Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | April 20, 2011

Memberantas Penyakit “Examen Cultus”

Memberantas Penyakit “Examen Cultus”

Oleh : Dhitta Puti Sarasvati
Direktur Program Ikatan Guru Indonesia

Anak-anak dan pemuda-pemuda kita sukar dapat belajar dengan tenteram, karena dikejar-kejar oleh ujian yang sangat keras dalam tuntutannya. (Ki Hajar Dewantara)

KOMPAS.com – Dengan porsi lebih besar, yaitu 60 persen, Ujian nasional (UN) menjadi salah satu faktor paling dominan dalam menentukan kelulusan siswa. Padahal, UN bukan sistem yang dirancang untuk mendukung siswa bermasalah dalam belajar.

Menekankan ujian sebagai penentu kelulusan siswa menyebabkan siswa-siswa yang memiliki masalah dalam belajar akan tertinggal jauh di belakang. Di Finlandia, sistem telah dirancang sedemikan rupa, sehingga permasalahan siswa dalam belajar bisa dideteksi sedini mungkin, bukan di akhir masa sekolah.

Saat siswa memiliki permasalahan dalam belajar, sistemnya mengatur agar siswa tersebut memperoleh dukungan sedini mungkin. Dukungan itu diberikan, misalnya, dengan adanya guru-guru khusus menangani siswa yang mempunyai learning difficulties (masalah dalam belajar). Untuk itu, assessment, apapun bentuknya, termasuk ujian, harus digunakan untuk membantu guru, sekolah, maupun pemerintah dalam memberi dukungan pada siswa.

Dukungan tersebut harus dilakukan selama proses pembelajaran di sekolah. UN diselenggarakan di akhir masa siswa sekolah. Maka, kalau ada siswa yang ternyata nilainya buruk, kapan akan memperbaikinya? Siapa yang membantu siswa memperbaikinya?

Daripada ujian yang begitu padat materinya di akhir tahun sekolah, tentu lebih baik dilakukan berbagai bentuk assessment sepanjang masa belajar. Assessment ini digunakan untuk mengetahui kekurangan siswa dalam belajar, baik itu siswa kurang dalam matematika atau di dalam bahasa Indonesia. Kalau pun kekurangan itu di bidang matematika, sekolah akan mengetahui letak kekurangan siswa. Setelah mengetahui permasalahan siswa secara spesifik, maka dengan mudahnya kita menentukan dukungan yang memang diperlukan siswa.

Nyatanya, sistem pendidikan kita memang belum memberikan dukungan memadai untuk membantu siswa yang kesulitan dalam belajar. Bahkan, pemerintah juga telah salah kaprah dalam memandang ujian lebih penting dibandingkan bentuk assessment lainnya. Ini sudah terbukti dengan adanya UN.

Sementara itu, banyak negara justeru sudah meninggalkan penentuan kelulusan siswa dengan ujian akhir. Di Swedia, misalnya, tidak ada ujian akhir sekolah untuk menentukan kelulusan siswa. Ujian sejenis ini telah dihentikan sejak 1971 dan digantikan dengan assessment di sekolah (Black, 1998, h.140). Di Finlandia pun yang diminta untuk melakukan assement terhadap siswa adalah guru (OECD, 2011)4.

Proyek siswa

Berbeda dengan pemahaman sempit pemerintah Indonesia yang lebih menekankan assesment pada ujian, justru salah satu penekanan terbesar melakukan assessment terhadap siswa di Finlandia adalah melalui proyek. Proyek bisa berupa karya siswa, baik penelitian, merancang sebuah desain, dan sebagainya, yang bisa dikerjakan bersama-sama dalam satu tim dan lintas bidang studi.

Untuk menjalankan proyek-proyek tersebut, siswa harus mampu mengaplikasikan semua yang dipelajarinya di sekolah di dalam sebuah karya nyata. Ada begitu banyak variasi bentuk assessment termasuk tugas harian di sekolah, karya siswa, penelitian ilmiah, tulisan, proyek, laporan, dan sebagainya. Semuanya bisa digunakan untuk menilai siswa.

Assessment terhadap siswa sudah seharusnya tidak didominasi oleh ujian, apalagi untuk menentukan kelulusan. Maka, bisa dikatakan, banyak yang perlu dibenahi dalam sistem pendidikan di Indonesia. Pertama, harus ada evaluasi sistem pendidikan Indonesia secara keseluruhan.

Pemetaan pendidikan nasional harus segera dilakukan dan hasilnya harus dipublikasikan di depan publik sehaingga berbagai pihak bisa membantu menganalisanya. Hasil analisa ini bisa digunakan sebagai dasar untuk merancang berbagai program peningkatan kualitas pendidikan. Sistemlah yang perlu dievaluasi terlebih dahulu, sebelum mengevaluasi siswa.

Kedua, assessment terhadap siswa harus digunakan sedemikian rupa untuk memberikan dukungan siswa dalam belajar, membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar. Sistem pendidikan bukan untuk melabeli mereka dengan kata lulus atau tidak lulus.

Ketiga, kita memang harus mulai meninggalkan paradigma belajar yang menekankan pada ujian. Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, bahkan pernah mengatakan sebelumnya kepada kita sebagai generasi penerus saat ini dan nanti, bahwa, “Anak-anak dan pemuda-pemuda kita sukar dapat belajar dengan tenteram, karena dikejar-kejar oleh ujian yang sangat keras dalam tuntutannya. Mereka belajar tidak untuk perkembangan hidup kejiwaannya, sebaliknya mereka belajar untuk dapat nilai-nilai yang tinggi dalam raport sekolah atau untuk dapat ijazah. Dalam soal ini sebaliknyalah kita para pemimpin perguruan bersama-sama dengan Kementerian PP dan K mencari bagaimana caranya kita dapat memberantas penyakit “examen cultus” dan “diploma jacht” (mengkultuskan ijasah dan diploma)”.
———————
Download artikel ini dalam word document [klik disini]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: