Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Mei 16, 2011

Menjaga Moral Bangsa

Menjaga Moral Bangsa

Oleh : KH Tengku Zulkarnain

Suatu hari, di akhir tahun 70-an, seorang ibu menggandeng anak gadisnya melangkah masuk ke dalam sebuah bioskop paling elite di Kota Medan. Tepat di sebelah dalam, dua orang penjaga pintu bioskop itu menahan mereka masuk karena curiga bahwa sang anak belum berusia 17 tahun, sesuai dengan batas usia film yang sedang diputar di situ. Terjadilah pertengkaran antara sang ibu dan kedua orang penjaga pintu tersebut. Di akhir pertengkaran, sang ibu diminta menunjukkan KTP si anak gadis, dan dia gagal melakukannya. Akhirnya, ibu dan anak yang bersekongkol ingin menabrak aturan batas usia menonton film 17 tahun itu pun pulang sambil marah-marah.

Betapa terharunya kita melihat dua orang penjaga pintu bioskop saat itu yang sedemikian kuat rasa tanggung jawabnya untuk menjaga moral anak bangsa. Padahal, mereka justru makan gaji dari hasil penjualan karcis. Kedua penjaga pintu bioskop itu bukanlah berpendidikan tinggi.

Di akhir tahun 60-an, Pemerintah Orde Lama pernah melarang sebuah lagu yang menceritakan seekor rusa jantan bunuh diri terjun ke jurang, setelah aksi protes yang dilakukan para ulama seluruh Indonesia. Isi syair lagu itu dikhawatirkan memicu remaja putus cinta melakukan bunuh diri. Sebelum itu, Pemerintah Orde Lama juga telah memberangus seluruh lagu yang berbau imperialisme asing karena khawatir dapat melunturkan semangat nasionalisme.

Pada tahun 80-an, Menteri Penerangan Orde Baru, Harmoko, pernah menarik peredaran sebuah lagu yang syairnya bercerita tentang seorang istri yang kerap ditampar oleh suaminya. Padahal, lagu tersebut menempati tangga pertama lagu terpopuler di Tanah Air. Di akhir masa jabatannya, beliau juga pernah menarik dari peredaran sebuah lagu paling populer lainnya, yang isi syairnya mengajak orang untuk melakukan kawin-kawinan alias nikah secara tidak sah.

Di mata mereka yang mendewa-dewakan hak asasi tanpa batas, semua tindakan di atas dianggap sebagai pelanggaran HAM. Di sisi lain, tidakkah tersadari sebuah niat tulus manusia-manusia di zaman itu yang masih memiliki rasa tanggung jawab untuk menjaga moral anak bangsanya. Terbukti, saat itu mereka yang resah atas kerusakan moral merata dari mulai atas, pihak pemerintahan resmi negara, sampai penjaga pintu bioskop sekalipun.

Keadaan sekarang ternyata bertolak belakang. Merebaknya kasus pornografi dengan segala akibatnya di Tanah Air ini hampir tidak mendapat tanggapan yang berarti. Suara-suara yang ingin melindungi moral anak bangsa nyaris tidak terdengar. Tayangan TV dan media massa yang cenderung menampilkan artis seksi sampai beredarnya film-film porno secara luas di masyarakat hampir tidak mendapat rintangan yang berarti pula. Padahal, Undang-Undang Antipornografi telah disahkan. Namun, undang-undang itu mandul, karena peraturan pemerintah (PP) tentang undang-undang itu tak kunjung diterbitkan. Pemerintah dinilai telah melalaikan tanggung jawab menjaga moral anak bangsa. Apakah kita tak lagi menganggap pornografi sebagai perusak moral bangsa? Kemanakah nurani dan moral para pemimpin di negeri ini? Wallahu a’lam.

Berita sebelumnya :


Responses

  1. Kebanyakan Warga Negara Barat Sesalkan Liberalisme Sendiri

    Benar pula KH Tengku Zulkarnain, ini…
    Salut untuk beliau, dan terimakasih untuk redaktur PGOL yang telah tulisan beliau.

    Dimasa era “industri informasi” sekarang memang informasi dan segala kreatifitasnya yang tak bertapis dengan sangat gampang beredar dan merebak menjangkau siapa saja, tak terkecuali kepada anak balita sekalipun. Tapis dan filter itu semakin diharapkan dari para orang tua dan pendidik semata. Pemerintah sepertinya tidak lagi figur yang bisa diharapkan. Terlebih kalau pemerintah itu telah dirasuki oleh paham liberal yang mendalam, sebelum dia sendiri sempat memberikan penghargaan yang selayaknya terhadap nilai-nilai agama dan tradisi yang telah ada sejak semula jadi di tengah masyarakat kita sendiri.

    Kebanyakan warga negara barat yang berpikir tentang pendidikan anak mereka merisaukan nilai liberalisme yang mereka anut. Di dalam hati mereka tersirat pengakuan bahwa gaya pendidikan ketimuran lebih bagus untuk generasi mereka selanjutnya. Di sayangkan, kita malah berpikir sebaliknya.

    Kita terpikat dengan hasil industri dan gaya hidup barat. Mereka memang mempunyai taraf ekonomi yang lebih tinggi, kota dan kampung mereka bersih, rakyatnya sadar hukum, dan pendidikan mereka menghasilkan warga yang menghargai ‘kebhinnekaan’.
    Dampak dari ini semua: kehidupan berke-keluargaan menjadi renggang. Rasa hormat kepada orang tua hanya sekedar memenuhi norma hukum saja. Kehidupan nafsi-nafsi yang mengedepankan ego pribadi sangat menonjol. Tingkat korupsi memang rendah. Akan tetapi orang “baik hati” seperti Edi Tansil, Anggodo dan Gayus, yang mau bagi-bagi uang panasnya juga jarang ada di negara Barat. Tokoh heroik seperti Zorro, dan Superman hanya ada di dalam cerita komik saja.
    Melinda Dee cepat tertangkap, konon karena dia hasil didikan barat, dan tak mau bagi-bagi untuk orang susah…! He he he…

    Seorang teman (di Australia) mengatakan kepada saya; bahwa hidup bersih tanpa sampah bertebaran, dan tinggal serumah tanpa menikah mulai berkembang dengan ‘bagusnya’ sebagai produk dari pendidikan liberal itu, di awal tahun 70-an, katanya. Pertengahan tahun 1990-an kawan (dengan dua anak perempuan) itu telah mulai menyesali kebijakan negaranya. Dia berkunjung ke Indonesia untuk melakukan penelitian; bagaimana masyarakat Islam memberikan pendidikan bagi anak perempuan mereka.
    Namun dia tetap pesimis akan kemungkinan adanya arus balik pendidikan mereka kembali ke nilai yang benar dan cocok untuk mencapai penghargaan yang tinggi kepada kehidupan berke-keluargaan, kembali. “Kami telah sesat terlalu jauh…” lirihnya.

    Fekry Nur, Pengawas Sekolah Sumbar

  2. Pemerintah harus diingatkan terus supaya awas dan berusaha keras untuk menjaga generasi muda agar tidak terperosok ke jurang kahancuran. Tokoh-tokoh masyarakat dan orang tua juga harus kritis terhadap kelalaian pemerintah dalam menjaga kehancuran moral bangsa ini. tq


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: