Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Mei 18, 2011

Menyoal Tingkat Kelulusan UN di Sumbar

Menyoal Tingkat Kelulusan UN di Sumbar

PDF Cetak Surel
Rabu, 18 May 2011 03:11
Harian Haluan – Sumatera Barat be­ra­da di ranking 28 dari 33 provinsi setelah pengumuman Ujian Nasional (UN) 2011 tingkat SMA/MA/SMK disampaikan. Pering­kat oleh banyak ka­langan disebut pres­tasi mengecewakan. Apalagi provinsi te­tang­ga, yaitu Riau, mampu berada di posisi enam. Selanjutnya sebanyak 1.167 siswa dari 43.211 siswa kita tidak lulus. Sumbar akan segera melakukan evaluasi terhadap penye­lenggaraan UN tersebut, sehingga diketahui penyebab banyaknya siswa yang tidak lulus.Usai evaluasi, diharapkan ada sebuah program guna membantu para siswa dalam menghadapi UN.Selanjutnya, sebagai provinsi yang disebut sebut sebagai “industi otak”, menyoal pendidikan daerah ini tidak akan pernah habis-habisnya. Mulai dari masih tingginya angka buta huruf hingga rendahnya mutu lulusan sekolah. Hingga pengumuman UN kemaren, baru ada  satu kalimat yang bisa disimpulkan, pendidikan Sum­bar be­lum membanggakan secara kolektif. Sa­tu dua orang saja prestasi­nya me­lampaui angan- angan kita, jauh me­lesat melampaui mimpi kita semua.Bicara pendidikan Sumbar, maka kita berbicara empat hal, pertama siswa, kedua guru, ketiga masyarakat termasuk orang tua dan keempat pemerintah dalam hal ini secara khusus mungkin Dinas Pendidikan Sumbar dan kabupaten/kota. Siswa, guru, masyarakat dan pemerintah ada­lah segi empat yang diharapkan dapat menciptakan pendidikan lebih baik, tapi sebaliknya keempatnya pu­la yang akan menentukan jeblok­nya mutu pendidikan, mutu pendi­di­kan yang hingga kini baru bisa diu­kur dalam bentuk angka angka saja.Selama ini keempatnya seolah telah sepakat, bahwa salah satu target sekolah adalah “tamat”, bukan “tamat berkualitas”. Siswa adalah objek pendidikan, baik yang dikelola secara formal maupun non formal, semisal pelatihan atau yang terga­bung dalam BLK dan sejenisnya. Siswa kita dengan silabus pendidikan yang demikian terencana dari pusat ditambah materi lokal, dihadapkan pada dilema UN.

Penyakit lama siswa kita adalah belajar kebut semalam yang dulu dikenal dengan singkatan SKS. Belajar SKS bermacamlah bentuknya, ada yang membuat contekan, jimat atau catatan tersembunyi lainnya. Atau ada yang fokus pada upaya menguasai materi dalam satu malam. Satu dua memang ada yang mem­persiapkan sejak jauh, inilah orang orang yang akan melampaui mimpi mimpi masyarakat Sumbar yang hanya sekedar tamat belaka itu. Ternyata motivasi siswa kita seder­hanya saja menghadapi ujian, yakni lulus, baik dalam UN atau jika bagi kelas X dan XI adalah naik kelas. Motivasi sederhana yang kemudian mengakar dan mendarah daging bagi siswa kita hingga kini.

Selanjutnya guru. Kapanpun ditanya, maka salah satu yang akan membuatnya bangga adalah bila seratus persen siswanya naik kelas, atau seratus persen siswanya lulus UN. Sama dengan siswa, ternyata lulus dan tamat adalah salah satu motivasinya. Motivasi yang juga sudah mengurat mengakar. Para guru belum terlalu banyak menyinggung hal lain dari kelulusan seratus persen, karena beban untuk itu terlalu berat dan memu­singkan. Motivasi guru sering mentok hanya pada tataran keinginan untuk lulusnya anak didik seratus persen.

Harapan agar pendidikan terse­leng­gara dengan baik juga tertumpang pada masyarakat. Maka masyarakat diharapkan mampu memberikan dorongan kepada siswa agar proses belajar mengajar bisa terlaksana, dukungan itu bisa dalam bentuk materi atau non-materi. Kedua duanya sama sama mendukung pendidikan, baik buruknya lingku­ngan sekolah juga tergantung masya­rakat disekitar sekolah berada.

Terakhir pemerintah. APBD menuju angka 20 persen untuk pendidikan, meski pemerintah hanya numpang nama pada program peme­rintah pusat, karena dana yang dianggarkan sendiri oleh pemerintah provinsi dan kabupaten sebenarnya tidak seberapa untuk pendidikan.

Demikian keempatnya seolah-olah telah bulat soal lulus dan tamat. Bulatnya malah tidak lonjong dan sumbing. Kelulusan sekian persen yang diharapakan pada segi empat pendidikan Sumbar menunjukan betapa sederhananya target yang dicapai. Sangat jarang siswa berbicara soal mutu, sangat jarang guru bicara mutu, sangat jarang masyarakat kita bicara mutu dan sangat jarang pemerintah kita berjanji akan memperbaiki mutu pendidikan.

Rasanya inilah penyakit kita di Sumbar, bersekolah hanya untuk tamat, terlalu sederhana, belum terlalu jauh menuju capaian kualitas. Logikanya jika lulus, belum tentu nilainya baik, belum tentu siswa bisa memenuhi persyaratan masuk pergu­ruan tinggi atau persyaratan kerja. Namun jika target ini ditingkatkan yakni dari sekadar lulus dan tamat menjadi lulus berkualitas, maka pasti muridnya lulus, pendidikan berkua­litas pasti bisa melengkapi persya­ratan untuk melanjutkan pendidikan dan bersaing.

Maka wajar kiranya, karena mind set segi empat penyokong pendidikan kita belum menuju perbaikan kualitas, tidak seberapa lulusan SMA/SMK apalagi didaerah bisa duduk di perguruan tinggi yang membutuhkan penyeleksian ketat. Selama target keempat pilar itu sekedar lulus dan tamat saja, maka selama itu pula pendidikan kita akan seperti ini saja, berada diurutan bawah sepanjang tahun. Lulusan sekolah kita sulit bersaing kepergu­ruan tinggi negeri, lulusan sekolah kita sulit menembus lapangan kerja. Lalu lulusan sekolah kita di Sumbar pada akhirnya menjadi pengangguran, menjadi beban bagi keluarga, menjadi beban bagi nagari, menjadi beban bagi kabupaten dan provinsi.

HARIDMAN KAMBANG
—————————-

Berita lainnya baca Harian Haluan Digital [klik disini]


Responses

  1. Berita tersebut di atas sangat bagus. Kalau kita mau (dalam Istilah Pak Marjohan sebagai cermin). Proses pengelolaan sebagai sebuah sistem, maka para pengawas tentu sudah tahu kerusakan komponen sistem.

    Kalau pengawasan sudah jalan dengan baik tentu sejak dini sudah diketahui komponen mana yang rusak atau komponen mana fungsinya tidak jalan. Juga sudah di ketahui pula faktor apa yang masih kurang. Sehingga dengan pengetahuan itu tindakan preventifnya dapat dilakukan.

    Bila pengawasan sudah jalan dengan baik, dan tindakan sudah diupayakan dengan baik maka kita harus rela menerima kelemahan kita. Kita mungkin sudah seharusnya menerima kelelahan dalam berkompetisi.

    Kita juga bertanya, pendidkan yang berstandar apa yang anjlok ? Apakah yang berstandar biasa (lokal), berstandar Nasional atau yang berstandar Internasional ?

  2. Sekarang yang terjadi dalam lingkungan kecil yang saya lihat untuk pendidikan adalah

    “guru berharap bantuan orang tua utk mendidik anak”, dan “Orang tua juga hilang akal dalam mendidik anak”, “Stake holder pendidikan terkesan hanya pintar/ fokus pada pembangunan infrastruktur”

    “Sebagian siswa yang pintar” ibarat katak dalam tempurung, tidak tahu di atas langit ada langit. Makanya anak anak dan siswa jangan banyak dikurung di rumah dan di sekolah namun mereka perlu melakukan eksplorasi yang jauh. Eksplorasi mereka jangan hanya sampai ke mall-mal sanya, kalau boleh mereka bisa sharing dg tokoh tokoh sukses dan tokoh yang punya semangat hidup

    Secara teratur datangkanorang orang rajin, orang orang sukses, orang orang yang punya visi hidup ke sekolah dan kampus. Selama ini kan yg mengisi kognitif mereka adalah para guru dan dosen yang cuma hafal teori dan bengong dengan realita.

    Pemimpin kita, pejabat, para kepala instansi, sampai kepada kepala rumah tangga sangat peduli pada mengejar PERMORMANCE dan mengabaikan COMPETENCE


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: