Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Maret 30, 2011

MENCERMATI TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL DALAM IMPLEMENTASINYA

MENCERMATI TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL DALAM IMPLEMENTASINYA

Oleh : Dedi Suherman
Guru SDN 1 Jati Kec. Batujajar Kab. Bandung Barat

Tujuan Pendidikan Nasional yang tercantum dalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab II Pasal 3 adalah : untuk mengembangkan potensi dasar  peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa, kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Isi Tujuan Pendidikan Nasional di atas sesuai dan selaras dengan tuntunan isi kandungan Al Qur’an Surat Al Mujadilah ayat 11 : “ niscaya Allah akan mengangkat (meninggikan) orang-orang yang beriman diantara kamu dan yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Redaksi isi tujuan pendidikan Nasional merupakan penjabaran dari isi kandungan Al Qur’an. Kriteria pertama dan utama yang harus dimiliki oleh peserta didik dari hasil proses pendidikan adalah menjadi manusia yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia. (kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual). Setelah nilai-nilai keimanan dan ketakwaan tertanam pada jiwa peserta didik, selanjutnya anak didik dibekali ilmu pengetahuan, kecakapan, keahlian dan keterampilan ( penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi atau kecerdasan intelektual).

Bila keimanan, ketaqwaan dan akhlak mulia menjadi pondasi dasar, kontruksi pertama dan bingkai utama dalam jiwa anak didik, maka berbagai ilmu pengatahuan dan teknologi yang dikuasainya akan mampu mengangkat derajat, meninggikan harkat martabat dan kehormatan anak didik.Kemudian apabila setiap anak didik memiliki kriteria tersebut di atas, akan terbentuk suatu komunitas warga negara yang berkualitas tinggi sehingga mampu menciptakan kondisi masyarakat yang berperadaban tinggi. Akhirnya, akan disegani dan dihormati oleh seluruh masyarakat dunia.

Semua pihak perlu mengakui dengan jujur bahwa isi tujuan pendidikan Nasional belum dipahami secara tepat dan akurat oleh para pendidik khususnya  dan oleh masyarakat bangsa Indonesia umumnya, sehingga karena salah pemahaman mengakibatkan salah penerapan dan implementasinya dalam proses belajar mengajar.

Keterpurukan kondisi bangsa Indonesia yang dirasakan dewasa ini, penyebab utamanya karena nilai-nilai keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia, umumnya belum tertanam dalam jiwa bangsa Indonesia. Keterbelakangan bangsa kita saat ini bukan karena kalah bersaing dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam hal penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi kita boleh berbangga hati karena diantara anak bangsa ini, banyak yang mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Hal ini, terbukti para peserta didik yang diikutsertakan dalam olimpiade IPTEK dan MIPA banyak yang mampu meraih prestasi yang membanggakan, sanggup memboyong piala kejuaraan dan berbagai penghargaan internasional.Krisis ekonomi dan kehancuran pranata sosial serta lingkungan yang dialami bangsa Indonesia saat ini, penyebab utamanya adalah krisis akhlak mulia akibat lemahnya keimanan dan ketaqwaan masyarakat bangsa ini.

Untuk membuktikan bahwa iman dan takwa belum begitu nyata dalam realita,  mari kita pahami dahulu apa arti iman dan taqwa. Iman berasal dari kata aamana yang berarti percaya atau membenarkan. Orang yang beriman akan memiliki sifat amanah artinya jujur atau terpecaya. Jadi orang yang beriman mustahil berani mencuri, berlaku tidak jujur, bersikap curang. Rosulullah saw. bersabda “ Seorang pencuri tidak mungkin melakukan pencurian, apabila ketika mencuri dia beriman, Pezina tidak akan melakukan perzinahan, apabila ketika zina dia beriman”.

Berdasarkan hadits tersebut menjelaskan dengan tegas bahwa perbuatan jahat seperti : korupsi, mencuri, menipu, mark up proyek, dan lain-lain hanya akan dilakukan oleh orang-orang yang tidak beriman. Kemudian apa arti takwa ? Taqwa adalah taat melaksanakan perintah Allah dan mampu menjauhi segala yang dilarang-Nya. Contoh : Allah swt memerintahkan manusia agar suka memberi melalui infak, sadaqah dan zakat, sebaliknya Allah melarang mencuri, menipu dan berbuat curang. Maka orang yang bertakwa akan memilki sifat suka memberi dan anti mencuri, suka menyumbang dan anti berbuat curang. Giat berbuat kebaikan, dan enggan melakukan kejahatan.

Maraknya berbagai tindak korupsi oleh pejabat birokrasi, politisi dan pegawai negeri, dari pemerintahan tingkat pusat, tingkat daerah bahkan sampai tingkat desa. Menjamurnya perilaku tidak jujur, meningkatnya tindak kriminal dalam kehidupan sosial masyarakat. Itu semua terjadi akibat lemah bahkan hilangnya nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan dalam hati manusia.

Proses pendidikan yang dilaksanakan diberbagai jenis dan jenjang pendidikan dewasa ini, kurang melahirkan orang-orang yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia,  sedikit mencetak manusia yang benar tapi lebih banyak melahirkan manusia pintar, belum mampu membentuk manusia bermoral, lebih banyak melahirkan manusia kriminal.

Proses pendidikan yang efektif dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan adalah:

1. Semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan terutama para pendidik yang berhubungan langsung dengan peserta didik, harus memiliki keimanan yang kuat, dan ketakwaan yang hebat. Bukan iman dan takwa hanya sekedar dalam pengakuan tapi harus benar-benar nyata dalam perbuatan. Tidak mungkin peserta didik memiliki iman dan taqwa yang sempurna, bila para pendidiknya tidak mencerminkan sikap dan perilaku orang beriman dan bertaqwa. Perlu diakui dengan jujur bahwa saat ini masih banyak pendidik yang mengajar ilmu pengetahuan umum kurang memahami dan mengaktualisasikan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan dalam perilaku sehari-hari. Bahkan pendidikan agama di sekolahpun karena sedikitnya alokasi jam pelajaran yang tersedia ternyata lebih bersifat transfer of knowledge (menyampaikan pengetahuan teoritis) kurang disertai transfer of skill dan transfer of value (melatih ketermpilan proses dan menanamkan nilai-nilai sikap).

2. Semua disiplin ilmu yang disampaikan kepada peserta didik harus diwarnai oleh nilai-nilai keimanan dan ketakwaan. Mulai saat ini tinggalkanlah dikotomi, pemisahan dan pemilahan ilmu agama dengan ilmu pengetahuan. Kita tinggalkan faham sekuler dalam proses pendidikan yang memisahkan antara ilmu agama yang berisi nilai-nilai keimanan dan ketakwaan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu agama dan ilmu pengetahuan harus diberikan kepada peserta didik secara terpadu, sinergis, dan integral, conectional, utuh serta menyeluruh.

3.  Lingkungan keluarga dan masyarakat idealnya ikut berperan serta dalam penanaman nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepada peserta didik. Dewasa ini kita mesti prihatin menyaksikan penomena kehidupan sosial yang kurang mencerminkan perilaku yang diwarnai nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan. Tayangan acara TV di setiap channel mayoritas tidak mendidik, banyak acara TV yang bertentangan dengan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan menjadi tontonan utama. Hal ini sangat berdampak negatif terhadap pembentukan manusia yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia.

Bila kondisi bangsa Indonesia ingin segera bangkit dari berbagai keterpurukan disegala sektor kehidupan. Cara yang paling efektif dan efesien adalah semua pihak mempunyai komitmen untuk merealisasikan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan secara konsekuen dan konsisten. Perlu kita yakini bersama, bahwa kehancuran kehidupan suatu bangsa bukan karena kurangnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi akibat lemahnya keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia penduduknya.

————-
Download artikel ini dalam format word document [klik disini]


Responses

  1. ……Semua pihak perlu mengakui dengan jujur bahwa isi tujuan pendidikan Nasional belum dipahami secara tepat dan akurat oleh para pendidik khususnya dan oleh masyarakat bangsa Indonesia umumnya, sehingga karena salah pemahaman mengakibatkan salah penerapan dan implementasinya dalam proses belajar mengajar…….
    Sekadar bertanya!
    Apa betul pernyataan diatas?
    Apakah penulis seorang pendidik atau bukan?
    Apakah ini hasil penelitian? (Berapa kali, dimana, berapa lama, kapan dan siapa yang mengadakan penelitian tsb).
    Sekadar Mengingatkan!
    1. Pendidik hanyalah bagian kecil dari seluruh komponen pendidikan
    2. Sebuah pendapat pribadi yang tidak memiliki landasan teori (hasil kajian dan atau penelitian) tidak dapat dijadikan sebuah kesimpulan
    3. Bijaksana itu lebih baik!?

  2. Mohon maaf,
    Pertanyaan saya yaitu : Apakah penulis seorang pendidik atau bukan?
    tidak dimaksudkan untuk menghina atau maksud apapun itu adalah kelalaian semata (saya tidak melihat dan membaca nama dan pekerjaan penulis)
    Sekali lagi mohon maaf
    Wassalam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: