Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Januari 12, 2011

Menciptakan Pembelajaran Kreatif Melalui Penerapan Ketrampilan Bertanya

Menciptakan Pembelajaran Kreatif Melalui Penerapan Ketrampilan Bertanya

Oleh Drs.Marijan
Praktisi Pendidikan di  SMPN 5 Wates Kulon Progo Yogyakarta

PEMBELAJARAN merupakan suatu proses kompleks , melibatkan berbagai aspek yang saling berpengaruh. Akan tetapi proses pembelajaran secara formal di sekolah , gurulah pemegang proporsi paling dominasi dalam upaya meraih keberhasilan pembelajaran secara maksimum. Artinya, ketika proses pembelajaran mulai berlangsung kemampuan guru dalam mengelola kelas menjadi bagian terpenting untuk menjaga kehidupan kelas. Agar supaya  pembelajaran itu berlangsung dan terasa segar, kreatif, aktif dan terlebih menyenangkan maka diperlukan keterampilan guru mengelola kelas yang dapat menjaga kesinambungan proses pembelajaran.  Pembelajaran yang demikian inilah memerlukan keterampilan  mengajar  bagi guru.

Keterampilan mengajar merupakan  kompetensi  profesional yang cukup kompleks, sebagai integrasi dari berbagai kompetensi guru  secara utuh  dan menyeluruh. Turney ( 1973 ) mengungkapkan 8 keterampilan mengajar  yang sangat berperan  dan menentukan kualitas pembelajaran, yaitu keterampilan bertanya, memberi penguatan, mengadakan variasi, menjelaskan , membuka dan menutup pelajaran, membimbing diskusi  kelompok kecil, mengelola kelas, serta mengajar kelompok kecil dan perorangan . Keutuhan 8 keterampilan mengajar tersebut di atas merupakan kunci keberhasilan pembelajaran.

Setiap keterampilan mengajar memiliki komponen dan  prinsip – prinsip dasar tersendiri. Termasuk keterampilan teknik bertanya guru akan berpengaruh terhadap kesegaran proses pembelajaran. Oleh karenanya guru harus menguasai keterampilan bertanya  yang mampu menggugah motivasi peserta didik untuk belajar mengembangkan  ide dan gagasan yang dimilikinya.

Haruskah pertanyaan itu diberikan  kepada siswa ?  Mulyasa ( 2005 ) mengungkapkan bahwa dalam setiap  tahap pembelajaran guru dituntut  untuk mengajukan pertanyaan. Bahkan diungkapkan juga kualitas pertanyaan yang diajukan guru akan menentukan kulalitas jawaban  peserta didik.  Pendapat itu seiring dengan kenyataan  yang membuktikan bahwa pertanyaan  yang diajukan guru akan berdampak pada kesiapan siswa menyusun kalimat jawaban,  memusatkan perhatian , melatih bersikap dewasa dan memupuk rasa bertanggung jawab bagi para siswa.

Keterampilan bertanya dimaksud  yang harus dikuasai  oleh guru meliputi keterampilan bertanya  dasar dan keterampilan bertanya lanjutan. Adapun keterampilan bertanya dasar mencakup beberapa aspek. Pertama, pertanyaan harus jelas dan singkat. Jelas  artinya dapat dimengerti oleh peserta didik baik perbendaharaan kata maupun  maksud tujuan pertanyaan. Singkat artinya pertanyaan itu tidak  berbelit-belit atau tidak bertele-tele dengan kalimat yang panjang sehingga sulit dimenegerti.

Kedua, pertanyaan dapat memeberi acuan. Pertanyaan ini diberikan  kepada siswa setelah guru menjelaskan secara singkat berupa infomasi. Melalui pertanyaan acuan ini peserta didik mengolah informasi  untuk menemukan jawaban yang tepat. Misalnya, binatang ada yang hidup di darat, air dan di udara.  Coba berikan beberapa contoh binatang yang hidup di air ?

Ketiga, pertanyaan dapat memusatkan perhatian. Salah satu cara pemusatan perhatian peserta didik dapat ditempuh dengan pemberian pertanyaan. Pertanyaan lebih memfokus pada suatu titik permasalahan sehingga jawabannya tidak terlalu luas.  Misalnya,  binatang apakah yang hidup di air tetapi bernapas dengan  paru-paru ? Pertanyaan ini lebih memfokus dari pada binatang apakah yang hidup di air ?

Keempat, memberi giliran dan penyebaran pertanyaan. Tujuan pemberian giliran ini agar peserta didik  lebih semaksimal mungkin  dalam proses pembelajaran.  Pemberian pertanyaan secara bergiliran  adalah satu soal dijawab secara bergiliran oleh beberapa peserta didik sedangkan penyebaran artinya beberpaa pertanyaan yang berbeda  disebarkan secara bergiliran dan dijawab oleh peserta didik yang berbeda.

Kelima, pemberian kesempatan berpikir . Kesempatan berpikir kepada peserta didik diberikan setelah pertanyaan dilontarkan  ke kelas. Hal ini bertujuan agar peserta didik berpikir dan menyiapkan jawaban secara runtut . Sehubungan dengan hal ini tidak dibenarkan  pemeberian pertanyaan dengan menunjuk peserta didik lebih dulu. Mengapa ?  Peserta didik yang tertunjuk dapat lebih dulu mengalami stres selain peserta didik yang lain tidak menyiapkan jawabannya.

Keenam,, pemberian tuntunan. Dalam menjawab pertanyaan  mungkin  peserta didik tidak dapat dengan tepat memberikan jawabannya. Untuk memahami konsep jawaban yang tepat guru perlu menuntunnya. Hal ini dapat dilakukan dengan 2  cara  yaitu : a)  mengulangi  pertanyaan dengan cara lain dan bahasa yang lebih sederhana . serta susunan kata yang lebih mudah dipahami peserta didik dan   b )  menawarkan pertanyaan yang lebih sederhana  dengan jawaban yang dapat menuntun peserta didik  menemukan jawaban pertanyaan semula.

Sedangkan keterampilan  bertanya lanjutan merupakan kelanjutan dari keterampilan  bertanya dasar.  Keterampilan bertanya lanjutan  ini meliputi beberapa macam seiring dengan tujuan pemberian pertanyaan.

Pertama , pengubahan tuntunan tingkat kognitif . Pertanyaan yang diajukan kepada peserta didik  perlu ditata sedemikian rupa sehingga tersusun secara urut dari tingkat rendah ke tingkat yang  lebih tinggi.  Guru hendaknya mampu mengubah pertanyaan dari tingkat yang hanya sekedar mengingat fakta menuju aspek  kognitif lain, seperti pemahaman, penerapan, analisis, analisis, sintesis dan evaluasi.

Guru hendaknya mempersiapkan pertanyaan – pertanyaan yang akan diajukan selama proses pembelajaran agar pelaksanaannya teratur . Pokok – pokok  pertanyaan yang dipersiapkan hendaknya memperhatikan materi standar dan pembentukan kompetensi dasar.

Kedua, pengaturan urutan  pertanyaan. Pengaturan urutan yang dimaksud  adalah pemberian pertanyaan yang  mempertimbangkan tingkat kesukaran. Pertanyaan  hendaknya mulai dari yang mudah  atau sederhana menuju paling kompleks. Jangan dibolak – balik.

Ketiga, pertanyaan pelacak. Pertanyaan ini diberikan jika jawaban yang diberikan peserta didik kurang tepat. Isi  pertanyaan ini sifatnya mengulang walaupun dengan kalimat yang diperbaiki atau disederhanakan. Pertanyaan pelacak meliputi:  a)  Klarifikasi. Peserta didik diberi pertanyaan  lacakan untuk  mengungkapkan kembali jawaban yang telah dikemukakan. Misalnya, apakah kamu dapat mengungkapkan  dengan kalimat yang singkat ? b) Meminta peserta didik memberikan alasan terhadap jawaban yang diberikannya. Misalnya, apakah kamu dapat mengajukan bukti yang mendukung jawaban tersebut ?,  c) Meminta kesepakatan jawaban.  Misalnya, siapa yang tidak setuju dengahn jawaban tadi ?, d) Meminta ketepatan jawaban.  e) Meminta jawaban yang lebih relevan. , f) Meminta contoh, dan g ) meminta jawaban yang lebih kompleks.

Keempat, pertanyaan pendorong terjadinya interaksi. Untuk mendorong terjadinya interaksi  setidaknya  perlu memperhatikan  dua hal  berikut,   a) pertanyaan hendaknya dijawab  oleh seorang peserta didik, tetapi seluruh peserta didik diberi kesempatan singkat untuk mendiskusikan jawabannya bersama teman dekatnya,   b) guru hendaknya menjadi  dinding pemantul terhadap pertanyaan siswa yang terlontar. Guru tidak langsung menjawab pertanyaan siswa akan tetapi pertanyaan tersebut dilempar ke peserta didik agar memberikan komentar yang wajar terhadapnya.

Apabila guru mampu menyampaikan teknik / keterampilan bertanya secara runtut dan  terpola seperti di atas maka dapat dijamin  proses pembelajaran berlangsung dan terasa hidup, segar , menarik  dan  menyenangkan.   Proses  pembelajaran  yang  demikian  inilah   disebut  pembelajaran produktif , aktif , kreatif , edukatif dan menyenangkan sebagaimana dikenal  PAKEM.

Memang terasa mudah diucapkan akan tetapi sulit untuk diciptakan. Hal ini disebabkan  menuntut kesiapan dua kutub  yang benar-benar prima. Dua kutub dimaksud adalah salah satunya guru dan peserta didik sebagai kutub yang lain. Kesiapan mental yang dilatarbelakangi kesiapan penguasaan materi ajar oleh kedua kutub tersebut merupakan bagian terpenting dalam menjaga kehidupan proses pembelajaran.  Metodologi mengenai keterampilan bertanya yang  bermacam – macam  tersebut menuntut  guru  untuk lebih menguasainya.

Guru hendaknya tidak menganggap remeh mengenai teknik bertanya dalam proses pembelajaran. Guru perlu menyadari bahwa  pertanyaan berkualitas dan berwibawa yang dilontarkan olehnya dapat menuntut proses pembelajaran itu berwibawa. Peserta didik merasa nyaman , aman dan tenteram sehingga ingin menjadi komunitas dalam proses yang sedang berlangsung tersebut.
———-
Download artikel ini dalam versi word document [klik disini]

Download juga :


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: