Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | April 22, 2011

Berburu Passing Grade Sebelum Masuk Ke Perguruan Tinggi

Berburu Passing Grade Sebelum Masuk  Ke Perguruan Tinggi

Oleh : Marjohan, M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar

Untuk menjadi cerdas rupanya tidak perlu mengikuti proses belajar yang panjang. Buat apa harus mempelajari dan membahas teori-teori serta pergi prtaktek ke dalam labor segala. Ya cukup belajar secara instan saja, yaitu melalui latihan menjawab soal-soal ujian. Kini memang banyak siswa, guru dan orang tua meyakini hal ini. Mereka merasakan bahwa anak-anak bisa cepat pintar cukup dengan cara instant yaitu “melatih anak untuk menjawab soal-soal ujian”. Cara  ini disebut dengan program bimbel atau bimbingan belajar. Maka tidak heran kalau banyak bimbel yang punya merek atau label “ bimbel smart dan instant” dan mereka siapkan menciptakan siswa-siswa menjadi  generasi cerdas yang instant.  

Memang demikian bahwa bila kita jeli melihat prilaku siswa-siswa SMA di sekitar kita yang baru selesai melaksanakan UN (Ujian Nasional) maka kita akan melihat fenomena yang membuat hati geli dan bertanya-tanya “wah mereka kemaren selama enam bulan sibuk latihan bimbingan belajar kok sekarang sibuk lagi bergerombolan ke dalam ruangan yang disulap menjadi arena bimbel menuju perguruan tinggi bergengsi ?”

“Betul papa dan mama, kami harus punya passing grade yang tinggi, baru setelah itu punya cita-cita dan memilih perguruan tinggi yang pas”. Sekarang siswa yang hebat harus dilihat skornya, skor tersebut adalah sebagai bukti ia punya kualitas atau tidak. Konsekwensinya bahwa ratusan bahkan ribuan siswa yang baru selesai melaksanakan Ujian Nasional juga harus berburu “passing grade” sebelum menuju Perguruan Tinggi.

Perguruan tinggi favourite memasang standard passing grade yang juga tinggi. Untuk memperoleh passing grade yang tinggi itu tidak sulit. Asal ada uang maka ikutlah bimbel,  katanya dalam spanduk bahwa  bimbel yang bagus bisa menjamin siswa punya passing grade tinggi dan jebol perguruan tinggi yang favourite “Gagal masuk Perguruan Tinggi maka uang kembali, maka bergabunglah bersama bimbel kami”, demikian iming-iming iklan bimbel. Yang tidak punya uang dan tidak bias ikut program bimbel tidak perlu kehilangan rasa percaya diri.

Apakah Perguruan Tinggi memang butuh siswa yang punya passing grade tinggi ? Tentu saja “ya” karena itu adalah sebagai tanda atau jaminan bahwa mereka bias direkrut menjadi mahasiswa dan tetap bisa membuat harum nama perguruan tinggin tersebut. Namun apakah kelak mahasiswa- mahasiswa yang jago untuk mencari passing grade tinggi bakal sukses setelah menyelesaikan perkuliahan mereka, atau malah mereka menjadi sarjana yang puas dalam membanggakan IPK atau Passing Grade tinggi namun bengong dan miskin dalam kreativitas dalam hidup ini.

Achmanto Mendatu (2010) menulis tentang “Kegagalan Sistem Pendidikan Asia” dan mengutip salah satu artikel dengan judul “Asian Test-Score Culture Thwarts Creativity– Budaya Skor Test Orang Asia Menggagalkan Kreativitas” pada  jurnal  Science mengatakan bahwa meskipun sejak bertahun-tahun lalu Asia didaulat akan menjadi penghela dunia sains berkat sangat besarnya investasi di bidang sains dan teknologi, kenyataannya Asia masih tetap saja tertinggal di banding negeri-negeri barat (Eropa Barat dan Amerika Utara). Menurutnya, akar permasalahannya adalah budaya pendidikan Asia yang berorientasi pada skor-tes, yang alhasil tidak mampu mengasah keterampilan berpikir dan kreativitas pelajar. Padahal kedua kemampuan itulah yang menjadi dasar untuk bisa menjadi ilmuwan yang berhasil.

Fenomena di Indonesiapun juga demikian, para orang tua dan guru (malah pemerintah juga mendorong) agar siswa/ sekolah berlomba untuk mencari skor yang tinggi. Sekolah yang mampu membuat siswa ujian dengan skor tinggi akan memperoleh appresiasi yang hebat. Dengan demikian semua pelajar dan sekolah berorientasi mengejar skor-tes setinggi-tingginya.

Orang tua dan guru menjelaskan pada anak/ siswa bahwa yang memiliki skor-tes lebih tinggi akan memperoleh karir lebih baik  di masa depannya karena persyaratan masuk ke berbagai institusi pendidikan yang lebih tinggi dan lebih baik ditentukan oleh skor-tes. Semakin tinggi skornya tentu semakin baik pula peluangnya. Beragam pekerjaan bergengsi juga hanya bisa dimasuki oleh mereka-mereka yang memiliki skor tinggi. Sekolah yang para siswanya meraih skor-tes tinggi akan naik reputasinya, dan dengan demikian menjamin pendanaan lebih banyak pula.

Pengalaman penulis sebagai guru  juga merasakan dan melihat bahwa guru-guru pun ditekan untuk mengajar dengan orientasi agar siswa bisa memperoleh skor-tes yang tinggi. Proses pendidikan pada sekolah berlabel unggul, apakah ia berlabel Sekolah Standard Nasional, Sekolah Rintisan Standard Internasional, dan juga sekolah sekolah kebanyakan, dalam semester ke 6 di kelas tiga SMA (yaitu persiapan sukses UN) lebih terfokus pada  program belajar dalam bentuk mengerjakan “latihan-latihan tes” karena diyakini bahwa keberhasilan sebuah sekolah semata-mata dinilai dari catatan skor-tes yang diperoleh siswa di sekolah tersebut.

Achmanto Mendatu (2010) menambahkan bahwa akibat iklim pendidikan berorientasi skor-tes, para orangtua di Asia (termasuk Indonesia) lazim memasukkan anak-anaknya ke suatu les pelajaran tambahan di luar sekolah sejak usia dini. Di Singapura, pada tahun 2008, sejumlah 97 dari 100 pelajar mengikuti les tambahan pelajaran di berbagai institusi persiapan tes (baca: Lembaga Bimbingan Belajar). Pada tahun 2009, industri persiapan tes di Korea Selatan bernilai 16,3 Miliar US$ atau setara dengan 146,7 triliun rupiah. Jumlah itu kira-kira senilai 36% dari anggaran pemerintah untuk dunia pendidikan di negeri ginseng.

Akibat dari gaya kebijakan mendidik yang demikian oleh masyarakat dan juga didukung oleh pemerintah telah  menyebabkan waktu sekolah yang panjang dan beban PR yang berat bagi anak. Siswa siswa kita memang terasah kemampuan intelektualnya dalam hal mengingat fakta-fakta untuk kemudian ditumpahkan kembali saat ujian. Hasil dari budaya pendidikan semacam itu adalah kurangnya keterampilan menelaah, menginvestigasi dan bernalar, yang sangat dibutuhkan dalam penemuan-penemuan ilmiah.

Sekarang banyak siswa Indonesia yang mampu meraih juara olimpiade sains di dunia. Namun apakah mereka memang bisa menjadi lebih kreatif- menemukan banyak hal setelah dewasa. Tidak bisa dipungkiri bahwa para pemenang olimpiade sains dunia (fisika, sains, biologi, dan lainnya) mayoritas berasal dari Asia. Ya Indonesia sendiri telah berkali-kali memiliki para juara. Akan tetapi mereka merupakan hasil penggodokan khusus oleh tim khusus olimpiade sains. Mereka bukan hasil alami iklim pendidikan seperti biasa. Jadi, fenomena itu sama sekali belum tentu mengindikasikan keberhasilan sistem pendidikan kita. Faktanya, meskipun mendominasi kejuaraan, Asia tak kunjung melahirkan ilmuwan-ilmuwan kelas dunia. Jumlah ilmuwan yang terlahir dari Eropa/Amerika sangat timpang jauhnya dibandingkan dari Asia.

Teman penulis yang pernah studi di Australia dan keponakan penulis yang juga pernah mengikuti pertukaran pelajaran di Amerika (Youth Exchange Student) mengatakan bahwa pelajar asal Asia memang lebih cerdas di sana. Malah keponakan penulis sendiri menjadi jago dalam kelasnya. Tetapi dengan demikian apakah mengindikasi bahwa pelajar Amerika atau Australia itu sendiri lebih lemah SDM-nya dan kita lebih sukses ? Ya tunggu dulu. Ia menambahkan bahwa siswa-siswa Indonesia pulang sekolah terbiasa menyerbu bimbel, sebaliknya siswa Amerika pulang sekolah menyerbu lapangan olah raga atau ikut orang tua mereka dalam mengeksplorasi alam- membantu usaha dan pekerjaan orang tua untuk memperoleh pengalaman hidup dan sekaligus tambahan uang saku. Para pendidik dan stakeholder pendidikan di Amerika ( juga di Australia) selalu mendorong dan merangsang siswa mereka untuk melakukan eksplorasi. Bukankah melakukan ekplorasi menjadi syarat untuk menjadi kreatif ?. Dengan demikian siswa di sana kecerdasan intelektualnya tidak bersifat instan sebagaimana kebisaaan kecerdasan instant siswa kita melalui bimbel.

Bagaimana dengan siswa cerdas peraih passing grade tinggi di Indonesia ? Mereka umumnya kuliah di jurusan/ fakultas dan Universitas yang berlabel favourite. Dan mahasiswa yang kemampuannya cukup rata-rata juga kuliah pada universitas dan institute yang tersebar di Tanah Air ini. Dari pengalaman banyak orang saat kuliah di Universitas terlihat bahwa banyak mahasiswa  yang lemah dalam melihat hubungan-hubungan dalam berbagai literatur, membuat kemungkinan-kemungkinan ide-ide, dan menyusun berbagai hipotesis. Sehingga sering bermasalah tiap kali menulis proposal, skripsi, tesis dan disertasi. Padahal, mereka adalah para peraih IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) cukup tinggi. Ini  membuktikan bahwa sistem pendidikan sejak dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah dan Universitas tidak melahirkan talenta saintifik. Ya gara-gara cuma belajar banyak melakukan latihan-latihan ujian. Saat masa anak-anak, mereka banyak dikurung dalam rumah dengan alas an belajar, hingga mereka kurang tahu nilai-nilai social yang berada di luar rumah.

Selanjutnya  bagaimana gaya kuliah mahasiswa di Perguruan Tinggi di negara kita, apakah masih berorientasi passing grade ? Tampaknya gaya hidup dan gaya belajar mahasiswa sama saja dengan gaya hidup dan gaya belajar anak-anak SMA. Ya masih berorientasi passing grade. Jauh-jauh dari kampung para orang tua masih rajin kirim SMS pada anak agar rajin kuliah dan belajar yang benar agar IPK bisa diatas 3.00 dan kalau perlu raihlah IPK  4.00 atau cum laude.

Sehingga kerja dan gaya kuliah mahasiswa seolah-olah bersifat “4 D” yaitu “Duduk Datang Diam Dengar” dan jangan begitu kritis karena nanti sang dosen bisa tersinggung, kalau tidak nilai mata kuliah bisa gagal. Di rumah kost terlihat bahwa aktivitas mahasiswa merpakan perpanjangan dari kebiasaan belajar ala SMA dulu, ya contek tugas kuliah teman, copy paste tugas dari internet, main game, main HP, dengar music, main domino, cari pacar, bergitar atau tidur tanpa kenal jam dan bermimpi.

Satu dua mahasiswa juga ada yang aktif dalam organisasi. Namun parahnya ada yang menomorsatukan organisasi dan memandang remeh perkuliahan maka jadilah mereka sebagai mahasiswa abadi atau terpaksa di- drop out dari kampus karena sudah kadaluardsa. Idealnya mereka harus menjadi model mahasiswa yang sukses berorganisasi dan juga sukses dalam kuliah ? Namun model mahasiswa ideal itu juga susah diperoleh.

Model atau cara kuliah yang sukses bisa ditiru dari mahasiswa yang sukses pula. Apakah mahasiswa yang sukses tersebut berasal dari Universitas favourite di pulau Jawa. Juga belum tentu sebab aktivitas mereka yang kuliah di sana, terlihat dari koleksi foto-foto mereka pada facebook juga dominan bersifat hura-hura, seperti hanya penuh dengan acara makan-makan, jalan-jalan, ledek meledek atau sedang main game on line.

Satu atau dua orang tentu juga ada masiswa ideal yang bisa dijadikan referensi dalam kuliah. Yaitu mereka yang tidak cuma menghabiskan waktu di kampus dan tempat kos, namun juga terjun ke lapangan untuk menemui fenomena kehidupan ini. Louis Deharven sarjana asal Perancis dari tahun 1993 sampai tahun 2002 sering datang berlibur ke tempat penulis di Batusangkar (bukan merendah bangsa sendiri dan mengagungkan bangsa lain). Ia menghabiskan waktu dan dana untuk masuk hutan dank e luarb hutan serta  masuk goa ke luar goa hanya menemukan jengkerik ukuran besar (cigal) dan jenis ikan dalam goa (Ngalau Indah) di Lintau Buo, Kabupaten Tanah Datar. Hewan tersebut belum tercatat dalam klasifikasi zoology dunia dan segera memberi klasifikasinya. Ia kemudian terus mengembangkan talent saintifiknya  bukan secara instant tetapi melalui eksplorasi.

Demikian juga dengan teman penulis, Craig Pentland dari Australia Barat, memberi saran kepada kepada salah seorang siswa penulis yang tergolong kutu buku. Ia  mengatakan bahwa “jangan asal membaca semua buku tetapi lakukan eksplorasi dan amati fenomena sosial, bila ada yang aneh maka segera cari literature dan segera pahami untuk menemui solusinya.

Pesan dan gaya saintifik kedua teman tadi barangkali sangat bagus diadopsi oleh mahasiswa yang belum punya gaya belajar yang pas agar menjadi manusia intelektual. Menjadi mahasiswa dan siswa yang ideal bukan berarti harus menghabiskan belasan jam di sekolah atau kampus atau Cuma berlatih mengerjakan latihan demi latiha di rumah. Namun juga melakukan eksplorasi kea lam yang terprogram, bukan asal eksplorasi sehingga terkesan berhura-hura. Bagi yang studi di bidang pertanian dan peternakan maka sering sering turun dari menara gading (kampus) ke lahan pertanian dan peternakan. Bagi yang studi pada ilmu social maka turunlah ke lingkungan social lapisan bawah- lihat dan amati ada apa yang terjadi di sana. Bagi yang studi pada fakultas tekhnik juga rajin-rajinlah ke lapangan untuk menemui fenomenanya di lapangan, jangan turun ke dalam box warnet dan internet melulu, dan seterusnya. Sekarang bagaimana lagi… apakah gaya belajar siswa dan mahasiswa serta gaya mengajar guru dan dosen  masih sekedar mendorong mereka memburu passing grade yang tinggi dan cukup bangga dengan Skor yang tinggi meskipun setelah itu bingung untuk berbuat penuh dengan kreatifitas. (Note: Achmanto Mendatu (2010) Kegagalan Sistem Pendidikan Asia. Yogyakarta: Magister Profesi Psikologi UGM)

—————–
Download artikel ini dalam format word document [klik disini]


Responses

  1. Uncle Jo Yth, saya setuju dengan artikel dari negara tetangga itu bahwa kesalahan pemerintah kita adalah selalu mengutamakan nilai atau score, tapi nol kreativity. Akibatnya nilai siswa tinggi tapi setamat kuliah ngaggggggggggggggggggur …tq

  2. Yth, Pak Marjohan dan Pak Dirwan.

    Hati-hati membuat sebuah kesimpulan, kalau tidak didukung dengan data yang valid.
    Yang penting saya ingatkan adalah kebodohan jangan digenerlisasi dan jug keberhasilan tidak pula dapat digeneralisasi.
    Seperti “kegagaan pendidikan asia” . memang ada anak asia gagal kan yang berhasilna juga banyak. Memang pengetahuan dan teknologi AS atau Eropa maju kan tidak semua masyarakatanya seperti itu. Satu orang anak SMA 5 Batu sangkar yang go internasional lantas kita berpersepsi bahwa SMA 5 unggul. Ingat “satu anak yang pintar” bukan berarti unggulnya sekolah, hal ini penting dipahami agar kita tidak tertipu. Sepertinya juga Pak Dirwan komen seorang guru seperti itu tida layak diruang ini, tidak mungkin anak yang nol kreativity.

    Kita sering mengatakan pemerintah gagal….. tapi data yang digunakan data yang sangat minus. itu kan terlaluan. Akibatnya apa ? setiap generasi muda yang mulai tumbuh membaca berta seperti itu menganggap pemerintah kita jelek……semua jelek. Saya memberikan contoh sederhana, semua guru yang mengajar di sekolah-sekolah (termasuk Pak Marjohan) yang jumlahnya ratusan ribu adalah arang baik- baik. (walaupun ada dua atau tiga orang yang tindakan “tertentu” melanggar norma atau uu).

    Mungkin saya salah seorang yang suka memberikan kritikan, terutama terhadap hal-hal yang tidak logis dan tidak masuk akal. Sekaitan dengan hal ini mungkin kita perlu introspeksi lagi agar berita di E-N ini bernilai bagus.

    Wassalam semoga semua kita mendapat hidayah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: