Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Mei 10, 2011

Reformasi Pendidikan

Reformasi Pendidikan

Oleh : Irwan Prayitno
Gubernur Sumatera Barat

IRWAN PRAYITNO

Akibatnya, lulusan lembaga pendidikan tersebut kalah bersaing merebut kesempatan kerja, lalu menjadi pengangguran terdidik. Secara bercanda mereka dijuluki ”glanter” (gelandangan terdidik).

Juga banyak lulusan lembaga pendidikan bahkan lulusan perguruan tinggi yang bekerja tidak pada tempatnya atau pada tempat yang layak. Banyak kasus kita temukan lulusan perguruan tinggi yang bekerja sebagai tukang ojek atau sopir angkot, penjual sayur, buruh kasar dan berbagai jenis pekerjaan lainnya.
Fenomena bursa kerja di Jepang misalnya, juga bisa dijadikan salah satu bukti sederhana. Setiap tahun Jepang butuh sekitar 30.000 tenaga kerja. Mereka didatangkan dari berbagai negara di Asia seperti China, Filipina, Korea, termasuk Indonesia.

Dari peluang kerja di atas hanya 0,5 persen saja yang berasal dari Indonesia. Kuota terbanyak, sekitar 80 persen berasal dari China, lalu menyusul Filipina. Kesempatan kerja terbanyak diperoleh oleh China, alasannya etos kerja dan sikap mental bangsa China jauh lebih baik.  Etos kerja dan disiplin tersebut bisa dibentuk melalui pendidikan berkarakter.

Imbalan yang diperoleh dengan bekerja di Jepang cukup menarik. Untuk lulusan SLTA dan lolos seleksi, mereka bisa memperoleh penghasilan 10 kali lipat dibandingkan penghasilan di dalam negeri untuk pekerjaan yang sama. Tentu saja pekerjaan ini jauh lebih nyaman dibandingkan bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Kebijakan Menteri Pendidikan RI Muhammad Nuh mencanangkan Pendidikan Berkarakter sebagai program nasional saat peringatan Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei lalu sungguh sangat tepat.

Pendidikan berkarakter adalah pola pendidikan yang tidak hanya mengajarkan aspek kognitif (hafalan), tetapi juga mengajarkan aspek afektif (perubahan sikap dan tingkah laku) peserta didik. Contohnya, murid tidak hanya diajarkan menghafalkan Rukun Islam, tetapi juga dibimbing memahami Rukun Islam dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Meski pendidikan berkarakter baru dicanangkan secara nasional awal bulan lalu, namun metoda pendidikan berkarakter telah lama diaplikasikan di Sumatera Barat. Lembaga Pendidikan Adzkia, misalnya,  telah menerapkan metoda ini sejak tahun 1988. SMAN 1 Padangpanjang, SMU/MA Ar Risalah Padang dan sejumlah sekolah lainnya baik swasta maupun negeri di Sumatera Barat juga telah melakukan hal yang sama.

Alhamdulillah, hasil (output) dari sekolah tersebut sangat memuaskan. Lulusan sekolah tersebut terlihat menonjol dengan ciri khas, yaitu generasi yang cerdas dan berakhlak mulia. Mereka diterima di berbagai perguruan tinggi ternama di Indonesia, maupun di luar negeri. Namun mereka juga memperlihatkan sikap dan tingkah laku yang terpuji, disiplin, etos kerja tinggi serta berakhlak mulia. Tidak bisa dipungkiri, hal ini pula yang membuat sekolah-sekolah tersebut menjadi sekolah favorit, selalu kebanjiran peminat.

Berdasarkan pengalaman, syarat mutlat yang harus dimiliki sekolah berkarakter adalah guru-guru yang juga berkarakter, disiplin, cerdas dan berakhlak mulia. Bisa diakatakan mustahil guru bisa mengajarkan akhlat mulia kepada anak didiknya jika guru sendiri tidak berakhlak mulia. Juga tidak mungkin guru mendidik muridnya untuk taat shalat lima waktu jika guru tdak shalat.

Syarat selanjutnya adalah melaksanakan sistem  full day school atau boarding school. Pada full day school adalah siswa belajar dari pagi sampai sore. Pagi hari mereka belajar sesuai standar kurikulum nasional, sore hari mereka belajar tambahan seperti materi agama, akhlak, disiplin dan sebagainya. Sistem boarding school lebih intensif lagi, siswa menginap di asrama, pendidikan formal maupun informal bisa dilakukan selama 24 jam.

Sesuai program nasional, metode pendidikan berkarakter akan diterapkan secara bertahap di semua daerah di Sumatera Barat. Keterlibatan guru, murid dan orangtua murid, serta dukungan pemda setempat sangat menentukan keberhasilan program ini. Insya Allah program ini akan membawa perubahan dan kebaikan bagi generasi kita di masa mendatang. Mari kita bangun masa depan bangsa ini melalui pendidikan berkarakter mulai dari sekarang. [Padang Ekspres • Senin, 09/05/2011 ]
————
Download artikel ini dalam format word document [klik disini]

Presentasi (slide) Kemendiknas Tentang Pendidikan Karakter pada acara Rembuk Nasional Th 2011 :

Iklan

Responses

  1. ——————
    السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته
    ——————————-
    Kenapa bangsa kita latah menggunakan istilah ” Pendidikan berkarakter” ?
    Dimana saja pendikikan dilaksanakan senantiasa menghasilkan orang yang “berkarakter”
    Apa perlu pencanangan Pendidikan berkarakter di Indonesia ? Tidakkah kita ingat sebelum indonesia merdeka saja sudah kental karakter ke-Indonesiaan. Lihat bagaimana lahirnya “Sumpah Pemuda”.
    Persoalanya sekarang adalah pebgelola pendidikan salah langkah, terlebih bagi yang tidak memahami makna pendidikan dengan baik, lebih-lebih bila pembangunan pendidikan “dipolitisir”.
    Tidak jarang kita temui, konsepnya sudah baik, tapi pada tataran implementasi jadi kacau.
    Sekarang muncul ide mereformasi pendidikan dari Irwan Prayitno, Ok. Tapi tolong jelaskan konsep mana yang salah, pada satuan pendidikan mana dan konsep barunya seperti apa serta bagaimana teknis pelaksanaannya.
    Kita telah sepakat menjalankan perubahan untuk kebaikan.

    Wassalam

  2. Komentar dari Pak Harry Santoso di millist “pakguruonline” sbb:

    Salam pendidikan masa depan,

    Saya sangat setuju bahwa pendidikan berkarakter adalah solusi bagi sebuah bangsa yang bermental “koeli”, dimana kebijakan-kebijakannya negerinya “tidak berdaulat” dan sering tidak berpihak pada keadilan rakyat, apalagi budaya KKN nya menjadi tradisi menggurita para elite penguasa dan elite politik yang menggerogoti asset materil dan moril Bangsa ini.

    Membaca artikel ini, saya merasa ada yang tidak selaras antara konsep pendidikan berkarakter dengan proses pembelajarannya dan kemudian ukuran-ukuran output, outcome serta impact keberhasilan pendidikan berkarakter.

    Sependek yang saya tahu, salah satu keberhasilan pendidikan berkarakter adalah kemanfaatan pendidikan bagi masyarakat sekitar bukan jumlah kelulusan siswa dengan deretan nilai NEM. Muatan2 karakter seperti leadership, empathy, brave dll tertuang dalam satu kata, “memberi manfaat”. Sebagaimana ucapan Imam AlGhazali, sebaik-baik ilmu adalah yang bermanfaat bagi kaumnya.

    Misalnya, ukuran keberhasilan pendidikan berbasis karakter berbeda dengan ukuran pendidikan berbasis akademis. Tidak bisa diukur bahwa sekolah yang full akademis mengejar prestasi nilai apalagi direncanakan fullday, berujung kepada akhlakul karimah (karakter mulia). Begitu pula sebaliknya pendidikan yang misalnya 90% berbasis karakter, tidak kemudian serta merta memiliki kelulusan dengan rata NEM 9.9.

    Ukuran kelulusan berupa NEM bukan serta merta menunjukkan bahwa siswa di tempat itu memiliki kemampuan technopreneur sebagai ukuran enterpreneuship dan leadership dalam technology sebagai bagian dari akhlakul karimah.

    Yang saya kenal dari pendidikan berbasis karakter bahkan tidak berfokus kepada hasil nilai, tetapi kepada proses pembelajaran yang mampu membangun komponen2 karakter dalam belajar, bukan pelajaran itu sendiri. Guru2 inspiratif dan kreatif lebih banyak dibutuhkan dalam pendidikan berbasis karakter, bukan guru2 kognitif yang mentransfer knowledge semata.

    Dengan kurikulum akademis yang padat, dan guru2 kognitif yang dikejar utk menuntaskan kurikulum, saya pasti ragu bahwa pendidikan berbasis karakter dapat terpenuhi.

  3. saya setuju dengan pendidikan karakter, yang paling penting bagi kita aplikasinya dalam dunia pendidikan dan bagaimana menerpakan di sekolah sehingga pendidikan karakter tidak merupakan teori teori yang dapat dibaca dan dihapal tapi sukar untuk diaplikasikan dalam kehidupan

  4. “Kognitif berbasi karakter yang kuat”.

  5. Selamat Datang “Pendidikan Berkarakter”
    Hallo SMA 1 Propinsi di Padangpanjang

    Sebagai seorang pendidik, saya gembira dengan berbagai upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu hasil pendidikan. Ini kelihatan dari usaha ‘penyempurnaan’ kurikulum dan perbaikan proses belajar mengajar di kelas yang berkelanjutan.
    Sebut saja kurikulum 1968, 1974, 1978, 1980, 1984, 1990, 1994 dan seterusnya. Ada pendekatan pola PPSI, PKG, Keterampilan Proses, Kebermaknaan, KTSP, Teacher Centered Teaching, Student Centered Teaching.

    Adapula berbagai ‘titipan’ yang coba dimasukkan kedalam kurikulum yang sudah ‘gemuk’ itu seperti pendidikan etika, kesadaran berlalulintas, konservasi alam, dan mitigasi bencana alam. Karena yang dititipkan itu memang terasa penting semua, seperti “pendidikan karakter bangsa” maka banyak suara guru terdengar lirih; kalau ia akan dimasukkan juga (pendidikan karakter), sebaiknya di integrasikan saja ke dalam beberapa mata pelajaran tertentu. Belum jadi tuntas suatu pengintegrasian sampai kepada pemahaman yang memadai di pihak guru, boncengan baru muncul pula. Ini membuat para guru pusing dan linglung menyiapkan ‘administrasi’ penyajian bahan ajar.

    Yang saya cemas dan ragukan dari pendidikan karakter ini adalah kalau dia masuk hanya karena mau sekedar memasukkan saja untuk membuat semacam kegiatan keproyekan. Pada saatnya nanti akan muncul pula suatu ‘boncengan’ baru untuk ditumpangkan ke dalam kurikulum, lalu yang datang terdahulu dilupakan saja. Inilah yang terjadi dengan PKG, pendekatan kebermaknaan.
    Kita berharap pendidikan karakter ini tidak akan mengalami nasib sama seperti berbagai ‘perbaikan’ dan boncengan kurikulum terdahulu.

    Membuat sekolah tidaklah sulit. Yang berat adalah membuat sekolah bermutu dan mempertahankannya, agar selalu menjadi sekolah bermutu, dan siswanya berkarakter baik.

    Gubernur telah mendeklarasikan berdirinya SMAN 1 Propinsi Sumbar di Padangpanjang, nanti tentu akan lahir pula: SMAN 2 dan SMAN 3 Propinsi Sumbar di kabupaten atau kota yang lain. Seperti galibnya penanganan sekolah di era otoda; dimana manajemen dan nuansanya bisa berubah seiring terjadinya pertukaran pucuk pemerintahan di kabupaten kota. Apakah nanti tidak akan terjadi pula perubahan tak berpola, alias tidak dengan tolok ukur (bench marking) yang jelas? Tentu tidak ada yang bisa menjamin…!?

    Oleh karena itu, menurut saya; mulai pagi-pagi ini hendaknya Disdikpora Propinsi telah membuat setting pola berkelanjutan yang menjamin bahwa “sekolah unggulan berasrama” milik rakyat Sumbar itu tetap berada di tangan manajemen dengan keahlian terukur. Seleksi guru dan kepala sekolahnya haruslah terjamin ‘ke-ajek-kannya’. Dengan begitu tidak akan terjadi; Si A diturunkan dari posisinya sebagai kepala sekolah, diganti dengan si B yang lebih disukai oleh ‘tim sukses’ pucuk pimpinan yang baru. Bila kecendrungan ini tidak diantisipasi dan dibendung, maka sia-sialah uang rakyat, dan pendidikan karakter bangsa tidak akan berarti apa-apa.

    Selamat.

    • Pak Fekry, Yth.

      Mohon informasi, apakah Bpk. Kepala Disdikpora Prov. Sumatera Barat yang baru menjabat ini tahu keberadaan media (weblog) kita ini..?, jika sekiranya belum, seyogiyanya Pak Fekry infokan kepada beliau, dan ajak untuk bergabung (di mailinglist “pakguruonline:), agar pembicaraan atau diskusi ini bersambut…:))

      Wassalam,

      Zulfikri
      (mantan staf Disdikpora Prov. Sumbar)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: