Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | April 12, 2011

Tipu Daya Dunia

Tipu Daya Dunia

Oleh : Drs. H. Athor Subroto, M. Si
Dosen  Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kediri

Umum-nya manusia – cinta dunia (baca, seisinya). Itu sudah qadrati. Artinya, ketentuan Allah terhadap sifat manusia (QS, Ali Imran [3]: 14). Disengaja atau tidak, manusia mempunyai sifat seperti itu. Sehingga – menjadikan kehidupan dunia ini lebih bergairah dan semarak. Sebaliknya, alam yang fana ini akan bertambah redup, bahkan gelap gulita – bila manusia tak ada gairah terhadap dunia.

Ada tiga tipe pandangan manusia terhadap dunia. Terlalu cinta, sedang dan biasa-biasa saja. Tipe pertama, dunia adalah tujuan hidupnya. Akhirat, terlupakan. Kedua, memperlakukan dunia sebagai sarana hidup untuk bekal ibadah. Tipe ini, menjadikan dunia dan akhirat seimbang. Ketiga, dunia terlupakan, akhiratnya lebih mengedepan. Nafas kehidupannya dihabiskan untuk pendekatan kepada Allah semata. Zuhud, menyendiri dari nuansa hiruk pikuk dunia – jadi pilihannya.

Ketiga tipe itu memiliki dampak yang berbeda-beda. Menjadikan pelakunya memiliki watak dan karakter yang berbeda pula. Ada yang keras. Ada yang sedang-sedang saja. Ada pula yang kelihatan lemah, tak berselera – apa adanya.

Apapun tipe manusia dalam masalah dunia, hidupnya saat ini masih di alam dunia. Ini fase kehidupan ketiga – setelah alam arham (kandungan) dan alam arwah (ruh, nyawa). Masih ada dua fase lagi, barzah dan akhirat. Kedua alam ke depan itu, penuh tanda tanya besar. Bahagia atau sengsara di sana (nanti) – bergantung amalnya. Sangat mengerikan dan sekaligus menakutkan – bagi yang hidupnya di dunia suka melanggar ketentuan agama. Sebaliknya, sangat menggembirakan bagi yang menaati ketentuan agama. Mari kita perhatikan firman Allah swt sbb:

“Barangsiapa yang kafir (inkar, melanggar) maka dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu; dan barangsiapa yang beramal saleh maka untuk diri mereka sendirilah – mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan),” (QS. Ar-Ruum [30]: 44)

Sudah amat jelas peringatan ayat ini. Bahagia atau sengsara di alam sana, tergantung bagaimana persiapan kita menuju kealam itu. Siapa melanggar, kena ancaman. Siapa beramal shalih, mendapat janji – hidup menyenangkan. Tinggal pilih saja – mana yang disuka dari dua jalan itu, kanan apa kiri. Kanan, finisnya surga. Kiri, finisnya neraka.

Di sini, manusia sering tergoda oleh tipu daya dunia. Memang tidak semuamya. Namun, tidak sedikit yang lebih condong kekiri jalan hidupnya. Akibatnya, akan dirasakan oleh dirinya sendiri.

Kita tahu, dunia adalah panggung sandiwara. Dunia adalah penuh tipu daya. Dunia adalah sesuatu yang menggiurkan. Artinya, banyak manusia yang tergiur dan tertipu oleh indahnya dunia. Bila dikejar, malah lari dunia itu. Bisa tambah kencang juga. Biarlah, kita sikapi secara wajar saja. Kehidupan dunia itu adalah kesenangan yang memperdayakan dan tidak abadi.

Mari kita perhatikan firman Allah di dalam al-Qur’an Surat Ali Imran [3] ayat 185, artinya: “Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan (ghurur)”. (QS. Ali Imran [3]:185)

Ghurur adalah diamnya jiwa pada sesuatu yang cocok dengan ajakan hawa nafsu. Yakni, bahwa jiwa itu bukan makin menentangnya atau bermaksud hendak mengusir ajakan buruk tadi. Kecocokan ini malah dicondongi oleh tabiatnya, baik karena adanya suatu kesyubhatan atau tipudaya syaithan. (Mau’izhatul Mukminin Ringkasan dari Ihya’ ‘Ulumuddin, 1975: 804)

Orang-orang salaf dahulu sangat berhati-hati sekali dalam ketaqwaan. Sangat menjauhi kesyubhatan-kesyubhatan (apalagi haram). Beliau-beliau itu seringkali menangis, sebab menyesali dirinya sendiri yang tentu tidak luput dari dosa. Ini biasa berlaku sedang bersunyi-sunyi dan sendirian. Lalu, bagaimana dengan diri kita ?

Ada enam macam orang yang tertipu (ghurur) itu, tiga diantaranya ialah:

Pertama, orang yang mengutamakan pendalaman ilmu-ilmu syari’at dan akliah. Tetapi melalaikan penyelidikan anggauta diri sendiri dan penjagaannya dari perbuatan kemaksiyatan. (Sehingga dirinya berlarut-larut dalam kesenangan yang menyengsarakan di kemudian hari. Atau di hari tuanya).

Kedua, orang yang memperdalam ilmu pengetahuan dan pula gemar beramal shalih. Mereka itu melangsungkan terus ketaatan-ketaatan secara lahiriyah dan bahkan meninggalkan segala macam kemaksiatan. Tetapi, sayangnya mereka itu tidak meneliti hati sanubarinya untuk melenyapkan penyakit-penyakit jiwa. Seperti berlagak sombong, dengki, ria’, mencari kemasyhuran, menghendaki kawan-kawannya, sahabat-sahabatnya dan orang-orang lain terkena musibah. Juga sangat suka dipuji-puji, dibangga-banggakan, disanjung-sanjung, dielu-elukan oleh orang banyak.

Ketiga, orang yang menyeru kebaikan kepada umat. Dia mengira, apa yang digembar-geborkan itu sudah sesuai dengan perbuatannya. Padahal, dia tidak mengamalkan sedikitpun. (Mau’izhatul Mukminin Ringkasan dari Ihya’ ‘Ulumuddin, 1975: 821-823)

Model hidup tiga golongan ini, masuk kategori ghurur, tertipu. Tipu daya selalu ada di dunia. Kita mesti berhati-hati saat menjalani kehidupan. Kalau tidak, akan bisa tertipu dan akibatnya sengsara. Firman Allah : “…Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.” (QS. Luqman [32]: 33)

Orang Banjar mengatakan – martapura. Artinya, siapa yang terlalu gemar terhadap harta, tahta dan wanita – akan tertipu dan sengsara. Bisa juga – wanita yang terlalu gemar terhadap peria (baca: PIL).

Bukan berarti kita tidak boleh mencintai dunia. Boleh saja, asal halal dan tidak terlalu gemar. Bila terlalu gemar, akibatnya akan menjadi fatal. Dunia yang terlalu dikejar-kejar itu – belum tentu juga bisa tercapai dengan baik. Andaikata bisa tercapai – itupun tidak abadi. Lalu,             bisa menimbulkan kesedihan yang amat mendalam. Frustrasi, bahkan stress.

Ada masa-masa harta dalam  genggaman, ada masa-masa terlepas. Ada masa-masa senang, ada masa-masa sedih. Ada masa-masa menyatu, ada masa-masa melepas. Ada masa-masa datang, ada masa-masa pergi. Ada masa-masa bertemu, ada masa-masa berpisah. Ada masa-masa bahagia, ada masa-masa susah, dan seterusnya. Dunia, memang tidak abadi. Dunia, selalu berubah. Dunia, memang penuh tipu daya. Berapapun banyaknya dunia, masih tetap terasa kurang bagi manusia.

Sabda Nabi Saw yang artinya kurang lebih: Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata, saya mendengar Nabi Saw bersabda: ”Andaikata anak cucu Adam (manusia) itu memiliki harta dua lembah, tentu akan mencari tiga lembah (lagi). Dan tidaklah (terasa) penuh mulut anak cucu Adam itu kecuali dipenuhi dengan tanah. Allah menerima tobat orang-orang yang mau bertobat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kehidupan di dunia itu hanyalah sementara. Tidak lama dan tidak abadi. Pasti pada saatnya nanti akan berhenti. Bumi dan jagat digulung dan dilipat. Itulah hari kiamat. Hari  berbangkit. Hari pembalasan. Seluruh makhluq dimatikan dan lalu dihidupkan kembali – di alam akhirat. Alam baqa’, alam yang kekal. Kehidupan di sana – lebih baik dari pada di dunia. Tentu, bagi kaum yang beriman dan beramal shalih yang diridlai Allah Swt. “Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).” (QS. Adhuhaa [93]: 4)

Tidak salah orang yang bersungguh-sungguh mencari kebahagiaan hidup di dunia. Tetapi, jangan beranggapan bahwa di dunia ini untuk selamanya. Ada kehidupan yang abadi dan itu lebih baik, yaitu alam akhirat. Mari bersungguh-sungguh pula mencari bekal untuk kehidupan akhirat. Sehingga, kita bisa menyeimbangkan kepentingan dunia dan kepentingan akhirat. Dunianya sejahtera, akhiratnya juga bahagia. Dalam bahasa Al-Qur’annya, fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina adzabannar. (QS. Al-Baqarah [2]: 201)

Memang ada orang yang dunianya menonjol, kaya dan serba cukup. Rumahnya banyak dan megah-megah. Villanya indah-indah, bertebaran di lereng-lereng gunung dekat sawah. Mobilnya mewah-mewah – tak terhitung jumlahnya. Kebon buahnya luas-luas – ada di berbagai tempat, dan enak untuk bernafas. Anak-anaknya kuliah di luar negeri, gagah-gagah. Istrinya cantik, anggun dan setia.

Tetapi, urusan akhiratnya terbengkalai. Ibadahnya keteteran. Shalatnya sering di perjalanan dan bersaing dengan bisnisnya. Tak mau tau nasib tetangga yang kelaparan. Urusan masjid dan madrasah tak dihiraukan. Pengajian dan majelis taklim tak pernah mau datang. Hanya urusan dunia yang lebih mengedepan. Waktunya habis untuk urusan keduniaan. Dunia, dunia dan dunia. Kasihan – kalau dia masuk kategori manusia yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. (QS. Al-Baqarah [2]: 200).

Harta laksana pegunungan – yang begitu indah dipandang dari kejauhan. Manakala benar-benar kita daki, pandangan elok yang terlihat menjadi lenyap. Yang ada, hanya tumbuh-tumbuhan lebat yang menghalangi masuknya cahaya ke dalam hutan. Orang-orang tua pernah bilang – rumput tetangga lebih hijau dari rumput halaman sendiri. Harta adalah fitnah (baca: ujian) (QS. Al-Anfaal:28)

Ada dua hal yang sering menjadi fitnah dalam kehidupan, yaitu harta dan wanita. Rasulullah Saw bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ – رواه أبوداود

“Sesungguhnya tiap-tiap umat itu ada fitnah. Dan fitnah umatku adalah  harta” (HR. Abu Dawud)

Juga sabda Nabi Saw:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِي النَّاسِ فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ – رواه أبوداود

“Tidaklah ada fitnah sepeninggalku bagi manusia yang lebih besar terhadap laki-laki daripada (fitnah) wanita”. (HR. Abu Dawud)

Allah berfirman di dalam al Qur’an Surat At-Taghabuun ayat 14, artinya: “Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka…” (QS. At-Taghabuun [64]:14).

Tentu kita masih ingat kisah Fir’aun, penguasa tak terbatas di negeri Piramide. Kepada rakyatnya dia bilang “ana rabbukumul a’la”, aku adalah tuhanmu yang paling tinggi. Dia dan bala tentaranya mampus ditelan laut Merah, karena terlalu cinta kekuasaan. Masih ingat pula Qarun. Konglomerat tak tertandingi pada zamannya – lenyap ditelan bumi dengan seluruh harta bendanya, karena terlalu mencintai dunianya. Ingat pula kisah Romeo dan Yuliet. Mereka mati bunuh diri karena terlalu memburu cinta.

Untuk menghindari timbulnya berbagai fitnah, kita hendaknya bisa mengembangkan rasa syukur, sabar dan tawakkal kepada Allah Swt.  Ingat, saat kita dibawa kekubur nanti, ada tiga yang mengantarkan – harta, keluarga dan amal. Semuanya kembali, kecuali satu. Yaitu – amal kita. Kita yang masuk liang kubur – sendirian. Hanya ditemani dengan amal. Kalau amal kita baik, baiklah nasib kita. Begitu sebaliknya.

Selain itu, biasakan memanjatkan doa sebagaimana diajarkan Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Imam Muslim sebagai berikut:

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa Jahannam, dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa qubur, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah tipudaya Dajjal, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dalam kehidupan dan kematian.” Semoga.

————-
Download artikel ini dalam format word document [klik disini]

`tB txÿx. Ïmø‹n=yèsù ¼çnãøÿä. ( ô`tBur Ÿ@ÏHxå $[sÎ|¹ öNÍkŦàÿRL|sù tbr߉ygôJtƒ


Responses

  1. Alhamdulillah.bgus artikel nya.jika siapa membca dpt lah pengetahuan..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: