Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Maret 1, 2011

Membentuk Guru Yang Berkualitas Dalam Kemandirian

Membentuk Guru Yang Berkualitas Dalam Kemandirian

Oleh Drs. Marijan
Praktisi Pendidikan di SMPN 5 Wates Kulonprogo Yogyakarta

GURU yang profesional memiliki beberapa dimensi yakni; kemampuan / kreativitas, rasa tanggung jawab, komitmen, keterbukaan dan orientasi reward yang tinggi. Untuk membentuk dimensi-dimensi sebagaimana tersebut di atas, kemandirian gurulah sebagai hal yang harus dimunculkan lebih dahulu . Mengapa ?

Menurut Sudarsono, manusia itu pribadi , ia mandiri, memiliki akal budi, tahu apa yang akan dilakukan  dan mengapa ia melakukan. Kemudian dijabarkan sebagai kemampuan untuk menegakkan kehendaknya, menentukan sendiri setiap perbuatannya, mampu  mengembangkan  diri  dan tampil  sebagai  totalitas  pribadi  yang  mantap  dan harmonis, juga memiliki pribadi yang utuh.

Kiranya guru perlu mandiri terutama  pada saat berdiri menghadapi siswa  yang beragam baik sifat maupun kemampuannya. Guru pun harus mampu menentukan sesuatu yang menjadi ranah tanggung jawabnya. Penebaran nilai positif yang  dilakukan  secara mandiri  oleh guru kepada anak didiknya akan menjadi modal kemandirian siswa dalam menghadapi dunia nyata  di kelak kemudian hari.

Guru yang mandiri mampu mengembangkan  kreativitas dalam mempersiapkan desain pembelajarannya sebagaimana diungkapkan Shapero bahwa kemandirian sebagai akibat dari  standart kreativitas yang tinggi. Guru yang mandiri pada dasarnya mampu tampil dalam segala cuaca , mampu mengambil sikap dalam situasi sekritis apa pun maka menurut Elliot dan Jacobson dalam Mukhtar penampilan  pribadi yang merupakan factor bahwa seseorang memiliki sikap yang benar – benar mandiri tidak sekedar berbasis pada peraturan yang telah berlaku.

Guru adalah orang yang sangat berperan  dalam keseluruhan proses belajar-mengajar di sekolah. Guru sangat diharapkan oleh siswanya. Berbagai tantangan pasti dihadapi oleh guru, sebab di satu sisi guru harus tegas namun di sisi lain guru harus sabar, ramah, baik hati dan penuh pengertian. Guru mampu memberikan  tugas agar siswa terdorong untuk mencapai tujuan. Guru harus mampu menegur , mengoreksi, dan memberi penilaian yang objektif. Melihat tanggung jawab yang demikian beratnya, justru guru memang harus  tampil profesional. Oleh Ballantine dijabarkan bahwa guru harus memiliki profesionalitas yang tinggi. Artinya, guru harus memiliki  kemampuan intelektual, komitmen kuat, tanggung jawab dan mampu memberikan servis yang baik kepada pelanggan.

Dikaitkan dengan kepemilikan yang harus ada pada seorang guru berarti: Pertama, guru harus memiliki kepribadian  yang bernilai sebagai  pedoman hidup dan nilai kehidupan yang meliputi sifat pribadinya yang harus baik. Artinya dapat dipercaya  dan dijadikan panutan oleh siswanya. Segala gerak langkah  seorang guru  akan dinilai oleh lingkungan terutama siswa-siswinya. Tentang kedisiplinan , tanggung jawab, sikap,  kecerdasan dan tutur katanya sangat diperhatikan  oleh anak didiknya.

Walau demikian seorang guru juga memikirkan  bagaimana penampilan  di depan siswa agar tidak terjadi kebosanan  dan sikap kemasabodohan pada siswa berkembang. Guru harus dapat tampil luwes, dapat menyelami pikiran dan perasaan siswa , suka humor yang ringan-ringan, peka, adil terhadap semua siswa dan tanggap terhadap situasi.

Kedua, guru harus memiliki  tanggung jawab untuk bertindak. Pembuatan seperangkat administrasi pembelajaran merupakan tanggung jawab guru yang mesti dilakukan. Sekali pun guru memiliki  tanggung  jawab untuk bertindak yang berarti terkandung suatu kebebasan  akan tetapi nilai-nilai kehidupan tetap melekat erat pada diri seorang guru. Sehingga tuntutan tugas  dari pengabdian seorang guru sering  berlawanan. Misalnya, dalam bekerja hendaknya santai namun harus selesai dan tuntas,  antara konflik pribadi namun tetap harus  rukun baik dengan siswa, rekan seprofesi maupun  terhadap atasan, dan bebas dalam menentukan langkah namun penuh tanggung jawab.

Ketiga, guru harus memiliki semangat yang tinggi dalam bekerja. Dalam melaksanakan panggilan jiwanya sebagai pendidik, guru memang harus rela berkorban demi kemajuan dan peradaban siswanya. Apabila guru bekerja hanya semata-mata mengharapkan  adanya penghasilan ( reward ) maka segala gerak  dan langkahnya akan diperhitungkan  berdasarkan pendapatan yang akan diterimanya.

Akibat dari guru yang demikian ini siswa akan terbengkelai, tidak melakukan proses  pembelajaran yang memadai. Sebaliknya, guru yang diharapkan  adalah  guru yang dalam melakukan tugasnya  didasarkan  atas motivasi yang tinggi, ikhlas mengabdi, semangat yang tinggi dan mandiri. Guru yang demikian inilah sesungguhnya guru ideal.

Keempat, guru harus memilki jiwa  pendidik dan membekali  diri sebagai guru yang terdidik. Artinya memahami bahwa  melaksanakan tugas  sebagai guru mengandung  tantangan yang tidak sederhana. Di satu sisi  harus  menerima  siswa  apa  adanya di sisi lain harus mampu menyelami alam pikiran siswa.

Guru hendaknya sanggup bersikap empatik, pencetus ide, menuntun dan memberikan semangat kepada siswa untuk berkembang lebih jauh  melakukan sesuatu yang baru dan memberikan semangat kepada setiap siswa tanpa terpaku pada  tarap kemampuan intelektual atau tingkat motivasi belajarnya. Guru  yang  mandiri akan tampil menyenangkan siswa karena  ia kreatif dalam mencetuskan ide-ide baru.

Di samping itu jiwa pendidik lainnya adalah sebagai evaluator, mampu memberikan hukuman yang mendidik dan memberikan pujian yang menyemangatkan siswa. Hukuman diberikan supaya siswa menghilangkan apa yang salah sedangkan pujian diberikan supaya siswa  mengulang kembali apa yang tepat. Jiwa disiplin  dalam kelas juga harus dijaga. Maka guru yang baik  pasti melakukan hal ini dengan tujuan menciptakan suasana aman yang memungkinkan siswa untuk belajar.

Kelima, guru harus memiliki ilmu kependidikan. Dikaitkan dengan keberhasilan siswa dalam belajar, keberhasilan proses pembelajaran  dipengaruhi oleh kepiawaian seorang tenaga pengajar. Efektivitas guru dan cara guru menopang usaha belajar siswa inilah yang diharapkan tampak pada siswa.

Menurut Winkel, ada korelasi positif antara tenaga pengajar dengan keberhasilan siswa dalam belajar antar lain : 1) kejelasan dalam mendampingi dan mengatur tugas belajar, 2) variasi dalam penggunaan prosedur didaktif,  3)  menunjukkan antusiasme dalam cara berbicara dan bergerak , 4) perilaku yang membuat siswa berkonsentrasi  pada tugas belajar yang dihadapi, dan 5) menyelesaikan semua materi kajian yang nantinya akan menjadi bahan ujian  dalam tes.

Ketrampilan didaktis yang dimiliki guru tercermin pada  kreativitas pengajarannya . Kreativitas pengajaran sendiri tergantung dari cara guru menyajikan materi, cara guru memberikan pujian,  cara  guru mengaktifkan siswa  agar merasa terlibat  dalam  proses  belajar dan cara  guru memberikan  informasi kepada siswa.

Hal-hal yang berkaitan dengan ketrampilan didaktis  di atas kecuali harus dimengerti dan dipahami oleh seorang guru yang terpenting harus diterapkan di dalam proses pembelajaran di sekolah. Apa artinya dimengerti dan dipahami apabila tidak dilaksanakannya ?  Nah, untuk guru yang  ideal, guru yang mandiri dan profesional  tentu memegang teguh bahwa proses pembelajaran di kelas  menjadi inti pokok tugas seorang guru dari  sekian deret tugas yang harus dilakukannya.

—————
Download artikel ini dalam format word document [klik disini]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: