Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Mei 9, 2011

Mahasiswa Asing di ISI Padangpanjang

Mahasiswa Asing di ISI Padangpanjang

Belajar Budaya Minangkabau dengan Serba Terbatas

Padang Ekspres • Minggu, 08/05/2011 08:37 WIB

Randai: Mahasiswa asing program dharmasiswa  di ISI Padangpanjang bermain randai

Jarang yang menggunakan bahasa Inggris. Hal ini menyulitkan bagi mahasiswa atau orang dari luar negeri yang ingin belajar tentang Minangkabau memperoleh informasi yang diinginkannya.
Lagu Simarantang, sebagai pengantar legaran randai, terdengar dinyanyikan dengan bahasa Minang yang tidak lurus (tidak fasih). Sembilan anak randai balega memainkan gerakan silat yang menjadi gerakan dasar pertunjukan randai; sebuah pertunjukan teater rakyat di Minangkabau. Seperti halnya randai, selain cerita, juga dipertunjukan tari dan musik tradisi Minangkabau. Pertunjukan malam itu, tanpa cerita, hanya mempertontonkan tari piring, dendang saluang dan rabab, silek, serta melukis.

Ada yang berbeda pada pertunjukan randai di Laga-Laga Taman Budaya Sumbar, Senin (2/5) lalu. Pada malam itu, randai dimainkan bukan oleh anak nagari Minangkabau. Tapi, oleh anak luar negeri, yakni 8 mahasiswa dari berbagai Negara di dunia dikomandoi oleh M Arif Anas, dosen Karawitan ISI Padangpanjang. Sebut saja, Oliwia (Polandia), Kristyna Cilkova (Republik Ceko), Chaikampanat dan Kritsada Jintapracha (Thailand), Jackie An (Amerika Serikat), Dao Thi Ngoc Trang (Vietnam), Rita Deiola (Italia), dan Nicolson Thomas (Grenada).

Sebagaimana temanya, Dunia dalam Randai, Satahun di Ranah Minang, pertunjukan randai ini merupakan karya akhir mereka setelah setahun menimba ilmu di ISI Padangpanjang dalam program dharmasiswa. Menyaksikan pertunjukan randai dari “pemain asing”, cukup menghibur. Apalagi, tapuak galembong mereka, nyaris tidak ada bedanya dengan anak randai asli. Bahkan mengundang tepuk tangan, juga pujian karena mampu mengapresiasi produk budaya Minangkabau. “Di sini, tak ada sekat, batas negara luruh oleh kekuatan seni,” kata Mahdi Bahar, Rektor ISI Padangpanjang.

Budayawan Wisran Hadi menilai pertunjukan itu sesungguhnya relatif menarik, karena dimainkan oleh orang bukan Minangkabau. Hanya saja, randai yang mestinya bisa bebas, kurang terlihat kenakalannya. Kenapa misalnya, kata Wisran, tidak juga agak sedikit menggunakan bahasa “kampung” asal para pemainnya. Seperti, ada satu atau dua, masuk kata-kata dalam bahasa Polandia, Thailand atau Vietnam.
Keterbatasan Informasi

Dari pengakuan mahasiswa ini, banyak hal menarik dari kebudayaan yang terkenal dengan sistem material dan demokrasinya ini. “Seperti lagu kampuang nan jauah di mato, pada lirik panduduaknyo nan suko bagotongroyong, saya sangat mengagumi itu di sini. Spirit atau semangat individu untuk bersama-sama menghadapi berbagai kondisi dan situasi yang terjadi. Ini inspirasi yang kuat bagi saya, bagaimana orang Minang rela membantu  dengan penuh kebersamaan,” kata Jackie, tamatan psikologi di Seattle University, Amerika Serikat, yang kini sudah mampu berdendang dan berabab.

Konsep demokrasi yang dilandasi dengan semangat gotong royong tersebut, juga tertuang dalam berkesenian. Yang membedakannya dengan Amerika, sebagai negara demokrasi, meski pun perbedaan pendapat sangat dihargai, namun dalam kehidupan mereka sangat individual.
Lain halnya dengan Oliwia, tamatan program studi Budaya dan Bahasa Asia, University of Warsaw. Dia tertarik dengan perpaduan konsep agama dan adat dalam kebudayaan Minangkabau. “Di satu sisi, orang Minang memegang teguh  agamanya, agama Islam. Namun di sisi lain, mereka juga percaya pada hal gaib, seperti hantu, takhayul, dan sebagainya. Ini konsep yang menarik sekali, apalagi adat dan agama itu menyatu dalam filosofi hidup orang Minang,” tuturnya.

Begitu juga yang dialami Trang, yang telah menamatkan studinya di jurusan Ketimuran, Universitas Ilmu Sosial dan Humaniora, Ho Chi Minh, Vietnam. Katanya, di Vietnam tidak ada dokumentasi tentang kebudayaan Minangkabau.
“Kalau kebudayaan Jawa dan Bali banyak. Makanya, saya sangat tertarik untuk mendokumentasikan kebudayaan Minangkabau ini dan mengenalkannya di Vietnam,” katanya.

Trang tertarik dengan sistem matrilineal, yang sangat menghargai kaum wanita, dan budaya merantau, yang mengajarkan kehidupan pada laki-laki. Ketertarikan tersebut, membuat mahasiswa Vietnam pertama yang belajar tentang Minangkabau ini berencana akan melanjutkan beasiswa belajar ke Sumbar lagi.

“Mungkin nanti arahnya ke penelitian budaya,” tukasnya.
Meskipun, kebudayaan Minangkabau sangat menarik bagi mereka. Disayangkan, tidak ada informasi yang cukup tentang itu, baik melalui buku-buku atau pun melalui situs-situs di internet. Begitu juga dalam belajar, bahasa pengantar di ISI Padangpanjang juga masih menjadi kendala. Artinya, walau mereka mesti menggunakan bahasa Minang, namun harus ada bahasa Inggris sebagai pengantar substansi materi untuk dijadikan pintu masuk ke materi ajar.

“Bahkan, ada beberapa kuliah tentang sejarah Minangkabau, sejarah Silek, dan lain-lain, yang cukup bagus, tapi kami tidak bisa mengikuti karena dosennya memakai bahasa Indonesia, kadang sesama mahasiswa di sini, berbahasa Minang, tidak berbahasa Inggris,” ungkap Kristyna, yang pernah kuliah di Faculty of Fine Arts (seni murni), University of Technology, Brno, Republik Ceko. Baginya, sebagai mahasiswa asing, ISI mestinya juga menyediakan dosen yang mengajarkan Bahasa Indonesia untuk mereka, yang nantinya memudahkan mereka berkomunikasi. “Sayangnya, dosen bahasa Indonesia juga tidak ada di sini,” kata Kristyna.

Seluruh mahasiswa tersebut mengeluhkan hal ini. Mereka mengaku lebih banyak mengenal kebudayaan Jawa dan Bali, tapi hampir tidak begitu tahu tentang kebudayaan Minangkabau sebelumnya.  Sehingga ketika mereka memilih ISI Padangpanjang, dalam program beasiswa ini, justru menjadi bingung. Informasi tentang ISI dan kota Padangpanjang sangat sedikit.

“Tidak terlalu banyak buku dan informasi tentang Minangkabau. Berbeda dengan informasi tentang kebudayaan Jawa dan Bali. Pemerintah Indonesia lebih fokus pada Jawa dan Bali saja, sementara ada banyak kebudayaan menarik di Indonesia, seperti Minangkabau, Aceh, Flores, dan seterusnya,” kata Oliwia.

Rita Deiola, yang sebelumnya pernah belajar di DAMS (Drama, Art, Music Studies) di Bologna, Italia, juga mengeluhkan hal yang sama. Rita punya ketakutan tersendiri ketika lulus di ISI Padangpanjang. Dia tidak mau ke Padangpanjang mulanya. Pasalnya, Rita beranggapan, Padangpanjang, daerah yang tidak ada populasi. Jauh dari kehidupan.

“Bahkan, sampai di Jakarta, saya masih menolak ke sini. Karena tidak ada informasi tentang Padangpanjang. Tidak ada website yang bisa saya akses. Begitu juga tentang Minangkabau, tidak ada informasi dalam bahasa Inggris, yang bisa saya mengerti,” ungkap wanita yang menekuni dance therapy ini.

Program dharmasiswa ini, akan berakhir Agustus mendatang. Mereka berharap, ISI lebih baik lagi dalam mengemas informasi tentang perguruan tingginya, termasuk tentang kota dan kebudayaannya dengan bahasa Inggris, sehingga memudahkan orang mengenal kebudayaan Minangkabau. Terutama dalam hal ini, menyediakan website yang representatif. (***)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: