Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Juni 30, 2011

Brengsek dan Tidak Tahu Malu

Brengsek dan Tidak Tahu Malu

Oleh : H Sutan Zaili Asril

Seakan kita menyaksikan, betapa sebagian dari kita — khususnya mereka yang berposisi sebagai pemimpin dan pejabat pemerintah, terutama dalam berapa tahun terakhir ini, mempertunjukkan kelakuan atau prilaku yang dengan amat gampang akan dituding sebagai “brengsek” dan “tak bermalu” atau “tak lagi tahu malu”!

Sebagian penyelenggara negara atau pejabat pemerintahan sejak pusat sampai kepala daerah/jajarannya (provinsi dan kabupaten/kota), dan sebagian dari pengurus partai politik/politisi (pimpinan/anggota parlemen pusat dan daerah provinsi/kabupaten/kota) justru terlihat mempertontonkan kebrengsekan dan ketidakbermaluannya secara terbuka — sambil menari-nari dan tertawa-tawa?
HAMPIR tiga bulan lalu, Cucu Magek Dirih membaca artikel: Apa Penyebab Orang Tidak Tahu Malu!?
Berdasarkan penelitian ahli di University of California San Francisco, Amerika Serikat, dikatakan, manakala orang merasa malu, telapak tangan orang itu akan berkeringat, dan pipi terasa panas dan memerah.

Hal itu terjadi karena terdapat bagian tertentu dalam otak yang mengendalikan rasa malu. Periset Virginia Sturm dan tim mengisolasi bagian otak yang mengendalikan rasa malu, menemukan, perasaan malu yang muncul bersama pengalaman, seperti mendengarkan nyanyian sendiri, terisolasi di dalam jaringan sebesar ibu jari di dalam otak.

Pada orang tidak tahu malu, termasuk penderita demensia, wilayah otak kendali rasa malu jauh lebih kecil dibanding orang normal (punya jaring otak pengendali rasa malu). Daerah itu amat penting untuk reaksi dari pengendali rasa malu. Saat kehilangan bagian itu, orang tidak lagi punya respon malu.

Pusat rasa malu berada di daerah disebut pregenual interior cingulate cortex — jaringan yang terletak jauh di dalam otak, terlibat mengatur banyak fungsi otomatis manusia, seperti berkeringat, denyut jantung, dan bernapas. Punya andil pada fungsi-fungsi berpikir, emosi, perilaku mencari penghargaan, dan pengambilan keputusan. Juga peran ganda: baik reaksi motorik maupun visceral.

Ukuran dan bentuk wilayah otak dekat jaringan korteks itu diasosiasikan dengan perbedaan kepribadian. Makin besar bagian otak kendali rasa malu, makin kuat fungsi diasosiasikan. Contohnya, orang yang berkepribadian ekstrover punya pusat pengolahan penghargaan lebih besar, sedangkan orang peragu dan pemalu punya pusat pendetesi kesalahan lebih besar. Orang pemaaf punya bagian otak lebih besar dalam memahami keyakinan orang lain.

Penderita demensia cenderung memiliki tingkat malu yang lebih rendah — bedakan dengan berani tampil karena ia memang layak, bahkan ketika menyaksikan rekaman video mereka menyanyikan lagu tidak jelas nadanya pun. Bagi orang telah pikun, mencomot makanan dari piring orang lain bukan tindakan memalukan. Ketika periset Sturm memindai otak mereka, dia menemukan bahwa partisipan studi yang tak punya malu itu mempunyai daerah malu yang jauh lebih kecil pada cingulate cortex otak mereka yang memiliki rasa malu.

BERENGSEK itu artinya, rupa-rupanya, antara lain, jail, nakal, konyol, sontoloyo, dan bandel. Jail/jahil lebih menekankan bodoh dan kebodohan yang belum atau tak otomatis berkonotasi negatif (tidak/belum memiliki pengetahuan dalam satu-dua hal), khusus dalam hal akhlak. Masyarakat jahiliyah, misalnya. Nakal dalam hal kelakuan/prilaku orang dewasa — bukan anak nakal, adalah kelakuan/prilaku menyimpang dari nilai moral yang lazim. Konyol, antara lain adalah pikiran, tindakan, dan kelakuan yang mengesankan berlagak pilon/pura-pura tidak tahu atau tak berusaha mencari tahu terlebih dahulu.

Sontoloyo adalah sebuatan terhadap orang atau perbuatan orang hanya pandai bicara dan tidak bisa mengerjakan. Bandel dalam konotasi negatif lebih menggambarkan orang yang tidak mau mengikuti atau turut kebenaran atau aturan.

Dalam khazanah realitas kehidupan orang Minangkabau, ada sebutan yang ditujukan pada prilaku/kelakuan orang yang mongkeang (menghindar dari tanggungjawab), jawi balang puntuang (didahulukan manyipak/di belakang mananduk), nan kalamak di kukuran (yang menguntungkan baginya saja),  managakkan banang basah (sudah jelas salah, tapi, masih tidak sportif mengakui), cadiak buruak (kecerdikan hanya bagi diri sendiri/merugikan orang lain — entah di mana posisi: taimpik nak di ateh/takuruang nak di lua), dan Cucu Magek Dirih masih dapat menjajarkan sejumlah sifat buruk lainnya yang ada padanan katanya dalam bahasa Minang. Mungkinkah beberapa kata di atas juga menggambarkan sifat brengsek orang Minang — apakah orang Minang pun juga brengsek, misalnya!?

Yang kita saksikan dalam beberapa tahun ini adalah sikap dan kelakuan atau perilaku elite yang dapat dikategorikan brengsek. Sebagian kita seakan bersukacita mengerjain orang lain (membuat orang menghadapi hal buruk — seperti terantuk/kesandung/terjatuh — gara-gara kita) atau SMS (senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang) atau menfitnah/menginformasikan hal buruk tentang seseorang — padahal hal itu tidak benar. Sekarang kita menyaksikan sebagian kita — termasuk para pemimpin/pejabat — yang melakukan kesalahan, tapi, seakan tidak menyadarinya atau tidak jujur mengakui. Atau, ada sebagian yang lain yang melemparkan isu pengalihan atau menuding orang kemungkinan juga melakukan apa yang ditudingkan terhadap dirinya. Brengsek! Benar-benar sebagian kita sudah tidak lagi bermalu atau tidak tahu malu.

Berbeda hal dengan peneliti Virginia Sturm, setidaknya bagi Cucu Magek Dirih, perasaan malu itu sebagian dari iman yang benar: malu (terhadap Allah Subhanahu wa Taala) melakukan perbuatan dosa dan malu melakukan perbuatan tidak berakhlak/tidak bermoral/tidak beretika. Bagi seorang Minang, dalam pemahaman Cucu Magek Dirih, malu adalah nilai dijunjung tinggi — bahkan sampai boleh menggadai harta pusaka tinggi: bila maik tabujua di tangah rumah (yang seharusnya jadi kifayah keluarga/orang sekampung mengurus sampai mayat dikuburkan); rumah gadang katirisan (di antara yang menjadi simbol kebermartabatan keluarga Minang tinggal di rumah gadang); dan gadih gadang alun balaki (sudah cukup umur belum bersuami — jadi kifayah keluarga mencari junjungan atau suami yang baik baginya).

BAGI Cucu Magek Dirih, apabila ada orang yang mengatakan ia “brengsek” dan atau apalagi dikatakan “tidak tahu malu”, maka hal itu sama saja ia merasa dianggap tidak berakhlak/beretika/bermoral — begitu rendah atau begitu leceh atau tidak lagi pantas dihormati. Justru yang kita cari adalah kemuliaan dan yang kita pelihara adalah kehormatan. Kita mementingkan kebermartabatan. Kita bersedia memberikan sebagian dari yang kita punya dan yang kita cari/dapatkan dengan susah payah untuk diberikan kepada yang berhak/membutuhkan. Kemuliaan yang didapat dari Allah dan dari lingkungan masyarakat kita dengan berakhlak mulia dan berbuat baik — tudak menunaikan amanah saja mestinya malu. Kehormatan yang diberikan Allah kepada manusia sebagai makhluk yang sebaik-baik bentukan/kejadian — hanya saja manusia sendiri yang menjatuhkan diri ke lembah kehinaan.

Artinya, apakah tudingan terhadap sebagian kita — apalagi mereka yang berada di posisi pejabat negara/pemerintah (kepala negara/presiden dan jajar pembantunya para menteri dan pimpinan lembaga pemerintahan lain, penyelenggara negara dan pemerintahan lain tingkat pusat terus sampai provinsi dan kabupaten/kota) atau pemimpin, termasuk pengurus partai politik dan politisi dan atau anggota parlemen (Majelis Pemusyawaratan Rakyat Republik Indonesia/MPRRI, Dewan Perwakilan rakyat/DPRRI, Dewan Perwakilan Daerah/DPDRI, dan di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah/DPRD provinsi dan atau kabupaten/kota, dan bahkan ada pengurus organisasi kemasyarakatan daerah!), bahwa kita memang brengsek dan tidak bermalu atau tidak lagi tahu malu!?

Lalu, betulkah sebagian dari kita — termasuk pemimpin/penyelenggara negara dan atau pejabat pemerintah baik pusat maupun daerah (provinsi dan kabupaten/kota) memang sudah tidak lagi bermalu/tidak lagi punya rasa malu dan brengsek!? Pertanyaan, yang dalam pemahaman Cucu Magek Duirih sungguh-sungguh menyesakkan dada atau seperti virginia Sturm, merasa diri sudah tidak terhormat dan bernilai!? Atau sebagian dari kita yang betapa pun sudah dituding sebagai brengsek dan tidak bermalu/tidak lagi tahu malu, tapi, mereka justeru merasa no big deal atau no mater about that!?

ENTAHLAH, apa yang tengah berlaku? Bagaiana mungkin ada pemimpin yang mempertontonkan diri sebagai brengsek dan sudah tak bermalu/sudah tak lagi tahu malu — entah sebagian dari pemimpin menganggap masyarakat sebagai bodoh dan tidak mengetahui dan tidak mempersoalkan kelakuan atau prilaku mereka yang menyimpang? Atau apakah kita harus mengatakan akan menerima kenyataan dengan mengurut dada dan merasa no thing to do atau what could I do? Sebagian kita hanya pandai menyalahkan/menuding atau menyampaikan kritik, tapi, seperti tidak berdengar — bagaimana pula kita akan berharap hal huruk akan kembali ke jalan yang benar? Apa kita masih merasa perlu menyebut hal baik dan sebaliknya merasa perlu mempersoalkan hal-hal buruk yang berlaku!?

Allah tidak akan mengubah nasib satu bangsa/apabila bangsa itu sendiri tidak berubah (mengubah nasib mereka). Kata orang-orang bijak, bahwa perubahan ke arah yang lebih maju dan terhormat pada satu masyarakat tertib justru dimulai dari pikiran/tindakan/kebijakan/teladan dari para pemimpin karena mereka memiliki daya dan kekuasaan untuk menyusun kebijakan dan melaksanakan kebijakan atasnama dan dengan biaya dari masyarakatnya.***

Sumber: http://padangekspres.co.id
Download artikel ini dalam format word document [klik disini]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: