Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Februari 10, 2011

Pendidikan Calon Koruptor

Pendidikan Calon Koruptor

Oleh: Muhammad Khodafi *)

ILUSTRASI: Tengoklah pada dinding kelas sekolah dasar kita, banyak sekali karya orang tua yang dipajang demi “menyelamatkan” buah hatinya dari nilai rapor yang jelek, tanpa mengetahui efek di kemudian hari,
——
Entah disadari atau tidak, budaya korupsi yang sekarang muncul sebagai isu nasional, bahkan mungkin Internasional, ternyata salah satunya diakibatkan oleh sistem dan budaya pendidikan masyarakat bangsa kita sendiri. Pendidikan yang seharusnya memberikan pencerahan kepada anak-anak bangsa, justru sebaliknya, membuat mereka semakin tenggelam dalam ketidakpercayaan diri menghadapi kehidupan.

Kondisi ini bukan tidak disadari oleh masyarakat. Hanya saja, mereka seolah tak mampu mengambil jarak dan melawan dengan arus pembodohan yang terjadi dalam sistem pendidikan kita.

Sebagai pendidik saya merasa sangat berdosa ketika tak mampu melawan arus utama itu, kecuali hanya sekedar mengeluh dalam tulisan dan diskusi-diskusi pendek yang tak berujung pada lahirnya solusi. Satu lagi, kecuali hanya sekedar menjaga bara idealisme sebagai pendidik.

Satu kali, seorang wali murid mengeluh, betapa sulitnya dia membantu menyelesaikan tugas sekolah anaknya yang baru kelas 3 (tiga) SD. Karena memang, tugas itu dinilainya tak mungkin mampu diselesaikan oleh anak seusianya.

Sang anak terus mendesak agar orang tuanya menyelesaikan tugas sekolah dengan sebaik-baiknya, karena dia takut mendapatkan nilai jelek dari gurunya. Sementara sang guru hanya menerima dan menilai tugas itu dengan standar yang ia tetapkan sendiri baik dan buruknya. Dan tentu, tanpa memperhitungkan tugas itu cocok untuk anak didiknya dan dikerjakan sang murid atau orang tuanya.

Maka, dari pengalaman itu, tengoklah pada dinding kelas sekolah dasar kita, banyak sekali karya orang tua yang dipajang demi “menyelamatkan” buah hatinya dari nilai rapor yang jelek, tanpa mengetahui efek di kemudian hari, yaitu anak akan menjadi sosok anak yang penakut, tidak kreatif, suka berbohong atau enggan mengakui karya orang lain atau orang tuanya sebagai buah kreativitasnya, serta mengambil keuntungan dari kerja keras orang lain.

Ya, inilah awal mula pendidikan para koruptor. Ironi ini masih berlanjut dengan sistem kelulusan berbasis UAN (Ujian Akhir Nasional) atau lebih dikenal Ujian NAsional (UN) yang tidak memberikan ruang apresiasi terhadap watak dan karakter anak didik. Keberhasilan sekolah dan guru hanya diukur dengan angka-angka yang dipaksa membawa makna “baik” dan “tidak baik”, “lulus” dan “tidak lulus, “berprestasi” dan “tidak berprestasi”.

Sekali lagi, semua itu dibebankan pada anak didik mereka, entah siap atau tidak. Maka, tak perlu heran, jika kemudian sang guru yang takut kepada kepala sekolah. Kepala sekolah juga takut pada kepala dinas pendidikan, dan kepala dinas takut pada bupati, serta bupati yang takut pada gubernur, dan seterusnya gubernur takut kepada menteri, dan menteri yang takut pada presiden.

Semua rantai ketakutan tersebut telah merekayasa semua hasil akhir para anak didik agar terlihat baik dan berhasil dengan penuh muslihat kecurangan dan kebohongan. Sang murid pun terlihat senang karena telah lulus. Mereka tak peduli dengan penilaian, bahwa kelulusan itu karena fasilitas kecurangan yang memang “dibenarkan” oleh sistem pendidikan yang aneh di negeri ini.

Ya, inilah fase kedua pendidikan para calon koruptor, yang ada dalam benak anak bangsa itu adalah “yang penting berhasil (berprestasi, lulus, menang, berkuasa, kaya dan lain-lain), tak peduli apapun caranya. Kita tak sadar, anak-anak bangsa ini sedang terancam bukan oleh bangsa lain, tetapi justru oleh bangsanya sendiri yang tidak menyadari, bahwa sistem pendidikan yang sedang berlangsung sekarang ini tak lagi memberikan ruang pengembangan karakter mulia pada anak-anak mereka.

Mereka, anak-anak didik kita, tidak pernah dijadikan subyek terdidik yang memiliki potensi bakat beragam yang luhur jika diberi ruang kreasi yang cukup. Para kader bangsa itu hanya perlakukan sebagai obyek yang dapat dipermainkan demi kepentingan sekolompok orang.
————-

TERKAIT:

Responses

  1. Orientasi kurikulum memang sudah berubah. Sekarang anak didik diwajibkan menyelesaikan tugas tugasnya dengan cepat dan benar. pihak pendidikan formal ( khusus SD ) lebih memperhatikan hasil daripada proses. Itulah penilaian sementara saya selaku orang tua. Itulah indikator yang memaksa orang tua orang tua untuk menyelamatkan anaknya agar terhindar dari ” bencana pendidikan ” ( baca : tidak naik kelas ).
    Untuk menyelamatkan pendidikan maka kurikulum harus dikembalikan ke khitahnya. Sekolah TK adalah sekolah untuk bermain dan belajar sosialisasi, tapi apa lacur…Sekolah TK sekarang harus menyiapkan anak bisa MEMBACA, sebelum masuk SD. Sekolah SD haruslah diutamakan untuk membaca dan menulis rapi dan belajar berhitung, tapi apa yang tersirat sekarang anak SD sudah dijejali berbagai kurikulum yang seharusnya itu semua untuk anak kelas 3 di jaman kita dulu. bukan salah anak, atau orang tua jika semua kejadian itu terjadi. Masa bermain anak hilang dan anak diberangus / dikarbit untu lebih hebat agar setara dengan anak Eropa. Kak Seto pernah bilang : Masa kanak kanak adalah masa bermain, maka aktifitas belajar dan bermain haruslah menyenangkan…

  2. Memang beban kurikulum sekarang ini cukup padat belum tuntas yang satu datang lagi yang lain….sekolah harus memenuhi 8 standar,…..tapi siapa yang bertanggung jawab terhadap 8 standar itu juga jadi tidak jelas…….lihat saja sekarang secara umum tenaga TU disekolah banyak yang kurang, …. tenaga laboran dan teknisi sangat minim, apa lagi terkait dengan pemenuhan sarana prasarana, dari tahun ketahun penambahannya sedikit sekali dibanding dengan standar yang ditetapkan…. sehingga mungkin hari ini masih ada sekolah sastra……sementara tuntutan mutu begitu tinggi…. apalagi pengaruh politik yang sudah merambah sampai ke sekolah …sakali ayie gadang sakali tapian baraliah…… rekrutmen sudah tidak diperhatikan lagi……. lihat saja sekarang banyak kepala sekolah yang terdampar ….. tapi PGRI pun terdiam ……….
    dan memang diakui juga dibeberapa sekolah mungkin telah mendekati atau memenuhi 8 standar…… Tapi gezah guru pun dihantui oleh HAM…. kita berharap petinggi petinggi negeri ini dapat menyadari dan benar-benar memperhatikan dunia pendidikan…… tentunya dimulai dengan keteladanan……

  3. Singkat saja dari saya, apa yang bung sampaikan diatas itu sudah lagu lama bung! sejak saya jadi guru mulai akhir tahun 1981 gaya dari sistem pendidikan kita nyaris tidak pernah berubah secara signifikan. tidak ada perubahan yang mendasar. seperti yg bung sampaikan, kita masih mengandalkan angka2, angka adalah primadona dalam sistem pendidikan kita. maka jangan bung heran, kalau kehidupan kita hari ini didominasi oleh angka2/duit. soal moralitas dan etika jangan bung tanya. sudah jungkir balik. soal ilmu? bisa kita lihat sendiri. Ilmu manusia hari ini nyaris sudah mendekati “SIDRATUL MUNTAHA” tapi sekali lagi moral terkubur kedasar lautan, sekarang yg diutamakan prestise bukan prestasi bung!
    Saya sendiri menyadari, semuanya ini, sedikit banyak ada konstribusi kita di dalamnya. kenapa kita tidak berbuat semampu kita dlm rangka berupaya merubahnya, mangapa kita tidak kritisi, mengapa kita takut? padahal negeri ini sudah mardeka? saya duga kita takut menyampaikan yg benar menurut ukuran dan keyakinan kita, karna aqidah kita belum mantap, kita takut akan dicap tidak loyal, takut tidak punya jabatan, takut dipecat! padahal rezeki ini, sebagaimana juga yg memecat kita, rezeki datangnya dari Allah.
    Jadi saya sendiri tidak heran, dengan gaya dan irama lagu yg kita bawakan dalam sistem pendidikan kita khususnya, dan lenggang lenggok kita dalam kehidupan berbangsa pada umunya. Sekarang maukah kita-walau kita seorang saja-untuk berani keluar dari”BOX” keluar dari seperti yg bung sampaikan menghindar dari tingkah pola pendidikan calon koruptor. kalau gaya pendidikan yg berlansung hari ini, seperti demikian gejalanya, mengapa kita harus bertahan didalamnya? mengapa kita ikut2an…yuk kita upayakan semampu kita untuk keluar darinya!
    Orang intektual itu berani tidak tenar, berani tidak kaya dan berani tidak punya jabatan.
    wassalam dari saya
    alfahri

  4. […] Lanjutannya dan komentar anda di: https://enewsletterdisdik.wordpress.com/2011/02/10/pendidikan-calon-koruptor/ […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: