Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Mei 20, 2011

Pemberian Label Untuk Membentuk Kualitas Bangsa Kita (Label kota-kota di Sumbar mungkin perlu update ?)

Pemberian Label Untuk Membentuk Kualitas Bangsa Kita
(Label kota-kota di Sumbar mungkin perlu update ?)

Oleh: Marjohan
Guru SMAN 3 Batusangkar

Saat kecil kita semua sudah diberi nama. Kemudian selama bergaul dengan teman-teman sebaya, melalui gurauan, mereka memberi kita “label” atau gelar “sang jagoan, si ganteng, si play boy, si unyil, si kerdil, si centil” dan seterusnya. Label yang diberikan teman-teman tadi ada yang terasa menyenangkan, menyakitkan atau memberi kesan-kesan khusus. Sering seorang anak yang sudah punya nama bagus di rumah, namun memiliki nama keren lainnya.

Label–label yang diberikan sering menggambarkan karakter fisik atau karakter kepribadian seseorang, “Si unyil atau si supermen”. Dahulu karakter fisik sering terasa menyakitkan, coba dengar pemberian label pada seseorang dengan karakter fisik “si lumpuh, si buta, si unyil, si gendut,si layu, si langsing”. Kemudian label dengan karakter kepribadian seperti “si Tomboy, sang macan, si kuat, si penakut, si pengecut, si playboy”, dan seterusnya.

Ternyata tidak hanya teman-teman, keluarga dan termasuk orang tua juga kerap kali memberi anak label sebagai panggilan harian “si bungsu…si gemuk..”. Oleh sebab itu ada anak yang lain namanya, lain pula panggilannya. Terlahir bernama Harpen, setelah besar bernama kote- alasannya karena tubuhnya agak kerdil. Atau terlahir bernama Naser, setelah besar bernama “gadang kapalo atau kepala”. Juga tidak dapat dipungkiri bahwa gelar adat dalam masyarakat Minangkabau juga punya label berhubungan dengan karakter fisik “Datuk Panjang lidah (karena pintar ngobrol), mak anjang (paman bertubuh panjang), mak itam (paman bertubuh hitam), Datuk garang (datuk yang pemarah).

Ternyata label juga dikaitkan untuk produk alam (hewan dan tanaman). Label “Bangkok” berarti kualitas hebat, seperti “ayam Bangkok, papaya Bangkok, atau durian Bangkok”. Label “unggul” juga diserbu oleh konsumen karena berkualitas bagus, seperti ‘jagung unggul, sapi unggul, atau bibit unggul  lainnya. Label unggul juga dikaitkan dengan institusi pendidikan seperti “SMP unggul, SD unggul atau SMA unggul”. Maka orang tua berduyun-duyun menyerahkan anak agar bisa  didik  menjadi unggul.

Selanjutnya “label” juga dikaitkan dengan geografi- nama negara, daerah atau kota. Negara tirai bambu adalah label untuk Cina. Negara gajah putih untuk Thailand, mata hari terbit untuk Jepang, Ke dalam negeri, maka Sulawesi diberi label dengan daerah “nyiur melambai” dan  Papua atau sebagai daerah kepala burung atau mutiara dari timur.

Di Sumatera Barat,dan tentu juga di propinsi lain, kota-kota juga punya label. Kota batiah untuk Payakumbuh, kota hujan untuk Padang Panjang, kota jam gadang atau kota wisata untuk Bukittinggi, kota budaya untuk Batusangkar, kota beras untuk Solok  dan kota batubara untuk Sawahlunto. Sekarang kota-kota punya label sesuai dengan visinya. Coba lihat contoh berikut:

Padang kota tercinta- kujaga dan kubela. Semarang kota Atlas (aman, tertib, lancar, asri, sehat). Bandung kota berhiber (bersih, hijau, bermartabat). Palembang sebagai kota wong kito. Slogan atau label ini kesannya biasa-biasa saja. Malah ada kesan bahwa labelnya terlalu dipaksakan. Bukan maksud merendahkan negara sendiri, negara lain kok enak label atau semboyannya . Malaysia is truly Asia, Paris est luminous ville (Paris kota bermandikan cahaya). Atau, Madinah al-Munawarah- Madinah kota bermandikan cahaya. Kota-kota besar di Eropa tubuh menjadi kota popular di dunia gara-gara menggunakan nama atau merek (Brand of city).

Sekarang beberapa kota besar di Indonesia juga sudah menggunakan label baru. Label tersebut terkesan puitis dan memakai bahasa Internasional (Bahasa Inggris). “Enjoy Jakarta, Jogja: Never ending Asia, Semarang: The beauty of Asia, Makassar: Great expectation city”.  Sehingga kata kuncinya juga mudah diakses pada google, jadi menjadi kota yang juga eksis di dunia cyber. Namun bagaimana dengan kota-kota di Propinsi kita seperti: Padang, Bukittinggi, Payakumbuh, Solok dan kota lainnya. Apakah masih bertahan denghan label lama ?

Pemberian label yang pas di telinga dan selera menimbulkan imej positif. Paris yang diibaratkan sebagai tempat yang terang benderang telah membuat hati banyak pengunjung dari penjuru dunia untuk bergerak ke sana. Bali sebagai pulau sorga telah mendorong minat wisatawan manca negara untuk bertandang ke sana. Orang Eropa akan merasa benar-benar berada di Asia kalau telah bermalam di Malaysia, sebagaimana labelnya adalah Malaysia is truly Asia.

Kecendrungan orang adalah selalu mencari label atau merek. Diceritakan oleh seseorang bahwa tatkala ada businessman Singapur datang ke Bukittinggi. Secara kebetulan menemukan konveksi pakaian berkualitas sangat bagus namun belum punya merek/ label dan harganya pun cukup murah menurut mata uang dollar Singapore. Produk tadi diborong dan dibawa ke Singapore. Di sana pakaian atau garment tadi diberi label/ merek “made in Singapore”. Pakaian berlabel “made in Singapore” tadi dipasarkan ke Jakarta dan termasuk ke tempat asalnya. “luar biasa pakaian tersebut malah menjadi sangat laris- label bisa bikin laris”. Cerita tersebut menggambarkan bahwa betapa banyak orang yang demam dengan produk berlabel.

Pemberian label juga dikaitkan dengan karakter orang-orang populer. Margaret Thacher (Mantan PM Inggris) disebut sebagai wanita bertangan besi. Mc Tyson (mantan Petinju dunia) disebut juga sebagai ‘Si Leher Beton”. Diego Maradona diberi label ‘Tangan Tuhan”, gara –gara tangannya membuat bola gol ke gawang namun tidak terlihat oleh wasit. Presiden Suharto diberi label dengan “The Smiling General”, HB Yasin labelnya adalah Paus Sastra, dan lain-lain.

Pemberian gelar atau label juga terdapat dalam ajaran agama kita (Islam). Orang-orang Kuraisy memberi Rasulullah SAW gelar (label) sebagai “Al Amin” atau orang yang terpercayai. Salah seorang sahabat Rasul yang penyayang dengan kucing diberi gelar “Abu Hurairah”. Al-Quran (surat Al-Hujurat:1) mengatakan bahwa janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, bisa jadi yang diperolokan tersebut lebih baik, jangan mencela diri dan juga jangan memanggil dengan gelar (label) yang buruk.

Pemberian label harus bersifat positif. Seperti yang dijelaskan oleh Al Quran- jangan memanggil dengan panggilan jelek. Lagu “burung kakak tua, hinggap di jendela, nenek kusudah tua, giginya tinggal dua” dahulu sempat popular di semua sekolah Taman Kanak-kanak, ternyata memberi citra negative terhadap label sang nenek: yaitu “nenek tua giginya tinggal dua”. Syukur lagu dan label sudah dihentikan, kalau tidak sang cucu akan memperolok-olokan nenek dan memanggilnya “Nenek ompong”.

Pemberian label positif bisa memberikan  efek yang sangat dahsyat. Beberapa siswa di sekolah diberi label sebagai “siswa unggulan- siswa berkualitas” akan selalu menjaga citra, jati diri dan bersemangat dalam belajar. Seorang remaja yang sudah diberi gelar adat dengan sebutan “malin atau orang siak/ orang sholeh” telah menjaga pencitraan dirinya- cara berpakaian, cara bertindak dan cara berkomunikasinya. Ya sesuai dengan label gelar adatnya “malin atau orang sholeh”. Kemudian, Sang motivator Mario Teguh yang sering tampil setiap Senin malam di Metro Tv dalam acara golden ways selalu menyapa penotonnya dengan label “para sahabat yang super” sehingga sang penonton merasa dimuliakan, dinomorsatukan hingga  selalu khidmat mengikuti acaranya sampai selesai.

Pemberian label tentu juga harus diikuti dengan pembentukan karakter. Pemberian label yang pas di telinga seperti “Bali a paradise island, Jogja Never Ending Asia, Enjoy Jakarta, Palembang Wong Kito” telah membuat pertumbuhan pesat untuk daerah ini dan dikunjungi oleh banyak orang.

Pemberian label pada siswa oleh guru dengan pribadi yang hangat seperti “hallo anak rajin, sang juara, pemuda super, si cantikku..!!!” telah membuat para siswa merasa begitu berarti, hingga mereka terpiju belajar penuh semangat. Sementara pemberian label negative oleh orang tua pada anak atau oleh guru pada siswa, seperti “anak pemalas, anak keras kepala, si blo-on, sib ego, si letoy, sang pembohong…” telah membuat sang anak atau sang siswa membenci orang-tuanya, membenci rumahnya sendiri, membenci pelajaran, membenci guru hingga membenci sekolah dan lari dari sekolah.

Aku malas pulang…. ibu memberiku dengan label negative, aku malas ke sekolah…percuma saja karena aku sudah memperoleh label negative”. Pemberian label negative punya potensi besar menghancurkan masa depan seseorang. Untuk itu patut untuk  diingat oleh pendidik (guru dan orang tua) “Stop untuk memberi anak dengan label negative”.

Nenek moyang orang Minangkabau memberi label Luhak Tanah Data “buminyo nyaman, aienyo janiah ikannyo banyak. Luhak Limo Puluah Koto  “buminyo sajuak, aienyo janiah, ikannyo jinak”. Bisa dijadikan Bahasa Inggris juga bisa keren kedengarannya. “Tanah Datar Regenty- a Peaceful land, clear water with plentiful fishery. Lima Puluh Kota Regency- a green Earth, clear water with delicateful fish”.

Dari uraian di atas dapat disimpulakan bahwa pemberian label sangat penting, karena bisa membentuk citra diri dan kualitas. Yang harus dihindarkan adalah pemberian label yang bercita negative. Propinsi Sumatera Barat juga butuh label yang harus bersifat “go internasional”. Khusus untuk kota-kota di Sumatera Barat, terasa bahwa labelnya biasa-biasa saja. Bila kota-kota tersebut ingin dikenal orang secara internasional maka tentu baru label atau merek yang pas di telinga dan di hati warga.
————-
Download artikel ini dalam format word document [klik disini]


Responses

  1. ————
    السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته
    —————————–
    Pemberian label itu sangat bagus juga. Dapat juga saya tambahkan;
    Tapi ingat, Orang barat lebih suka memberi label bangasa kita. Kalau ada tokoh atau pemimpin kita yang keras dan tegas pendiriaannya, lantas dia menyatakan berontak terhadap penjajah, maka tokoh itu di beri label dengan nama binatang.

    Kita ingat sejarah ? Kita kenal dengan Harimau delapan, kita dengan “singa dimeja” atau singo di mejo, “Ayam jantan dari timur “. Kalau di Timur Tengan kita kenal label “Singa Padang Pasir” Bapak Kucing (Abu Hrauirah) dan sebagainya. Kalau ada yang cerdik ya boleh di beri label “Kancil”.

    Pada era kemerdekaa/reformasi khususnya lagi pemain sepak bola kita berlabel “Kerbau sirah” Termasuk juga Banteng mulut putih.

    Kenapa orang barat suka memberi label seperti itu ?
    Menurut pandangan orang barat orang-orang yang ada di tanah jajahan masih bodoh dan dungu seperti binatang. Setiap kelompok binatang tentu ada jagonya yang mampu berkelahi atau menantang musuh. Bila komunitasnya terganggu akan muncul tokohnya itu yang akan menggerakan perlawanan.
    Dengan serta merta dilihat karakter tokohnya, terus dicari padanannya dengan kegesitan binatang jogo-kelahi. Makanya paklawan kita (masyarakat jajahan) senang juga diberi label seperti itu.

    Atau memang seperti itu yang dimaksud oleh Pak Marjohan ?
    Jadi sekarang masih pantas juga label yang kita berikan seperti itu.

    Salam untuk semua….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: