Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | April 13, 2011

Pendidikan Karakter : Bolehkah Pemimpin Dikritik?

Pendidikan Karakter :

Bolehkah Pemimpin Dikritik?

Oleh: Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Umar Bin Khatab adalah panglima perang paling terkenal sepanjang sejarah Islam. Bermula sebagai orang yang membenci Islam, kemudian ia berbalik menjadi pengikut setia Nabi Muhammad SAW dan pejuang Islam, pahlawan perang yang gagah berani.

Saat dilantik menjadi khalifah, dihadapan masyarakat Umar bin Khatab berkata: “Sesungguhnya aku diangkat menjadi pemimpin diantara kamu tetapi saya bukanlah orang terbaik diantara kalian. Karena itu jika aku berbuat kebaikan maka bantulah aku dan jika aku salah maka luruskan/ingatkanlah aku.”

Dalam masa pemerintahannya Umar memang sangat peduli dengan masyarakatnya. Ia terkenal sederhana dan rendah hati, selalu turun tangan langsung jika ada masalah di lapangan. Ia sering menangis disaat melakukan shalat malam, mohon petunjuk Tuhan agar ia mampu menjalankan amanah, memimpin secara adil dan bijaksana.

Hasil kerja keras Umar, kesederhanaan dan kerendahan hatinya itu tak sia-sia. Selama pemerintahan Umar, kekuasaan Islam tumbuh sangat pesat. Islam mengambil alih Mesopotamia dan sebagian Persia dari tangan dinasti Sassanid serta mengambil alih Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara dan Armenia dari kekaisaran Romawi (Byzantium).

Sejarah mencatat banyak pertempuran besar yang menjadi awal penaklukan ini. Pada pertempuran Yarmuk, yang terjadi di dekat Damaskus pada tahun 636, 20 ribu pasukan Islam mengalahkan pasukan Romawi yang mencapai 70 ribu dan mengakhiri kekuasaan Romawi di Asia Kecil bagian selatan. Pasukan Islam lainnya dalam jumlah kecil mendapatkan kemenangan atas pasukan Persia dalam jumlah yang lebih besar pada pertempuran Qadisiyyah (th 636), di dekat sungai Eufrat. Pada pertempuran itu, jenderal pasukan Islam yakni Sa`ad bin Abi Waqqas mengalahkan pasukan Sassanid dan berhasil membunuh jenderal Persia yang terkenal, Rustam Farrukhzad.

Pada tahun 637, setelah pengepungan yang lama terhadap Yerusalem, pasukan Islam akhirnya mengambil alih kota tersebut. Umar diberikan kunci untuk memasuki kota oleh pendeta Sophronius dan diundang untuk salat di dalam gereja (Church of the Holy Sepulchre). Umar memilih untuk salat ditempat lain agar tidak membahayakan gereja tersebut. 55 tahun kemudian, Masjid Umar didirikan ditempat ia salat.

Umar melakukan banyak reformasi secara administratif dan mengontrol dari dekat kebijakan publik, termasuk membangun sistem administratif untuk daerah yang baru ditaklukkan. Ia juga memerintahkan diselenggarakannya sensus di seluruh wilayah kekuasaan Islam. Tahun 638, ia memerintahkan untuk memperluas dan merenovasi Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Medinah. Ia juga memulai proses kodifikasi hukum Islam.

Umar dikenal dari gaya hidupnya yang sederhana, alih-alih mengadopsi gaya hidup dan penampilan para penguasa di zaman itu, ia tetap hidup sangat sederhana.

Pada sekitar tahun ke 17 Hijriah, tahun ke-empat kekhalifahannya, Umar mengeluarkan keputusan bahwa penanggalan Islam mulai dihitung saat peristiwa hijrah.

Semasa Umar masih hidup Umar meninggalkan 6 wasiat yaitu:

  1. Jika engkau menemukan cela pada seseorang dan engkau hendak mencacinya, maka cacilah dirimu. Karena celamu lebih banyak darinya.
  2. Bila engkau hendak memusuhi seseorang, maka musuhilah perutmu dahulu. Karena tidak ada musuh yang lebih berbahaya terhadapmu selain perut.
  3. Bila engkau hendak memuji seseorang, pujilah ALLAH SWT. Karena tiada seorang manusia pun lebih banyak dalam memberi kepadamu dan lebih santun lembut kepadamu selain ALLAH SWT.
  4. Jika engkau ingin meninggalkan sesuatu, maka tinggalkanlah kesenangan dunia. Sebab apabila engkau meninggalkannya, berarti engkau terpuji.
  5. Bila engkau bersiap-siap untuk sesuatu, maka bersiplah untuk mati. Karena jika engkau tidak bersiap untuk mati, engkau akan menderita, rugi, dan penuh penyesalan.
  6. Bila engkau ingin menuntut sesuatu, maka tuntutlah akhirat. Karena engkau tidak akan memperolehnya kecuali dengan mencarinya.

Secara garis besar ada 5 sikap teladan yang diberikan Umar, yaitu kerja keras, amanah, sederhana, rendah hati dan bersedia dikritik (diberi masukan) oleh siapapun. Sikap ini membuat Umar menjadi panutan dan pemerintahan yang dipimpinnya berhasil mencapai kejayaan.

Ke empat sikap itu pula selama ini saya anut, dan alhamdulillah berperan besar dalam perjalanan karir saya. Saya yakin jika lima sikap juga dianut oleh para pemimpin di Sumatera Barat, insya Allah Sumbar akan menjadi daerah yang maju, seperti motto yang kita anut: menjadi masyarakat madani, sejahtera dan bermartabat.

Kritik dan perbedaan pendapat tentu kita butuhkan, kritik dan beda pendapat yang memang bertujuan membangun, bukan untuk saling menjatuhkan, insyaAllah akan menjadi energi untuk maju ke depan. Jangan berpecah belah, mari kita bersatu.
————
Download artikel ini dalam format word document [klik disini]


Responses

  1. Saya salut sama bapak jika prinsip2 ini yg dianut selama ini, dan saya berharap itu tetap dipertahankan. Yang menjadi pertanyaan saya mengapa disaat2 tertentu bapak seolah tidak peduli dengan penderitaan rakyat?? misalnya ketika jalan raya macet, hanya org sakit atau emergency lah yg punya hak untuk diberi jalan disaat macet. masalah larangan merokok di tempat umum belum juga berlaku di sumbar ini, bukankah sudah diharamkan merokok oleh Islam?? maaf jika saya berlebihan, masih banyak lagi penderitaan rakyat sumbar yg tak kunjung bapak peduli…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: