Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Juli 3, 2011

MENGAPA PENYAKIT KORUPSI SEMAKIN MENJADI?

MENGAPA PENYAKIT KORUPSI SEMAKIN MENJADI?

Oleh : DEDI SUHERMAN
Guru SDN 1 Jati Kec. Batujajar Kab. Bandung

Korupsi adalah penyakit sosial yang menggerogoti sendi-sendi berbangsa dan merusak tatanan kehidupan bernegara. Korupsi adalah perbuatan menguntungkan pribadi atau golongan dengan merugikan keuangan negara atau masyarakat banyak.

Korupsi di Indonesia saat ini sudah tergolong extra ordinary crime, karena tidak saja merusak keuangan negara dan potensi ekonomi negara, namun telah pula meluluhlantahkan pilar-pilar sosio budaya, moral, politik, tatanan hukum dan keamanan negara.

Korupsi di Indonesia dilihat dari modus operandinya dapat dikatagorikan kepada beberapa tindakan, antara lain:

  1. Praktek suap menyuap diberbagai sektor, antara lain berupa mafia hukum dan peradilan, mafia pajak, rekruitmen pegawai negeri sipil (PNS), penerimaan anggota Polri/TNI, tender proyek dan lain-lain.
  2. Pungutan liar (pungli) disegala sektor pelayanan publik
  3. Mark Up (penggelembungan) dana pada pembangunan proyek sarana publik
  4. Kredit macet dan pembobolan pada lembaga perbankan
  5. Penggelapan atau penyalahgunaan uang Negara

Dalam perspektif syari’at atau hukum Islam bentuk-bentuk korupsi di atas dapat diklasifikasikan dengan nama sebagai berikut : Suap menyuap (Ar Risywah),  Pungutan liar (Al Ghasbu), Mark Up ( Al Ghurur atau Al Khiyanat), Pembobolan dan penggelapan uang negara (Al Ghulul).

Dengan mengetahui nama-nama yang termaktub dalam sistematika hukum Islam, semoga bermanfaat untuk menyadarkan umat Islam untuk menjauhi dan menghindar dari bentuk-bentuk korupsi di atas. Menurut Tranparancy Internasinal Indonesia konon Indonesia termasuk peringkat sepuluh besar negara terkorup di dunia. Padahal Indonesia adalah negara berpenduduk muslim terbanyak di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat muslim Indonesia mayoritas pelaku korupsi. Bahkan tidak sedikit para koruptor yang telah menyandang gelar haji. Sungguh memalukan dan memilukan karena segala perbuatan korupsi di atas sangat dilarang dan diharamkan dalam syari’at Islam. Allah berfirman dalam Q.S. al Baqarah:188 “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui”.

Dari beberapa bentuk tindakan korupsi tersebut di atas, praktek suap menyuap (risywah) intensitasnya paling tinggi dan sering terjadi.  Suap menyuap (risywah) adalah salah satu cara mendapatkan uang, harta atau benda dari orang lain dengan cara bathil, menggapai jabatan atau kedudukan dengan cara tidak wajar dan tidak prosedural. Money Politik dalam pesta demokrasi (pemilu, pemilukada) termasuk ke dalam jenis risywah. Dengan demikian praktek suap menyuap (risywah) adalah sumber atau penyebab utama tindakan korupsi. Anehnya, praktek suap menyuap atau risywah di negara kita sudah dianggap hal biasa atau lumrah. Padahal dampak negatif dari praktek suap menyuap dapat merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara, antara lain:

  1. Tindakan korupsi semakin menjadi. Ketika seseorang bersaing untuk menduduki suatu jabatan di lingkungan lembaga eksekutif, legislatif, maupun yudikatif, menjadi pejabat publik, PNS, anggota Polri/TNI, dia berhasil meraihnya dengan cara menyuap dengan sejumlah uang yang cukup besar. Maka sudah dapat dipastikan untuk mengembalikan uang sogokkan, dia akan melakukan berbagai tindakan korupsi dengan segala modus operandinya. Misalnya dengan cara pungli, mark up dana proyek, penggelapan uang negara dan lain-lain.
  2. Sulitnya bahkan hilangnya kesempatan bagi masyarakat jelata atau orang miskin untuk menduduki jabatan tertentu walaupun memiliki kompetensi yang memadai karena kalah bersaing menyuap oleh orang-orang kaya walaupun tidak memiliki kompetensi dan prestasi.
  3. Kompetensi PNS dan pejabat birokrasi mayoritas rendah. Dampak dari praktek suap menyuap dalam rekruitmen PNS dan pejabat birokrasi pemerintahan melahirkan banyak pegawai diberbagai lembaga pemerintahan yang tidak kompeten. Karena rekruitmen atau pengangkatannya bukan berdasarkan kualitas kompetensi yang dimilikinya tetapi karena tergantung kuantitas komisi atau uang suap yang diberikan kepada pihak yang berwenang mengangkatnya.
  4. Law Enforcement tidak berjalan. Suap menyuap terjadi pula dalam rekruitmen para pejabat penegak hukum (kepolisian, kejaksaan dan kehakiman). Untuk mengembalikan uang suap ketika menjadi pejabat penegak hukum dengan mengandalkan uang gaji yang legal tentu sulit untuk cepat kembali. Jalan yang praktis dan ekonomis ditempuh oleh mereka adalah praktek jual beli perkara atau mafia hukum dan peradilan. Hukum hanya ditegakkan kepada masyarakat biasa yang tidak banyak harta, sementara orang yang berduit melakukan kejahatan berat bisa divonis hukuman ringan bahkan bebas dari hukuman dengan cara menyuap para pejabat penegak hukum. Akibatnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia jauh panggang dari api. Munculah kata plesetan KUHP (Kasih Uang Habis Perkara) atau Ketuhanan Yang Maha Esa jadi Keuangan Yang Maha Kuasa. Kemanusian yang adil dan beradab jadi Kekuasaan yang dholim dan biadab.

Selain praktek suap menyuap menjadi penyebab utama tindakan korupsi semakin menjadi, masih ada penyebab lain yang memacu dan memicu seseorang melakukan tindakan korupsi, antara lain:

  1. Sikap tamak dan serakah atau sikap materialistis dan hedonis tertanam dalam hati para pejabat. Mereka memandang bahwa kesenangan dan kebahagian terletak pada melimpahruahnya harta kekayaan. Oleh karena itu maka jabatan dan kedudukan yang dimilikinya dijadikan sarana dan tempat untuk mendapatkan uang yang sebanyak-banyaknya. Merasa dengan gaji yang legal dan halal sulit untuk cepat kaya maka jalan yang ilegal dan harampun dilakukannya. Korupsi adalah cara murah dan mudah untuk cepat kaya.
  2. Hukuman yang ringan kepada para koruptor. Karena law enforcement tidak berjalan dimana para penegak hukum (polisi, jaksa, pengacara dan hakim) dapat dibayar, maka vonis hukuman yang dijatuhkan umumnya relatif ringan. Misalnya, seorang koruptor terbukti merugikan uang negara sebesar 1 milyar. Dia dijatuhi hukuman 1 tahun penjara ditambah uang denda sebesar 100 juta. Tentu saja vonis tersebut jauh lebih ringan dibanding dengan besarnya uang negara yang dikorupsi. Koruptor tersebut masih mimiliki keuntungan sebesar 900 juta, keluarganya tidak akan menderita ditinggalkan koruptor yang dipenjara.
  3. Pengawasan yang tidak efektif.  Dalam sistem management modern selalu ada instrument yang disebut control internal yang bersifat in build  dalam setiap unit kerja, sehingga sekecil apapun penyimpangan anggaran akan segera terdeteksi sejak dini dan secara otomatis pula dilakukan koreksi dan perbaikan. Internal control disetiap unit kerja ternyata umumnya tidak berjalan efektif karena pejabat di lembaga pengawasan dan pegawai terkait ber-KKN. Konon, untuk mengatasinya dibentuk Irjen dan Bawasda, untuk melakukan audit eksternal. Namun sayang para pejabat Irjen dan Bawasda yang melakukan audit terjebak KKN pula, terjadilah kongkalingkong, dengan salam tempel, suap dan uang pelicin. Penyimpangan anggaran negara disuatu instansi dipetikemaskan tidak ditindaklanjuti ke tingkat penyelidikan, penyidikan perkara.
  4. Budaya masyarakat yang kondusif KKN. Di negara agraris seperti Indonesia, budaya masyarakat cenderung paternalistik, sehingga masyarakat umumnya cenderung melakukan KKN dalam urusan sehari-hari. Misalnya, ketika mengurus pembuatan KTP, SIM, STNK, PBB, pendaptaran sekolah, test ke Perguruan Tinggi, melamar pekerjaan dan lain-lain. Mereka meniru apa yang dilakukan oleh para pejabat, pegawai instansi pemerintahan dan lembaga penyelenggaran negara lainnya. Tindakan KKN sudah dianggap hal yang lumrah dan tidak salah.

Setelah penulis memaparkan beberapa penyebab menjamurnya penyakit korupsi disegala sektor kehidupan masyarakat. Maka penulis mencoba memberikan solusi sebagai terapi untuk meminimalisasi bahkan membasmi virus korupsi. Terapi ini adalah “Tazkiyatun Nafs” yaitu Pensucian Jiwa atau Hati dengan metode atau langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Memulai segala aktifitas kehidupan dengan niat tulus ikhlas semata-mata karena Allah.
  2. Menyikapi dan mengarungi kehidupan dunia berdasarkan tuntunan Ilaahi.
  3. Mengendalikan nafsu syahwat terhadap kekayaan dunia.
  4. Mengimani atau percaya sepenuh hati bahwa setelah kehidupan dunia ada kehidupan akherat yang kekal abadi. Surga diperuntukan bagi orang bertakwa dan neraka disediakan untuk orang durhaka yang bergelimang dengan dosa.
  5. Mensyukuri nikmat yang telah diterima dan dirasakan.
  6. Sabar menghadapi berbagai ujian dan musibah kekurangan harta dan kekayaan.
  7. Ridha terhadap segala ketetapan atau takdir dari Allah Tuhan Yang Maha Esa
  8. Menumbuhkan rasa khauf (takut) kepada azab yang diberikan Allah kepada siapa saja yang melakukan tindakan dosa dan kejahatan.
  9. Menumbuhkan sikap jujur dalam diri dan sikap tanggung jawab terhadap segala pekerjaan yang dilakukan.
  10. Muhasabatun Nafs (introsfeksi dan mawas diri)
  11. Hahabbah dan Muqqorobatullah (mencintai dan mendekatkan diri kepada Allah) dengan melakukan berbagai amal shaleh,  baik yang bersifat ibadah ritual maupun ibadah sosial.
  12. Taubat (kembali ke jalan Allah dan menyesali segala perbuatan tercela yang merugikan diri dan orang lain)

Semoga terapi ini dapat kita lakukan untuk mengatasi tindakan korupsi yang terbukti telah menyengsarakan mayoritas masyarakat, bangsa dan negara.
—————–
Download artikel ini dalam format word document [klik disini]


Responses

  1. MENGAPA PENYAKIT KORUPSI?

    Penyakit???

    Headline Dulu: “Korupsi Virus yang Harus Ditemukan Obatnya”

    Selama kita mencari nama lain (Virus) atau hanya mau mencari alasan, bagaimana kita dapat mengatasi korupsi? Korupsi adalah perilaku MALING yang jahat dan perlu dikelurakan oleh pimpinannya secara tegas dan cepat!. Puluhan juta anak bangsa maupun negara sudah rugi besar gara-gara perilaku koruptor atau ‘Maling Negeri Sipil’ (MNS), tidak perlu diampuni lagi atau mencari alasan! Kalau perlu nama lain harus lebih tepat, misalnya:
    Korupsi: Perilaku Maling, Koruptor: Maling Negeri Sipil

    Salah satu anggota Pendidikan.Net menulis kalau ada “virus” salah satu cara adalah “format hard drive” – menghapus semuanya dan memasang yang baru!

    Anggota lain menulis “Virus penyebab penyakit selama ini belum ada obatnya. Virus berdiam di dalam sel, jika kita ingin membunuh virus dari luar berarti kita membunuh selnya (bunuh diri dong).”

    Kita Beruntung karena Korupsi Bukan Virus! – Dan Sudah Ada Obatnya!

    Berita Gembira: Ada Obat Baru Dari Irak dan China:

    “Irak Pecat 62.000 Pegawai Karena Korupsi”

    “881.000 Pejabat China Dihukum”

    Mengapa Indonesia Tidak Bisa?

    Korupsi adalah Perilaku Maling#, dan kita dapat mengatasi masalah maling, kan?.

    Kalau pegawai di perusahaan anda mencuri uang anda (uang perusahaan) atau melaksanakan kegiatan-kegiatan yang hanya menguntungkan mereka sendiri (atau pihak lain tertentu), apakah anda akan bilang, “kasihan deh lu”, kita harus mencari obat? Atau langsung memanggil polisi, dan orang itu langsung di keluarkan?

    Obatnya Korupsi: Mulai serius! Tidak usah main-main dengan namanya. Melaksanakan audit-audit dengan tegas. Kwitansi-kwitansi untuk barang jangan dipercaya (diperiksa), biaya dan jumlah tenaga yang ikut kegiatan-kegiatan pendidikan juga jangan dipercaya (diperiksa), juga panjangnya kegiatan-kegiatan mencari bukti, memeriksa semua alasan-alasan untuk membagi honor-honor (masuk akal?). Jadi auditor harus sering ke lapangan dan berwawancara dengan pengguna, suplier dan tenaga secara langsung (dan memeriksa buku-buku mereka). Mengundang laporan dari masyarakat kepada pihak lain (bukan pejabat pemerintah) yang masyarakat dapat percaya.

    Obatnya Koruptor: Langsung diHukum dan diGanti dengan SDM yang Jujur.

    Koruptor selain maling, penipu dan pembohong, jelas tidak peduli orang lain, tidak peduli tugasnya atau negaranya (seperti penghianat) dan berarti mereka juga tidak menghormati Tuhan. Bagaimana mungkin mereka dapat diperbaiki? Mereka lebih berbahaya daripada maling biasa, dan maling biasa langsung masuk penjara kan?

    Mengapa kita perlu bantuan dari negara lain? Bagaimana negara lain dapat membantu kalau kita tidak mulai membantu dirinya sendiri?

    Kita dapat mulai dari sini ….., yang penting adalah kita mulai!

    Pegawai Negeri harus sebagai contoh kepedulian dan layanan
    masyarakat yang sangat bermutu karena mereka sebagai ‘Model Moral Bangsa’

    vi.rus n 1 mikroorganisme yg tidak dapat dilihat dng menggunakan mikroskop biasa, hanya dapat dilihat dng menggunakan mikroskop elektron; penyebab dan pengular penyakit, spt cacar, influenza, dan rabies; 2 program ilegal yg dimasukkan ke dl sistem komputer melalui jaringan atau disket sehingga menyebar dan dapat merusak program yg ada

    ma.ling n orang yg mengambil milik orang lain secara sembunyi-sembunyi; pencuri (terutama yg mencuri pd malam hari): — itu yang masuk ke dl rumah melalui jendela;

    Ref: Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, Departemen Pendidikan Nasional, Balai Pustaka

    Korupsi Bukan Virus – Perilaku Maling!

    Dan Koruptor (Maling Negeri Sipil) adalah maling yang mencuri uang rakyat lewat “jendela” yang terbuka karena manajemen negara adalah kurang.
    http://pojokantikorupsi.com/korupsivirus.html


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: