Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Februari 21, 2011

Bapak, Ibu, Selamatkan Anak-anakmu!

Bapak, Ibu, Selamatkan Anak-anakmu!

Oleh : Yudhistira ANM Massardi
Sastrawan/wartawan/pengelola sekolah gratis TK-SD Batutis Al-Ilmi di Bekasi dan penerbit Media TK Sentra

Anak-anak Bermain di Tiang Listrik (Yahoo! News/REUTERS/Beawiharta)Banyak orang yang tidak suka membaca angka-angka, apalagi statistik –yang dianggap tak berjiwa dan tanpa makna. Selain itu, kebenarannya pun seringkali dipertanyakan. Namun akhirnya kita harus percaya. Misalnya, berdasarkan hasil sensus penduduk 2010, populasi bangsa Indonesia kini berjumlah 237,6 juta jiwa. Jika setiap tahun lahir 4,5 juta bayi, maka dalam 10 tahun terakhir, kini di antara kita terdapat 45 juta anak usia 0-10 tahun, yang hidup di tengah-tengah keluarga miskin maupun keluarga mampu.

Pertanyaannya: apakah mereka menjadi anak-anak yang bahagia? Apakah tubuh mereka cukup gizi? Apakah mereka bisa bersekolah? Mau jadi apakah mereka kelak?

Menurut data Balitbang Diknas 2003/2004, jumlah penduduk anak usia dini di masa itu tercatat 28.235.400 anak. Dari jumlah itu, yang bisa terserap di tingkat pendidikan PAUD hanya 7.915/912 anak (28,04%). Sisanya, lebih dari 20 juta anak, entah belarian di mana.

Kakak-kakak mereka yang usia SD lebih beruntung. Dari populasi 25.473.400 anak, sebanyak 94,57% terserap masuk SD dan madrasah (MI). Tapi kelompok ini tidak seluruhnya “selamat”. Sebab, setiap tahun sejak 2002, sekitar 850.000 anak terpental (drop out) dari bangku SD/MI. Artinya, dalam 10 tahun, terakumulasi 8,5 juta anak terlempar dari bangku SD/MI.

Namun mereka yang beruntung bisa menamatkan sekolah dasar, sebanyak sekitar 500.000 anak per tahun, tidak mampu melanjutkan ke jenjang berikutnya (SMP). Artinya, dalam 10 tahun, ada 5 juta anak lulusan SD/MI yang mendekam di rumah masing-masing sambil memandangi ijazah mereka yang tak berguna.

Jika kedua kelompok itu (yang DO dari SD/MI dan yang hanya bisa lulus SD/MI) digabung, maka dalam 10 tahun terakhir ini, kita memiliki 13,5 juta “anak gelandangan” baru yang bergentayangan dalam kegelapan masa depan. Mereka bergabung dengan kakak-kakak mereka yang putus sekolah di tingkat SMP/MTs yang (dalam 10 tahun terakhir) berjumlah 2,7 juta anak. Total semua menjadi 16,2 juta anak (usia 7-17 tahun).

Artinya, hari ini kita memiliki calon tenaga kerja tidak berkualitas sebanyak tiga kali populasi Singapura atau melebihi jumlah penduduk Provinsi DKI! Apalagi, jika lebih dari 20 juta anak-anak usia dini yang tak tertampung di PAUD tadi akhirnya gagal masuk sekolah akibat kemiskinan orangtuanya. Maka, jumlah generasi pewaris dan penerus bangsa yang tidak bermutu itu menjadi 36 juta jiwa (hampir menyamai populasi Malaysia + Singapura + DKI)!

Mereka dipimpin oleh kakak sulung mereka, sekitar 1 juta orang lulusan program diploma dan sarjana yang jadi penganggur. Mereka menjadi gerombolan “generasi alay (generasi internet yang norak dan onar)” yang mengendap-endap mencari “mangsa” di kota-kota besar. Itulah yang diwariskan oleh dua kali masa pemerintahan sekarang ini.

Data lain dari Badan Pusat Statistik menunjukkan: dari total angkatan kerja yang bekerja (104,87 juta orang), mayoritasnya adalah lulusan SD = 55,21 juta orang (52,65%), berdiploma = 2,79 juta orang (2,66%), dan sarjana = 4,66 juta orang (4,44%).

Dengan kalimat lain, sesungguhnya seluruh sistem politik-pendidikan-pemerintahan kita secara merata hanya mampu menghasilkan generasi baru sumber daya manusia Indonesia “kualitas SD”. Dengan pencapaian tersebut, apa yang hendak kita katakan kepada dunia?

Dunia sudah berkata kepada kita, antara lain melalui hasil tes PISA (Program for International Student Assessment) 2009 yang diumumkan belum lama ini. Dalam tes yang diselenggarakan oleh OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) yang berbasis di Paris itu –di antara para pelajar usia 15 tahun dari 65 negara, yang diuji kemampuannya di tiga bidang: sains, membaca, dan matematika– Indonesia tetap jadi “juara bertahan” di papan bawah: peringkat ke-60 untuk sains, ke-57 untuk membaca, dan ke-61 untuk matematika.

Sebelum itu, pada tes PISA 2003, tatkala jumlah pesertanya 41 negara, untuk ketiga bidang tadi, Indonesia berada di urutan ke-38/39/35. Artinya, kualitas para pelajar kita kini berada di posisi terendah bersama Argentina, Tunisia, Albania, Panama, Peru, Qatar, Kazakstan, Azerbaijan, dan Kyrgysztan.
Artinya, sejak 2003 hingga 2009, kita seperti berjalan mundur dan terus menjadi yang terbelakang.

Tiga hasil studi internasional (PIRLS 2006, PISA 2006, dan TIMSS 2007) pun menyimpulkan: (1) kemampuan siswa Indonesia untuk semua bidang: di bawah rata-rata skor internasional yang 500 dan (2) siswa Indonesia hanya mampu menjawab soal-soal dalam kategori rendah, dan hampir tidak ada yang dapat menjawab soal-soal yang menuntut pemikiran tingkat tinggi.

Di pihak lain, hasil tes PISA 2009 membuktikan secara signifikan, negara-negara Konfusian berhuruf kanji berada di peringkat tertinggi (10 besar): Cina (peringkat pertama untuk sains, membaca, dan matematika), Hong Kong (peringkat ketiga untuk sains, ketiga untuk matematika, dan keempat untuk membaca), Taiwan (peringkat kelima untuk matematika), Singapura (peringkat kedua untuk matematika, keempat untuk sains, dan kelima untuk membaca). Korea (peringkat kedua untuk membaca, keempat untuk matematika, dan keenam untuk sains), Jepang (peringkat kelima untuk sains, kedelapan untuk membaca, dan kesembilan untuk matematika).

Apa yang terjadi dengan bangsa ini?

Secara moral, kita sudah lama menjadi bangsa yang bobrok dengan korupsi yang semakin merajalela. Secara intelektual, di kancah internasional, kita pun tampil sebagai bangsa yang kian tak bermutu.

Riuh-rendah tentang sukses beberapa pelajar Indonesia di olimpiade ini dan itu sungguh-sungguh telah melenakan dan menyesatkan! Itu membuat para pihak yang seharusnya bertanggung jawab terhadap kualitas pendidikan bangsa jadi tidak bisa melihat realitas.

Kita memang tidak bisa ke mana-mana (selain berjalan mundur) jika negara dengan populasi 237,6 juta jiwa ini hanya punya 2,7 juta guru, dan hanya 900.000 di antaranya yang berpendidikan D-4/S-1.

Kita tidak akan bisa membangun generasi baru bangsa yang lebih baik apabila sebagian besar guru di tingkat dasarnya tidak laik mengajar. Data Depdiknas 2007/2008 menunjukkan: di tingkat TK = 88% gurunya tidak layak mengajar. Di SD = 77,85%. Di SMP = 28,33%. Di SMA = 15,25%. Di SMK = 23,04%. (Sebagian besar tidak memenuhi kualifikasi pendidikan minimum: D-IV atau strata 1. Sementara itu, guru TK dan SMP umumnya berpendidikan SMA/diploma).

Generasi penerus bangsa tidak akan menjadi apa-apa jika di tingkat SMA para pelajar tidak diwajibkan membaca buku. Sebuah survei menyebutkan, di antara 11 negara, pelajar SMA di Amerika Serikat diwajibkan membaca 32 judul buku, Belanda 30 judul, Prancis 30 judul, Jepang 22 judul, Swiss 15 judul, Kanada 13 judul, Rusia 12 judul, Brunei tujuh judul, Singapura enam judul, Thailand lima judul, dan Indonesia: 0 judul!

Hasilnya? Sumber daya manusia Indonesia tidak mungkin menjadi tenaga kerja yang unggul!

Jika ingin mengubah nasib bangsa, kita harus segera menghentikan “tragedi nasional” ini dengan, antara lain, melakukan Revolusi Sistem Pendidikan sekarang juga! Arah pembangunan pendidikan harus dibalik. Fokus pendidikan harus dimulai pada jenjang paling awal: pendidikan anak usia dini! Hanya dengan lebih peduli dan lebih cinta kepada anak, pembangunan intelektual, karakter dan budi pekerti, bisa dicapai. Usia 0-7 tahun adalah “usia emas”. Itulah masa terbaik untuk menanamkan segala hal yang baik. Maka, Bapak, Ibu, selamatkanlah anak-anakmu sekarang juga!

Sumber : Kolom, Gatra Nomor 14 Beredar Kamis, 10 Februari 2011

Dowload artikel ini dalam format word document [klik disini]


Responses

  1. Waduh! China aja udah mulai menang dalam ekonomi, eh tiba-tiba sekarang memberikan kejutan lain dengan hasil PISA-nya yang begitu gemilang. Benar-benar mengejutkan, seperti yang dikatakan banyak orang bahwa China adalah ” raksasa bangun”

  2. saatnya action…dimulai dari tempat dimana kita tinggal…jangan tunggu lama-lama lagi….buktikn kita anak muda pasti bisa…bisa berbuat sesuatu untuk negeri…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: