Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Juni 7, 2011

Hasil UN Masih Sisakan Tanda Tanya

Hasil UN Masih Sisakan Tanda Tanya

Oleh : KASRA SCORPI

Hasil UN 2011 tingkat SLTP diumumkan Sabtu (4/6) lalu. Secara nasional angka kelulusan cukup memuas­kan, mencapai 99,45 persen. Berarti dalam 100 orang siswa kurang dari 1 orang yang tidak lulus.

Di Sumatera Barat, ang­ka kelulusan 98,15 per­sen. Dari 82.567 peserta lulus 81.042 orang. Kalau dibanding dengan tahun sebelumnya, angka kelulusan itu menu­run 0,36 persen. Penurunan angka kelulusan itu walau relatif kecil cukup memukul provinsi yang dibangga-banggakan sebagai provinsi ‘pro­duksi otak”. Apalagi di tingkat nasional Sumatera Barat berada pada peringkat 20-an.

Namun  Kepala Dinas Pendi­dikan Pemuda dan Olahraga Sumbar Syamsurizal masih berbangga karena Sumbar mengalami pemerataan prestasi. “Memang tingkat kelulusan kita turun 0,36 persen dibanding tahun lalu. Tapi secara umum hasil ini cukup membanggakan, dimana peningkatan prestasi pendidikan kita mulai merata. Begitu juga prestasi siswa dan sekolah sudah bermun­culan dari berbagai daerah,” katanya.

Memang dari hasil UN kali ini terlihat prestasi pendidikan tidak lagi didominasi oleh sekolah-sekolah di Kota Padang dan Bukittinggi seperti biasanya. Malah  peringkat I diraih Kabupaten Pesisir Selatan, peringkat II Kabupaten  Padang Pariaman. Padang dan Bukittinggi hanya mampu bertengger pada  peringkat 3 dan 4.

Bahkan Mentawai yang barusan dihantam tsunami dan fasilitas pendidikan serta kondisi sosial budayanya  ditengarai masih di bawah berada pada ranking ke-15, di atas kabupaten Tanah Datar, Sawahlunto, Sijunjung dan Solok.

Di berbagai daerah sekolah-sekolah yang terletak nun jauh di pelosok juga memperoleh prestasi memuaskan. Di Agam misalnya, peringkat I diperoleh oleh SMPN 2 Ampek Nagari yang terletak di Nagari Batu Kambiang, dan peringkat 2 diraih oleh SMPN 2 Palembayan yang terletak di perkampungan kecil jorong Gumarang Nagari III Koto Silungkang.

Di kota Padang banyak sekolah non unggulan masuk 10 besar seperti SMP 7 dan SMPN 12 Padang.

Usai UN, kepala sekolah, guru, siswa dan orangtua siswa dari sekolah berprestasi dan lulus 100 persen boleh berbangga diri, begitu juga camat, kadinas pendidikan maupun bupati/wakonya.

Namun kritikan-kritikan terhadap hasil UN dan penetapan peringkat itu masih saja meluncur dari berbagai kalangan termasuk dari  orang terdepan di dunia pendidikan, yakni guru.

Sistem UN 2011 walaupun pengawasannya semakin diperketat peluang untuk merekayasa nilai masih saja terbuka, karena nilai hasil UN 2011 ditentukan oleh 40 persen nilai sekolah dan 60 persen nilai UN.

Bagi sekolah, untuk mengan­tisipasi ketidaklulusan ditengarai banyak di antaranya  yang mengka­trol nilai siswanya secara berlebihan, misalnya seorang siswa  yang suka cabut dan jarang belajar bisa saja diberi nilai Matematika 8 lebih.

Praktik tidak sehat seperti itu dilakukan karena UN telah dijadikan ajang prestise dan penekanan oleh atasan terhadap bawahan. Guru akan kena damprat kepala sekolah kalau hasil UN siswa jeblok, kepala sekolah akan ditekan Kadinas Pendidikan bahkan diancam dipecat jika hasil UN jelek, kadinas pen­didikan akan “dijewer” bupati/wako jika prestasi sekolah di daerahnya buruk. Karena takut  kena tekanan seperti itu mau tidak mau rekayasa melalui celah sekecil apapun akan dilakukan.

Akibat rekayasa yang belum terelakkan, setiap kali UN terjadi sejumlah “keluarbiasaan” dan kadang menimbulkan prasangka buruk terhadap sekolah-sekolah yang hasil UN-nya bagus. [Harian Haluan, Selasa 7/07/2011]


Responses

  1. Yth. Bapak Kasra,
    Saya sebagai guru sangat meragukan rangking UN ini, karena palaksanaan UN tidak benar maka hasilnya juga akan tidak valid. Betul kata Bapak Kasra, selain pelaksanaannya tidak benar, katrol nilai sangat “gila” juga terjadi. Faktor tekanan atasan ke bawahan sangat berpengaruh. Segala cara dilakukan tak peduli halal atau haram.
    Solusinya adalah hapus UN atau jangan jadikan UN sebagai penentu kelulusan. Cari cara lain untuk mengukur atau memetakan kualitas pendidikan. Biaya UN gunakan utk meperbaiki proses belajar mengajar.
    Terima kasih

  2. setuju sekali pak biaya un untuk perbaiki pbm

  3. Yang katrol nilai siapa ? GURU
    Yang ngajarin contek massal siapa ? GURU
    Yang minta UN dibubarkan siapa ? GURU
    Bingung orang awam ini


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: