Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Mei 24, 2011

Ujian Nasional PAI, Why Not…?!

Ujian Nasional PAI, Why Not…?!

Di tengah maraknya isu tentang pendidikan karakter, Kementerian Agama menggulirkan wacana untuk menjadikan pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai salah satu mata pelajaran yang akan diikutkan dalam Ujian Nasional (UN). Bergulirnya wacana tersebut tentu menimbulkan pro dan kontra di kalangan akademisi ataupun praktisi pendidikan. Setidaknya ada dua hal yang menjadi titik kontroversi dalam hal ini, yaitu:

Yang pertama: Menjadikan PAI sebagai mata pelajaran yang UN-kan dinilai hanya menempatkan PAI pada ranah kognitif saja. Dengan mempertimbangkan pelajaran PAI yang hanya 2 jam dalam seminggu, Guru PAI tentu akan lebih fokus pada bagaimana menyelesaikan materi dari pada memperhatikan perkembangan keagamaan peserta didiknya. Sehingga PAI hanya akan menjadi teori-teori yang dihafal namun tidak menyentuh pada aspek afektif dan psikomotor. Padahal, tujuan dari pengajaran PAI sebenarnya adalah implementasinya di dalam kehidupan sehari-hari.

Yang kedua: Masyarakat Indonesia sangat heterogen dan plural. Keberagaman pada masyarakat Indonesia juga mencangkup keberagaman dalam beragama. Sebagaimana yang telah diketahui, bahwa di Indonesia terdapat banyak Organisasi Islam seperti Muhammadiyah dan Nahdhotul Ulama (NU) yang masing-masing memiliki perbedaan dalam masalah-masalah furu`iyah. Dengan demikian, menjadikan PAI sebagai mata pelajaran yang diikutkan dalam UN sama dengan memaksa seluruh masyarakat Indonesia untuk mengikuti “madzhab pemerintah”. Sehingga dikhawatirkan hal tersebut justru akan menimbulkan konflik sosial di tengah masyarakat.

Namun terlepas dari kontroversi diatas, sebenarnya wacana untuk menjadikan PAI sebagai mata pelajaran yang diikutkan dalam UN adalah sebuah lompatan sejarah bagi bangsa Indonesia. Ini tentu merupakan kemajuan besar, karena PAI akan dianggap penting dan tidak dipandang sebelah mata. Lalu bagaimana menjawab pertanyaan pertama yang mempermasalahkan PAI hanya akan dianggap teori saja? Jika yang menjadi kendala adalah jumlah jam PAI yang hanya 2 jam seminggu, sehingga susah untuk menerapkan pengawasan terhadap perkembangan keagamaan siswa, Sebenarnya yang lebih layak untuk ditanyakan adalah “Bagaimana langkah pemerintah untuk dapat memaksimalkan peran PAI dalam pendidikan karakter, sebagai konsekuensi mengikutkan PAI dalam UN?” Dalam hal ini ada banyak hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah, misalnya menambah jam PAI dalam seminggu, dan yang terpenting mengembangkan kurikulum PAI.

Adapun menjawab masalah kedua tentang keberanekaragaman pemahaman keagamaan di Indonesia, bukankah dengan mengikutkan PAI di dalam UN itu artinya mendorong masyarakat Indonesia supaya menjadi lebih dewasa dalam beragama? Dengan demikian masyarakat Indonesia justru akan semakin dewasa dalam memahami kemajemukan dalam beragama. Konflik sosial keagamaan justru terjadi pada hari ini, dimana masing-masing orang begitu fanatik dengan keyakinannya sehingga dengan mudah menyalahkan orang lain. Dengan mengikutkan PAI dalam UN -tentu dengan pengembangan kurikulum yang sesuai- maka masyarakat Indonesia akan menjadi lebih bijaksana dalam menyikapi sebuah perbedaan pendapat.

Tampaknya upaya pemerintah untuk mengikutkan PAI dalam UN cukup serius, hal itu dapat dilihat pada tahun ini (2011) dimana pemerintah megikutkan PAI dalam Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) sebagai semacam “uji coba” sebelum benar-benar mengikutkannya dalam UN pada tahun mendatang. Semoga langkah pemerintah dapat menghasilkan generasi muda Indonesia yang berkarakter.

(sumber: http://fahrihidayat.blogspot.com)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: