Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Mei 31, 2011

5 Juta Dolar Tidur Nyenyak

SUMBANGAN PT RAJAWALI UNTUK BEASISWA

5 Juta Dolar Tidur Nyenyak

PADANG – SINGGALANG (Selasa, 31-5-2011)Sumbangan PT Rajawali US$5 juta setara Rp42,5 miliar yang diperuntukkan bagi beasiswa S1 anak miskin di Sumbar, sampai kini masih tidur dengan nyenyak di rekening bank.Dana setinggi gunung itu, sudah menyusut pula jika dibanding kurs dolar 3 tahun lalu yang Rp9.000, sekarang justru Rp8.500. Sampai kini tak kunjung bisa disalurkan, karena rantai birokrasi dan peraturan yang seperti baju besi. Maka jadilah nasibnya kini, “urus ke urus saja, surat ke surat, belum ke belum juga.”
Singgalang sejak lama sudah mengulurkan tangan membantu mereka melalui pemberitaan. Ini pula yang kemudian menjadi satu cikal bakal Pemerintah Provinsi Sumbar ketika itu di bawah kepemimpinan Gubernur, H. Gamawan Fauzi mencetus ide mendirikan Yayasan Beasiswa Minangkabau (YBSM). Kebetulan ada dana sumbangan dari PT Rajawali Grup yang memenangkan pemisahan PT Semen Padang dari PT Cemex pada 2007
Dibahas
Awalnya rencana penggunaan dana itu diusulkan beragam. Akhirnya disepakati untuk dana pendidikan. Lantas kemudian dilakukan pembahasan pun bergulir di DPRD Sumbar. Bersama menggolkan agar yayasan ini bisa membantu anak-anak miskin.
Namun sampai kini, bahkan sudah dua pula gubernur sejak kepindahan Gamawan ke pusat, yayasan belum juga dapat mengucurkan dana bagi anak miskin hebat, seperti rencana semula.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Sumbar, Dedy Edward menyebut, Senin (30/5) belum beroperasionalnya YBSM terjadi akibat terbentur Undang-Undang (UU). Mereka sudah berkonsultasi ke pusat dalam hal ini ke Kementerian Hukum dan HAM, hanya saja belum mendapatkan jawaban yang pasti.
Terbenturnya yayasan itu pada UU lebih kepada pendirian yayasan yang dilakukan gubernur bersama ketua DPRD Sumbar waktu itu. Menurut UU, yayasan hanya boleh didirikan dua orang atau lebih. Statusnya berbadan hukum dan sifatnya swasta bukan pemerintah. “Kami sudah konsultasi, tapi belum ada jawaban tertulis dan kami masih menunggu, karena itu hingga kini dana tak dapat dicairkan,” katanya.
Melihat begitu susahnya pencairan dana tersebut, Pemimpin Redaksi Harian Singgalang, Khairul Jasmi menyebutkan, sebaiknya dana itu diserahkan saja pada Dompet Dhuafa Singgalang. Selama ini, lembaga amil ini telah membuktikan bisa membantu anak-anak hebat. “Jika diserahkan ke Dompet Dhuafa Singgalang urusannya tak akan berlarut-larut,” sesalnya.
Selain itu jika dana diserakan, Dompet Dhuafa Singgalang selalu siap diaudit.
Belum operasional
Kepengurusan yayasan hingga kini masih menunggu keputusan pemerintah provinsi bersama DPDR Sumbar, dalam mengelola yayasan yang diamanahkan pemerintah . Pengukuhan itu dilakukan pada zaman kepemimpinan Gubernur Sumbar, Marlis Rahman, 1 Juli 2010 di aula gubernuran Sumbar.
Sejak dilantik yayasan yang diketuai Dekan Fakultas Fakultas Ekonomi Universitas Padang, Syamsul Amar, belum pernah beroperasional, padahal mereka sangat berharap yayasan itu bisa bergerak cepat, membantu anak-anak miskin berprestasi di negeri ini.
“Hingga kini yayasan yang diamanah pada kami belum beroperasi, sebagai pengurus kami sifatnya menunggu saja. Baik dari pemerintah Sumbar maupun dari DPRD sendiri,” papar Syamsul Amar, yang dihubungi Singgalang, Senin malam (30/5).
Dikatakannya, pengurus yayasan tidak bisa berbuat apa-apa, sebelum adanya tugas yang diamanahkan kepada mereka. Setelah dilantik, pada 2010 lalu, pengurus pernah beberapa kali menggelar pertemuan internal. Hasilnya memutuskan untuk audiensi dengan Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno, yang baru dilantik pada Agustus 2010. Kemudian, audiensi tersebut terwujud, Gubernur Irwan menerima pengurus yayasan itu pada Ramadan 2010. Ketika itu gubernur belum memahami betul kondisi yayasan tersebut. Gubernur berjanji akan mempejalarinya dan bertanya pada pihak-pihak terkait.
“Hingga saat ini kami belum menerima hasil kesepakatan antara pemerintah daerah dengan DPRD. Tapi kami yakin akan ada kata sepakat itu, sehingga kami bisa bergerak dalam mengelola yayasan pendidikan ini,” terang Syamsul.
Sementaran, Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno beberapa waktu lalu menjelaskan, perdebatan di tingkat dewan dengan dua pilihan itu, tentu ada plus minusnya karena melalui yayasan, pengelolaan dananya bisa lebih fleksibel.
Artinya dengan fleksibel pengelolaan keuangannya, tentu besaran beasiswa yang akan dikucurkan untuk membantu anak-anak Sumbar akan disesuai dengan kebutuhan.
Selain itu, Yayasan punya undang-undang tersendiri yang harus menjadi acuan dalam pengelolaan lembaga tersebut.
Sedangkan pengolaan beasiswa tetap melalui SKPD tepatnya pada Biro Sosial, kata gubernur, tentu Peraturan Daerah (Perda) yayasan itu mesti diubah.
Kini dana dari Rajawali itu didepositokan sesuai dengan arahan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) setelah melakukan audit terhadap laporan keuangan daerah pada 2010.
“Kita tunggulah keputusan yang diambil DPRD, karena masih melakukan kajian terhadap penempatan program beasiswa pendidikan itu,” katanya. (*)
Berita sebelumnya :

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: