Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Februari 14, 2011

Citra Gaoel Valentine

Citra Gaoel Valentine

Oleh:  Nilna R. Isna,
PSIKM Unand

Aksi remaja ini belum diiringi dengan pemikiran yang kritis. Sebagian besar terombang-ambing dalam lautan media yang saban hari menghinggapi mata pikiran dan mata hati mereka.

Toko pernak pernik, toko kado, toko bunga, toko coklat, hingga abang penjual balon sibuk berkarya demi menjelang hari yang dinanti-nanti. Aneka ragam hasil karya tangan, baik sekedar asesoris ataupun makanan, tahan sebentar ataupun tahan lama, bertebaran dalam ide-ide kreatif para produsen toko ini. Tentu saja, produk mereka akan laris manis di pasaran, lebih-lebih jika produk tersebut berbentuk hati dengan warna merah muda. Remajalah yang akan menjadi target sasaran para penjaja kreativitas ini. Karena remajalah yang paling heboh merayakan hari ini. Apalagi kalau bukan hari “merah muda” di bulan Februari : Valentine Day.

Hari yang dihelat setiap tanggal 14 Februari ini membuat dunia remaja mendadak “lem­but”. Ada-ada saja yang ter­pikirkan, sekurang-kurangnya memberikan coklat kepada teman. Coklat itu dibungkus dengan pita warna-warni. Cantik, menarik, dan kreatif. Yang diberi gembira dan yang memberi bahagia. Take and Give pun berlaku. Kisah-kisah kehidupan menjadi harmonis penuh kasih sayang.

Sayangnya penuangan rasa saling sayang menyayangi ini, efek positifnya hanya sampai tahap kreatif. Aksi remaja ini belum diiringi dengan pemikiran yang kritis. Sebagian besar terombang-ambing dalam lautan media yang saban hari me­nghinggapi mata pikiran dan mata hati mereka. Lautan itulah yang berisi televisi dengan segala tayangan yang boleh dibilang penjebakan, majalah remaja dengan segala artikel yang bisa dibilang penghasutan, dan radio dengan segala siaran yang disebut sebagai perlenaan.

Akibatnya, remaja yang dalam pertumbuhan fisik dan mental masih labil terpaksa mengikuti suara terbanyak. Akhirnya, pilihan untuk me­rayakan valentine yang mes­tinya disikapi secara bijak malah dilihat sebagai sebuah kewajiban. Para remaja berbondong-bon­dong merogoh kocek untuk membeli kado, mereka beramai-ramai mencari-pilih pasangan lawan jenis, semuanya dilakukan hanya untuk sebuah “citra gaoel”.

Pun remaja tak sepenuhnya salah dalam bertindak dan bersikap. Adalah lumrah bagi mereka yang ikut-ikutan trend demi sebuah pencitraan dalam pencarian jati diri mereka. Maka orang-orang sekitar lah yang semestinya selektif me­ngawasi remaja-remaja ini, bisa jadi itu orangtua atau guru ataupun orang-orang terdekat lainnya.

Pihak yang paling ber­tang­gungjawab adalah media. Bukan remaja saja yang dituntut kritis dalam mengambil sikap, namun media lah yang harus bijak memberikan informasi. Ke­banyakan media, terutama channel televisi masa kini, hanya memikirkan tingginya konsumsi publik. Jika dianalogikan, makanan yang disuguhkan me­mang enak tetapi tidak bergizi. Media berlomba-lomba me­nyuguhkan tulisan, tayangan, atau siaran yang disukai tetapi bukan yang dibutuhkan oleh remaja itu sendiri.

Tidak merayakan Valentine bukan berarti tidak mengenal Valentine. Remaja perlu tahu segala macam “seni” yang ada. Media perlu memberitakan “budaya” yang ada. Tetapi selayaknya baik media maupun remaja lebih bijak sehingga dapat dipelajari pengalaman bermakna di dalamnya.

(Sumber : Harian Haluan)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: