Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Juni 30, 2011

Fauzi Bahar dari Brussel : ATLET HARUS NAIK KELAS

Fauzi Bahar dari Brussel :
ATLET HARUS NAIK KELAS

Padang, Harian Singgalang, Kamis 30/06/2011 –  Para atlit berprestasi di Padang yang tidak naik kelas, selama musim libur harus diremedial dan belajar intensif. Mereka harus diuji lagi untuk bidang studi yang tidak lulus. Seyogyanya, mereka harus naik kelas.

“Mereka tidak boleh libur, harus belajar intensif di sekolah, anak-anak itu sudah berjasa, berprestasi di bidangnya. Jangan bunuh mereka, tapi hargai. Caranya, beri mereka kesempatan kedua,” kata Walikota Padang, Fauzi Bahar, dari Brussel, Belgia kepada Singgalang, Rabu (29/6).

Sebagaimana diberitakan, sebanyak 36 atlet berprestasi yang belajar di SMA 2 Padang, tidak naik kelas. Kejadian ini memukul mereka dengan telak. Menurut kepala SMA 2 Padang, tidak ada toleransi untuk mereka.

Hal itu diakui Kepala SMA 2 Padang, Prima, kepada Singgalang. Disebutkannya, mereka bukannya tidak naik kelas karena atlet. Tapi karena memang syarat untuk naik kelas itu sendiri tidak terpenuhi.

“Untuk naik kelas itu, tidak hanya prestasi olahraga yang dibutuhkan. Banyak mata pelajaran lain yang menentukan, dan kita memiliki Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dimiliki guru-guru di sekolah,” sebut Prima.

Sementara, Fauzi Bahar berpandangan lain. Menurut dia, negara harus memberi tempat dan penghargaan pada tiap keahlian. “Anak SMA 2 yang juara umum di bidang studi, tidak bisa jadi atlet. Mari kita hargai si juara umum itu, sebaliknya, dihargai pula temannya yang ahli di bidang olahraga,” kata dia.
Ahli jantung, sebut Fauzi, tak mengerti soal kandungan. “Tapi mereka sama-sama dokter,” katanya.

Anak bangsa, katanya, akan mati kutu, jika masyarakat dan bangsa tidak bisa menghargai kelebihan individu per individu. Mereka ibarat prajurit yang kembali dari medan perang.

“Saya hargai kepsek SMA 2, tapi beri anak-anak kita itu kesempatan, 10 hari libur, mereka tak boleh libur, harus belajar intensif di sekolah, bukankah mereka anak didik yang sama-sama kita sayangi,” tambah Fauzi.

Wako Fauzi berjanji akan memanggil Kepala SMA 2 dan kadinas pendidikan. “Anak-anak itu harus naik kelas,” kata Fauzi.

Dispensasi

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Azwar Siry meminta Dinas Pendidikan dan sekolah tidak lepas tangan dalam persoalan ini. Harus ada dispensasi bagi atlet berprestasi. Dia mengusulkan agar pihak sekolah memberlakukan naik percobaan bagi para atlet tersebut.

“Seorang atlet sebenarnya juga memiliki kecerdasan di bidang pelajaran. Namun karena sering meninggalkan sekolah akibat harus latihan atau bertanding, makanya pelajaran jadi tertinggal,” ujarnya kepada Singgalang, kemarin.
Selain itu, ia menilai pembentukan sekolah khusus olahraga (SKO) sangat dibutuhkan. Karena dengan demikian, para atlet berprestasi bisa dididik di sana dengan kekhususan mereka.

Senada dengan itu, sebelumnya anggota Komisi IV M. Dinul Akbar menyatakan, seharusnya para atlet disekolahkan di sekolah khusus yang memang mengakomodir kepentingan atlet untuk mengejar prestasi. Namun masalahnya di Sumbar, khususnya di Padang sekolah semacam itu belum ada.

“Seharusnya, ada sekolah khusus untuk para atlet tersebut, sehingga pendidikan formal mereka tidak ketinggalan demi mengejar prestasi olahraga. Pihak terkait diharap bisa memikirkan hal itu,” katanya. (003/302)


Responses

  1. Kepala Sekolah benar. Tetapi dia terjebak kepada pengertian sempit, pendangkalan makna, dari KTSP.
    Mestinya, sekolah telah mengkaji dari awal-awal untuk penetapan Kriteria ketuntasan minimal (KKM) masing-masing mata pelajaran, khusus bagi para atlit’
    Penetapan KKM setingkat di satu sekolah untuk semua anak dari berbagai kecendrungan bakat dan kemampuan akademik, menurut saya, adalah salah.

    Di lain pihak, mendirikan sekolah khusus untuk para atelit belum tentu solusi yang baik, karena tidak semua anak yang pintar olahraga punya kemampuan akademik yang seragam (rendah), kalaupun penetapan KKM mau dijadikan alasan. Cukup banyak pula dari yang pandai berolahraga itu yang berkemampuan cukup baik dan kompetitif di bidang akademik. Kepandaian berolahraga tidak identik dengan KKM rendah.

    Semoga pihak sekolah dapat mencarikan solusi dan penanganan yang tepat terhadap fenomena yang terjadi ini. Berhentilah merugikan anak didik.

    Drs. Fekry Nur, M.Ed
    Pengawas Sekolah, Disdikpota Prov Sumbar.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: