Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Mei 20, 2011

Prosentase Lulus Bukan Ukuran

Prosentase Lulus Bukan Ukuran

Bila banyak yang menghujat tentang tingkat kelulusan ujian nasional, Rektor UNP, Prof. Z. Mawardi Effendi berpendapat sebaliknya. Baginya, keberhasilan dunia pendidikan tidak dapat diukur hanya dari prosentase kelulusan.

“Kelulusan oke, tapi prosentase tidak bisa jadi ukuran mutlak sebuah keberhasilan,” katanya menjawab Singgalang, Kamis (19/5).

Kelulusan dengan prosentase menurutnya bisa berpeluang untuk terjadinya kecurangan. “Kalau keberhasilan sebesar 95 persen dengan kejujuran itu bagus, ketimbang 99,1 persen dengan ketidakjujuran,” sebutnya.

Dalam pandangannya, kelulusan UN tahun ini yang mencapai 95 persen sudah sesuatu yang bagus. Kegagalan sebesar lima persen dinilai sesuatu yang wajar. “Dulu zaman saya sekolah, kami lulusnya hanya 43 persen, tidak ada yang meributkan,” sesalnya.

Dia juga menyesalkan banyak pihak yang mempersalahkan kalangan penyelenggara pendidikan di daerah ini terkait posisi Sumbar dalam kelulusan UN yang bertengger pada posisi 28 dari 33 provinsi. “Mempersalahkan kalangan pendidikan menurut saya itu sudah sangat keterlaluan,” ujarnya.

Dia kembali menekankan apa yang dilakukan kalangan pendidik di Sumbar sudah berjalan cukup bagus. Jika kemudian masih tersisa lima persen anak yang tidak lulus, sistem penyelenggaraan pendidikan malah memiliki opsi bagi anak-anak tersebut. “Mereka bisa memilih paket C bila tak ingin mengulang satu tahun lagi. Kalau mengulang apa salahnya,” katanya.

Untuk terjadinya peningkatan pendidikan, pemerintah dan jajaran penyelenggara pendidikan menurut Didi-sapaan akrabnya sudah melakukan yang terbaik. Mulai dari peningkatan anggaran menjadi 20 persen, juga melakukan kejujuran daripada mengejar prosentase dengan kecurangan,” pungkasnya.

Seperti diberitakan Singgalang sebelumnya, Sumbar pada UN SLTA 2011 berada pada posisi enam terbawah dengan jumlah siswa tidak lulus mencapai 1.167 orang. Secara nasional, Bali berada pada posisi teratas dalam menghasilkan lulusan SLTA tahun ini.

Bentuk tim

Sementara itu, Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno memerintahkan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Sumbar, Syamsul Rizal membentuk tim untuk menganalisis, penyebab turunnya rangking hasil ujian nasional Sumbar tahun dibanding tahun lalu.

“Tim ini akan mencari tahu penyebab turunnya hasil UN tingkat SMA, kemudian kita akan carikan solusinya. Dengan begitu hasil UN tahun depan bisa meningkat dari sekarang,” terang Irwan kepada wartawan di gubernuran, Kamis (19/5).

Dipaparkannya, hasil penghitungan UN Sumbar sampai hari ini belum selesai (kemarin-red), karena masih ada sekolah yang belum selesai mengolah nilai dan mengumumkan hasil UN. Akibatnya data secara resmi tentang posisi peringkat nilai UN Sumbar belum jelas.

Pada kesempatan itu Irwan memastikan hasil UN Sumbar, turun dibanding tahun lalu. Pada 2010 lalu hasil UN Sumbar, berada pada peringkat ke-8 dari 33 provinsi di Indonesia. Sedangkan tahun ini, Sumbar berada di peringkat ke-28.

Turunnya peringkat UN Sumbar tersebut diduga karena ketiadaan pra UN tahun ini. Padahal pra UN penting bagi para siswa sebelum mengikuti ujian nasional. “Jika penyebabnya karena ketiadaan pra UN, kita akan rekomendasikan kepada Dinas Pendidikan Sumbar untuk kembali melaksanakan pra UN. Kondisi ini juga akan kita sampaikan kepada DPRD,” sebut Irwan.

Menurut Irwan, belum selesainya penghitungan nilai UN di beberapa sekolah di Sumbar, terjadi karena kesalahan dalam penghitungan nilai siswa. Saat ini gubernur pun sedang menunggu hasil tersebut dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Sumbar.

Tahun ini anggaran untuk pendidikan memang dipangkas dari tahun sebelumnya sebesar 17 persen dari APBD turun menjadi 14 persen.

Irwan menambahkan informasi terakhir yang ia terima tentang hasil UN menunjukkan nilai hasil UN tiap kota diatas rata-rata Sumbar. Dibanding tahun lalu pun tingkat kelulusan meningkat untuk SMA dan SMA. Untuk SMA kelulus mencapai 99 persen, untuk SMK kelulus 95 persen. Hanya saja kelulusan untuk MA menurun dibanding tahun lalu. Kelulusan MA di bawah 90 persen. “Kita akan cari tahu penyebabnya,” ujar Irwan.

Pendidikan berkarakter

Pada 2012 mendatang Pemprov Sumbar akan menganggarkan dana untuk pendidikan berkarakter. Sasarannya untuk seluruh sekolah yang ada di masing-masing kabupaten/kota. Tahun ini pemerintah provinsi mengajukan anggaran untuk pendidikan berkarakter tersebut sebesar Rp28 miliar kepada DPRD. Namun anggaran itu ditolak, karena pengusulannya naik di tengah jalan.

Sedangkan kemarin dipaparkan tentang sistem pembelajaran pendidikan berkarakter yang sudah diselenggarakan di dua sekolah di Sumbar. Sekolah itu SMA Bersama Sumbar dan Yayasan Ar-Risallah Padang. Nara sumbernya dari dua sekolah tersebut. Pendidikan berkarakter akan dikembangkan di masing-masing kabupaten/kota. (104/Septri/107)

Berita terkait :


Responses

  1. Betul sekali Pak Didi, kita tak perlu terlalu senang bila lulus 100% tapi kita sendiri mengetahui bahwa proses ujian itu sendiri berjalan tidak jujur. Hampir semua anak mencontek dan menggunakan kunci soal yang datangnya entah dari mana.

    Tentang menurunnya ranking UN Sumbar dari 8 menjadi 28 dari 33 propinsi di Indonesia, itu adalah karena kebanyakan guru SMA/MA tidak mendapat pelatihan yang memadai (menurut pendapat pribadi saya). Kalaupun ada MGMP, itupun hanya sekedar kumpul-kumpul dan reuni karena mereka tidak mempunyai nara sumber yang berkualitas dan kompeten. terima kasih

  2. Komentar yang bagus Pak Edi.

    Sayapun ingin ikut berkomentar. Mengingat ada ‘gagasan’ pak Gubernur mau mengadakan Pra-UN lagi di tahun 2012 mendatang, saya mengusulkan agar diadakan semacam ‘penelusuran’ ke tingkat sekolah langsung, mungkin melalui MGMP kab-ko masing-masing matpel, yang di-UN-kan. Harus dicaritahu; pentingkah pra-UN ini (menurut para pendidik di sekolah) dan kalau ia seperti apa mestinya pra-UN itu diselenggarakan? Apakah diadakan secara selektif di sekolah tertentu saja, dan untuk matpel tertentu pula, atau di merata-rata? Penyelenggaraannya serentak, atau disesuaikan dengan kalender masing-masing kab-ko; mengingat pada kenyataannya kalender pendidikan persekolahan kita di masing-masing kab-ko bisa lain-lain di era otoda ini.

    Usul saya, untuk menekan biaya, pra-UN itu di serahkan ke sekolah masing-masing. Terserah, kalau ada sekolah yang mau melakukannya bersama dalam suatu kelompok kerja kepala sekolah (KKS) dengan pertimbangan yang masuk akal, atau sendiri-sendiri.

    Alangkah baiknya kalau di semester kedua tahun 2011 ini Sumbar telah merancang satu Kalender (bersama) Pendidikan yang akan dapat berlaku di tahun 2012, yang akan datang, untuk semua kab-ko. Dengan begitu berbagai pelatihan yang dilaksanakan oleh pihak propinsi dapat diikuti secara terencana oleh semua kab-ko. Kalender ini adalah suatu ‘starting poin’ dari peng-koordinasian yang baik, menurut saya.

    Semoga

    Fekry Nur
    Pengawas Sekolah Prop Sumbar.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: