Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Mei 31, 2011

PANCASILA KEHILANGAN RUH

PANCASILA KEHILANGAN RUH

Oleh : DEDI SUHERMAN
Guru SDN 1 Jati Kec. Batujajar Kab. Bandung Barat

Tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai hari lahir Pancasila. Sebab kata “Pancasila” diusulkan oleh Ir. Soekarno untuk dijadikan nama dasar negara ketika beliau menyampaikan rumusan dasar negara dihadapan sidang BPUPKI tanggal, 1 Juni 1945. Dengan demikian Pancasila sampai saat ini telah berumur 66 tahun. Konon lima sila dari Pancasila digali dari nilai-nilai luhur budaya dan karakter bangsa kita. Yang menjadi pertanyaan besar adalah : Apakah nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila saat ini semakin terpatri dalam hati bangsa Indonesia? Atau sebaliknya, ruh Pancasila telah hilang lenyap dalam jiwa bangsa kita?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita sebagai warga negara dapat bertanya pada diri masing-masing dan menyaksikan kenyataan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jujur perlu kita akui bahwa nilai-nilai luhur Pancasila saat ini telah hilang lenyap pada hati nurani mayoritas bangsa Indonesia. Hal ini kita dapat rasakan dan saksikan dalam realita kehidupan sehari-hari. Mari kita bandingkan antara isi redaksi Pancasila dengan realisasinya dalam  kehidupan!

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa. Secara formalitas benar sampai saat ini bangsa Indonesia mayoritas mengaku umat beragama yang percaya akan adanya Tuhan, bahkan konon katanya lebih dari 80% mengaku beragama Islam yang meyakini Tuhan satu-satunya adalah Allah. Namun secara moralitas umumnya masyarakat Indonesia hanya mengaku beragama tapi tidak konsekuen dan tidak konsisten mengamalkan ajaran agama. Lalu, Cukupkah kita  mengakui dengan lisan akan adanya Tuhan Yang Maha Esa? Sementara ucapan dan perbuatan kita tidak mau melaksanakan segala perintahNya dan menjauhi segala yang dilarangNya? Bahkan sebaliknya, kita enggan melaksanakan perintah Tuhan dan sering melakukan hal-hal yang dilarangNya. Kalau demikian adanya apa artinya kita percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa tetapi tidak mau mentaati hukum dan aturan yang ditetapkanNya. Bukankah Iblis dan Syetanpun sampai saat ini mengakui eksistensi Tuhan (Allah)? Walaupun Iblis dan syetan percaya akan adanya Tuhan tetapi ternyata Iblis dan Syetan mendapat kutukan dari Tuhan (Allah). Mengapa? Karena Iblis dan syetan hanya mengakui eksistensi Tuhan tapi enggan mentaatiNya bahkan malah membangkangNya. Barangkali berbagai bencana yang melanda di negara kita, segala tragedi yang terus terjadi bertubi-tubi di negeri ini adalah dampak dari mayoritas masyarakat bangsa ini yang hanya mengakui eksistensi Tuhan tetapi tidak mau mentaatiNya. Dengan demikian Ketuhanan Yang Maha Esa hanya sekedar pengakuan formal bukan didorong keyakinan moral spiritual.
  2. Kemanusiaan yang adil yang beradab. Negara kita adalah negara hukum. Hukum dibuat dan ditegakkan untuk tercapainya keadilan dan peradaban. Sudahkah keadilan dirasakan oleh seluruh rakyat negeri ini? Atau sebaliknya kedholiman dan kebiadaban yang semakin merajalela? Fakta dan datalah yang menjawabnya. Ternyata akhir-akhir ini semakin terbukti hanya masyarakat papa dan rakyat jelata yang merasakan sangsi hukuman, sementara para pejabat, para konglomerat dan orang-orang kuat, mereka umumnya kebal hukum. Sungguh tidak masuk akal ada sepasang suami istri tuna netra mendapat hukuman di atas 15 tahun penjara karena dituduh menyimpan beberapa bungkus ganja. Kejadian ini terungkap ketika Menhumkam (Patrialis Akbar) langsung mengunjungi lembaga pemasyarakatan di Sumut. Cukup banyak masyarakat kecil yang mendapat hukuman berat karena dituduh melakukan kejahatan ringan, sebaliknya tidak sedikit para pejabat yang melakukan kejahatan berat tetapi menerima hukuman ringan bahkan bebas dari tuntutan hukum.
  3. Persatuan Indonesia. Apakah masyarakat bangsa kita saat ini bersatu padu, bahu membahu membangun negara? Betulkah para pemimpin negeri bersinergi membangun negeri? Sungguh jauh panggang dari api. Tawuran pelajar dan mahasiswa sering terjadi. Bentrokan antar pendukung sepak bola kerap terlihat. Demo anarkis dan brutal jadi tontonan fenomenal.  Debat politik yang bermotif persaingan, silang pendapat yang dilatarbelakangi kebencian mewarnai perpolitikan. Kerusuhan yang disebabkan permusuhan mewarnai kehidupan. Cukup banyak warga negara yang menjadi korban. Sungguh ironis, memalukan dan memilukan. Nilai-nilai persatuan dan kebersamaan semakin lenyap dalam kehidupan. Egois dan individualis sudah dominan merasuk di dalam hati mayoritas masyarakat bangsa kita.
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan /perwakilan.Benarkah para politisi di lembaga legislatif dan eksekutif mereka bermusyawarah untuk menyalurkan aspirasi masyarakat dan demi mewujudkan kesejahteraan rakyat? Ataukah mereka bermusyawarah hanya memperjuangkan kepentingan pribadi dan golongannya? Kenyataannya, keputusan musyawarah yang dihasilkan oleh para anggota dewan umumnya tidak dirasakan oleh masyarakat. Berbagai program pembangunan yang dirumuskan berdasarkan hasil musyawarah para elit politik secara redaksi memang tertulis untuk kepentingan rakyat tetapi secara realisasi hanya dinikmati oleh para pejabat eksekutif dan legislatif. Tidak sedikit dalam implementasinya dana yang dialokasikan untuk pembangunan kepentingan publik banyak dikorup oleh para pengambil kebijakan dan para pelaksana program/proyek. Program pembangunan dilaksanakan asal-asalan karena dananya berkurang menjadi ajang bancakan.
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bila sila kelima ini terlaksana maka seluruh warga negara pasti akan merasakan hidup sejahtera. Orang kaya akan tetap kaya, orang miskin akan sedikit kaya. Tapi bagaimana realitanya? Fakta membuktikan dewasa ini yang terjadi adalah orang  kaya semakin kaya,  orang sengsara semakin menderita. Kaum kapitalis semakin eksis, kaum proletar semakin terlantar. Keadilan semakin tak nyata, kedholiman semakin merajalela. Bahkan dana bantuan yang dikucurkan pemerintah untuk para korban gempapun ternyata banyak dikorup atau disunat oleh oknum aparat yang dholim, sehingga tidak utuh diterima oleh masyarakat yang berhak menerimanya.

Bila ruh Pancasila yaitu sila kesatu Ketuhanan Yang Maha Esa hilang lenyap dalam hati setiap insan, maka kondisi negara ini ibarat bangunan pencakar langit luluh lantah, porak poranda  pondasinya. Alamat robohlah negeri ini, semakin ambruk dan terpuruklah kehidupan masyarakat bangsa kita. Begitu pula jika nilai-nilai luhur sila kedua sampai kelima telah sirna dalam ucapan dan perbuatan bangsa Indonesia, maka negeri ini bagaikan raga kehilangan nyawa. Bukan pembangunan yang dilaksanakan tapi pembangkrutan yang dirasakan.

Bagaimana solusi untuk mengantisipasi dan mengatasinya? Jalan keluar yang mesti dilakukan oleh seluruh komponen bangsa adalah mengimplementasikan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dengan cara meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa (Allah) dalam segala sektor kehidupan. Bila keimanan dan ketakwaan tidak nampak dalam ucapan dan perbuatan, jangan berharap bangsa kita jaya, jangan bermimpi kesejahteraan dapat dicicipi oleh seluruh penduduk negeri.***
—————
Download artikel ini dalam format file word document [klik disini]


Responses

  1. Assalamu’ alaikum wr, wb

    Saudaraku Bpk Dedi Suherman, saya secara pribadi menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada anda atas artikel diatas.

    Semoga artikel anda dapat menjadi renungan yang mendalam bagi setiap pembacanya. Kemudian memahaminya dan mengimplementasikan kembali nilai-2 luhur Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta selalu meningkatkan Iman & Taqwa kepada Allah swt.

    Semoga Allah swt selalu membimbing bangsa kita ke jalan yang baik dan benar. Amiiiiiiin.

    Wassalam
    Suyitno

  2. sebuah renungan yang menarik pak,
    politik dan kekuasaan telah menjadi pandangan hidup kita
    bahkan saya merasakan pendidikan kita pun ikut menjadi bahan tarik ulur kepentingan politik dan kekuasaan
    salam pendidikan dari kalimantan tengah

  3. sebenarnya bukan hanya hilang saja tapi sudah tinggal nama dan lambang garuda. yach smg kt yg mngaku sbagai NKRI bs mngaktualisasi pancasila atau membumikan pancasila

    • DEDI SUHERMAN
      Guru SDN 1 Jati Kec. Batujajar Kab. Bandung Barat
      senang sekali kiprah bapak sudah bisa membantu untuk generasi kdepannya lebih baik lg, dan bangsa indonesia tidak sakit -sakitan lagi. tlong kembangkan di tempat bapak mengajar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: