Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Januari 21, 2011

Guru, PGRI dan Segenap Fenomenanya

Guru, PGRI dan Segenap Fenomenanya

Oleh Drs Marijan
Praktisi Pendidikan di SMPN 5 Wates Kulon Progo Yogyakarta

Guru merupakan sosok manusia yang bisa digugu dan ditiru. Itu kirata basa yang sering terdengar di telinga kita. Pada dunia pewayangan guru adalah tokoh yang sangat ideal dan mumpuni dalam berbagai hal baik pengetahuan (ilmu), sikap perilaku yang bisa ditauladani serta hidupnya secara sederhana yang tidak materialistik. Sebutan untuk guru dalam pewayangan adalah ‘Sang Resi’, atau ‘Sang Begawan’dan adakalanya disebut’ Sang Pandita’

Sang Resi ini hidupnya tenang di tempat yang sepi, akrrab dengan kemiskinan bersama cantrik / siswanya. Siswanya bisa warga satu negara dan juga warga lain negara. Dalam tugasnya mengajar dapat dikatakan tidak men­jumpai berbagai kendala sepertinya layaknya guru di negeri kita ini. Tutur kata dan sikap perilakunya memang bisa ditauladani.

Di dunia nyata ini sosok guru nampaknya tidak jauh berbeda dengan guru dalam dunia wayang yang sege­nap cirinya adalah penuh pengabdian, mengembangkan cakrawala pemikiran generasi siswanya, secara ekonomi tidak dilandasi pamrih yang besar, hidupnya scderhana dan sebagai tumpuan masyarakat dalam memilih sosok panutan. Maka tepatlah  jika guru diberi gelar pahlawan walaupun tanpa harus memikul tanda jasa.

Di mana pun adanya guru adalah garda pelopor kemajuan  bangsa. Tokoh pejuang bangsa banyak berasal dari guru. Presiden Soekarno, Ki Had.jar De­wantara, Buya Hamka, Panglima Besar Jendral Soedirman, Dewi Sartika dan masih banyak lagi  pejuang bangsa dari seorang guru. Mereka bekerja dengan ikhlas walau pun kondisi ekonomi sangat terbatas.

Nampaknya kondisi ekonomi yang sangat terbatas itu sampai sekarang menjadi sumber permasalahan bagi guru. Memang sekarang sudah ada sedikit peningkatan, namun apabila dibandingkan dengan profesi lain masih tetap menduduki ranking terba­wah. Padahal tuntutan bagi guru masa kini semakin terasa berat. Di samping harus dapat mengadaptasi keadaan, penguasaan materi dan dedikasi harus ditingkatkan.

Dunia yang sarat informasi baru (ilmu, teknologi dan budaya) memaksa guru harus mcnipelajarinya. Guru masa kini sangatlah berbeda dengan guru masa lalu. Sekarang siswa lebili banyak menerima informasi baru dari tv, pergaulan, radio. internet, dan berbagai media masa. Hal demikian ini bukan sesuatu yang aneh karena mereka adalah anak orang berduit yang sanggup memenuhi berbagai kebu­tuhan sekunder maupun kebutuhan mewahnya.

Bagaimana keadaan gurunya? Jangankan internet, komputer dan media masa, untuk memenuhi kebu­tuhan pokok keluarga, cukup saja sudah lumayan. Monotonitas kondisi guru ini selamanya tidak akan menarik bagi generasi yang tergolong pandai, lebih-lebih yang mampu sceara eko­nomi. Akibatnya LPTK yang mempro­duksi guru dipenuhi dari orang yang tergolong ekonomi menengah dan bukanlah orang-orang pandai atau .genius. Sehingga wajar jika calon guru  diremehkan oleh orang-orang univer­sitas yang beranggapan leblh unggul dalam kemampuan akademiknya serta mempunyai masa depan yang lebih menjanjikan.

Setelah menjadi guru mereka pun dituntut mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat ini. Yakni dengan mengandalkan kerja yang profesional agar dihasilkan sumber daya manusia ( peserta didik ) berkualitas sebagainlana diamanatkan oleh ( GBHN ). Ini bcrarti guru dituntut meningkatkan kualitasnya sebagai tenaga profesional. Dengan derasnya arus pengetahuan menuntut guru harus selalu siap mensiasatinya. Kondisi demikian inilah memerlukan kesiapan sumber daya manusia khususnya guru.

PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA (PGRI)

PGRI adalah organisasi massa dari tenaga kependidikan yang anggotanya terbuka untuk para guru SD, SMP SLTA dan para dosen. Namun kenya­taannya PGRI beranggotakan guru-guru SD sebagai pemegang proporsi paling dominasi. Sedangkan guru SMP dan SMA kurang tergiur untuk menjadi anggota, terlebih para dosen.

Sebagai induk organisasi profesi guru, PGRI mempunyai tanggung jawab untuk melindungi, mengayomi, membina dan memotivasi anggotanya agar mcningkatkan muu wawasan dan kinerjanya. Di era globalisasi ini PGRI dituntut mampu memapankan hingsinya secara profesional. Kepro­fesionalan PGRI merupakan sarana mutlak dalam niengupayakan pening­katan mutu dan proflesi para anggo­tanya. Adalah hal yang lucu jika digembor-gemborkan agar kualitas guru (anggota PGRI) ditingkatkan, sementara ( pengurus ) PGRI sendiri tidak memberi) contoh meningkatkan keprollesionalannya.

Tak terbilang.jumlahnya, pakar yang menyatakan salah satu ciri profesi yang profesional adalah dimilikinya orga­nisasi profesi yang melindungi kepen­tingan angotanya dan meyakinkan para anggota agar menyelenggarakan layanan keahlian terbaiknya. Perta­nyaan yang muncul sekarang, sudah­kah PGRI sebagai organisasi profesi berfungsi seperti itu ?

FENOMENA

Sehubungan dengan strategisnya posisi PGRI sebagai pewarna corak masa depan bangsa maka sewajar­nyalah jika penataan (pengurus dan program), keluasan peranan dan kewenangannya ditinjau kembali sehingga PGRI diharapkan berlungsi banyak bagi kemajuan organisasi.

Memang tidak semudah memba­likkan telapak tangan untuk mencapai peranan PGRI yang ideal. Hal ini tidak bisa dicapai dengan membaca sim salabim ala kedabra namun harus diupayakan sedemikian rupa menyangkut kepedulian penierintah, cendekiawan, kesiapan anggota serta dedikasi yang tinggi pengurus PGRI.

Mcngapa usia PGRI yang sudah lebih dari setengah abad ini belum mampu menampakkan sebagai orga­nisasi profesi ? Jawabnya cukup konipleks. Artinya banyak hal yang saling mempengaruhi sekaligus menjadi kendala bagi tercapainya profesi­onalisme organisasi. Ketidakseim­bangan antara harapan dan kenyataan, hal yang terpaksa harus terjadi. Harapan anggota memang  muluk dan idealis namun kenyataan di lapangan hanyak hal yang tidak mendukungnya :

Pertama, Profesionalisasi pengurus PGRI.  Karena anggota PGRI dido­minasi guru-guru SD, kcpala-kepala SD sedikit guru-guru SMP dan SITA yang biasanya sudah lama menjadi pegawai maka tidak mengherankan jika pengurusnya memegang konsep “top down” / dari atas ke bawah. Akibatnya kebijakan yang ada tidak mencerminkan kehendak anggota secara luas. Hal ini sangat dirasakan oleh anggota.

Kedua, sumber dana. Siapa pun percaya bahwa dana merupakan sarana penunjang yang sangat berpe­ngaruh terhadap kelancaran pelak­sanaan program. PGRI bukanlah BUMN sehingga bcrbicara masalah dana sering menjadi kendala perkembangan PGRI. Dampaknya sering menyunati gaji ji guru (anggota PGRI) dengan sejuta alasan. Kebijakan yang sangat disayangkan mengingat tujuan PGRI ingin menyejahterakan anggota. bukan sebaliknya selalu menjadi pcnjagal gaji guru. Bukankah hal ini menjadi fenomena bagi para anggota PGRI ?

Ketiga, perlunya badan penelitian dan pengembangan (research and development ) Belum adanya badan ini menyebabkan sikap PGRI masih jauh dari harapan. PGRI tak berbuat banyak terhadap masalah-masalah yang seharusnya menjadi garapannya. Misalnya maraknya estasy para pelajar, pergaulan bebas antara siswa­-siswi, tawuran antar kelompok pelajar dan menipisnya moralitas pelajar. Siapa yang akan peduli terhadap masalah­- masalah tersebut  jika bukan guru dan organisasi PGRI?

Keempat, PGRI belum dapat mewujudkan sebagai organisasi pro­fesi. Ciri khas organisasi profesi adalah adanya pengembangan prolesi bagi anggota-anggotanya di bawah bim­bingan, binaan dan sentuhan pengurus organisasi tersebut. Selama ini kegiatan yang dilakukan sama sekali tidak menyentuh pengembangan profesi guru seperti penelitian, karya tulis, kajian suatu masalah dan lain-lain. Sama sekali PGRI belum menyinggung itu.

Dengan menengok fenomena di atas agaknya langkah pertama yang perlu diambil pemerintah adalah menempatkan anggaran pendidikan pada posisi optimal. Peningkatan anggaran ini dipergunakan untuk peningkatan kesejahteraan dan kualitas guru serta subsidi PGRI.

Langkah kedua mendudukkan guru dan kepala sekolah yang profesional ke dalam pengurus inti PGRI. Pengu­rus yang cakap akan mcngambil keputusan yang mencerminkan kei­nginan para anggota. Rasa gengsi pengurus PGRI hendaknya dibuang jauh-jauh sehingga adanya regenerasi kepengurusan diwujudkan tanpa memandang usia maupun lama kerja calon pengurus. Harapan anggota PGRI hendaknya lebih adaptif dan aspiratif.

Langkah ketiga, perlu adanya badan penelitian dan pengembangan sebagai ciri khas organisasi profesi. Sehingga hal-hal yang melingkari keburaman dunia pendidikan akan terangkat dalam pembahasan yang dapat dicari solusinya.

Dengan bertitik tolak itulah eksis­tensi PGRI akan tampak sebagai organisasi profesi yang menjadi dambaan para anggota. Jika PGRI tak dapat mengadaptasi terhadap aspirasi para anggota jangan harap tumbuh kepercayaan guru-guru terhadap keberadaan PGRI. Jika hal demikian itu terwujud maka berkembanglah isu masyarakat yang mengatakan bahwa ada / tidak adanya PGRI dianggap sama. Kenyataan ini menjadi tan­tangan PGRI dalam menghadapi masyarakat yang demokratif, berani mengkritik, melek hukum, dan berwa­wasan ke depan
—————-
Download artikel ini dalam versi word document [klik disini]


Responses

  1. PGRI seharusnya sekarang ganti nama menjadi P3RI (Persatuan Pegawai Pendidikan Republik Indonesia), karena setelah lahirnya UU Guru dan PP 74 tentang guru, definisi guru sudah jelas dia harus mengajar. Sementara dibanyak daerah pengurus PGRI didominasi oleh mereka yang bukan guru lagi, seperti pensiunan guru, kepala UPTD atau pejabat dinas pendidikan. Sangat sulit diharapkan mereka perduli pada guru, karena mereka bukan guru.

  2. Saat sekarang ini, tidak sedikit lagi Guru-Guru melakukan praktik politik disekolah. seperti: pilih kasih terhadap siswa, bahkjan menggelaapkan uang yang awalnya ditujukan untuk sekolah sehingga rencana tidak terbukti atau juga korupsi.
    saya berpikir tidak selayaknya pihak pengelola sekolah/instansi pendidikan melakukan praktik politik demikian di lingkungan pendidikan.

    tolong diberikan penjelasan.
    trimakasih.

  3. Sebenarnya PGRI pada dasarnya ibarat sebuah kapal nabi Nuh bagi guru-guru dan tenaga kependidikan. Ingat sejarah nabi Nuh…? Siapa yang mau dan mampu serta tahu dengan kapal tsb. maka naiklah dia, tetapi bagi yang sok tahu, atau kurang tahu atau tidak tahu, tinggallah ia, terbanam dan hanyutlah ia, seperti anak dan isteri Nuh sendiri. Begitu juga dengan organisasi PGRI, mereka seperti melihat sebuah fatamorgana. Untuk itu pelajarilah PGRI. Telitilah konsep-konsep organisasinya dan hasil-hasil perjuangannya. Silakan pahami, baru diperdebatkan. oke….sanak…!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: