya memegang peran 20 % dan 80% EQ ( Emotional Quotient ) dan SQ ( Spiritual Quotient ) terhadap kesuksesan masa depannya .

Ini berarti bekal-bekal semacam kemampuan menahan diri, mengendalikan emosi, memahami emosi orang lain, memiliki ketahanan menghadapi kegagalan, bersikap sabar, memiliki motivasi diri yang tinggi, kreatif, empati, bersikap toleran, semua  nilai-nilai tersebut termasuk dalam wilayah EQ. Oleh karena nilai-nilai tersebut justru penting untuk menghadapi kenyataan hidup di kemudian hari  maka perlu dikembangkan secara maksimum di sekolah.  Sekolah tidak lagi hanya memupuk pengembangan kecerdesan intelegensi.

Agar peserta didik memiliki kecerdasan emosional yang berkembang  maka proses pembelajarannya diupayakan membentuk keadaan sebagai berikut 1) Usahakan lingkungan sekolah yang kondusif, 2) Ciptakan iklim pembelajaran yang demokratis, 3) Kembangkan sikap empati dan rasakan apa yang dirasakan peserta didik, 4) Libatkan peserta didik secara optimal dalam pembelajaran, 5) Responlah  secara  positif  setiap perilaku peserta didik dan 6) Beri teladan menegakkan disiplin  dalam pembelajaran.

Kedua, Kreativitas. Pemahaman bahwa krativitas merupakan sifat bawaan sejak lahir harus dihilangkan  dari anggapan peserta didik. Kiranya kita sepakat pendapat Gordon ( The Learning Revolution : 2002 ) bahwa kreativitas  didorong oleh kesadaran  yang memberi petunjuk  untuk mendeskripsikan dan menciptakan  proses latihan yang diterapkan di sekolah atau lingkungan lain. Kreativitas pada dasarnya sangat diperlukan dalam setiap langkah kehidupan. Artinya  untuk menyiasati rel kehidupan, kreativitas sebagai jalan ke arah tujuan.

Proses pembelajaran  pada hakekatnya untuk mengembangkan aktivitas dan kreativitas peserta didik  melalui berbagai interaksi dan pengalaman belajar. Banyak resep  untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif  yang dapat mengembangkan  aktivitas dan kreativitas  belajar  secara optimal.

Kreativitas dapat dikembangkan  dengan memberi kepercayaan, komunikasi yang bebas, pengarahan diri dan pengawasan yang tidak terlalu ketat atau otoriter sebagaimana dikemukakan oleh  Gibbs  dalam  E. Mulyasa  ( Menjadi Guru Profesional : 2005 : 164 ).

Ketiga, Kemauan.  Kemauan atau  nafsu belajar peserta didik   dapat dikategorikan sangat rendah. Banyaknya siswa  kluyuran keluar dari   kelas atau halaman sekolah pada jam-jam pelajaran sebagai potret rendahnya motivasi belajar. Rendahnya kualitas sumber daya manusia ( SDM) Indonesia menurut UNDP tahun 2002 berada pada ranking 110 dari 172 negara  ( Bernas, 26 Juli 2003 ) sebagai cermin ambruknya bangunan pendidikan kita yang didasari oleh rendahnya motivasi  peserta didik pada umumnya .

Kemauan yang rendah itu hendaknya segera dimotivasi  agar proses pembelajaran berlangsung efektif dan efisien. Oleh karenanyalah  guru dituntut  mampu memberikan motivasi atau nafsu belajar kepada para peserta didiknya. Motivasi tidak bisa dianggap remeh dalam melakukan sesuatu untuk meraih tujuan hidup.

Motivasi itulah sebenarnya mengandung tenaga yang sangat dahsyat  , pendorong dan penarik untuk  ke arah tujuan tertentu. Apabila motivasi belajar peserta didik itu tinggi, bukan hal yang sulit untuk  meraih keberhasilan . Nah, sebelum guru jauh-jauh memberikan materi pelajaran sesungguhnya motivasi belajar  lebih penting dan perlu diberikan  lebih awal.  Jadi motivasi belajar perlu dihadirkan  dan ditanamkan dalam setiap jiwa pelajar dan  pengajar  sebagai fondasi bangunan  pendidikan.

Motivasi harus dibangkitkan agar proses pembelajaran dapat bermakna positif bagi perkembangan pelajar sebagai subjek belajar dan  pengajar sebagai fasilitator  yag semakin berkualitas. Caranya : 1) tema yang dipelajari  ditunjukkan kemanfaatannya  bagi peserta didik, 2) peserta didik hendaknya diberi tahu tujuan pembelajaran, 3) peserta didik diberi tahu kompetensi  dan hasil evaluasinya, 4) pemberian hadiah, pujian dan hukuman perlu digalakkan dengan proporsi yang seimbang, 5)  tidak menyamaratakan  sejumlah  peserta didik  dalam hubungannya  dengan kemampuan dan 6 ) layani  peserta didik secara wajar.

Keempat, Kedisiplinan. Kedisiplinan peserta didik akhir-akhir ini cukup memprihatinkan.  Rambut gondrong, rambut dicat, baju tidak dimasukkan, sering terlambat masuk kelas, membolos bahkan terlibat tindak kriminal dalam komunitas masyarakatnya merupakan isu yang biasa kita dengar. Berbagai warta tindak kejahatan  pelajar mewarnai koran dan majalah  yang dibaca oleh banyak pelanggan.

Dalam proses pembelajaran, mendisiplinkan peserta didik harus dilakukan dengan kasih sayang, ditujukan untuk membantu menemukan diri, mencegah timbulnya masalah disiplin dan mengupayakan terciptanya situasi  pembelajaran  yang menyenangkan. Untuk menciptakan proses pembelajaran yang disiplin guru dituntut agar melakukan hal-hal berikut : 1) mempelajari pengalaman peserta didik, 2) memberi tugas yang jelas dan dapat dipahami, 3)  tidak melakukan  banyak penyimpangan, 4) berdiri di dekat pintu pada pergantian jam pelajaran agar peserta didik tidak membuat gaduh / ramai  suasana sekolah dan   5) bergairah, bersemangat dan menguasai materi dalam proses pembelajaran agar dijadikan teladan oleh peserta didik.

Kelima, Keterampilan. Keterampilan  merupakan indikator kualitas sekolah  dalam berbagai jenjang. Keterampilan memang menuntut pelajar, pengajar dan unsur-unsur pendukung terlaksananya proses pendidikan di sekolah. Tuntutan keterampilan bagi pengajar misalnya:  keterampilan menggunakan bahan ajar, sumber belajar, metode mengajar dan keterampilan mengembangkan materi ajar.

Bagi peserta didik keterampilan sangat bermanfaat untuk pengembangan penguasaan materi ajar dan keterampilan  yang berhubungan  dengan kehidupan masa depan. Keterampilan memegang alat praktek, keterampilam membuat laporan, keterampilan berdiskusi, hingga keterampilan berpraktek menjahit, elektronik dan lain-lain sangat dibutuhkan dalam kehidupan  masa depan. Keterampilan  yang dibutuhkan  di sekolah mempunyai kontribusi besar terhadap pengembangan keterampilan  di masa depan. Oleh karena itulah keterampilan  perlu dikembangkan di sekolah.

Kelima K ( Kecerdasan emosi, Kreativitas, Kemauan, Kedisplinan dan Keterampilan )  tersebut itulah sesungguhnya menjadi modal dasar bagi setiap insan dalam menghadapi kenyataan  hidup yang sarat persoalan. Persoalan-persoalan hidup itulah harus dipecahkan secara rasional dengan  5 K.
————–
Download artikel ini dalam versi word document [klik disini]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: